Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Hitungan mundur.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Pagi pun sudah tiba. Matahari terbit dengan begitu cerah, secerah wajah Zivanna yang selalu tersenyum bahagia sehingga membuat orang-orang di sekelilingnya merasa ada keanehan.


Jika dulu tidak heran, karena Zizi memang gadis yang ramah mudah tersenyum dan sangat ceria. Tapi semenjak dia kembali, Zivanna sudah banyak berubah.


"Apa kalian berdua akan berangkat sekarang, Nak?" tanya ibu Elena dengan wajah begitu sendu. Di muka yang sudah mulai ada keriput, nampak kalau mukannya terlihat sembab karena menangis.


Sedangkan Ayah Dion sedari mereka di meja makan sampai saat ini tidak ada bicara sepatah katapun. Mungkin beliau masih kecewa dengan keputusan yang diambil oleh kedua anaknya.


Apabila saran dari orang tua sudah tidak didengarkan oleh para anak-anaknya, maka entah itu Ayah maupun ibu, hanya bisa diam untuk menahan kesedihan yang mereka rasakan.


"Iya Bu, jam sembilan nanti kami sudah harus tiba di sana." yang dijawab oleh Zivanna dengan wajah cerianya.


"Oh, ya sudah! Kalian berdua hati-hati biar ibu yang menjaga anak kalian." jawab ibu Elena lagi, dengan suara yang sudah bergetar karena dia menahan agar tidak menangis di hadapan Devan maupun Zizi.


"Terima kasih, Bu. Kalau begitu kami berdua pergi dulu." pamit Zivanna berjalan keluar lebih dulu. Dia memang tidak berpamitan pada Ayah Dion karena laki-laki paruh baya itu membuang pandangan matanya. Beliau tidak mau menoleh ke arah Zizi maupun Devan putranya.


"Ibu, Ayah. Kami pergi dulu, tolong do'akan agar semuanya lancar." ucap Devan berpamitan dengan sopan.


"Iya, pergilah, Nak! Ibu selalu mendo'akan yang terbaik buat kalian." jawab wanita paruh baya itu sambil menangis.


Setelah putrinya sendiri keluar Ibu Elena tidak kuasa untuk membendung air mata yang sudah ditahannya sedari tadi.


"Ibu... jangan menangis! Kami hanya berpisah sebagai suami-istri. Selain itu tidak ada yang berubah. Devan tetap akan menjadi putra ibu, kami tetap masih bisa berkumpul sebagai saudara." Devan memeluk ibu tirinya. Agar Ibu Ellena bisa lebih tenang.


"Coba kalian lihat Zivanna kita yang selalu ceria dan mudah tersenyum, sekarang sudah kembali. Dia begitu bahagia, Bu. Jadi tolong beri Restu pada perceraian kami, agar semuanya jadi lebih baik untuk kita semua." kata Devan melepaskan pelukannya. Lalu dia langsung menyusul Zizi yang sudah keluar lebih dulu.


"Sayang... sudahlah! Ini semua bukan salah kita, sebagai orang tua hanya bisa mengingatkan. Selebihnya keputusan berada di tangan mereka. Devan dan Zizi sudah sama-sama dewasa. Sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk untuk kedepannya." seru Ayah Dion memeluk tubuh sang istri.

__ADS_1


*


*


Sementara itu, di dalam mobil. Devan dan Zivanna sama-sama diam tidak banyak bicara. Mereka hanya larut dengan pikirannya masing-masing.


Kali ini yang mendampingi Devan adalah Sekertaris Jimi. Semua itu atas permintaan si tuan muda Atmaja yang sebentar lagi akan menjadi duda.


Sesuai perkataan Ayah Dion dan Dokter Kaivan kemarin pagi. Jika Sekertaris Jimi akan menyusul pada sore harinya, karena dia masih menyelesaikan beberapa pekerjaan yang ada sangkut pautnya dengan perusahaan Atmaja group.


"Jimi, apa kamu sudah mengutus orang kita untuk menemui Tuan Rifal?" tanya Devan setelah dari tadi hanya ada kesunyian.


"Sudah, Tuan Muda. Saya sendiri yang menemuinya tadi malam." jawab Sekertaris Jimi selalu memberi laporankan yang memuaskan.


"Kamu sendiri? Kenapa tidak mengutus orang-orang kita saja?" Devan kembali bertanya. Tidak puas pada jawaban yang hanya setengah-setengah.


"Karena Saya... ingin sekalian jalan-jalan di kota ini saat malam hari, Tuan." ungkap Sekertaris Jimi karena selama ini dia selalu berada di samping tuan mudanya saja.


"Tumben sekali? Biasanya kamu tidak pernah pergi jalan-jalan ataupun pergi ke taman. Bila tidak sedang menemani ku?" ejek Devan yang ingin mengurangi rasa sesak di dalam hatinya.


Meskipun perlahan. Tapi pasti waktunya akan habis. Semakin jauh mobil yang dia naiki berjalan. Maka semakin singkat hubungan dia dan Zivanna.


"Setelah hari ini. Tugas Saya akan bertambah berat, makanya Saya ingin menikmati selagi ada waktu untuk bersantai. Meskipun hanya sebentar." Sekertaris Jimi menjawab dengan berani.


"Apa maksudmu? Kamu lagi mengejekku?" mata sipit Devan langsung membola, ketika mendengar jawaban dari Sekertaris durhakanya.


"Hei... sudah, biarkanlah Sekertaris Jimi. Lebih baik kita keluar sekarang." sela Zivanna karena mobil mereka sudah tiba di depan lobby kantor pengadilan agama.


Deg!


Jantung Devan seakan berhenti berdetak. Waktunya sudah habis. Itulah yang dia ketahui.


"Huem! Ayo!" ajak Devan keluar dari mobilnya, karena pintu mobil tersebut telah dibuka oleh para pengawal yang mengikuti mereka menggunakan kendaraan lainnya.

__ADS_1


Saat menuju ke lantai tempat ruangan Tuan Bram berada. Kaki Devan seakan tidak bisa melangkah maju. Semuanya terasa berat, sama seperti hatinya yang berat untuk melepaskan sang istri.


"Selamat datang kembali Tuan Atmaja, Nona Zivanna. Ayo silahkan duduk." sapa Tuan Bram dengan ramah.


"Terima kasih, Tuan Bram." jawab Devan dan Zivanna secara serempak. Lalu mereka berdua pun duduk karena telah dipersilahkan.


"Bagaimana, apakah kalian benar-benar sudah yakin dengan keputusan untuk berpisah?" tanya pria paruh baya itu lagi.


"Sudah, kami berdua sudah siapa." jawab mereka kembali serempak. Lalu saling pandang untuk beberapa detik.


"Baiklah karena Saya akan berangkat ke persidangan. Maka kita langsung saja. Tunggu sebentar, Saya mengambil surat pengesahan bahwa kalian sudah resmi berpisah." ucap Bram berjalan menuju lemari kaca tempat dia menyimpan dokumen-dokumen penting.


"Ini, silahkan kalian baca dan tanda tangani." menyerahkan satu dokumen yang terlihat ada beberapa kertas didalamnya.


"Tidak membaca lagi, Zizi langsung menandatangani kertas tersebut. Namun, sebelum itu dia memejamkan matanya seraya menjatuhkan air mata.


"Semoga pilihan ku kali ini tidak salah, dan semoga ini adalah pilihan yang terbaik untuk kami semua."


Ucapannya di dalam hati. Setelah mendatangi kertas tersebut.


"Sekarang adalah giliran Anda Tuan Atmaja. Silahkan dibaca dulu, jangan terburu-buru. Saya tidak ingin Anda menyesal, setelah menandatangani kertas ini." kata Tuan Bram menyerahkan pulpen dan juga mengingatkan lebih dulu.


"Saya tidak perlu membacanya, Tuan Bram." kata Devan langsung menerima pulpen tersebut dan siap menandatangani kertas bagian dirinya.


"Maafkan ayah, Nak. Mungkin ini yang terbaik untuk keluarga kita. Bila saja ayah tidak menyakiti ibumu, maka keluarga kita sudah bahagia sejak dulu."


Gumam Devan ikut memejamkan mata dan meneteskan air matanya. Rasanya dia tidak sanggup untuk menatap wajah polos Reyvano. Lalu dia pun mendatangi kertas tersebut.


*BERSAMBUNG...😭😭🤧🏃*


.


.

__ADS_1


Sambil menunggu bbg Devan update. Yuk, baca novel sahabat Mak author juga. Terima kasih.😘😘😘



__ADS_2