
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Empat hari kemudian.
Saat ini Devan dan Zivanna sudah berada di dalam pesawat sejak dua jam lalu. Sebetulnya Ayah Dion melarang mereka untuk pulang sekarang. Akan tetapi pasangan suami-istri yang sudah merindukan si buah hatinya tidak mau lagi berada di pulau tersebut. Jika hanya untuk melakukan hubungan suami-istri, mereka berdua masih bisa melakukannya di rumah atau di manapun itu.
"Tidurlah! Bila sudah sampai Kakak akan membangunkan mu," Devan mengelus kepala istrinya yang bersandar pada dada bidangnya.
Bukan Zizi yang ingin bersandar pada Devan. Tapi suaminya itulah yang menarik tubuhnya agar menempel di sana.
"Apakah setelah pulang ke rumah ayah, Kakak akan kembali ke kota Y?" Bukanya tidur tapi Zivanna malah menanyakan hal yang sejak tadi menganjal di hatinya.
"Heum, iya. Tapi besok pagi saja karena hari ini Kakak masih lelah dan sangat merindukan si tampan kita," jawab Devan semakin mengeratkan pelukannya. "Kenapa? Apakah tidak boleh Kakak pulang ke sana, atau mau ikut saja agar Kakak tidak merindukanmu?" merenggangkan pelukannya untuk menatap muka sang istri.
"Memangnya boleh ikut?"
Cup!
"Tentu saja boleh! Siapa yang akan melarangnya." kembali memeluk lagi. Tangannya pun mulai mengelus kepala Zizi layaknya menidurkan anak kecil. "Jika kamu ikut, Kakak akan membawamu ke perusahaan Atmaja group."
"Apa? Kenapa, eh... maksudku buat apa aku harus ikut ke perusahaan?" seru Zizi tetap pada posisi yang sama. Yaitu bersandar pada dada bidang suaminya.
"Karena Kakak akan mengadakan konfrensi pers. Kakak ingin seluruh dunia tahu siapa Nyonya Devan Atmaja yang sebenarnya." jawab pria tersebut dengan sangat yakin.
"Tapi---"
"Suiit! Tidak ada tapi-tapian. Besok sore kita akan kembali ke kota Y. Reyvano bila tidak mau ikut, biarkan dia bersama ayah dan ibu." meletakan telunjuk pada bibir ranum istrinya.
"Reyvano anak kita. Tapi kenapa Kakak sepertinya senang sekali dia diasuh oleh ayah dan ibu," menatap penuh selidik. Sekarang Zizi tidak bersandar dia duduk dengan benar. Hanya saja ia masih dalam rangkulan suaminya.
"Bukan senang, kamu salah menilai Kakak." tergelak karena tahu kemana arah ucapan istrinya.
Zivanna yang melihat Devan tergelak menyergitkan alisnya sampai terangkat keatas. "Lalu?"
Cup!
"Lalu bibir seksi ini selalu ingin Kakak nikmati." lain yang ditanya, lain pula yang dijawab olehnya.
"Kak!" sergah Zizi mulai jengah karena Devan sedang menjahilinya.
"Huem! Apa sayang? Kakak disini tidak akan kemana-mana," kembali lagi menarik Zizi kedalam pelukannya.
"Diamlah! Aku lagi marah! Kakak sepertinya sangat senang, Rey diasuh oleh orang tua kita," ucap Zizi karena tangan Devan tidak mau diam.
"Jangan marah-marah! Kakak bukanya senang. Tapi ini demi kebaikan kita berdua." masih menjawab santai meskipun Zizi berontak minta dilepaskan dari pelukannya.
__ADS_1
"Jelas-jelas ini untuk kebaikan Kakak sendiri. Kenapa bawa-bawa aku." semakin tidak masuk akal dengan ucapan sang suami.
"Kan kita berdua anak ayah dan ibu. Jadi... ya harus kita berdua, tidak bisa Kakak sendiri. Memangnya kamu mau punya adik bayi lagi?" kembali melepas pelukan untuk menatap muka Zivanna yang ditekuk.
"Apa hubungannya dengan adik bayi? Tentu saja aku tidak mau,"
Cup!
"Sama Kakak juga tidak mau punya adik kecil, karena Kakak ingin kita punya anak, bukan malah memiliki adik." jawab Devan tersenyum.
"Kakak! Aku mau tidur saja," kesal, kesal dan kesal. Terkadang Devan memang sangat mengesalkan.
"Dengar..." tidak melanjutkan ucapannya karena ingin melihat kira-kira Zizi memilih tidur atau mendengar ceritanya.
"Iya, cepat katakan!" jika Devan sudah ingin menjawab. Buat apa juga Zizi memilih tidur. Itulah yang Zivanna pikirkan. Lalu dia kembali duduk dengan benar. Ingi tahu apa alasan Devan bagitu senang Reyvano dititipkan pada kedua orang tua mereka.
Tersenyum tampan dulu, baru menjelaskan. "Bila tidak ada Rey. Maka ayah dan ibu akan selalu menghabiskan waktu berdua tanpa ada yang mengangu." berhenti sejenak. "Hal tersebut bisa saja membuat ibu hamil lagi. Lalu kita akan memiliki adik. Kamu dan Kakak gagal, tidak menjadi anak tunggal." papar Devan baru menjelaskan.
"Aauuh! Ini kenapa malah marah," Devan mengaduh karena Zizi mencubit pinggangnya.
"Kakak asal bicara! Mana mungkin ibuku hamil lagi, dia sudah tua. Sudah menjadi nenek-nenek." jawab Zizi sudah melepas cubitannya karena Devan bukan balas mencubit atau sebagainya. Akan tetapi tangan kecil yang mencubit kulitnya, ia kecup berulang kali.
Bila sudah seperti itu mana mungkin Zivanna bisa marah, yang ada dia menjadi tertawa. Merasa konyol dengan pemikiran suaminya.
"Mungkin saja, sayang! Ibu kan masih muda, begitu pula dengan ayah. Kamu lihat sendiri, dihadapan kita saja mereka selalu bermesraan. Jadi tujuan Kakak membiarkan anak kita diasuh oleh mereka agar posisi kita berdua, sama-sama aman." sebelum Zivanna kembali mencubitnya. Devan sudah lebih dulu memeluk istrinya, sambil mengengam kedua tangan yang telah berani mencubit Presdir Atmaja group.
"Ha... ha... sudah, sudah! Jangan mencubit lagi. Bila ayah melihat kita seperti musuhan. Maka dia pasti akan menyuruh kita pergi berbulan madu lagi." masih tertawa karena dia sudah berhasil menggoda istrinya.
"Tuan Muda, Nona Muda. pesawat kita telah mendarat," ucap Felix maju ke kursi depan. Tadi selama dalam perjalanan dia sengaja duduk di kursi belakang tuan mudanya. Agar matanya tidak ternodai oleh keromantisan Devan dan Zivanna.
"Syukurlah! Aku kira masih lama," yang dijawab oleh Devan. "Siapkan saja semuanya. Kami bisa turun sendiri, bila pesawatnya telah berhenti." kata Devan melirik kearah luar.
Pesawat yang di bawa oleh pilot Dika mendarat dengan sempurna. Namun, saat ini masih berjalan cukup kencang, karena pesawat tersebut baru saja turun.
"Baik, Tuan Muda." Felix pun kembali lagi ke belakang untuk melihat para rekannya.
"Sayang, kita sudah sampai." ucap Devan mengelus rambut panjang istrinya. Sejak dulu sampai saat ini, Zizi memang selalu memanjangkan rambutnya.
"Iya, tapi belum berhenti, kan pesawatnya? Jadi biarkan seperti ini. Aku tiba-tiba saja mengantuk." jawab Zizi yang betah saja bila dipeluk oleh Devan. Hal yang selalu dia rindukan selama ini.
"Baiklah! Bila mengantuk maka tidur saja. Nanti kita turun setelah kamu bangun. Atau kalau tidak Kakak akan mengendong mu sampai ke mobil." mimik prioritas untuk membahagiakan istrinya. Devan akan melakukan apapun demi kenyamanan wanita yang dia cintai.
"Heum!" Zizi yang terlalu mengantuk sudah tidak mendengar lagi apa yang dikatakan oleh suaminya. Dalam hitungan detik ia sudah tidur dengan nyenyak.
"Tidurlah! Biar Kakak yang mengendong mu," kata Devan setengah berbisik.
Sepupu menit kemudian Felix kembali lagi mendatangi tuan mudanya.
"Tuan Muda pes---"
__ADS_1
"Suiit! Jangan berisik, nanti malah membagungkan nya." memberi kode agar Felix tidak bicara lagi.
"Aku akan mengendong nona muda kalian. Tolong bawakan tasnya." titah Devan, agar Felix membawa tas kecil milik sang istri.
Felix menyingkir untuk memberi jalan. Lalu begitu tuan mudanya sudah berdiri dan mengendong nona muda yang tertidur. Kepala pengawal tersebut berjalan maju mengambil tas kecil milik istri tuannya.
Tiba di bawah. Ternyata mobil mewah yang menjemput sudah di bukakan pintunya. Jadi Devan tinggal masuk saja. Hanya mengendong tubuh istrinya yang kecil. Tentu saja dia tidak merasa berat sama sekali.
"Jalan!" ucap Felix, bukan Devan, karena pria itu tidak mengurus hal yang lainya, kecuali menatap wajah damai istrinya.
Selama dalam perjalanan pulang ke rumah orang tuanya. Devan hanya diam karena tidak memiliki teman untuk berbicara. Berbeda dengan tadi, dia terus menjahili istrinya.
"Euh! Kita dimana?" tanya Zizi begitu membuka matanya.
"Kita lagi di dalam mobil. Sebentar lagi juga akan tiba di rumah ayah." jawab Devan sambil tersenyum. Andai saja tidak ada Felix dan pengawal yang membawa mobil. Maka sudah dia lahap bibir Zizi yang semakin mengodanya.
Jika hanya sekedar mengecup bibir saja. Sudah sering dia lakukan dihadapan Sekertaris Jimi maupun Felix. Tapi untuk sekarang ia takut tidak bisa menahan dirinya yang menginginkan lebih dari sekedar berciuman.
"Kenapa sudah bangun, huem!" menyibakkan helaian rambut Zivanna dan diselipkan pada telinga.
"Eum... aku sudah tidak mengantuk lagi." dengan pelan Zizi duduk, karena kebetulan sekali mobil mereka telah sampai dan berhenti di depan rumah megah milik keluarga Atmaja.
"Ayo kita keluar!" ajak Devan yang turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil buat istrinya.
Begitu keluar mereka sudah disambut oleh si tampan Reyvano. Anak kecil itu sedang bermain di temani oleh Asel.
"Ayah, ibu!" Reyvano berlari mendekati kedua orang tuanya.
"Sayang, putra Ayah!" Devan berjongkok untuk memeluk si buah hati yang sudah tidak berjumpa selama lima hari.
Meskipun dalam sehari mereka melakukan panggilan video sampai puluhan kali. Tetap saja tidak bisa menghilangkan ras rindu karena tidak bertemu.
"Ayah dah bawa dedek tecil?" tanya Rey setelah berada dalam gendongan ayah tampannya.
Cup, Muuuaaah!
"Belum, ayah belum membawa adik bayi." jawab Devan tersenyum sambil tangannya menarik Zizi agar bisa memeluk istri dan anaknya sekaligus.
"Jadi Rey tidak merindukan ibu? Kenapa begitu datang yang dipeluk malah ayah, bukan ibu." protes Zizi pada putranya. Rey malah tertawa melihat wajah ibunya yang berpura-pura marah padanya.
"Bukan itu saja, Rey juga tidak menanyakan keadaan ibu. Tapi malah memangnya adik kecil. Huh! Benar-benar menjengkelkan sekali." ucap Zizi masih berpura.
"Butan ndak tannya ibu. Tapi ibu dah punya Ayah," Rey yang sudah dibisiki oleh ayahnya hanya menyebutkan saja.
"Kak! Tidak boleh curang. Biarkan Rey menjawabnya sendiri."
"Kakak cu---"
"Sayang... Kalian sudah kembali? Ayo masuk! Kenapa malah berdiri saja." Ibu Ellena yang baru datang menghentikan perdebatan anak dan menantunya.
__ADS_1
"Ibu!" seru Devan dan Zizi secara bersamaan. Lalu mereka berjalan mendekat dan menyalimi wanita paruh baya masih terlihat begitu cantik.
*BERSAMBUNG*...