Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Kantor pengadilan.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


"Ayo kita turun!" ajak Devan setelah mobil yang dikendarai oleh Sekertaris Jimi berhenti di tempat pemakaman umum di kota tersebut.


Tadi setelah ditenangkan oleh ibu Ellena. Zivanna sudah terlihat baik-baik saja. Namun, yang seharusnya mereka berangkat sebelum jam tujuh pagi. Ini jadinya berangkat jam delapan, karena harus membujuk Reyvano yang kembali tidak mau ditinggal dan mau ikut bersama kedua orang tuanya.


"Eum!" jawab Zizi mengaguk kecil dan diapun ikut turun bersamaan dengan Devan, karena pintu mobil tersebut telah dibuka oleh pengawal yang mengikuti mobil mereka dari arah belakang.


"Terima kasih!" ucap Zizi lagi pada pengawal yang membuka pintu untuknya.


"Apa kamu juga akan kemakam ayah ku?" tanya Zivanna melihat Devan mengikuti dia masuk kearah pintu gerbang makam. Tadinya dia mengira kalau suaminya itu hanya akan mengantarkan sampai tempat tujuan saja.


"Tentu saja, dia bukan hanya ayahmu tapi juga masih menjadi mertua Kakak. Sudah ayo jalan! Bila bertambah siang, maka tempatnya juga akan bertambah panas." kata Devan mengandeng tangan ibu dari anaknya itu.


Entah ada yang sadar atau tidak. Mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan. Hal yang sering mereka lakukan seperti kurang lebih lima tahun lalu. Anehnya Zivanna tidak merasa apapun terhadap kenangan tersebut.


Dari mobil ke makam ayah Zizi. Mereka harus berjalan kaki sekitar tujuh menit, karena letaknya jauh dari jalan besar.


"Lama tidak pernah ke sini lagi. Ternyata tempatnya sudah banya berubah, ya. Dulu sekitar ini belum ada makam. Tapi sekarang sudah dipenuhi oleh makam-makam baru." kata Zivanna menunjuk makam-makam yang mereka lewati disepanjang jalan menuju tempat makam ayahnya berada.


"Iya, setelah kita menikah. Kakak hanya satu kali kesini. Itu saat dua hari setelah kepergian mu dari rumah sakit." saat berkata, terdengar Devan seperti berat mengucapkannya.


"Lama sekali? Apa dirimu tidak pernah ke makam Tante Marisa?" wanita itu berhenti ditempatnya berdiri dan melihat kearah Devan yang berada disampingnya.


Rasanya Zivanna kurang percaya kalau Devan tidak pernah mengunjungi makam Marisa selama empat tahun terakhir. Sebab setahu Zizi, suaminya itu biasanya setiap kembali ke kota X. Selalu mengunjungi makam Marisa. Perempuan yang juga menjadi ibu mertuanya.


"Iya, cukup lama! Semenjak kepergian mu, Kakak memang tidak pernah lagi kemakam nya. Sudah ayo jalan, kenapa malah berhenti disini." imbuh pemuda itu kembali menarik tangan Zivanna.


"Tapi kenapa kamu tidak pernah kemakam Tante Marisa lagi? Bukannya katamu sekarang lebih sering kembali kerumah ayah?" masih tetap bertanya, padahal mereka sudah tiba di depan makam Ayah Aron.


"Ayo berdo'alah!" titah Devan pada sang istri. Bukannya dia tidak mau menjawab pertanyaan Zivanna. Namun, dia hanya malas untuk mengingat wanita yang sudah menghancurkan hidup sang ayah dan juga dirinya sendiri.


Berhubung mereka sudah tiba dimakam ayah Aron. Zivanna pun melupakan pertanyaan perihal kenapa Devan tidak pernah berkunjung kemakam ibu mertuanya.


"Ayah--- Ini Zizi!" ucap wanita tersebut disertai air matanya. Meskipun saat ayahnya meninggal dunia Zizi masih berumur enam tahun. Akan tetapi dia sudah bisa mengingat wajah ayahnya kala itu.


Maka dari itu juga, apabila dia sedang demam. Zivanna selalu mengigau menyebutkan nama sang ayah. Pria yang menyayangi nya dengan tulus, karena semenjak dibohongi oleh Devan. Selain pada sahabatnya Kevin. Zivanna tidak pernah percaya lagi, termasuk pada ayah Dion.


Laki-laki yang menyanyagi nya dengan tulus, seperti mana pada putrinya sendiri. Namun, sayangnya rasa sayang Zizi pada ayah tirinya telah hilang, bersamaan perasaan nya pada Devan. Intinya, wanita itu takut bila Ayah Dion baik, karena berpura-pura juga.


"Yah, maafkan putri ayah," ucap Zizi setelah mencium batu nisan ayahnya. "Tolong ayah jangan marah, karena Zizi tidak pernah datang kesini lagi. Ceritanya sangat panjang. Tapi Zizi berjanji bila kembali kesini, maka akan menceritakan semuanya." seolah-olah ayahnya masih hidup. Wanita itu memohon maaf sambil meneteskan air matanya.


"Sekarang Zizi sudah mempunyai seorang anak laki-laki. Namanya Reyvano, hari ini Zizi belum bisa membawanya ke sini, karena ada hal yang harus kami selesaikan." selama Zivanna bercerita pada makam ayahnya. Devan hanya duduk di samping sang istri.


Dia sengaja membiarkan Zizi bercerita pada makam mertuanya, karena dulu Devan juga suka seperti itu. Namun, sayangnya karena merasa kecewa pada sang ibu. Devan tidak pernah lagi menangis diatas makam seperti yang istrinya lakukan saat ini.


"Tapi bila kesini lagi, Zizi pasti akan membawa cucu ayah. Agar dia tahu kalau ayah dari ibunya tinggal disini." ucap Zizi masih terus bercerita.


Hampir setengah jam kemudian. Zivanna sudah selesai berdo'a dan juga bercerita pada gundukan batu, sebagai penganti ayahnya. Lalu sebelum pergi, Zizi menabur bunga pada makam tersebut. Setelah berdiri dia pindah kesamping tempat Devan, karena tahu kalau suaminya juga ingin berdo'a


"Ayah--- Maafkan Devan yang sudah mengecewakan kalian semua. Maaf juga, sudah menyakiti putri mu." ucap pria itu yang berhenti sesaat sebelum kembali melanjutkan lagi.


"Dulu, sebelum kami menikah. Devan datang kesini untuk meminta do'a restu. Namun, setelah hampir lima tahun tidak datang kemari. Devan datang lagi untuk mengatakan, kalau hari ini kami akan mengurus surat perceraian."

__ADS_1


Meskipun hatinya terasa sakit mendengar ucapannya sendiri. Devan tetap harus mengatakan juga pada ayah mertuanya, bahwa dia dan Zivanna akan berpisah. Setelah ini tidak mungkin dia akan ketempat itu lagi.


"Maafkan aku juga, yang tidak bisa memberimu kesempatan kedua."


Ucap Zizi di dalam hatinya begitu mendengar perkataan sang suami.


"Semoga perpisahan ini, baik untuk kami berdua. Agar tidak ada hati yang tersiksa dan tersakiti lagi. Semua ini, bukan kesalahan putri ayah. Tapi ini kesalahan Devan." kata pria itu mengakui kesalahannya. Lalu dia kembali lagi mengatakan apa yang ada didalam hatinya.


"Tolong do'akan, semoga Devan dan Zizi bisa menjadi orang tua yang baik untuk Reyvano. Devan berjanji, meskipun kami sudah resmi berpisah. Tapi selagi Devan masih hidup, maka akan terus menjaga Zizi sebagai kakak laki-lakinya."


Tes ...


Tes ...


Sekuat-kuatnya Devan menahan agar air matanya tidak jatuh. Nyatanya dia tetap menagis, karena sejatinya dia memang tidak memiliki tempat untuk menceritakan keluh kesahnya.


Namun, meskipun menangis. Dia tidak sama seperti Zizi yang terdengar isakan. Devan hanya meneteskan air mata saja, setelah menghapuskan mengunakan ujung jari tangannya. Tidak akan ada yang tahu kalau Presdir Atmaja group itu sudah menangis. Termasuk Zivanna sendiri.


"Sudah, ayo kita pergi sekarang!" ajak Devan berdiri, setelah dia menyelesaikan do'anya seperti yang Zivanna lakukan tadi.


"Baiklah, tapi apa kita tidak sekalian kemakam Tante, eh maksudku apa kita tidak sekalian kemakam Ibu Marisa?" melihat Devan mendo'akan Ayahnya. Zivanna merasa bersalah, bila tidak membalas mendo'akan ibu mertuanya. Anggap saja mereka sedang bergantian.


"Tidak, kita langsung saja." jawab Devan berjalan sambil kedua tangannya dimasukan kedalam saku celananya. Dia sengaja berjalan santai karena menunggu sang istri yang masih berdiri dipinggir makam mertuanya.


Lalu Zivanna yang ditinggal pun berlari kecil untuk mensejajarkan langkah kaki mereka.


"Kenapa tidak sekalian saja? Lagian katamu tadi sudah lama tidak pernah kemakam ibu," tanya Zizi dengan heran.


Mendengar pertanyaan tersebut Devan hanya tersenyum kecil. Sebuah senyum yang terselip luka didalamnya.


"Untuk saat ini, Kakak tidak memiliki niat untuk kesana. Namun, entah kalau lain waktu." menjawab santai meskipun sakit didalam hatinya.


"Suuuiiit! Sudah, ayo kita pergi sekarang. Kita belum ada waktu juga. Ingat kan apa pesan putramu sebelum kita pergi." sela Devan kembali menarik tangan Zizi. Agar istrinya itu tidak bertanya lagi.


Apa yang dia lakukan berhasil, karena Zizi tidak bertanya lagi. Sebab tadi Reyvano berpesan tidak boleh lama-lama. Jika kedua orang tuanya lama, maka si tampan akan menagis.


Aneh-aneh saja si Reyvano. Mana ada anak kecil yang mengancam seperti itu, karena biasanya kalau anak seumuran dia. Bila mau mengis, ya menangis saja.


"Oke, kita pergi sekarang. Tapi bila kamu ingin kesana. Aku akan menemanimu." kata Zizi sambil mengikuti langkah suaminya.


"Eum, terima kasih!" jawab Devan sambil berjalan menyusuri jalan pemakaman.


Begitu tiba didekat mobil.


"Masuklah!" ucapa pria itu membukakan pintu mobil untuk sang istri. Zizi tidak menjawabnya, hanya saja dia langsung masuk kedalam mobil tersebut.


Braaak ...


Suara pintu mobil yang ditutup oleh Sekertaris Jimi, karena meskipun tuan mudanya bisa membuka pintu mobil sendiri. Tetap saja, dia dan pengawal lainnya tidak akan membiarkan Devan membuka pintu mobil sendiri, kecuali untuk nona muda mereka.


"Apa kita akan langsung ke kantor pengadilan agama Tuan muda?" tanya Sekertaris Jimi mulai menjalankan kendaraan mewah milik tuanya.


"Entahlah, tanya nona muda mu." jawab Devan agar Zivanna sendiri yang memutuskan mereka akan kemana.


"Maaf Nona muda. Kita akan kemana dulu?" Sekertaris Jimi kembali menanyakan hal serupa pada istri Tuan nya.


"Eum... iya, kita langsung kesana saja." entah mengapa sebelum menjawab, Zizi terlihat ragu-ragu.

__ADS_1


"Baik, kalau begitu kita langsung kesana." ujar Sekertaris Jimi menambah kecepatan laju kendaraan tersebut, karena untuk sampai ke kekantor pengadilan. Mereka harus menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit.


Selama dalam perjalanan. Kedua pasangan suami istri itu hanya diam tidak bicara sepatah katapun. Mereka sama-sama larut dengan perasaannya masing-masing.


Benar kata Ibu Ellena. Perpisahan tersebut hanya untuk menyakiti diri mereka sendiri-sendiri.


Saat mereka berdua masih melamun. Suara Seketaris Jimi mengagetkan keduanya.


"Tuan muda, Nona muda. Kita sudah sampai, apa mau keluar sekarang?" Sekertaris tersebut menanyakan lagi, karena jujur saja. Sedari tadi, dia berharap diantara kedua majikanya itu ada yang berkata.


Kita tidak jadi ke kantor pengadilan. Sekarang kita akan pergi jalan-jalan.


Harapan seorang Sekertaris setia.


"Terima kasih, Jim. Kalian tidak perlu ikut masuk kedalam. Tunggu saja disini, kami berdua tidak akan lama." ucap Devan sebelum keluar dari dalam mobil. Di susul juga oleh Zivanna.


"Tapi----"


"Tidak perlu khawatir. Di dalam pasti aman. Jangan membuatku malu, masa masuk kedalam tempat seperti ini membawa pengawal." kata Devan seraya memperbaiki jas nya.


"Baiklah, tapi kami akan berjaga di luar." jawab Sekertaris Jimi yang tidak mungkin melawan perintah sang bos.


"Mari kita masuk." Devan mengulurkan tangannya pada Zivanna yang masih diam dipinggir pintu mobil yang terbuka lebar. Setelah keluar, dan berdiri didepan kantor pengadilan tersebut. Tiba-tiba hatinya menjadi tak menentu sambil melihat kearah Devan yang lagi berbicara dengan Sekertaris Jimi.


"Agh ... iya, ayo kita masuk!" Zivanna tidak mau menyambut uluran tangan suaminya. Wanita itu hanya berjalan mendekat. Agar mereka masuk kesananya serempak.


Dengan jantung berdebar-debar. Keduanya pun melangkahkan kaki mereka masuk kedalam untuk menemui bagian yang terkait. Sebetulnya, Devan bisa saja menyuruh pengacara yang mengurus semuanya. Namun, karena Zizi yang mengajak. Jadinya pria itu datang seperti pasangan biasa yang tidak memiliki kekuasaan tinggi.


"Selamat siang Tuan Atmaja, Anda sudah datang. Ayo ikut bersama Saya." sambut seorang pria berpakaian sangat rapi.


"Iya, selamat siang juga. Kami sengaja datang lebih cepat dari jam yang sudah dibuat oleh pengacara Saya." jawab Devan sambil menjabat tangan pria itu, bergantian juga dengan Zivanna istrinya.


"Tidak apa-apa, Tuan Atmaja. Kalau begitu mari ikut Saya." kata si Pria itu menuntun mereka berdua masuk kedalam lift untuk menuju keruangan yang mereka tuju.


Dari semenjak masuk tangan Zizi mengeluarkan keringat dingin. Devan yang melihat kegelisahan istrinya langsung saja mengengam tangan tersebut agar bisa tenang.


"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja." ucap Devan memenangkan. Padahal didalam hatinya ingin berteriak mengatakan kalau dirinya tidak mau berpisah dengan sang istri.


Zivanna yang digenggam tangannya hanya mengangguk kecil. Sejujurnya begitu tangan mereka saling ditautkan. Dirinya seakan-akan mendapatkan keberanian untuk menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya.


Memang pasangan yang aneh. Biasanya dimana-mana bila ingin mengajukan perceraian. Belum ada yang seperti mereka berdua. Masih berangkat satu mobil dan berjalan pun mereka masih bergandengan tangan.


Ting ...


Pintu lift terbuka. Lalu mereka keluar bersama mengikuti pria yang mengantarkan mereka berdua.


"Selamat siang Tuan Atmaja. Mari silahkan duduk. Ada hal apa orang penting seperti Anda harus repot-repot datang menemui Saya." Devan dan Zivanna kembali lagi mendapatkan sambutan ramah dari orang yang mereka temui.


"Selamat siang juga Tuan, Bram. Makanya Saya datang kemari tentu ada hal yang ingin Saya selesaikan." jawab Devan langsung duduk karena sudah dipersilahkan.


"Oke, kalau begitu katakan saja, Saya siapa membatu." kata laki-laki yang bernama Bram. Lalu dia menyuruh pria yang mengantar tamunya itu untuk keluar dari sana.


"Rik, kamu keluar saja, dan cukup tunggu di depan pintu. Jangan biarkan siapapun masuk, sebelum Tuan Atmaja selesai." perintahnya yang takut bila Devan merasa tidak nyaman.


"Baik, Pak. Saya akan berjaga diluar." kata pria itu langsung meninggalkan ruangan tersebut.


Lalu setelah hanya tinggal mereka bertiga. Devan pun langsung menceritakan maksud kedatangan dia dan istrinya.

__ADS_1


"Apa kalian berdua yakin, Tuan, Nona?" tanya pria bernama Bram itu memastikan.


__ADS_2