
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Tolong izinkan Kakak mengendong Reyvano." Devan tidak mampu menahan rasa sakit hati. Melihat wanita yang dicintai menangis ketakutan karena dirinya. Gadis yang selalu bermanja padanya disaat masih pacaran, karena bagi Zivanna. Devan bukan hanya sekedar kekasih. Tapi juga kakak laki-lakinya. Dari umur enam tahun tidak pernah lagi merasakan kasih sayang dari seorang ayah. Membuat Zizi sangat menyayangi Devan maupun Ayah Dion.
Namun, siapa sangka, kasih sayang yang Devan berikan hanya untuk melancarkan balas dendamnya. Semuanya hanyalah kebohongan belaka. Awal-awal mendapatkan penyiksaan. Gadis itu selalu berharap kalau perubahan sikap cinta pertamanya itu karena sedang ada masalah di perusahaan. Akan tetapi semua harapan Zizi putus ditengah jalan. Saat sang suami mengatakan akan menikahi wanita lain dan saat dia hampir meregang nyawa karena perbuatan Devan yang tidak mau mengakui anak yang dikandungnya. Tidak hanya sampai disitu, Devan bahkan berniat ingin menghabis nyawa mereka.
"Dia anakku, kamu tidak ada hak untuk menyentuhnya!" semakin Devan memohon agar diberi izin untuk menggendong putranya. Zivanna pun semakin memeluk erat anaknya.
"Dia juga anakku. Aku ayahnya!" mendengar penuturan Zizi, membuat Devan melupakan perbuatannya dimasa lalu. Pria itu tidak suka saat Zizi menyebutkan kalau dia tidak punya hak atas Reyvano.
"Ayah!" Zizi tersenyum mengejek, mendengar Devan mengakui sebagai ayah putranya. Lalu setelah itu dia kembali berkata
"Iya, kamu memang ayahnya. Ayah yang ingin menghabisi nyawa anaknya sendiri. Ayah yang tidak mengakui kehadirannya. Ayah yang lebih memilih pergi bersama kekasihnya daripada membawa kami ke rumah sakit." tangis Zivanna semakin jadi begitu mengigat kejadian dimana Devan lebih memilih pergi bersama Fiona daripada membawanya ke rumah sakit. Padahal malam itu Dokter Kaivan sudah meminta bantuannya.
Deg ...
Kata-kata Zivanna bagaikan sebilah pedang yang langsung menghujam tepat pada jantungnya. Devan membisu tidak bisa menjawab ataupun mengelak karena apa yang dikatakan oleh Zizi adalah benar.
Hampir setiap dia masuk ke kamar Zivanna. Kejadian saat dia menampar, menyeret gadis itu kekamar mandi dan waktu mendorong dengan kuat agar Zizi keguguran. Devan juga masih ingat, kalau malam itu Zizi pulang membawa makanan dan susu ibu hamil yang diberikan oleh Dosen Ski dan Miranda istrinya.
Namun, dengan seenaknya Devan melempar barang-barang tersebut. Semua perbuatan itu selalu berputar pada kepalanya bagaikan sebuah kaset. Apalagi bayangan Zivanna yang sudah tidak berdaya dalam gendongan Dokter Kai sahabatnya.
"Jika kamu seorang ayah, maka tidak mungkin orang lain yang menolong kami malam itu. Padahal kamu sendiri ada disana." Zizi kembali meluapkan apa yang ingin dia katakan selama ini.
__ADS_1
Sehari semalam Zivanna berada di rumah sakit. Devan tetap tidak datang untuk melihat keadaannya. Padahal saat itu Zizi sangat berharap, laki-laki yang masih menjadi suaminya itu datang untuk meminta maaf dan merubah sikapnya demi calon anak mereka.
"Maaf, maafkan aku, Zi!" tidak ada kata-kata lain yang bisa Devan ucapkan. Lidahnya seakan kelu tidak mampu untuk bicara.
"Aku sudah memaafkan, mu. Jadi cepat pergi dari sini!" usir Zizi yang tidak ingin melihat muka Devan lagi. Melihat pria itu hanya kembali membuat lukanya yang baru mulai pulih, sudah berdarah lagi.
"Aku tidak akan pergi, jika tidak bersama kalian berdua. Bertahun-tahun aku mencarimu kemana-mana. Tidak akan aku biarkan kalian pergi untuk kedua kalinya." ucap Devan yang terus berdebat dengan Zizi. Tanpa keduanya sadari kalau dari tadi putranya menjadi pendengar dan penonton.
"Ibu, ama Om tenapa dangis? Ley aja nda danis." pertanyaan Reyvano membuat keduanya diam. Setelah menarik nafasnya dalam-dalam. Devan kembali maju untuk mengendong tubuh sang putra.
"Rey, maafkan ayah, Nak." ucap Devan begitu dia sudah berhasil mendekap tubuh Reyvano. Meskipun Zizi berusaha menahan putranya.
"Maafkan Ayah, sayang. Maaf karena perbuatan ayah kalian harus menderita." meskipun putranya tidak mengerti, Devan terus mengucapkan kata maaf.
"Butan Ayah. Api Om danteng tayak Om Tavin." jawab Reyvano yang mengira kalau pria dewasa tersebut salah bicara.
"Butan Om. Api Ayah?" ulang Rey.
"Benar, bukan Om. Tapi Ayah. Ini ayah sudah pulang membawa uang untuk membeli mainan, mu." Devan sengaja berbicara seperti itu, agar Reyvano paham kalau Devan adalah ayah yang dibilang ibunya sedang mencari uang.
"Ayah dah puyang." Rey langsung berhambur memeluk Devan setelah mendengar kalau ayahnya sudah kembali. Reaksi Reyvano membuat Devan kembali menangis sambil balas memeluk tubuh mungil sang putra.
"Iya, Ayah sudah pulang dan tidak akan pernah meninggalkan Rey lagi. Maafkan Ayah, Nak" meskipun tahu dia tidak bisa dimaafkan. Tapi Devan tetap meminta maaf.
Sedangkan Zivanna langsung membelakangi Devan dan Reynano yang sedang berpelukan. Dia tidak kuasa menahan tangis karena sakit hati mengigat masa lalu dan juga menagis melihat putranya bisa merasakan pelukan seorang ayah.
Selama ini semenjak mulai mengerti. Setiap habis main diluar rumah. Reyvano sering menanyakan sosok ayahnya, karena teman-temannya memiliki sosok tersebut sedangkan dia tidak punya.
__ADS_1
"Ayah nda pelgi- pelgi agi Tan?" tanya Reyvano mendorong dada sang ayah dan menatap matanya. Untuk mendapatkan kepastian.
"Tidak, ayah tidak akan pergi-pergi lagi karena sekarang ayah sudah banyak uang." kata Devan tersenyum melihat wajah bahagia putranya.
"Andai aku tidak pernah menyakiti Zizi, maka Istri dan anakku tidak akan pernah hidup menderita seperti ini. Ya Tuhan, terima kasih sudah mengizinkan aku untuk bertemu dengan mereka lagi. Sehingga aku dapat memeluk putraku. Aku benar-benar menyesal pernah berniat untuk melenyapkannya. Tolong beri aku kesempatan untuk menebus semua dosa-dosa ku pada wanita yang telah aku sakiti.
Ucap Devan didalam hatinya. Lamunannya berakhir setelah mendengar suara putranya bersorak gembira.
"Hole, ayah nda pelgi-pelgi agi." Reyvano berlari turun dari pangkuan Devan dan berlari kearah ibunya yang masih membelakangi mereka.
"Bu ... danan dangis dadi. Ayah dah puyang." ucap Reyvano menarik baju ibunya dari belakang. Anak itu tidak tahu, kalau ibunya menangis karena ayahnya yang kembali.
"Bu, danan dangis dadi." Reyvano kembali menarik baju sang ibu. Mendengar ucapan putranya, Zizi bukannya diam tapi malah semakin menangis tersedu-sedu.
"Sayang, biarkan ibu menangis! Sekarang Rey bobo dulu, ya? Ayah akan bicara dengan ibu agar tidak menagis lagi." kata Devan membujuk putranya agar tidur lebih dulu karena tidak mungkin dia dan Zizi berdebat didepan anaknya lagi. Walau bagaimanapun pembicaraan mereka berdua, tetap mengarah pada perdebatan panjang.
Segudang pernyataan yang ingin dia tanyakan. Tidak hanya masalah mereka berdua. akan tetapi juga masalah Om Kevin yang dimaksud putranya tadi.
BERSAMBUNG ...
.
.
.
...Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya 🤗 Yuk, mumpung hari Senin. Bagi yang mau, berikan vote nya buat bbg Devan. Agar Mak author semangat juga buat nulisnya. Ini mah sepi mencam kuburan.😧😧😧...
__ADS_1