Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Diary Zivanna.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Setelah dari kampus mencari informasi untuk menemukan istrinya. Devan sudah hampir sampai kerumah mewahnya. Tidak jauh, mungkin tinggal setengah kilo meter lagi. Namum, saat mobilnya baru saja memasuki jalan kompleks. Sekertaris Jimi menelpon menyuruh dia berangkat ke perusahaan sekarang juga karena ada masalah darurat yang tidak bisa Jimi selesaikan sendiri.


Jadilah Pria itu memutar kembali setir mobilnya kearah perusahaan Atmaja group. Andai saja masalah ini tidak menyangkut kerjasama dengan orang dari luar negeri. Rasanya Devan enggan untuk ke perusahaan hari ini karena baginya saat ini Zizi adalah hal paling penting.


Bukan hanya sang istri, tapi juga ada calon anaknya bersama wanita itu. Anak! Satu nama yang membuat Devan semakin merasa gila di buatnya. Belum tentu Zizi akan mengandung anaknya, tapi lelaki tersebut sudah berniat akan menghabisi nyawa anaknya sendiri.


Sekarang semua penyesalan tersebut baru dia rasakan. Kehilangan istri meskipun tidak dia cinta, dan kehilangan calon anaknya sendiri walaupun sempat tidak dia akui.


"Kemana lagi Kakak harus mencari kalian?" tanya Devan sambil memukul setir mobilnya berkali-kali. Untuk meluapkan kekecewaan pada dirinya sendiri. Kecewa karena balas dendam nya, sekarang dia harus merasakan sakit lebih dari saat kedua orang tuanya berpisah dulu.


"Tolong kembalilah, Kakak mohon, Zi. Bila kamu kembali, hari ini juga Kakak akan mengembalikan kamu pada Ibu Ellena. Kamu pergi dari rumah sakit, pasti karena takut di siksa kan?" terus berbicara sendiri dengan sesekali menarik rambut mengunakan satu tangannya.


Lalu kembali lagi berbicara sendiri. "Kamu harus pulang, hidup di luaran sana sangat kejam. Apalagi keadaan dirimu sedang tidak sehat. Bagaimana mungkin, kamu merawat anak... kita sendirian. Sedangkan dirimu hanya gadis muda yang belum tahu apa-apa. Jadi Kakak mohon kembalilah, bila tidak untuk ku. Maka pulang demi anak kita."


Tes...


Tidak terasa air mata Pria itu kembali menetes dengan sendirinya. Dia yang berbicara sendiri, dia juga yang menagis mendengar ucapannya.


Dua puluh menit setelahnya, mobil Devan sudah memasuki kawasan perusahaan Atmaja Group. Kalau bukan orang-orang yang berkepentingan dengan perusahaan. Maka tidak diizinkan masuk ke wilayah tersebut. Dari awal kawasan pintu masuk satu, sampai ke kawasan pintu masuk dua, penjaga keamanannya sangat ketat.


Maka dari itu pesaing bisnis Devan tidak bisa menyentuh perusahaan Atmaja. Bila harus menyusup ke dalam perusahaannya langsung.

__ADS_1


Tiiin...


Pria itu membunyikan klakson mobil setelah melewati pos satpam yang berjaga, yang disambut oleh para orang-orang dengan hormat karena tahu yang berada di dalam mobil mewah tersebut adalah Presdir pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.


Begitu turun dari mobil lelaki itu pun tidak membalas sapaan dari para karyawannya. Dia hanya fokus berjalan ke depan menuju lift khusus bagi petinggi perusahaan. Tiba di dalam nya Pria tersebut langsung menekan angka tempat kantornya berada. Lalu setelah tiba di atas, dia keluar dari lift itu, dan berjalan lagi masuk kedalam kantornya.


Jangankan sapaan dari karyawan lain, sedangkan sapaan dari sekretaris yang berada di depan ruang kerjanya saja, tidak lelaki itu hiraukan. Melihat orang yang tersenyum kearahnya, membuat Pria itu kembali mengingat senyuman sang istri yang akhirnya-akhir ini tidak dia lihat lagi.


Klek...


"Ada masalah apa, Jim? Sehingga aku harus kembali kesini. Apa kalian semua tidak becus bekerja lagi. Kamu tahu kan kalau aku sedang mencari istri dan anakku!" bentak Devan yang tidak tau harus meluapkan emosi nya kemana.


Padahal saat dijalan tadi, Sekertaris Jimi sudah menjelaskan duduk permasalahannya. Lalu kenapa begitu masuk langsung marah-marah. Jimi hanya bisa mengelus dadanya.


"Maafkan Saya, Tuan muda. Sudah mengganggu waktu penting Anda. Tapi apabila masalahnya tidak penting, maka Saya tidak akan berani meminta Anda datang ke perusahaan saat ini juga." meskipun menahan jengkel dalam hatinya. Sekretaris Jimi tetap berbicara dengan sopan dan menjelaskan duduk permasalahannya dengan sabar, karena dia tahu mengapa bosnya bisa hilang kendali. Dikit banyaknya pasti ada hubungan dengan kepergian Nona mudanya dari rumah. itulah yang ada dalam pikirannya Jimi.


"Aagh! Kalau begitu maafkan aku juga. Aku hanya sedang tidak bisa berpikir dengan benar sebelum menemukan Istriku." ujar Devan baru sadar setelah mendengar penjelasan sekertaris Jimi.


Melihat hal itu Devan pun tidak mengoceh yang tidak jelas lagi dan hanya pokus menyelesaikan pekerjaannya, yang ada kekeliruan besar antara perusahaan dia dan perusahaan asing. Bila tidak segera di selesaikan, maka akan berdampak buruk bagi perusahaannya.


Tidak terasa Devan dan sekretaris pribadinya itu, baru menyelesaikan pekerjaan tersebut. Setelah jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Lalu dengan buru-buru Pria itu pulang membawa mobilnya sendiri. Meskipun sekertaris Jimi sudah menawarkan untuk mengantarnya pulang.


Tiba di loby perusahaan, mobilnya sudah di siapkan oleh pengawal yang bertugas memarkir dan menyiapkan mobil apabila Presdir perusahaan datang atau saat mau pulang. Jadi tidak perlu menunggu lagi.


Begitu di bukakan pintunya. Devan langsung masuk lalu setelah menutup pintu itu dia membunyikan klakson lagi pertanda terimakasih nya.


Tiba di jalan raya yang terlihat sepi. Devan menambah kecepatan laju mobilnya agar cepat tiba di rumahnya. Masih berharap kalau Zivanna sudah pulang dengan sendirinya.

__ADS_1


Tidak sampai lima belas menit mobil Mercedes Benz tersebut sudah memasuki pekarangan rumah nya. Pria itu keluar dari mobil dan berjalan masuk untuk menemui Bibi Marta.


"Tuan sudah kembali?" ternyata wanita baya itu yang juga sudah menunggu kedatangannya dari tadi.


Dengan jantung berdebar kencang lelaki itu bertanya ada apa. "Ada apa Bibi Marta? Apakah Istriku sudah kembali?" tanya Devan tidak sabar menunggu jawabannya, karena itulah yang membuat jantung nya berdebar.


"Tidak Tuan, justru Saya menunggu Anda karena ingin mengetahui keada Nona Zizi" Bibi Marta menjawab dengan sendu.


"Oh, ya Tuhan! Aku kira tadi ada berita baik. Kalau begitu aku akan kembali kekamar. Tolong siapapun yang mencari ku, bilang kalau aku tidak ada." kata Pria itu sedikit putus asa.


Cek... lek...


Bau parfum sang istri kembali menyeruak. Sehingga membuat desiran itu kembali lagi terasa. Andaikan dia tidak berbuat kejam pada Zizi, mungkin saat dia pulang bekerja seperti sekarang. Akan selalu mendapatkan sambutan hangat dari istrinya.


Setelah menutup dan mengunci pintunya. Devan melempar kasar jas yang dia sampir di tangannya ke sembarang arah. Lalu dengan tangan bergetar Devan mengambil kembali buku Diary milik Zivanna yang dia temukan di dalam tas ransel sang istri.


Meskipun takut untuk membaca isinya. Tapi Pria itu lakukan demi mendapatkan petunjuk dimana istrinya berada.


"Buku catatan harian ku"✍️


..."Hari ini, Kakak sekaligus kekasihku akan kembali. Jangan tertawa... kami memang sudah berpacaran dari enam bulan yang lalu. Apa kalian tahu kalau aku sangat mencintai kakak ku, karena dia sangat baik dan juga menyanyagi ku...


Dari kecil aku sudah tidak memiliki ayah, karena ayahku sudah pergi meninggalkan ibu dan juga aku untuk selama-lamanya. Beliau mempunyai penyakit kanker. Sehingga merenggut nyawanya, yang membuat ayah harus meningalkan kami berdua.


... ...


Tapi setelah ibuku menikah dengan Ayah Dion, aku mendapatkan sosok pengganti ayah ku. Bahkan aku juga mendapatkan seorang kakak laki-laki yang akan menjadi tembok pelindung, bila diriku dalam bahaya."

__ADS_1


.


Tulis Zizi pada lembaran pertama buku Diary tersebut. Membaca itu saja sudah membuat Devan Atmaja kembali menagis. Dia baru mengetahui kalau istrinya memiliki penyakit kanker keturunan dari mertua laki-lakinya. Didalam hati Pria itu sudah menduga yang tidak-tidak kalau Zizi pasti akan meninggalkan dia untuk selama-lamanya.


__ADS_2