
๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท
.
.
Setelah habis membaca satu lembar kertas tersebut. Devan kembali membuka lembaran selanjutnya. Meskipun hatinya semakin sakit setelah membaca curahan hati yang dengan sengaja di tuangkan pada buku kecil itu. Namun, rasa penasarannya semakin besar tentang apa saja yang sudah Zivanna tuliskan. Sebelum mulai membaca, Devan menarik nafas guna menstabilkan sesak di hatinya.
Dendam kakak tiri ku
"Aku kira, kami menikah karena atas dasar cinta. Tapi ternyata hanya untuk menjadi alat balas dendam kakak tiri ku. Jangan di tanyakan sakit nya, karena setelah aku menyerahkan hidup dan mahkota yang aku miliki. Tidak membuat rasa cintanya itu ada. Begitu tiba di rumah, tepatnya didalam kamar yang aku kira adalah kamar kami berdua. Dia mulai berlaku kasar padaku.
Meskipun aku sudah mengatakan bahwa ibu tidak pernah merebut Ayah Dion dari Tante Marisa. Tetap saja, Kakak masih menyeret aku kedalam kamar mandi. Lalu menyiram tubuh ku di bawah shower. Setelah menyiksa ku, dia langsung pergi begitu saja.
Jujur saja, aku tidak marah dia balas dendam padaku. Walaupun ibuku tidak bersalah. Tapi aku hanya kecewa karena selama ini semua yang Kakak katakan adalah sebuah kebohongan. Dia tidak pernah mencintaiku!
Andai saja aku tidak berjanji pada Ibu dan Ayah Dion. Mungkin aku sudah mengatakan kalau yang bersalah adalah Tante Marisa. Tapi jika sekarang aku mengatakan bahwa ibu Kakak sendiri yang bersalah. Semuanya percuma saja, karena tidak akan bisa mengembalikan keadaan seperti semula.
Deg...
"Apa maksudnya tidak bersalah? Menggapa Zizi menulis kalau ibuku yang bersalah? Jika ibu Ellena tidak bersalah, lalu siapa yang bersalah sebenarnya?"
Devan bertanya-tanya di dalam hatinya. Sebelum dia berdiri dan melihat jam di pergelangan tangannya.
"Jam sembilan malam! Biasanya penerbangan terakhir jam setengah sebelas malam. Tidak, tidak! Aku harus pulang malam ini juga." secepat kilat Pria itu menyambar kunci mobil dan handphone miliknya. Tidak lupa dia membawa buku Diary tersebut dan handphone punya Zizi sebelum pergi dari kamar itu.
Tidak berpikir lagi, Devan langsung mengambil keputusan untuk terbang ke kota X malam ini juga. Dia akan bertanya pada ayahnya apa sebenarnya yang sudah terjadi. Kenapa istrinya menulis kalau yang bersalah adalah ibunya sendiri.
Ttttddddd...
Ttttddddd..
__ADS_1
๐ฒ Devan : "Jimi, siapkan penerbangan ke kota X malam ini juga. Sekarang aku sudah dalam perjalanan ke bandara." tidak menunggu jawaban dari sekretaris nya, Devan langsung memutuskan sambungan begitu saja.
Di dalam hatinya menjadi bertambah kacau. Memikirkan belum bisa menemukan Zizi saja sudah membuat nya tidak bisa makan dan tidur. Ini di tambah satu impormasi kalau ibunya lah yang bersalah.
"Bagaimana kalau yang bersalah adalah ibu ku? Apa yang akan aku katakan pada Ayah dan Ibu Ellena. Aaaghkk! Kenapa aku bisa ceroboh tidak pernah mencari tahu lebih dulu. Padahal aku memiliki segalanya." setir mobil yang tidak bersalah menjadi pelampiasan Pria itu.
"Aaagkk! Dasar bodoh kamu Devan, bodoh! Bila yang bersalah adalah ibu. Maka aku sudah berdosa pada istriku sendiri." umpatan demi umpatan. Devan ucapkan untuk melampiaskan rasa kesal, menyesal dan terluka karena perbuatan dia sendiri.
"Tapi sebelum ibu pergi meninggalkan rumah saat itu, katanya karena ayah sedang dekat dengan karyawan nya? Makanya ayah memukul ibu dan mengusir ibu dari rumah." berusaha mencari kebenaran sendiri. Devan berusaha mengingat kembali bahwa sang ibu tidak bersalah, dan yang bersalah adalah Ibu Ellena yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kedua orangtuanya.
Dua puluh lima menit mobil Lamborghini milik Devan sudah masuk kawasan bandara. Malam ini dia memang sengaja mengunakan mobil tersebut agar mudah saat melewati kendaraan lainnya.
Entah bagaimana caranya sekertaris Jimi sudah lebih dulu tiba, dari pada Devan. Padahal saat Devan meneleponnya tadi, dia masih berada di perusahaan.
"Apa semuanya sudah siap?" bertanya sambil berjalan. Pria itu tidak perduli pandangan aneh orang-orang pada nya. Bagaimana mereka tidak merasa aneh, seorang Presdir Atmaja pergi dalam keadaan kacau. Baju kameja yang dia pakai, lengannya sudah di gulung sebatas siku. Kancing teratas pun sudah di lepas dan tidak memakai jas ataupun dasi.
Belum lagi mukanya yang bekas menangis. Meskipun Devan seorang laki-laki macho, tapi bila bekas menangis terlalu lama tetap saja akan terlihat.
"Tidak perlu! Kamu pantau perusahaan dan urus Fiona. Antar dia pulang ke Apartemen milik nya, karena aku ntah kapan baru bisa kembali ke sini lagi dan... tambahkan tiem untuk mencari keberadaan Istriku. Bila ada berita apapun, segera hubungi aku." ucap Devan yang sudah siap menaiki pesawat, karena begitu Devan tiba di sana, pesawatnya langsung take off penerbangan.
Di dalam pesawat. Devan duduk dengan gelisah. Bukannya dia takut bila Ayah Dion dan ibu Ellena marah padanya, apabila mereka tahu Zizi pergi dari rumah karena dia menyiksa istrinya. Tapi yang paling dia takut kan mereka memaksa Devan untuk menceraikan Zivanna.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan istri ku. Mau ibu yang bersalah ataupun Ibu Ellena. Aku sudah tidak peduli lagi" terus saja berbicara sendiri. Untungnya tidak ada orang lain selain para pengawal yang mendampinginya.
"Aku hanya ingin kamu kembali!" seru Devan lagi. Memang hanya itulah yang diinginkan oleh Pria itu saat ini, bisa membawa Zizi kembali bersamanya. Dia sudah tidak peduli lagi akan dendam nya pada ibu Elena.
Mau siapapun yang bersalah, baginya itu sudah tidak penting, karena bila di bandingkan sakit hati rumah tangga orang tuanya hancur, dengan sakit hati ditinggal oleh istrinya. Maka Devan lebih memilih melupakan masa lalu yang sudah terjadi. Dari pada harus sakit hati di tinggal pergi oleh Zivanna.
Saat Devan masih larut dalam pikirannya. Pesawat yang dia tumpangi sudah kembali mendarat di bandara Ibukota X. Masih sama Devan hanya diam tidak berbicara sepatah kata pun, pada para pengawal yang mengikutinya dari belakang.
Begitu keluar dari pesawat, Devan langsung masuk ke dalam mobil mewah, yang sudah menunggunya sejak tadi. Semua persiapan tersebut tentunya tidak lepas dari sekertaris Jimi, karena memang dialah yang sudah menyiapkan semuanya.
__ADS_1
Di dalam mobil menuju ke kediaman keluarga Atmaja, yaitu kediaman ayahnya saat ini. Pria itu masih sama seperti ketika dalam pesawat. Dia hanya diam sambil melihat lampu-lampu dan rambu lalu lintas di pinggir jalan. Sepatah kata pun masih tidak mau berbicara pada para pengawal yang bertugas melindunginya.
Pengawal yang sudah tahu mengapa tuan muda mereka seperti itu, juga tidak berani bertanya lebih. Dan memilih untuk diam saja, yang penting bekerja melaksanakan tugas masing-masing.
BERSAMBUNG..
.
.
.
.
...Halo Kakak-Kakak Raider tersayang๐ค Kakak semuanya dimanapun kalian berada, Semoga baik-baik saja dan dalam perlindungan Tuhan yang maha kuasa. Oh, ya, Mak author cuma ingin memberitahukan. Kalau novel Dendam Kakak tiri ku .Akan mengadakan Giveaway pulsa sebanyak 160.000 untuk 5 orang pemenang....
Semuanya akan mendapatkan pulsa sesuai dengan nilai kalian memberikan dia hadiah nya ya๐ค
Juara satu. pulsa 60.
Juara dua. pulsa 45
Juara tiga. pulsa 30.
Juara empat. pulsa 15
Juara lima. pulsa 10 ribu.
Pemenangnya akan kita ambil seperti biasa ya, Kak. Yaitu Dinilai dari siapa yang paling banyak memberikan Hadiah dan VOTE.
Dan akan dihitung mulai tanggal 26 sampai tanggal 26 bulan depannya lagi. Terimakasih.๐
__ADS_1