
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Pagi pun tiba. Di sebuah rumah mewah menghadap ke danau buatan yang dibangun oleh perusahaan Atmaja group. Satu keluarga kecil, masih tertidur dengan nyenyak. Biasanya Zivanna selalu bangun pagi-pagi sekali karena harus membuat kue untuk dijual.
Namun, semenjak bertemu Devan dua hari lalu. Merubah kebiasaan gadis itu. Bagaimana, tidak! Setiap malamnya Zizi tidak bisa tidur tepat waktu. Apalagi tadi malam, sudah pukul empat pagi, Zivanna baru bisa memejamkan matanya.
"Ayah, banun!" pangil Reyvano dengan suara pelan. Boleh dikatakan Rey sedang berbisik membangunkan Devan yang masih tidur. Tidak hanya Zivanna yang susah tidur. Devan pun sama seperti itu.
Kedua suami-istri yang sama menyiksa dirinya masing-masing. Entah kemana hubungan tersebut akan berlabuh. Namun, apapun keputusan mereka nantinya, yang akan menjadi korban tetaplah Reyvano.
"Ayah, ayo banun. Ley au pipis." kembali membangunkan ayahnya. Rey sengaja tidak membangunkan sang ibu, karena selain Devan yang berada didekatnya. Anak itu tahu kalau ibunya pasti sedang kecapean. Hidup hanya berdua dengan sang ibu membuat Rey mengerti apa saja yang dirasakan oleh ibunya.
"Nda au banun, Ley pentet idung na, ya." baru mengatakan ingin memencet hidung sang ayah. Tapi nyatanya dia sudah memencet dari tadi.
"Eug," Devan yang merasa terganggu langsung membuka matanya. Begitu sudah membuka mata, terlihat Reyvano putra kesayangannya lagi tersenyum kearahnya. Anak itu merasa senang karena sudah berhasil membangunkan sang ayah.
"Kenapa, sayang? Ayo kita bobo lagi, Ayah masih mengantuk." Devan ingin memejamkan lagi matanya. Akan tetapi begitu mendengar ucapan sang putra. Dia langsung duduk.
"Udah banun, nda boyeh bobo adi. Ley au pipis nini." setelah menyebutkan kalau dia ingin pipis. Barulah ayahnya bangun.
"Rey mau pipis?" sudah tahu, tapi masih bertanya. Meskipun malas untuk bangun, tapi Devan paksakan karena tidak mau Rey membangunkan Zivanna.
"Iya, Ley au pipis. Ayo tawanin Ley atut dilian." ucap Rey menarik tangan sang ayah.
"Maaf, Ayah tidak tahu. Ayo kita ke kamar mandi sekarang." sambil mengucek matanya, pria itu turun dari ranjang dan menuntun tangan si kecil masuk kedalam kamar mandi.
"Apakah. Rey mau mandi sekalian?" tanya Devan yang belum mengetahui seperti apa kebiasaan sang putra.
"Iya, au andi tekalian. Tapi ibu na matih bobo. Ley nda bita butak badu na, talau cendilian." Reyvano memang ranjin mandi pagi, karena kalau mandinya sudah siang. Apabila Bibi Husna dan Bibi Emi tidak bekerja. Maka anak itu tidak ada yang mengurus. Tapi bila masih pagi. Ada sang ibu yang mengurusnya.
__ADS_1
"Biar Ayah yang membantu mu. Sini Ayah buka pakainya." pagi ini adalah pagi kedua Devan memandikan Reyvano. Setelah hampir empat tahun umur putranya itu.
"Iy, andi tama Ayah aja. Ayah nda andi?" menatap ayahnya sambil menunggu jawaban.
"Tidak, Ayah mandinya nanti. Sekarang Rey saja yang mandi. Setelah itu kita ke bawah membuatkan makanan untuk ibu." pria itu mulai melepaskan baju putranya satu persatu. Pekerjaan baru, bagi seorang CEO seperti Devan. Namun, dia sangat bahagia bisa mengurus buah hatinya. Lebih baik terlambat, dari pada tidak sama sekali.
Beberapa menit kemudian. Devan sudah selesai memandikan anaknya. Meskipun bahunya terasa nyeri akibat tangannya banyak bergerak. Devan tetap menahan rasa tersebut. Satu hal yang membuatnya semakin merasa bersalah setelah memandikan anaknya. Yaitu entah seperti apa menderitanya Zivanna harus mengurus Rey saat habis melahirkan, karena sudah jelas Zizi habis dioperasi.
"Ayah tudah." suara Rey menyadarkan Devan dari lamunannya. Handuknya sudah dipasang dari tadi. Tapi kenapa tidak digendong juga. Itulah yang Rey pikirkan, karena biasanya apabila dia sudah dimandikan. Ibunya selalu mengendongnya untuk kembali ke kamar dan dipasangkan pakaian baru.
"Agh, iya sayang! Sebentar Ayah akan sikat gigi." karena ingin membuatkan sesuatu untuk sang istri. Devan hanya mencuci muka dan sikat gigi saja. Lagian jika mandi sendiri dia juga tidak bisa.
"Sudah ayo!" mengendong Rey karena anak itu sudah mengangkat kedua tangannya keatas, yang menandakan jika dia minta digendong.
"Sini kita pakai bajunya." dengan telaten pria itu memakaikan baju putranya yang sudah disiapkan satu hari lalu. Setelah itu berlanjut menyisir rambutnya juga.
"Selesai! Sekarang Rey semakin tampan." tersenyum melihat hasil kerja kerasnya.
"Udah celesai, tita igan matak 'kan?" tanya Rey yang masih ingat ucapan sang ayah yang mengajaknya memasak untuk ibunya.
"Anak siapa sih pintar sekali?" mencium putranya berulang kali. Padahal dia tidak mungkin lupa dengan ucapannya. Namun, Reyvano mengingatkan kalau mereka berdua tinggal memasak.
"Ley anakna ibu didi." jawab Rey sambil tertawa bahagia. Hal yang belum pernah dia rasakan selama ini, memiliki teman lain, selain ibunya.
"Ibu didi?" mengulangi ucap si buah hati, karena Devan tidak mengerti ucapan putranya.
"Iya, ibu didi, ibu didi na acih tidul." Rey menunjuk kearah Zizi yang masih tidur dengan nyenyak. Wanita itu tidak tahu kalau putranya sudah bangun dan telah dimandikan oleh Devan.
Mendengar sebutan itu Devan tidak bisa menahan tawanya. Bagaimana mungkin nama wanita yang dia cintai sudah menjadi ibu didi.
"Ha ... ha ... Siapa yang bilang kalau Rey hanya anak ibu Zizi. Heum! Rey juga anak Ayah." seru Devan semakin tertawa.
"Suuuiiit! Agan bicik, anti ibu banun." Reyvano menempelkan jari telunjuknya pada bibir. Agar ayahnya tidak tertawa lagi.
__ADS_1
"Iya, iya, Ayah lupa. Ayo kita turun sekarang. Jika berada disini terus kita akan membangunkan ibu." Devan ikut berbisik sama seperti yang dilakukan oleh anaknya.
Lalu dua laki-laki berbeda usia itu pergi meninggalkan kamar tersebut. Sebetulnya Devan ingin memindahkan Zizi keatas ranjang. Tapi karena takut malah membangunkan tidur sang istri. Dia mengurungkan niatnya, dan disinilah mereka sekarang. Di dalam dapur bersih untuk membuatkan makanan kesukaan Zizi. Meskipun Bibi Marta sudah menyiapkan semuanya. Akan tetapi hari ini Devan ingin memasak sendiri untuk istrinya.
Dari lantai atas sampai kelantai bawah. Reyvano selalu bertanya apa saja yang dilihatnya. Tadi malam, Rey tidak bertanya karena mengantuk dan tidak mungkin juga bertanya pada sang ibu.
"Ayah pintal acak tayak ibu, ya? selama menemani ayahnya memasak. Rey duduk sambil memainkan permainannya. Dapur tersebut langsung di gelar karpet oleh para pelayan karena tuan muda kecil mereka, menemani tuan besarnya memasak.
Reyvano yang sudah biasa menemani ibunya memasak, tentu saja akan senang. Apalagi dapur itu lebih besar tiga kali lipat dari besar rumah yang dia tempati bersama ibunya selama ini.
"Tidak hebat seperti ibumu. Tapi Ayah bisa memasak." jawab Devan selalu menjawab apapun yang ditanyakan putranya.
"Biasanya saat ibu membuat kue, Rey main sama siapa?" tanya Devan sambil menunggu Bibi Marta menyiapkan barang yang dia perlukan.
"Main dilian, tawanin ibu matak-matak uga." menjawab seperti apa yang pernah dia lakukan itulah anak kecil. Mereka selalu berkata jujur dan tidak pernah berbohong.
"Kenapa tidak bermain bersama teman-teman saja. Sepertinya didekat sana banyak anak kecil." rasa ingin tahu Devan membuatnya kembali bertanya. Meskipun mendengar cerita tersebut hatinya terasa sakit.
"Nda boeh tama ibu. Atut iyang di tulik olang dahat." sambil menjawab Rey berlari mengikuti mobil-mobilan yang sedang dia mainkan.
"Huh! Ternyata gadis kecil yang aku manfaatkan untuk alat balas dendam, bisa hidup dengan sangat baik setelah pergi dari sisi ku. Dia bahkan mampu membesarkan anakku seorang diri. Egokah aku bila memaksanya untuk selalu bersamaku? meskipun aku tahu dia tidak ingin lagi bersama lagi."
Ucap Devan didalam hatinya.
Tadi malam, sambil menatap Rey sebelum dia ikut tidur. Devan memikirkan langkah apa yang akan dia lakukan bila setelah hari ini, karena besok pagi mereka akan terbang ke kota X. Yaitu kota asal orang tua mereka. Disanalah keputusan mereka berdua akan berpisah atau tidaknya. Tempat mereka mengucapkan janji suci pernikahan dan kemungkinan juga tempat mereka saling melepaskan.
*BERSAMBUNG* ...
.
.
.
__ADS_1
Sambil menunggu bbg Devan update. Yuk mampir di Novel teman Mak author juga.