
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Braaak ...
Praaaank ...
Duaaar ...
Duaaar ...
"Berengsek!" umpat Sekertaris Jimi kesal, melihat dua mobil pengawal yang paling depan sudah terpelanting keluar dari aslpa. Dalam kegelapan malam, tempat tersebut tiba-tiba menjadi terang benderang karena satu mobil pengawal Atmaja sudah meledak setelah kena tembakan dari senjata api laras panjang.
Suara ledakan dan dentuman tersebut, terjadi tidak jauh dari mobil Mercedes Benz yang membawa Devan dan keluarga kecilnya. Hanya berjarak tiga mobil. Sebab mobil iring-iringan itu berjumlah dua belas mobil. Sebelas mobil pengawal khusus, dan satu lagi mobil Presdir Atmaja group. Yaitu mobil yang dinaiki oleh Devan.
Mobil mereka langsung berhenti mendadak begitu melihat dua mobil paling depan sudah hancur. Begitu pula dengan mobil lainnya. Para pengawal yang berada di mobil belakang sudah keluar dan melakukan penyerangan balik, sambil mendekati mobil Tuan muda, guna melindungi kesalamatanya.
Tembak-tembakan mulai terjadi saat para pengawal Atmaja yang di pimpin oleh Felix dan Andes sudah menyerang.
Mereka memang terbagi menjadi dua pimpinan. Satu, mengawal dari depan dan satu pimpinan lagi, mengawal dari belakang mobil Devan.
"Apa yang terjadi?" sentak Devan kaget. Begitu pula dengan Zizi yang langsung terbangun dari tidurnya. Untungnya Reyvano tetap tidur dengan nyaman dalam pelukan sang ayah. Meskipun diluar sudah terjadi peperangan.
"Bara, pasti dia yang melakukannya." ucap Sekertaris Jimi sudah mengeluarkan senjata api yang selalu dibawanya.
"Kurang ajar! Ternyata dia ingin mengulangi kesalahan seperti dua tahun lalu." ucap Devan yang kesal dengan musuhnya itu.
"A--a--apa, a--a--apa, apa ya--yang terjadi?" tanya Zivanna dengan suara putus-putus. Ketakutannya semakin jadi kala melihat para pengawal Atmaja sudah mengelilingi mobil mereka.
"Tidak terjadi apa-apa. Tenanglah!" ucap Devan merangkul istrinya agar bisa tenang.
"Bo--bo--bohong! Ja--jangan berbohong pa--pada ku." Zivanna langsung menangis ketakutan saat matanya melihat salah satu dari pengawal Atmaja tertembak. Namun, setelah itu Devan cepat-cepat menarik Zizi agar menghadap pada dadanya.
"Tenanglah, ini hanya penyerangan kecil yang dilakukan oleh pesaing bisnis ku. Pengawal kita akan membereskan masalah ini. Mereka pasukan khusus bukan pengawal biasa." kata Devan mengelus kepala Zizi yang terus menagis ketakutan sambil memeluk putranya juga.
__ADS_1
"Jimi!" ucap Devan memangil sekertarisnya.
"Maafkan Saya, Tuan muda." seolah-olah paham apa maksud Devan menyebut namanya. Sekertaris tersebut langsung mengambil penutup telinga apa bila mereka sedang berlatih menembak. Lalu diberikan kepada Devan yang tidak bisa bergerak banyak, karena harus memeluk tubuh sang istri dan putranya secara bersamaan.
"Pakai ini. Kamu tidak akan mendengar apa-apa setelahnya." ucap Devan memasangkan benda tersebut pada telinga istrinya. Sehingga membuat Zizi menjauhkan tubuh mereka dan melihat Devan memindahkan Reyvano kepangkuan nya.
"A--a--apa yang akan kamu lakukan?" Zizi langsung melepas alat tersebut dan memindahkan ketelinga Rey yang tetap tidur dengan nyaman.
"Kakak akan turun sebentar. Diam dan tunggulah disini bersama Jimi." Devan melepas jas yang dipakainya. Lalu jas tersebut dia selimuti pada tubuh Reyvano.
"Tidak! Jangan turun dari sini." cegah Zizi sambil menggelengkan kepala. Takutnya langsung digantikan dengan rasa khawatir karena Devan akan turun dari mobil.
"Sebentar, tidak akan lama. Semuanya akan baik-baik saja." imbuh Devan masih bisa tersenyum. Meskipun didalam hatinya diliputi rasa khawatir. Dia tidak takut dengan Bara ataupun orang lain. Tapi yang dia takutkan saat ini adalah keselamatan anak dan istrinya. Makanya Devan memutus untuk turun tangan sendiri.
"Jimi, jangan tinggalkan mobil apapun yang terjadi. Lindungi Nona muda, aku akan menemui Bara. Agar masalahnya cepat selesai, jangan sampai putraku terbangun dan melihat semuanya." ungkap Devan yang tidak mau Rey menyaksikan yang terjadi disekitarnya.
"Baik Tuan muda! Saya akan menjaga mereka dengan nyawa Saya sendiri." jawab Jimi dengan tegas.
Dua tahun lalu. Devan juga pernah diserang oleh Bara dan sekutunya. Dari semenjak itulah mereka membuat Tim pengamanan Atmaja group. Kalau sebelum itu, Devan tidak pernah dikawal seperti pejabat negara . Demi keselamatan tuan mudanya, Sekertaris Jimi selalu membawa pengawal setiap mereka bepergian.
"Tidak, jangan turun. Diluar sangat bahaya." Zizi memegang tangan Devan dengan erat.
"Tapi---"
"Suuuiiit! yakinlah, semuanya akan baik-baik saja. Jaga anak kita." sela Devan sudah bersiap-siap akan turun. Namun, saat tangannya hendak membuka pintu mobil. Dia berbalik melihat kearah Istri dan anaknya.
Cup ...
"Kakak sangat mencintaimu!" seru Devan setelah mencium kening Zivanna dan juga memberikan beberapa ciuman pada sang putra.
"Jimi, bila memungkinkan, mobil kalian berangkat duluan. Jangan khawatirkan aku."
Braaak ...
Devan langsung keluar tidak menunggu jawaban dari Jimi. Baginya keselamatan istri dan anaknya adalah nomor satu.
Begitu Devan sudah keluar. Tembak-tembakan berhenti begitu saja. Baik dari pengawal Atmaja group ataupun musuhnya. Ada beberapa pengawalnya sudah terkapar di atas jalan. Begitu juga dengan anak buah Bara.
__ADS_1
"Felix, Andes, ikut aku! Yang lainya tetap berjaga disini. Bila Jimi pergi, kalian semua kawal mobilnya." ucap Devan sudah berjalan menuju kearah musuhnya.
Zizi yang menyaksikan dari dalam mobil bukannya bisa tenang. Tapi dia semakin menangis. Hanya saja tangisnya dia tahan karena tidak ingin Rey terbangun lalu mencari sang ayah.
"Sekertaris Jimi, pergilah! Bantu tuan muda mu. Dia dalam bahaya." ucap Zizi agar Jimi membantu laki-laki yang saat ini tetap menjadi suaminya.
"Saya akan tetap disini menjaga Anda Nona." Jimi mana mungkin berani melangar perintah dari Devan.
"Kalian tidak perlu menjagaku. Aku tidak mengenal mereka, dan tidak memiliki urusan dengannya." sentak Zizi kesal karena Jimi tetap pada pendiriannya.
"Maaf, Nona," hanya kata maaf yang bisa Jimi ucapkan. Meskipun dia mengkhawatirkan bos nya. Tetap saja dia harus mengikuti perintah.
Sementara itu di dekat mobil mewah yang cukup jauh dari jarak Devan meninggalkan anak dan istrinya.
"Wah, wah, wah! Selamat malam Tuan Devan. Sudah lama kita tidak bertemu." sapa ramah seorang laki-laki yang seumuran dengan Devan.
Mendengarnya Devan menarik sudut bibirnya keatas dan menjawab sapaan tersebut. "Selamat malam juga Tuan Bara. Lumayan lama, Saya kira, tidak akan pernah bertemu manusia seperti Anda lagi." cibir Devan dengan santainya.
"Ciih! Ternyata kesombongan Anda tidak pernah berubah Tuan Devan." Bara yang iri akan kesuksesan Devan langsung panas saat mendengar perkataannya.
"Huh, katakan! Apa mau Anda Tuan Bara?" ucap Devan yang tidak memiliki waktu banyak, karena takut putranya terbangun.
"Kenapa harus buru-buru? Apa Anda takut, jika wanita dan anak kecil itu mati kerena ketakutan?" tersenyum mengejek.
Namun, ucapan Bara langsung membuat Devan menatapnya dengan tajam. Bila saja tidak ada anak dan istri yang dia lindungi. Sudah dari tadi Devan menembaknya.
*BERSAMBUNG* ...
.
.
.
.
Sambil menunggu cerita bbg Devan update. yuk, mamfir di cerita sahabat Mak author.
__ADS_1
Terima kasih.😘