Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Tidak memiliki banyak waktu.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Tidak terasa. Waktu siang sudah berganti malam. Saat ini Devan lagi duduk di ruang tamu bersama Reyvano dan juga Zivanna.


Sedangkan Ayah Dion dan Ibu Ellena lagi pergi menghadiri acara penting, yang berhubungan dengan perusahaan. Jadilah mereka hanya bertiga duduk diruang tamu sambil menunggu kedatangan Dokter Shiren.


Wanita cantik itu. Saat ini sudah dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Atmaja. Dia dijemput oleh pengawal Devan. Untuk menjaga keselamatan saat dalam perjalanan.


Tadi siang, keluarga kecil Devan sudah bersenang-senang sepuasnya. Tidak hanya Reyvano yang merasa bahagia. Namun, Zivanna dan juga Devan ikut menikmati kebersamaan tersebut.


Untuk sesaat mereka bisa melupakan permasalahan yang sedang dihadapi, walaupun tidak sepenuhnya.


"Besok pagi Ayah akan berangkat kerja, ya. Rey tidak boleh nakal selama Ayah tidak ada." ucap Devan sambil mengelus sayang kepala putranya.


"Ayah lama pelgi na?" mendengar ucapan sang ayah. Reyvano yang sedari tadi baring dipangkuan Devan. Langsung duduk dengan wajah sendunya.


"Belum tahu. Tapi ... akan Ayah usahakan cepat pulang. Setidaknya dua atau tiga hari. Ayah sudah kembali." entah mengerti atau tidak. Devan menerangkan seolah-olah putranya sudah mengerti.


Sebetulnya dia sangat berat untuk kembali ke kota Y. Namun, bukan hanya masalah perusahaan saja yang akan diurusnya. Akan tetapi masalah Bara juga belum selesai.


Penyidik yang menangani kasus tersebut. Meminta Devan Atmaja datang untuk memberikan beberapa kesaksian sebagai korban dari penyerangan yang dia alaminya beberapa hari lalu.


"Dandi, Ayah nda lama." seru Reyvano menunduk sedih.


"Ayah berjanji!" jawab Devan tersenyum kecil, seraya mengangkat jari kelingkingnya untuk dikaitkan sebagai pengikat janji mereka.


"Selamat malam, Dev." ucap dokter Shiren yang baru saja datang. Diikuti oleh Sekertaris Jimi dibelakangnya.


"Iya, selamat malam juga. Kalian sudah datang." Devan berdiri untuk menyambut temannya itu.


"O'ya, Shi. Kenalkan ini istriku. Namanya Zivanna, dan ini putra kami. Namanya Reyvano Arkana Atmaja." dengan bangganya Devan memperkenalkan istri dan anaknya.


"Hai ... kenalkan aku Shiren teman Devan saat kami masih SMP." kata dokter muda itu memperkenalkan dirinya dengan ramah.


"Hai juga, aku Zivanna. Senang berkenalan dengan mu." balas Zizi dengan suara riang seperti Dokter Shiren.


"Akupun sama senangnya. Jika kamu mau, kita berdua bisa bersahabat." sambil berkenalan dengan pasiennya. Dokter muda itu langsung mencari cara untuk bisa dekat dengan Zivanna.


"Tentu saja! Kebetulan aku juga tidak memiliki teman." jawab Zivanna yang tidak tahu kalau wanita cantik itu adalah dokter yang akan menyembuhkan depresinya.


"Baiklah, mulai saat ini kita berteman." ucapnya sebelum duduk di ruang tamu lebih dulu, karena setelah itu dia akan membawa Zivanna ketempat yang sudah disiapkan oleh Sekertaris Jimi.


Sekertaris tersebut telah mengatur dengan sempurna. Agar semuanya berjalan sesuai keinginan, karena itulah tugasnya.


Setelah duduk dan berbincang bersama Devan dan Reyvano juga. Dokter Shiren langsung meminta izin ingin melihat taman yang ada di rumah itu.


Begitu mendapatkan izin dari Devan. Dia meminta Zivanna menemaninya. Padahal itu semua adalah trik dokter muda itu. Dia sudah biasa mengobati pasien dari keluarga kolongmerat. Jadi Shiren mengunakan cara seperti itu. Tujuannya agar si pasien yang mengalami trauma tidak tertekan. Bila sadar kalau mereka lagi di tangani oleh Psikiater atau psikolog.


Disinilah kedua wanita berbeda usia itu berada. Mereka duduk di tengah-tengah taman yang ada gazebo untuk bersantai. Dengan perlahan tapi pasti Dokter Shiren mulai sedikit-sedikit mengajak Zivanna curhat.


"Apa kamu tidak bekerja?" tanya dokter muda itu mengawali pendekatan sebagai sahabat.

__ADS_1


"Bekerja! Hanya saja untuk bulan ini, aku libur dulu." jawab Zizi tidak sadar.


"Eum, hem! Memangnya kamu bekerja dimana?" kembali lagi bertanya, sebelum Zizi sepenuhnya mengagap bahwa dia adalah teman yang tepat.


"Di kota F. Aku berjualan roti. Kamu sendiri bekerja apa? Kata suamiku kalau siang dirimu bekerja."


Sebelum menjawab pertanyaan Zivanna. Dokter Shiren tersenyum kecil, karena mendengar Zizi masih menyebutkan Devan sebagai suaminya.


"Aku ... hanya menunggu toko sembako. Makanya aku hanya memiliki waktu disaat malam hari." jawab dokter tersebut yang terpaksa harus berbohong tentang Pekerjaannya.


Lalu setelah itu dalam keadaan sadar, dan entah bagaimana caranya. Dokter Shiren berhasil membuat Zivanna menceritakan semua masalahnya. Padahal dia sendiri belum banyak bertanya.


Sudah hampir satu jam kurang lebih. Zizi belum juga selesai menceritakan masalahnya. Sedari tadi juga, wanita itu menangis dan marah secara bersamaan. Pertama-tama dia mengaku sangat mencintai Devan. Lalu selang sepuluh menit kemudian. Dia mengatakan begitu membenci Devan.


"Sudahlah jagan menangis lagi. Aku sangat mengerti apa yang kamu rasakan." ucap Dokter Shiren menenangkan Zivanna yang masih menangis tersedu-sedu.


"Dia itu pembohongan. Percayalah!" kata Zizi mengatai laki-laki yang masih menjadi suaminya.


"Iya, iya. Dia pembohongan! Sekarang kamu tenang dulu, jangan menangis. Tarik nafas dengan tenang. Kamu tidak usah mengenang semua yang sudah terjadi." mau tidak mau, dokter muda itu membujuk Zivanna lebih dulu.


Agar bisa tenang seperti semula, dan disinilah peran seorang Psikiater sangat dibutuhkan. Cara dia menenangkan dan membuat nyaman orang yang menderita itu berbeda.


Makanya, bila tidak terlalu parah. Dalam beberapa kali pertemuan saja, sudah mulai ada perubahan.


"Tenanglah! Sekarang ada aku bersamamu. Jadi jangan takut padanya." terus memberikan ketenangan pada Zizi.


Begitu Zivanna sudah tenang, barulah Dokter Shiren memberikan arahan cara agar Zizi tidak takut dengan semua kejadian buruk yang pernah menimpanya.


Semuanya butuh proses tidak mungkin Zizi bisa sembuh begitu saja. Apalagi dia mengalami trauma itu sudah bertahun-tahun lamanya.


"Percayalah, jika kamu mau mengikuti cara yang aku tunjukkan. Maka dengan perlahan. Rasa trauma yang kamu derita, cepat atau lambat akan hilang dengan sendiri."


"Tapi--- bagaimana bila semua kebaikannya saat ini, merupakan kebohongan lagi. Setelah aku percaya padanya. Dia a--akan, akan menyiksa aku dan putraku. Tidak, tidak! Mungkin dia akan menghabisi kami berdua. Iya, itu benar Devan akan menghabisi nyawa aku dan Reyvano." tebak Zizi karena saat ini pikirannya sedang tidak karuan.


Sebentar bisa tenang. Lalu setelahnya mulai berprasangka buruk dengan hal-hal yang ada dalam benaknya.


"Itu hanya perasaan mu saja. Bukanya tadi kamu bilang, seperti apa Devan melindungi kalian saat terjadi penyerangan beberapa malam lalu? Nah dari sana kamu pasti tahu, kira-kira dia tulus atau tidak ingin menyelamatkan nyawa kalian." terang Dokter Shiren sambil melirik jam pada pergelangan tangannya.


"Zizi, berhubung ini sudah malam. Aku akan pulang dulu. Besok malam bila tidak memiliki halangan. Maka aku akan kesini lagi untuk menjadi temanmu berbagi kesedihan." ucap wanita itu.


"Eum, i--iya! Kalau begitu hati-hati saat dalam perjalanan pulang. Terima kasih sudah mau menjadi sahabat ku." jawab Zizi ikut berdiri dari sana.


"Iya, tidak perlu sungkan. Ceritakan saja semuanya. Aku siap menjadi teman berbagi mu." sambil berjalan meninggalkan taman tersebut. Mereka berdua masih tetap mengobrol.


Tiba di ruang tamu.


"Dev, aku akan pulang sekarang. Besok malam aku kesini lagi." kata dokter Shiren setelah mereka kembali keruang tamu.


"Oke, terima kasih sudah mau menemani istriku." Devan berdiri dari tempat duduknya karena Dokter Shiren langsung mau pulang.


"Jangan sungkan," ucapnya sembari tersenyum kecil melihat kearah Zivanna juga. Sebelum dia benar-benar meninggalkan kediaman keluarga Atmaja.


"Bagaimana? Apa dia orang yang asik?" tanya Devan melihat sekilas wajah sang istri yang masih sembab bekas menangis. Untuk saat ini, Devan tidak berani menatap secara terang-terangan karena itu semua pasti tidak akan baik untuk suasana hati istrinya.


"Eum, dia orang yang asik. Rey kemana?" melihat sekelilingnya tidak ada si tampan.

__ADS_1


"Dia sudah tidur dikamar mu. Sekarang ada pelayan yang menemaninya." jelas Devan. Sambil melirik kearah jam yang sudah pukul sembilan malam.


"Baiklah, kalau begitu aku juga mau tidur sekarang." tidak menunggu jawaban dari suaminya. Zivanna langsung pergi dari ruang tamu.


"Semoga kamu bisa sembuh seperti dulu lagi, Zi." gumam pria itu sambil menatap kepergian istrinya. Lalu diapun juga pergi dari sana menuju kelantai atas juga. Namun, Devan kembali ke kamarnya sendiri.


Devan harus segera istrirahat karena besok pagi-pagi sekali dia harus terbang ke kota Y. Ada rapat penting yang harus dia hadiri. Tapi dia tadi lupa, memberitahu Zivanna kalau jam setengah tujuh pagi dia sudah berangkat.


Malam ini mereka tidak tidur bersama lagi. Sesuai yang dikatakan oleh Zivanna tadi malam, kalau itu adalah malam terakhir mereka bersama.


*


*


Pagi pun tiba.


Jam enam lewat dua belas menit waktu dunia halu. Devan sudah siap dengan setelan jas yang melekat pada tubuh atletisnya.



Sedari tadi Devan sudah berulang kali mendatangi kamar Zizi untuk menemui istri dan anaknya, sebelum dia berangkat. Namun, pintu kamar sang istri dikunci dari dalam dan belum ada tanda-tanda jika penghuninya sudah bangun dari tidurnya.


Tok ...


Tok ...


"Masuklah!" kata Devan yang lagi duduk diatas sofa sambil melihat-lihat foto mereka kemarin siang.


Cek ... lek ...


"Apa, Jim?" tanya Devan setelah melihat Sekertaris Jimi berjalan masuk.


"Semuanya sudah siap. Apa kita bisa berangkat sekarang?"


"Tunggulah dibawah. Sepuluh menit lagi kita akan berangkat." ucap Devan karena dia berharap. Dalam waktu sepuluh menit, Zizi akan membuka pintu kamarnya.


"Baik Tuan Muda." Sekertaris Jimi yang mengetahui jika tuan mudanya pasti lagi menunggu istri dan anaknya. Cepat-cepat pergi kelantai bawah lagi.


"Huh! Apakah aku harus pergi sekarang? Tapi---- aku ingin menemui mereka!" bertanya sendiri dan dijawab sendiri juga.


"Jika aku mengetuk pintu kamarnya, bagaimana kalau Zizi masih tidur. Aku sangat yakin, dia bangun kesiangan pasti gara-gara semalam tidak bisa tidur dengan baik" ujar Devan mengira-ngira apa yang membuat Zivanna belum bangun.


"Agh, sudahlah! Aku berangkat sekarang saja." akhirnya Devan berdiri dari sofa dan berjalan keluar dari kamarnya. Dia tidak memiliki banyak waktu bila menunggu istrinya bangun.


BERSAMBUNG ...


.


.


.


Sambil menunggu cerita bbg Devan update. Yuk baca novel sahabat Mak author juga. Dijamin suka, ini novel religi. Terima kasih.😘😘


__ADS_1


__ADS_2