
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Dia datang kemari untuk membersihkan tempat ini." jawab Miranda masih tetap tersenyum ramah karena wanita itu memang sangat ramah pada siapapun, bukan hanya pada Devan saja.
Duaaar..
Mendengar kebenaran bahwa Zivanna datang ke sana hanya untuk bekerja membersihkan Apartemen milik dosennya membuat jantung Devan bagaikan tersambar petir saat itu juga.
Darahnya bagaikan berhenti mengalir, untuk beberapa saat Devan terpaku di tempatnya berdiri sebelum kembali lagi bertanya agar membenarkan pendengarannya tadi tidak salah dengar. "Maksudnya membersihkan Apartemen ini?" Devan mengulangi perkataan wanita tadi karena masih belum yakin kalau gadis yang dia ketahui sangat manja pada Ibu Ellena ternyata bisa bekerja di tempat asing seperti di kota Y.
Melihat kebingungan pria yang di hadapannya membuat miranda bertanya-tanya di dalam hati, wanita itu merasa heran kenapa majikan Zizi mencari sampai ke Apartemennya.
"Tuan muda Devan masuklah dulu! Tidak baik berbicara di depan pintu seperti ini," ucap wanita itu mempersilahkan orang terkaya di ibu kota Y untuk masuk kedalam Apartemen mereka. Devan yang memang membutuhkan begitu banyak informasi tentang istrinya mau tidak mau harus ikut masuk.
"Silakan duduk Tuan muda, Saya akan memanggil suami Saya dulu," pamit Miranda untuk memanggil sang suami yang berada di dalam kamar bersama anaknya.
Benar saja tidak lama setelah itu Dosen Ski sudah keluar di ikuti oleh Miranda yang sekarang menggendong anak mereka menyusul di belakangnya.
"Wah ada angin apa ini, sampai Tuan muda Devan mengunjungi apartemen Saya!" sapa dosen itu sambil menyalami tamunya.
__ADS_1
"Anda terlalu memuji Tuan Ski! Saya datang kemari untuk mencari Zivanna." ungkap Devan tidak suka bersa-basi.
Mendengar ucapan Devan membuat dosen itu tersenyum kecil. Di dalam hatinya sudah bisa menduga kalau maksud kedatangan Devan ke kediamannya pasti untuk mencari Zizi.
"Zizi belum datang kemari hari ini karena tugasnya bekerja di sini hanya dua kali dalam satu minggu. Kebetulan sekali kemarin siang sepulang dari kuliah dia datang ke sini dan tadi malam saya yang mengantarnya pulang ke rumah mewah Anda."
Deg...
Jawaban dosen muda itu membuat Devan kaget, pasalnya ia mengira kalau pasangan suami-istri itu tahu bahwa dia adalah suami Zivanna.
"Anda tidak perlu terkejut seperti itu Tuan Devan. Zizi tidak mengatakan apapun tentang Anda. Dia hanya bilang kepada kami kalau dia juga menjadi pembantu di rumah mewah Anda." Dosen Ski sengaja menekan kata Menjadi pembantu di rumah mewah anda.
Agar Devan terpukul mendengar ucapannya. Membalas seseorang tidak perlu sampai menyentuh orangnya. Ski adalah seorang dosen paling unggul di kota Y jadi tidak sulit baginya menebak seseorang.
"Iya betul Zivanna tidak mengatakan hal lain. Kecuali---"
Dosen muda itu sengaja menjeda ucapannya karena dia tau kalau lelaki di hadapannya sangat penasaran.
"Kecuali apa?" dengan hati berdegup kencang depan terus bertanya. Walaupun setelah mendengar kebenaran tentang istrinya membuat hatinya teriris kembali.
Tidak bisa pria itu pungkiri mendengar istrinya menjadi pembantu membersihkan Apartemen dosennya, membuat Devan merasa malu pada dirinya sendiri.
Dia dikenal sebagai pengusaha terkaya di ibu kota Y. Namum, istrinya malah menjadi tenaga kebersihan di Apartemen milik orang lain. Pantas saja setiap pulang ke rumah gadis itu terlihat lelah. Ternyata dia bekerja di luar kediaman suaminya sendiri hanya untuk sesuap Nasi dan mencukupi kebutuhan pribadinya.
__ADS_1
Semenjak Devan membawa gadis itu ikut bersamanya. satu peser uang pun, kecuali membayar uang pendaftaran masuk ke Universitas Gunadarma dia tidak pernah memberi istrinya uang. Padahal lelaki itu tahu kalau Zivanna tidak pernah makan di rumah mewahnya lagi. Seharusnya saat itu Devan sudah curiga dari mana sang istri mendapatkan uang sedangkan dia tidak pernah memberinya.
"Kecuali mengatakan kalau dia sudah menikah dan sedang hamil tiga minggu. Saya minta maaf sebelumnya sudah lancang menyuruh pembantu anda bekerja di sini. Tapi Saya hanya kasihan kepadanya dia tidak bisa membayar uang untuk semester pertama dan yang lainnya. Anda tahu sendiri kan kalau di Universitas tempat saya mengajar apabila masuknya tidak melalui beasiswa maka mahasiswa kami wajib membayar uang puluhan juta tiap bulannya." terang Ski yang kembali lagi menekan kata. Pembantu.
Semakin melihat sesal di wajah Devan. Dosen itu semakin menceritakan bagaimana peliknya kehidupan seorang Zivanna di kota Y. Tidak memiliki sanak saudara yang bisa membantu ataupun sekedar mendengar keluh kesahnya.
Devan memijit pelipisnya di hadapan Dosen Ski, Miranda dan Jimmy. Hal yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapapun. Dalam rapat besar atau gagal merebut tender perusahaan saja dia tidak pernah seperti itu. Kali ini rasanya berbeda, saat kehilangan uang dengan kepergian seorang wanita yang sudah menjadi istrinya.
"Tuan Ski, Nyonya Miranda! Apa kalian tahu kemana saja Zivanna pergi selama tinggal di kota ini. Maksudnya tempat-tempat yang biasa dia datangi?" tanya Devan sudah mulai gusar. Takut kalau tidak bisa menemukan Zivanna lagi.
"Tidak ada Tuan Devan. Kami hanya tahu dia sering ke Kafe yang berada di jalan xc. Biasanya dia tiap hari datang kesana untuk bekerja paruh waktu. Selain tempat itu kami tidak tahu lagi. Tapi maaf kenapa Anda mencarinya? Bukankah dia tinggal di kediaman Anda?"
"Kalau begitu terima kasih informasinya . Tapi maaf Saya belum bisa mengatakan sekarang. Mungkin saya akan menjelaskannya di lain waktu.' Jimi ayo kita pergi." ucap Devan sudah berdiri setelah menyalami pasangan suami-istri itu mereka langsung meninggalkan tempat tersebut.
Di dalam mobil Devan melihat kiri-kanan mana tau bisa melihat sosok istrinya sedang berjalan kaki seperti biasa. Sebelum hari ini meskipun sering melihat Zizi berjalan kaki tapi pria itu Acuh seakan tidak mengenalnya. Namun, malam ini dia sangat berharap masih bisa melihat sosok gadis itu berjalan di depan mobilnya.
"Jimi apa kamu sudah mengerahkan anak buah kita untuk mencari Zizi dan mengecek di Kafe?" Devan semakin merasa khawatir belum bisa menemukan keberadaan istrinya sedangkan di luar sudah mulai turun hujan. Jam pun sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
"Sudah Tuan muda. Saya sudah mengerahkan orang-orang kita untuk mencari Nona Zizi. Tapi mereka tidak menemukan Nona di Kafe itu karena tempatnya sudah tutup dari setengah jam yang lalu." jawab sekertaris Jimi sambil terus menambah kecepatan laju mobilnya.
Sekarang mobil mereka mengarah pulang ke rumah Devan karena lelaki itu sangat yakin kalau Zizi pasti pulang ke sana. Apalagi menurut penjelasan Dokter Kainan, gadis itu pergi tidak membawa uang atau barang apapun kecuali seragam pasien yang di pakainya.
"Zivanna kamu ada dimana?"
__ADS_1
Pria itu bertanya didalam hati, tidak terasa air matanya pun menetes begitu saja. Rasa menyesal dan khawatir baru prian itu rasakan setelah wanita yang dia siksa menyerah dan memilih pergi.