
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Hem! Kalau begitu kami mau ke luar dulu. Ayah dan ibu istrirahat saja." ucap Devan karena mengerti jika kedua orang tuanya kurang istirahat yang disebabkan olehnya perbuatannya.
"Kenapa buru-buru sekali? Ayah masih ingin kita bisa bersama seperti ini." cegah Ayah Dion yang merasa semuanya seperti mimpi. Hari ini adalah perpisahan putra-putri mereka. Namun, siapa sangka justru Zivanna membatalkan semuanya.
"Kita masih memiliki banyak waktu buat bersama, sayang. Mereka juga butuh waktu untuk membicarakan masalahnya yang belum terselesaikan." sela ibu Ellena. Agar sang suaminya tidak menghalangi Devan dan Zizi pergi dari kamar mereka.
"Tapi... baiklah! Karena ini permintaan Istriku, kalian boleh pergi dari sini." Ayah Dion yang memiliki sifat romantis kembali lagi menunjukan seperti apa dirinya.
Semenjak kepergian Zivanna dan goyahnya rumah tangga Devan bersama istrinya. Sikap romantis beliau hilang dengan perlahan, karena rasa bersalahnya tidak jujur dari awal pada sang putra. Sehingga masalah tersebut bisa menjadi besar.
"Ck, Ayah mulai lagi, yang harus bermesraan itu adalah kami berdua, bukan Ayah dan ibu." cibir Devan merasa kalah dari ayahnya sendiri. "Ibu... ayah hanya sedang modus, jadi jangan percaya begitu saja saat dia memagil ibu Istriku, atau memangil sayang. Aku telah menyelidiki jika diperusaahan ayah suka merayu sekertarisnya."
Dasar kompor! Setelah sekian lama tidak mengoda ayahnya. Hari ini Devan juga menunjukan sifat jahilnya.
"Hei! Apa maksudmu?" Ayah Dion menatap putranya dengan sorot mata tajam. Sedangkan yang ditatap malah tertawa sambil mengendong putranya.
"Zi, sayang! Cepat bawa suamimu pergi dari sini. Ayah tidak suka padanya," titah pria paruh baya itu pada Zivanna yang hanya tersenyum melihat Devan dan ayahnya saling menggoda.
"Devan memang mau pergi! Tapi bersama Zizi dan Reyvano." yang dijawab oleh Devan dengan santai. Lalu dia menoleh kearah ibu tiri atau ibu mertuanya. "Ibu... Kami mau keatas dulu. Jika ibu ingin menanam tanaman bunga yang baru. Biar Sekertaris Jimi memesannya. Sepertinya kamar ini cukup panas, jadi lebih baik ibu bersantai di taman." melirik-lirik kearah AC, karena sebetulnya Devan hanya ingin membuat ayahnya marah.
"Astaga! Kenapa aku bisa memiliki anak sep---"
"Ayah, kami keatas dulu, ya. Ayah istrirahat lah selagi libur. Nanti malam Zizi akan memasakan makanan kesukaan, ayah dan ibu." sela Zizi yang sudah tidak tahan menahan tawa bila mereka terus berada di dalam kamar orang tuanya.
"Baiklah, Nak! Sepertinya tadi ayah sudah salah menyuruh kalian berada di sini lebih lama." jawab Ayah Dion ikut menyindir putra durjana nya.
"Ayah!" Ibu Ellena merangkul lengan suaminya. Meskipun sebetulnya suami dan anaknya hanya bergurau. Tetap saja kurang baik karena ada Reyvano yang mendengarkan perdebatan ayah dan kakeknya.
Cup!
"Iya, iya!" Ayah Dion mengecup bibir sang istri. Hal tersebut tentu saja membuat Zizi merasa malu. Lalu dia langsung berpamitan lebih dulu disusul oleh suami dan anaknya.
"Sayang... Kenapa kamu pergi begitu saja?" tanya Devan setelah tiba dikamar Zivanna.
"Tidak ada apa-apa!" jawab Zizi yang tidak mungkin mengatakan alasannya. Padahal sejak dulu Ayah Dion sudah biasa bermesraan dihadapan Devan dan Zizi.
__ADS_1
Tapi semenjak Zizi kembali. Ia baru melihat lagi hari ini. Mungkin karena terlalu pusing memikirkan masalah kedua anaknya, jadi Ayah Dion dan Ibu Ellena melupakan kebahagiaan mereka berdua.
"Benar tidak ada apa-apa? Jika ada, tolong berkata jujur pada Kakak. Kakak tidak mau kamu banyak pikiran." Devan yang tidak mengetahui kenapa Zizi keluar begitu saja. Menjadi was-was. Takut sang istri merasakan sesuatu seperti saat masih mengalami trauma.
"Heum! Benar tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa malu melihat ayah dan ibu." jujur Zivanna duduk di Sofa sambil memperhatikan putranya yang bermain di atas karpet yang dipenuhi berbagai permainan mahal.
"Oh, Kakak kira ada masalah serius. Ayah dan ibu kan memang selalu seperti itu." seru Devan duduk tepat disebelah sang istri. Sambil berbicara dia terus menatap wajah Zivanna. Sehingga membuat wanita itu salah tingkah.
"Jangan menatapku seperti itu," ucap Zizi merasa tak nyaman. Ia sampai membuang pandangan matanya karena tersipu. Walau bagaimanapun hubungan keduanya.
Mereka berdua pernah melalui hari-hari yang dipenuhi kebahagiaan bersama. Bila dibandingkan dengan sisksaan yang Devan lakukan, waktu mereka bahagia jauh lebih lama.
"Kenapa? Apa hatimu masih bergetar saat kakak menatap mu?" tergelak karena tanpa Zizi menjawab. Devan sudah tahu jawabannya.
Tahu kenapa? Jawabnya adalah karena Devan sendirilah yang mengajarkan cinta pada adik tirinya. Dia yang mengajarkan segalanya pada Zivanna, termasuk berciuman.
Zizi adalah gadis polos yang tidak pernah pergi bermain seperti teman-teman wanitanya, karena dia sadar hidup bersama ayah sambung. Zizi tidak mau membuat ibunya malu terhadap suami barunya, karena memiliki putri nakal tidak bisa diatur.
Padahal di kota X. Kehidupan muda-mudi bebas. Tidak ada yang melarang anak sekolah sudah tinggal serumah bersama kekasihnya. Selagi tidak merugikan orang lain. Mereka dibiarkan bebas begitu saja.
"A--a--apa maksudmu!" masih mengelak padahal sudah bisa ditebak oleh Devan yang semakin menatapnya dengan lekat.
"Kamu semakin terlihat cantik bila sedang seperti sekarang." Devan kembali tersenyum tampan. "Ternyata sejak awal mendekati mu, Kakak sudah dibuat jatuh cinta, kamu ternyata begitu menggemaskan."
"Jangan menggodaku. Apakah tidak puas sedari tadi sudah menggoda ayah." jawab Zizi tetap tidak mau menoleh kearah samping, karena dia tahu jika Presdir Atmaja group itu masih terus menatapnya.
"Mengoda ayah dan dirimu berbeda. Apa kamu ingin tahu kenapa berbeda?" sambil bertanya Devan melepaskan jas dan dasi yang dipakainya. Lalu di letakan pada meja kaca yang ada dihadapan mereka.
"Berbeda kenapa?" agh... sial! gara-gara penasaran perbedaan yang Devan sebutkan. Zizi akhirnya menoleh kearah suaminya, dan.
Cup!
"Perbedaannya karena bila sedang menggodamu, jantung Kakak berdebar-debar. Tapi bila mengoda ayah, rasanya ingin tertawa terbahak-bahak." seperti tidak ada beban Devan menjawab santai.
Tidak tahu apa, gara-gara dia mengecup bibir Zivanna meskipun hanya sekilas, sudah membuat jantung wanita itu seakan mau meloncat dari tempatnya.
"Ka--ka--kamu!" seru Zizi tergagap.
"Eum, apa? Mau lagi?" kembali tersenyum sambil menyelipkan anak rambut sang istri ke telinganya.
"Terima kasih! Untung semuanya." ucap Devan malah merebahkan kepalanya pada paha Zivanna yang masih termangu tidak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
"Devan... apa yang kamu lakukan?" seru Zivanna bertambah kaget.
"Kakak tidak ingin melakukan apa-apa. Hanya ingin baring dipangkuan mu." imbuhnya memejamkan mata beberapa detik. "Biarkan seperti ini!" katanya lagi kembali memejamkan matanya. Tapi kali ini Devan mengengam tangan Zivanna dan diletakan di atas dadanya.
"Hampir lima tahun kita tidak pernah seperti ini. Kakak sangat merindukan saat-saat kita selalu bersama." Devan membuka matanya dan menatap Zizi yang juga menundukkan kepalanya untuk melihat Devan yang saat ini berbaring diatas pahanya.
"Selama itu pulalah, Kakak tersiksa karena merindukan mu. Wanita yang Kakak cinta dan sakiti."
Cup, Cup!
Devan mencium tangan Zivanna yang dia tautkan sendiri. "Penyesalan yang sangat menyakitkan." ucap Devan terus bercerita karena Zizi hanya diam sambil menatap wajahnya.
"Bila Kakak diberikan dua pilihan. Antara memilihmu atau Atmaja group, maka kakak tidak akan berpikir dua kali. Pilihan Kakak adalah dirimu." ungkap Devan baru memiliki kesempatan mengungkapkan perasaannya.
Sedari kemarin-kemarin bukan tidak ada waktu. Akan tetapi Devan takut malah kejujurannya membuat Zivanna menjadi tertekan. Berbeda untuk saat ini, karena sang istri telah memberinya kesempatan kedua. Jadi Devan akan berkata jujur tentang apa saja yang dia rasakan.
"Kakak tidak pernah memaksamu untuk kembali mencintai Kakak seperti dulu, karena kamu sudah memberikan kesempatan saja itu sudah cukup." tetap tersenyum melihat wajah cantik sang istri.
"Apa kamu tidak ing---"
"Ha... ha... Ley duga mau naik." tawa Reyvano yang menaiki Sofa dan duduk diatas perut ayahnya. Sehingga membuat ucapan Devan terpotong.
Siapa yang berani menantang si tampan Reyvano. Dia bersikap semaunya. Mungkinkah itu semua pembalasan karena Devan selalu menyusahkan Sekertaris Jimi. Entahlah! Yang jelas sifat Rey begitu mirip dengan Sekertaris pribadi ayahnya.
"Kenapa tidak bermain lagi, heum!" tanya Devan mendekap tubuh putranya.
"Nda mau, Ley mau tama ayah." jawab Reyvano mengelengkan kepalanya. Lalu dia bangkit dari tubuh ayahnya karena ingin memberikan ciuman untuk ibunya yang hanya tersenyum kecil di ujung bibirnya.
Cup, cup, muaah!
"Tayang ibu banak-banak," ucap Rey yang langsung kembali lagi duduk diatas tubuh ayahnya setelah memberikan ciuman untuk sang ibu.
"Memangnya Rey tidak sayang sama Ayah? Jika jawabannya tidak, maka nanti sore ayah tidak akan membawa Rey jalan-jalan." tanya Devan disertai gertakan.
"Ayah kan nda ada teman nya," jawab Rey santai, dia malah terus meloncat-loncat seakan lagi menaiki kuda.
Meskipun terasa sakit. Devan membiarkan saja, karena melihat putranya tertawa bahagia semu rasa sakit itu hilang sendiri.
"Siapa bilang tidak ada temannya. Ayah akan membawa ibu dan juga paman Asel." goda Devan tidak mau kalah dari putranya sendiri.
Perdebatan Reyvano dan ayahnya terus berlanjut sampai siang hari. Zivanna hanya menjadi penonton dengan sesekali tertawa bahagia. Dia tidak menyangka, bahwa memaafkan lebih indah daripada harus memiliki dendam yang tidak memiliki batas.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*...