
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Apa kamu menyukai rumahnya?" Kevin tersenyum kearah Zivanna. Saat ini mereka berdua sedang berada di depan rumah kecil yang hanya berukuran enam kali enam. Rencananya Zizi akan tinggal di rumah itu dan membuka usaha agar bisa mendapatkan uang untuk kebutuhannya.
Di dalam rumah tersebut hanya memiliki dua kamar tidur, ruang keluarga. Dapur cukup luas bila untuk tiga orang, dan tidak memiliki ruang tamu. Ruang tamunya malah di buat tempat usaha, karena tempat ini sangat strategis, dan berhubung pemilik nya sudah memiliki tempat yang baru. Jadinya rumah tersebut di sewakan.
Kevin sudah menawarkan diri ingin membeli rumah mewah dan membiayai seluruh kebutuhan Zizi. Namun, gadis tersebut tidak mau menerimanya. Dia hanya ingin meminjam uang untuk modal usaha dan buat membayar kontrakan sampai beberapa bulan kedelapan.
Selebihnya Zivanna ingin berusaha sendiri. Kevin sudah banyak membantu nya. Gadis itu tidak ingin mampaatkan kebaikan pemuda tersebut. Meskipun Zizi mengetahui Kevin membantunya menggunakan uangnya sendiri, karena walaupun dia masih kuliah tapi sahabatnya itu sudah punya usaha beberapa Kafe kekinian, yang sangat laris di kalangan anak muda seperti mereka.
Andai saja sebelum pergi. Zivanna masih punya kesempatan untuk kembali ke rumah mewah Devan dan membawa tabungan yang dia miliki. Mungkin saat ini Zizi tidak akan terlalu kesusahan, karena dari hasil dia bekerja beberapa bulan, masih ada sedikit yang dia simpan. Buat berjaga-jaga apabila Devan mengusirnya dari rumah tersebut. Nyatanya sepeserpun tidak ada yang di bawa. Kecuali membawa anak Devan yang sedang di kandungannya.
"Suka! Aku sangat menyukainya. Kevin terima kasih ya sudah mau menolong ku. Aku berjanji. Bila aku sudah mendapatkan uang, aku akan segera mengembalikan uang mu. Tapi ... beri aku waktu sampai setelah aku melahirkan." ucap Zizi yang entah sudah beberapa kalinya mengucapkan kata terima kasih.
"Hei! Apa maksudmu, Zi. Aku ikhlas ingin membantu mu. Tidak perlu di jadikan hutang." sudah berulang kali pula Kevin menolak agar Zivanna jangan memikirkan uang yang sudah dia keluarkan. Baginya uang tidaklah penting, asalkan gadis itu bisa memulai hidupnya yang sudah lebih dari kata hancur berantakan.
Bagaimana tidak di bilang hancur berantakan. Gadis tersebut yang seharusnya masih kuliah, tapi sudah berhenti dengan cara terpaksa oleh keadaan. Umurnya belum genap sembilan belas tahun, sudah mau melahirkan seorang anak. Punya suami malah sangat kejam dan hanya di jadikan alat untuk balas dendam. Setelah mendapatkan ibu angkat. Malah ibu angkatnya meninggal dunia, lalu dia di usir dari rumah almarhum.
"Tidak, aku tidak ingin terlalu menyusahkan mu. Tolong do'akan saja, agar usaha ku membuka toko bakery bisa laku dan ada yang membelinya." Gadis itu sedikit tersenyum karena sudah tidak sabar untuk membuka lembaran baru bersama si buah hati.
Zivanna sengaja mencari rumah yang tidak terlalu jauh dari daerah pabrik angur yang ada di sana. Agar memudahkan usahanya untuk berjualan. Selain sudah belajar membuat kue dari Almarhumah Ibu Eris. Zizi juga sudah memiliki bakat membuat kue brownies dan lainnya. Dari Ibu Ellena. Jadi gadis tersebut ingin mencoba mengembangkan bakatnya, karena dalam keadaan hamil besar seperti saat ini hanya pekerjaan itu yang dia bisa.
"Ya baiklah! Terserah padamu saja. Tapi jangan terlalu memaksakan diri. Kamu juga tidak perlu meminta do'a dariku, karena tanpa kamu pinta, aku akan selalu mendoakan mu." Kevin pun akhirnya mengalah terserah pada Zizi mau mengembalikan uangnya atau tidak, karena percuma saja meskipun dilarang, gadis itu tetap pada pendiriannya.
"Baiklah kalau begitu ayo kita mulai membereskan apa saja yang di perlukan untuk membuka usaha mu. Besok pagi aku harus kembali ke kota Y karena hari Rabu nanti, aku ada ulangan semester yang tidak bisa aku lewatkan." ajak Kevin berjalan masuk untuk membenahi rumah sekaligus toko bakery untuk Zizi.
Akhirnya mereka berdua pun mulai membereskan satu persatu. Mereka tidak hanya berdua, tapi juga ada enam orang tenaga kerja laki-laki dan wanita paruh baya. Membantu mereka menyusun bara-barang dan perlengkapan lainnya. Bila hanya berdua saja tentu tidak akan selesai dalam waktu setengah hari. Jadi Kevin mencari tenaga bantuan dari warga sekitar.
Kebetulan tempat ini sangat ramai tapi rumah dan pasilitas umumnya tersusun dengan rapi. Tempat yang cocok untuk gadis seperti Zizi. Agar dia bisa tenang berada di daerah Asri meskipun sudah banyak pabrik di daerah tersebut.
"Zizi kamu jangan terlalu lelah! Biarkan para bibi dan paman itu yang menyusun nya." cegah Kevin saat melihat Zivanna menyusun tempat-tempat meletakan kue di lemari kaca.
"Ah tidak apa-apa. Aku tidak lelah! Bila kamu lelah istrirahat saja. Nanti jam lima baru kita pergi berbelanja. Agar besok pagi sebelum kamu kembali. Tokoh nya sudah mulai beroperasi. Biar aku bisa mulai mendapatkan penghasilan." tidak ada kelelahan yang Zizi rasakan. Meskipun membawa perut besarnya berjalan kesana dan kemari.
Semangat ingin berdiri dengan kakinya sendiri. Membuat gadis muda itu dewasa sebelum waktunya. Walaupun dia masih memiliki ibu kandung, Zivanna sudah memutuskan tidak ingin kembali lagi ke keluarga Atmaja. Demi kebahagiaan ibu dan keselamatan nyawa anaknya.
Zivanna hanya tidak mau, nanti karena melihat dia kembali. Devan kembali menyakiti Ibu Ellena dan juga membunuh anaknya. Sebab Devan sendiri yang berkata bila Zizi sampai hamil. Tidak hanya nyawa anaknya yang akan di habisi, tapi juga nyawa nya.
__ADS_1
Terkadang kesakitan yang kita alami lah yang membuat kita menjadi sosok dewasa meskipun belum waktunya.
"Baiklah bos!" jawab Kevin yang tadinya ingin beristirahat malah ikut berbenah lagi, karena melihat Zivanna begitu bersemangat.
"Jangan mengoda ku, bos nya adalah dirimu. Sekarang anggap saja dirimu sedang membuka usaha baru, dan kita sedang bekerjasama." ucap Zizi yang tidak berhenti membereskan apa saja yang dia bisa.
"Wah, aku suka bila sebutannya seperti itu. Baiklah Nona Zivanna ... sekarang mari kita berjabat tangan. Untuk memulai kerjasama kita." Kevin tergelak sambil mengulurkan tangannya. Dia ikut bahagia melihat Zizi memiliki semangat yang luar biasa. Padahal baru kemarin gadis itu berkabung setelah di tinggal ibu angkatnya.
"Hem! Tentu Tuan Kevin. Mulai saat ini kita bekerjasama." menyambut uluran tangan Kevin sambil tersenyum.
Setelah itu mereka berdua kembali lagi membantu pekerjaan yang bisa di kerjakan. Sampai setengah empat sore, semuanya sudah siap. Tinggal pergi berbelanja saja. Diluar perkiraan. Tadinya Kevin memperediksi akan selesai setidaknya sampai pukul tujuh malam. Nyatanya jam setengah empat sore saja sudah beres.
"Bibi semuanya. Sekali lagi terima kasih sudah membantu kami." ucap Zivanna setelah Kevin memberi upah pada mereka berenam.
"Sama-sama, Nona. Anda tidak perlu sungkan, karena ini memang pekerjaan kami. Bila Nona membutuhkan sesuatu bilang saja. Rumah Bibi ada di sebelah rumah ini " jawab seorang wanita yang kira-kira umurnya baru empat puluh tahunan.
"Benarkah rumah Bibi berada di sebelah? Wah kebetulan sekali Bibi. Saya pasti akan sering merepotkan Anda." seru Zizi merasa senang sudah mengenal tetangganya.
"Iya benar, Nona. Rumah nya ada di sebelah rumah ini. Pangil saja namanya Bibi Emi. Kalau Saya pangil saja Bibi Husna dan ini Bibi Suri." sahut perempuan satunya lagi. Sedangkan para suami mereka sudah pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Iya, kalau begitu kenalkan nama Saya Zivanna. Kalian cukup pangil nama saja tidak usah pakai nona." tadi mereka semua memang belum sempat berkenalan dengan Zizi. Namun, jika dengan Kevin mereka sudah berkenalan saat pemuda itu menanyai siapa orang yang mau membantu membereskan rumah tersebut.
"Baiklah! Kalau begitu kami pulang dulu ya? Bila Zizi membutuhkan sesuatu ingat pesan Bibi. Kamu bisa memangil salah satu dari kami." pamit ketiga wanita tersebut yang di iyakan oleh Zivanna.
"Iya, aku takut hujanya tidak berhenti dan kita tidak jadi berbelanja." Zivanna ikut melihat kearah luar jendela.
"Em ... Aku terserah padamu. Mau berangkat sekarang juga tidak masalah. Aku hanya khawatir kalau dirimu kelelahan." putus Kevin yang begitu mengkhawatirkan keadaan gadis itu.
"Aku tidak lelah. Lagian kita belanjanya tidak banyak. Untuk percobaan saja dulu. Takutnya pembelinya belum ada." membuka usaha untuk pertama kalinya tentu saja Zizi harus punya perhitungan.
"Pertimbangan yang sangat bagus. Ayo kita berangkat sekarang." Permuda itu langsung mengandeng tangan Zizi menuju mobilnya. Tidak lupa dia juga membukakan pintu nya dan membantu Zizi memasang selt belt setelah sama-sama duduk di dalam mobil. Zizi yang tidak bisa menolak pun hanya diam saja.
"Kita pergi berbelanja bahan untuk membuat kue dan juga semua keperluan mu lebi dulu. Setelah itu baru kita mencari makan." kata Kevin menentukan kemana mereka akan pergi.
"Iya, terserah kemana saja. Berbelanja lebih dulu itu jauh lebih baik, biar tenang." jawab Zizi mengikuti saja, karena Kevin yang tahu kota itu. Meskipun sudah tujuh bulan tinggal di sana. Zivanna belum pernah pergi sendirian. Apabila mau pergi selalu bersama ibu angkatnya.
"Nanti bila kamu ingin berbelanja mintalah bantuan Bibi Emi. Jangan pergi sendirian, aku takut dirimu malah tidak tahu jalan pulang." sebetulnya Kevin sangat berat meninggalkan Zizi. Namun, harus bagaimana lagi. Dia diam di kota itu untuk menemaninya juga tidak mungkin.
"Lihat saja perkembangan usaha ku dulu. Bila lancar, ya tidak masalah minta bantuan Bibi Emi. Namun, bila tidak lancar dari mana aku dapat membayar gaji nya. Kamu tahu sendiri kalau aku tidak memiliki uang." jawab Zivanna sesuai kemampuannya. Buat membuka usaha saja dia masih berhutang, mana mungkin bisa membayar gaji seseorang. Itulah yang Zizi pikirkan.
"Aku yang akan membayarnya. Kamu cukup mengurus usahamu saja." Kevin memang sudah berniat akan memperkerjakan Bibi Emi biar ada yang membantu Zivanna.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak ingin selalu menyusahkan mu. Biarlah aku berusaha sendiri, Kev." Zizi kembali menolak niat baik sahabatnya itu.
"Zivanna, aku mohon kali ini saja, tolong terimalah! Aku tidak bisa meninggalkan mu begitu saja." ucap Kevin seraya mematikan mesin mobilnya karena mereka sudah tiba di pusat perbelanjaan.
"Aku tidak apa-apa. Jangan mengkhawatirkan aku. Kamu simpan saja uang nya untuk yang lain. Aku tahu kamu sangat perduli padaku. Tapi aku mohon biarkan aku berusaha sendiri, karena tidak mungkin aku selalu bergantung pada mu." seru gadis itu ikut memohon. Agar Kevin jangan memaksa nya.
"Suatu saat nanti kamu akan memiliki keluarga mu sendiri. Lalu siapa yang akan membantu ku. Kalau bukan diriku sendiri." Zivanna berkata dengan sendu. Meskipun berat untuk di jalani tapi dia memang harus memikirkan semuanya dari sekarang.
Tidak mungkin dia harus selalu bergantung pada Kevin. Sedangkan sahabatnya itu adalah seorang bujangan, yang cepat atau lambat pasti akan menikah.
"Zi ... aghkk, sudahlah bila kamu ingin nya seperti itu. Aku juga tidak bisa memaksamu. Ayo kita turun." ucapa Kevin langsung mengalihkan topik pembicaraan mereka. Meskipun sebetulnya dia ingin mengatakan bahwa dia rela tidak menikah sebelum melihat Zizi hidup bahagia. Tapi langsung Kevin urungkan karena takut gadis itu salah paham pada niat baiknya.
Lalu akhirnya mereka turun dari mobil dan masuk kedalam supermarket untuk mencari keperluan yang sudah di catatan oleh gadis tersebut agar tidak lupa. Kevin bertugas mendorong troli sedangkan Zizi hanya memilih bahan yang akan di beli.
Mereka berdua sudah seperti sepasang suami-istri yang berbelanja untuk pindahhan ke rumah baru. Sebab di dalam troli tersebut sudah bermacam-macam rupa barang keperluan rumah tangga.
Meskipun Kevin menjadi pusat perhatian para wanita, tidak membuatnya malu membantu Zizi berbelanja. Bahkan pemuda itu juga memilih susu untuk ibu hamil.
"Ayo kita bayar." kata Zizi sambil menyeka karigat di pelipisnya. Meskipun hanya bertugas memilih barang, tetap saja dia merasa lelah.
"Apa hanya segini?" bertanya karena Zizi sudah mengajaknya ke kasir.
"Iya hanya segini saja. Kita bahkan sudah membeli barang yang tidak ada di dalam list." Zizi mengelengkan kepalanya dan tersenyum. Berbelanja bersama Kevin sudah seperti bersama ibu-ibu rumah tangga.
"Tidak apa-apa biar sekalian. Kalau perlu kita belanjanya buat satu bulan. Agar kamu tidak usah repot-repot pergi belanja sendirian." ucap Kevin yang mengikuti Zizi dari belakang. Untuk menuju meja kasir.
Tiba di kasir. Kevin langsung membayar semua belanjaan mereka. Tidak lupa dia juga meminta pegawai yang laki-laki untuk membantu membawa barang-barang tersebut menuju mobilnya.
"Kita langsung pulang saja. Malam ini aku akan memasak makanan spesial untuk mu." ucap Zizi setelah mereka duduk didalam mobil.
"Apa kamu tidak lelah? Ini juga sudah jam tujuh malam?" sahut Kevin sembari melihat jam di pergelangan tangannya.
"Tidak! Aku masih sanggup kalau hanya memasak buat makan malam kita. Tadikan bahan-bahan untuk di masak sudah lengkap semuanya."
"Oke, nanti aku juga akan membantumu." Akhirnya mereka berdua langsung pulang tidak jadi makan malam di luar seperti yang sudah di rencanakan sebelumnya.
inilah rumah baru Zivanna Lois.😂
__ADS_1
Jangan lupa singgah di novel pernikahan Salsa juga ya🤗