
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Dev ... Ini minuman untuk mu." ucap Fiona yang baru saja datang. Tadi Devan sedang berbicara dengan salah satu rekan bisnisnya. Meskipun ragu-ragu tapi Devan tetap menerima minuman tersebut. Tidak tanggung-tanggung dia menghabiskan nya dalam satu tegukan. Bak orang yang baru saja berjalan dari gurun pasir.
"Terima kasih!" ucapannya seraya menyerahkan kembali geles yang sudah kosong.
Walaupun ada rasa keanehan melihat Devan meminumnya dalam satu kali tegukan. Fiona hanya diam saja, karena bagi nya yang penting Devan telah meminumnya. Entah apa yang sedang dia rencanakan terhadap sahabatnya itu.
"Apa sudah selesai berbicara dengan rekan bisnis mu?" Fiona mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa mencekam. Padahal sebelum dia memberikan Devan minuman tersebut semuanya masih baik-baik saja.
"Hem sudah!" Pria itu menjawab singkat sambil memainkan HP nya.
"Devan ayolah! Jangan seperti ini. Sekarang kamu sangat berbeda bukan seperti Devan ku yang dulu." Fiona yang sudah lama menahan kesal karena perubahan sikap Devan. Akhirnya malam ini mengatakan juga keluhannya. Hubungan mereka memang baik-baik saja tapi sikap Devan terhadapnya sudah berubah tidak seperti dulu lagi.
"Berubah? Aku tidak pernah berubah, yang berubah adalah dirimu sendiri." melihat kearah gadis tersebut dan menyimpan kembali HP kedalam saku nya.
"Dev, jika karena aku menyukai mu. Kamu tidak perlu bersikap cuek seperti ini kepadaku." rasa sakit itu adalah di saat orang yang biasanya baik dan perhatian terhadap kita berubah menjadi tidak perduli lagi.
Akan tetapi Fiona tidak sadar, apa yang dia rasakan belum ada apa-apa nya bila dibandingkan dengan yang di alami Zivanna. Seharusnya dia sebagai seorang wanita dan sebagai sahabat dari Devan. Menasehati pria itu bukan malah semakin menyesatkan nya.
Zizi harus hidup satu atap antara dia dan Devan. Mereka berdua malah bekerjasama untuk menyakiti Zivanna. Sehingga sampai saat ini gadis tersebut masih mengira kalau Fiona benar-benar kekasih dari suaminya.
"Sudahlah, Fi. Ini acara penting bukan waktunya membahas masalah pribadi kita. Aku rasa semuanya baik-baik saja tidak ada yang berubah." Devan berdiri begitu saja ingin meninggalkan Fiona. Namun, pangilan dari gadis itu yang meminta tolong membuat Devan berhenti dan melihat kebelakang nya, lalu diapun sedikit berteriak.
"Agkkh! Devan tolong aku." Fiona mengaduh sembari memegang perutnya yang tiba-tiba terasa nyeri.
"Fi ... kamu kenapa?" Lelaki itu memeluk tubuh Fiona yang hampir saja jatuh keatas lantai.
"Se--seperti, sepertinya. Penyakit Magh ku, kambuh. Bisa tolong bantu aku pergi dari sini." berkata dengan wajah mengiba agar Devan merasa kasihan.
"Baiklah aku akan mengantarmu pulang. Tunggu sebentar! Aku akan menghubungi Jimi." ucap Devan kembali lagi mengeluarkan HP nya untuk memberitahu sekertaris pribadinya agar segera menyiapkan mobil, karena dia akan mengantar Fiona ke Apartemennya
"Apa sudah selesai?" gadis itu melihat Devan sudah menyimpan HP nya lagi
"Sudah, ayo kita pulang sekarang. Lagian acara intinya sudah selesai." memang saat ini hanya tinggal acara para pebisnis menawarkan kerjasama dengan pebisnis lainya yang di awali dengan perkenalan lebih dulu. Itupun bila mereka belum saling kenal. Sedangkan Devan tidak perlu mempromosikan perusahaannya karena biasanya para pemegang saham itu sendiri yang ingin bekerjasama dengan Atmaja group.
Tiba di depan loby hotel bintang lima tersebut. Sekertaris Jimi sudah stenbay menunggu sang Tuan muda, karena tadi dia sudah di beritahu melalui pesan singkat.
"Silahkan masuk Nona." mempersilahkan Fiona lebih dulu, karena wanita itu mengaku kalau dia tiba-tiba merasa sakit. Tidak mengucapkan terima kasih wanita tersebut langsung saja masuk seperti seorang nona muda.
Meskipun merasa jengkel Jimi tetap saja melayani perempuan itu karena Fiona adalah sahabat bos nya. Bila tidak mungkin Fiona sudah dia buang ke tempat yang tidak memiliki penduduk. Agar wanita itu tahu apa rasanya bila hidup seorang diri.
"Silahkan Tuan muda." Jimi yang sudah berjalan memutari mobil kembali membukkan pintu untuk Devan. Pria itu hanya mengangguk seperti biasanya karena dia memang bos bukan seperti Fiona.
Lalu sekertaris Jimi pun ikut masuk dan duduk di bangku kemudi untuk mulai menjalankan kendaraan roda empat tersebut menuju Apartemen Fiona yang di belikan oleh Devan.
Mungkin karena perjalanan sepi. Hanya dua puluh menit mobil yang di kendarai oleh Jimi sudah tiba di depan gedung Apartemen. Lalu dia turun dan kembali lagi membukakan pintu mobil tersebut.
__ADS_1
"Jim, kamu tunggu di sini saja. Aku akan mengantar Fiona ke kamar nya." ucap Devan mengandeng wanita itu lagi karena setelah keluar dari dalam mobil dia kembali mengaduh kesakitan.
"Baik Tuan muda." membungkukkan sedikit kepalanya.
Sebetulnya saat ini Jimi tahu kalau Fiona hanya berpura-pura. Namun, karena dia tidak ingin mengacaukan persahabatan Devan dengan Fiona jadinya hanya diam saja. Dari dulu sekertaris Jimi dan Dokter Kaivan sudah sering memperingati Devan agar tidak terlalu dekat dengan wanita itu, karena mereka berdua sudah tahu seperti apa sipat dan kelakuan Fiona.
Sekarang mereka hanya tinggal menunggu Devan mengetahui nya sendiri, karena percuma saja di beritahu, pria tersebut tidak akan percaya begitu saja.
Di dalam kamar Fiona.
"Aku akan pulang sekarang. Nanti aku akan menyuruh seseorang untuk menjaga mu." kata Devan setelah membantu Fiona baring di atas ranjangnya.
"Tidak! Kamu tidak boleh pergi dari sini. Tunggulah sebentar lagi." Fion mengengam tangan Devan agar tidak pergi.
"Kenapa? Ini sudah larut malam. Aku harus pulang."
"Devan ... Aku sangat mencintaimu." Wanita tersebut langsung duduk dan memeluk tubuh lelaki itu dengan sangat erat.
Agar Devan merasakan reaksi obat yang sudah diberi nya pada minuman saat di tempat acara. Ya... malam ini Fiona sudah nekat memberi Devan obat perangsang yang sudah dimasukan oleh pelayan. Bila secara sadar lelaki yang masih bersatatus suami Zizi itu selalu menolaknya.
"Fiona--- lepaskan aku!" Mendorong kuat agar pelukan itu terlepas.
"Biarkan seperti ini. Apa kamu tidak merasakan---"
"Merasakan reaksi dari obat perangsang yang sudah kamu campur pada minuman ku?" sela Devan lebih dulu.
"Apa! Ja--jadi kamu tahu minuman itu sudah ku beri obat?" Fiona langsung melepaskan pelukannya.
"Bagaimana mungkin?" wanita itu menutup mulutnya tidak percaya.
"Apa pun bisa saja terjadi bila kita tidak berhati-hati Fiona." ucap Devan mulai menjauh dari tempatnya berdiri.
"Tapi jika kamu sudah tahu kenapa masih meminu, minuman itu?" tanya gadis itu merasa heran karena Devan malah meminumnya dengan satu kali tegukan.
"Itu karena aku memang haus, bukannya kamu memberi jus itu untuk aku minum?" Devan menjawab santai karena malam ini dia bisa menyelesaikan masalah nya dengan Fiona.
"Apa ... Devan! Jangan bilang kalau minuman tersebut sudah kamu ganti?"
"Menurut mu? Apa ada orang yang mau membahayakan dirinya sendiri?" Devan mulai menatap Fiona dengan sorot mata tajam. Seakan-akan tatapan itu bisa mencabik-cabik orang yang di anggapnya musuh. Sahabat yang melebihi saudara ternyata karena ingin memilikinya rela melakukan apa saja. Termasuk menjebaknya melalui minuman.
"Brengsek kamu Dev. Jadi kamu sengaja ingin menjebak ku, pada jebakan yang aku buat sendiri?" Fiona tidak habis pikir kalau yang terkena jebakan tersebut adalah dirinya bukan Devan.
"Ya aku memang berengsek, Fiona. Bila aku tidak mengikuti permainan mu. Maka aku akan selalu terikat dengan mu."
"A--aapa maksudmu? Terikat seperti a--apa yang kamu maksud?" tanya wanita itu dengan takut kalau terikat yang Devan katakan adalah persahabatan mereka.
"Aku rasa kamu sendiri sudah tahu jawabannya, Fi. Kita hanya memiliki satu ikatan. Yaitu persahabatan. Mulai malam ini kamu bukan teman ku lagi. Persahabatan kita sudah berakhir karena kamu sendiri yang memilihnya." Devan memang sudah lama ingin memutuskan hubungan persahabatan mereka. Namun, dia tidak memiliki alasan khusus.
Makanya saat Fiona ingin menjebaknya. Devan hanya mengikuti saja karena dia sudah tahu kalau hal tersebut cepat atau lambat pasti akan terjadi. Setelah menunggu berbulan-bulan. Ternyata Fiona baru melakukannya sekarang.
"Tidak! Aku tidak mau persahabatan kita berakhir, Dev. Tolong maafkan aku. Apa yang aku lakukan malam ini semata-mata karena aku sangat mencintaimu." wanita tersebut langsung turun dari ranjang dan ingin kembali mendekati Devan. Namun, pria itu tidak membiarkan nya mendekat.
__ADS_1
"Devan, tolong maafkan aku. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Tapi pliies jangan akhiri persahabatan kita. Hanya, hanya ... kamu satu-satunya orang yang tulus sayang kepadaku." Fiona kembali memohon sambil menangis. Mana mungkin dia bisa hidup tanpa Devan. Selama ini bila dia kekurangan uang, maka sumber Dananya adalah sahabatnya itu.
Menjadi seorang model terkenal, bukan berarti Fiona memiliki banyak uang. Dia bisa memiliki job besar bila mau menukar satu buah tanda tangan kontrak dengan melayani satu malam. Pada agensi yang ingin memakai jasanya untuk membuat iklan di majalah ataupun televisi.
"Maafkan aku, Fi. Kita harus mengakhiri nya sekarang juga. Aku sudah memaafkan perbuatan mu yang ingin menjebak ku. Sebab semua ini adalah salah diriku yang membawa mu masuk kedalam rumah tangga kami."
Devan sadar bukan salah Fiona juga bila jatuh cinta kepada nya, karena dia sendiri yang meminta wanita itu menjadi pacar settingan.
Padahal sudah jelas tidak ada persahabatan diantara laki-laki dan wanita yang hanya sekedar persahabatan biasa. Dikit banyaknya pasti memiliki perasaan. Entah itu perasaan nyaman, suka atau takut kehilangan.
"Kalau kamu sudah memaafkan aku, kenapa harus mengakhiri persahabatan yang sudah terjalin bertahun-tahun lamanya? Kita bisa bersahabat lagi, aku akan mengubur perasaan ku padamu. Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku sendirian."
Mendengar permintaan wanita itu Devan hanya menggelengkan kepalanya dan menjawab. "Tidak, aku yang tidak ingin lagi. Semakin dekat dengan mu walaupun hanya sebatas sahabat. Aku merasa semakin bersalah pada Istriku."
"Jadi karena wanita itu kamu mengakhiri persahabatan kita. Bukan karena aku menjebak mu?" Fiona mengusap wajahnya kasar. Mukanya yang biasa selalu tampil cantik, malam ini sudah kacau berantakan.
"Iya, karena dia. Aku tidak ingin terus menyakiti nya. Jadi aku harap kamu mengerti. Istirahat lah. Aku akan pulang sekarang. Jaga dirimu baik-baik." kata Devan yang malas berlama-lama berada di situ. Tidak perduli seperti apa Fiona menangis dan memohon agar persahabatan mereka jangan berakhir seperti ini.
"Maafkan aku Fi. Semua ini memang salah diriku yang tanpa aku sadari, sudah memberi kamu jalan untuk mencinta ku. Meskipun persahabatan kita berakhir, aku tidak akan lupa kebaikan mu yang selalu memberi aku dukungan selama ini."
Ucap Devan di dalam hatinya. Meskipun jeritan yang di sertai tangisan Fiona masih terdengar sampai di depan pintu Apartemen. Devan tetap pergi dari sana.
Selama di dalam lift menuju ke lantai dasar. Devan hanya larut dengan pikirannya. Walau bagaimanapun tentu saja dia juga merasakan sakit persahabatan mereka harus berakhir seperti saat ini.
Tapi demi menjaga perasaan Zizi yang sekarang entah berada dimana. Dia harus bisa tegas agar diantara mereka tidak ada yang tersakiti lagi.
Braaak...
Suara pintu mobil Devan tutup cukup keras. Sehingga mengagetkan sekertaris Jimi yang berada di dalam mobil.
"Jimi ayo jalankan mobilnya." seru Devan memejamkan mata agar mendapatkan rasa nyaman. Tapi itu hanya sementara saja, karena setalah nya Devan membenarkan cara duduknya dan bertanya.
"Bagaimana? Apa kalian sudah menyelidiki nya?"
"Sudah Tuan muda. Dalam waktu dua hari ini, mungkin kita sudah tahu jawabannya. Apakah benar Nona Zizi di sembunyikan oleh nya, atau tidak." jawab Jimi dengan yakin. Sekarang mereka tidak hanya mencari di seluruh ibu kota saja. Tapi mengikuti secara diam-diam orang-orang yang pernah mengenal Zivanna.
Sudah sejauh ini tidak ada petunjuk sedikit pun. Gadis itu benar-benar lenyap tidak meninggalkan bekas apapun. Jangankan orang lain Dokter Kaivan saja, juga di tuduh telah menyembunyikan Zizi.
"Hem semoga saja dugaan kita benar, kalau dia yang sudah membawa Zizi meninggalkan kota ini. Aku tidak tahu lagi harus mencari kemana." ucap Devan penuh harapan. Agar anak buah Jimi segera memberi kabar baik.
"Zi apakah kehamilan mu sekarang sudah besar? Sudah tujuh bulan kamu pergi tanpa kabar. Sebetulnya dirimu berada di mana? Aku sangat mencemaskan mu. Tidak hanya di kota Y saja aku mencari mu. Bahkan di luar kota ini, tapi tetap saja tidak bisa menemukan mu."
Apa bila sudah malam seperti ini Devan akan kembali lagi merasakan kesunyian di tengah keramaian. Bila siang hari dia bisa saja menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Tapi bila sudah malam hari hanya bisa membaca buku diary Zivanna.
.
.
.
...Terima kasih atas semua dukungan yang sudah kalian berikan. Mak sangat berterimakasih. Tapi tolong, bagi kalian yang tidak menyukai ceritanya jangan komen yang membuat kami sebagai penulis langsung down. Cukup baca tidak perlu komentar. Ceritanya memang seperti ini. Bukannya monoton ataupun sebagainya. Apabila tidak suka kalian boleh memilih novel yang lain. Untuk perhatian nya Terimakasih.🤗...
__ADS_1