Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Rumah impian.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


"Rumah!" ada rasa tidak percaya yang Zivanna rasakan. Ibu muda itu tak menyangka kalau Sekertaris Jimi akan melakukan hal tersebut. Eh, tidak, tidak! Bukan Sekertaris Jimi. Tapi suaminya lah pastinya. Jimi adalah tangan kanan Devan, sudah jelas apa yang dia kerjakan karena tuannya.


"Iya, Rumah!" sahut Devan sambil bercanda dengan putranya.


"Tapi Bibi Husna dan Bibi Emi tidak mungkin mau menerimanya bagitu saja 'kan?" Zizi sangat mengenal kedua wanita paruh baya itu. Jadi kalau menurut dirinya, baik Bibi Husna ataupun Bibi Emi, tidak mungkin mau menerima begitu saja bila hanya sekedar diberi. Zizi sangat yakin, pasti keduanya mendapatkan seperti tekanan atau hal lainnya.


"Entahlah! Jangan mencurigai Kakak sudah melakukan sesuatu pada mereka. Dari tadi kita selalu bersama." elak Devan langsung melempar masalah tersebut agar Sekertaris Jimi yang menjadi tumbalnya.


Gleeek ...


Sekertaris setia itu menelan ludahnya sendiri. Didalam hatinya sedang membaca do'a apa saja yang dia hapal. Dalam keadaan seperti sekarang, lebih baik dia dimaki oleh Devan daripada oleh nona mudanya.


"Sekertaris Jimi, apa yang Anda lakukan pada mereka?" tanya Zivanna penuh selidik.


"Saya tidak melakukan apa-apa, Nona muda." menjawab setenang mungkin. Agar terlihat tidak bersalah. Itulah yang Sekertaris Jimi lakukan saat ini.


"Mana mungkin mereka mau menerimanya, bila kalian tidak mengancamnya. Katakan! Apa yang Saya pikirkan benar 'kan?" apapun alasannya Zizi tidak ingin kedua wanita yang sudah seperti Bibi nya sendiri harus tertekan karena ulah suaminya.


"Jimi, berkatalah dengan jujur. Aku juga ingin tahu apa yang sudah kalian lakukan?" Devan bukanya membantu sekertarisnya, tapi malah menjelma menjadi kompor. Dari awal menaiki mobil sampai satu jam perjalanan, pembahasan tentang Bibi Emi dan Husna yang mau menerima rumah sebagai hadiah telah menjaga Zivanna selama ini pun belum juga selesai.


Mungkin sudah seperti benang kusut. Devan tidak mau mengaku kalau dirinya terlibat. Sedangkan Sekertaris Jimi menjawab kurang menyakinkan.


"Saya tidak mengancam! Tapi Saya hanya berkata, kalau di daerah tempat tinggal mereka akan segera diratakan oleh alat berat, karena para pengawal Atmaja group akan membangun sebuah rumah dinas untuk menjaga Nona muda dan tuan muda kecil." jawab Sekertaris Jimi setelah mendapatkan alasan yang tidak mungkin bisa menyeret dirinya.


"Oh, seperti itu! Kerja yang bagus. Aku juga takut kalau kalian sudah mengancam mereka." Devan menahan tawa didalam hatinya. Dia sangat yakin kalau saat ini Sekertaris Jimi sedang menahan kesal padanya.


"Ya Tuhan! Sekertaris Jimi, apa Anda tahu kalau itu sama saja dengan mengancam." ternyata apa yang Zizi pikirkan benar. Kalau Jimi sudah mengancam mereka.


"Mohon maaf, Nona muda. Saya tidak mengancam sama sekali. Para pengawal yang akan membangun rumah disanalah penyebabnya." bila tidak pintar, mana mungkin Jimi memiliki kedudukan tinggi di Atmaja group.


"Astaga!" Zivanna mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak habis pikir, Jimi sangat pandai melempar kesalahan pada para pengawal Atmaja group.


Apapun yang dilakukan orang-orang Atmaja, pastinya atas perintah Sekertaris Jimi. Sedangkan apapun yang Sekertaris Jimi lakukan atas perintah tuan mudanya. Jadi sudah jelas, siapa biang permasalahan tersebut.


Akan tetapi laki-laki yang menjadi penyebabnya tidak mau mengaku, karena memiliki alasan cukup kuat. Sepanjang hari mereka selalu bersama dan dia juga tidak ada memegang ponselnya. Bahkan Zivanna tahu sendiri kalau Devan hanya bermain bersama anaknya.

__ADS_1


Devan? Ya, laki-laki itulah yang mengatakan pada Sekertaris Jimi untuk menyelesaikan semua masalah. Termasuklah memberikan hadiah untuk orang-orang yang pernah menolong Zizi selama ini.


Jangankan Bibi Husna dan Bibi Emi. Rumah sakit tempat Zivanna melahirkan saja, mendapatkan infestasi dana cukup besar dari Atmaja group. Bukan hanya itu, para dokter dan perawat yang pernah ikut membantu juga mendapatkan hadiah.


Andai saja tahu akan seperti ini akhirnya. Semua orang pasti ingin berbuat baik pada Zizi dan calon pewaris Atmaja. Namun, sayangnya semua ini sudah menjadi skenario Mak author. Jadi mana yang pernah berbuat jahat pada Zizi hanya bisa menyesali perbuatannya.


"Sayang, menurut Kakak, Jimi tidak bersalah. Semua ini gara-gara pengawal yang ingin membangun tempat di daerah sana. Justru Sekertaris Jimi sudah melakukan hal yang benar, karena memperingati mereka sebelum alat berat menghancurkan rumah tersebut." setelah banyaknya drama. Barulah Devan membela sekertaris pribadinya.


Sunguh taktik seorang pengusaha sangat hebat. Pantas saja Devan selalu menyandang gelar pengusaha terhebat di seluruh negeri. Berbicara dengan Zivanna yang jelas-jelas dia biang masalahnya saja, Devan masih bisa membela dirinya.


"Aghk sudahlah! Aku bisa gila bila bicara dengan kalian berdua." tidak ingin bertambah pusing. Akhirnya Zizi memilih diam dan memejamkan matanya. Meladeni Devan dan Sekertaris Jimi sama saja tidak ada bedanya. Kedua-duanya hanya menyalahkan orang yang tidak ada.


Mana mungkin Zivanna marah pada para pengawal. Sedangkan mereka berjumlah puluhan orang. Lagian, jika memang benar seperti yang dikatakan Jimi dan Devan. Wanita itu tidak tahu yang mana orangnya yang ingin membawa alat berat untuk menghancurkan rumah Bibi Husna dan Bibi Emi.


Melihat Zizi sudah menyerah tidak mempermasalahkan lagi. Devan hanya diam sambil mengelus kepala Reyvano yang sudah tidur dalam pelukannya dari lima belas menit lalu.


Cup ...


"Lagi tidur saja sangat tampan." puji pria itu pada anaknya. Rasanya Devan tidak pernah puas mencium sang putra. Untuk berjauhan, walau beberapa jam saja mungkin dia sudah tidak sanggup lagi. Reyvano benar-benar seperti obat bagi Devan.


Walaupun saat ini hatinya tidak tenang memikirkan permintaan Zizi yang ingin mereka berpisah. Akan tetapi karena ada putranya. Laki-laki tersebut bisa menepis segala rasa gundah dan rasa takut kehilangan Zivanna.


Tidak lama setelah Devan bergumam. Dia melirik kesamping melihat sang istri yang diam sejak tadi. Ternyata ibu muda itu sudah tertidur karena malam sudah semakin larut. Tidak terasa, mereka sudah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam.


Lalu dengan mengunakan satu tangannya. Devan menarik tubuh sang istri agar menyandar pada bahunya. Sama seperti dulu. Apabila Zizi tertidur dalam perjalanan. Maka Devan akan membiarkan bahunya menjadi sandaran.


"Jim, apa Bibi Marta sudah dipindahkan?" tanya Devan karena Zivanna sudah tidur.


"Sudah Tuan muda. Tadi siang Bibi Martha sudah pindah ke rumah baru Anda." jawab Sekertaris Jimi sesuai yang ditanyakan.


"Jangan sebut rumah ku. Itu milik nona muda kalian. Dulu aku pernah berjanji, bila kami sudah menikah, aku akan membuatkan rumah seperti apa yang dia inginkan." sela Devan yang sudah mengatas namakan surat rumah tersebut atas nama Zivanna.


Dua tahun yang lalu. Devan membangun sebuah rumah mewah di dekat danau buatan yang di buat oleh perusahaan Atmaja group. Sesuai keinginan Zivanna saat mereka masih pacaran. Hari itu sambil menikmati pemandangan di pinggir danau. Devan dan Zizi membicarakan nama anak, juga rumah untuk masa depan mereka.


Sambil berjalan mengitari danau buatan dan menautkan tangan mereka. Zivanna mengutarakan impiannya yang ingin memiliki rumah di pinggir danau. Gadis tersebut juga menyebutkan seperti apa saja desain di dalamnya.


Devan yang memiliki uang banyak, tentu saja langsung berjanji akan memenuhi impian kekasihnya. Satu hal yang dia lupakan pada saat berjanji, yaitu adalah rencana balas dendamnya. Sehingga janjinya menjadi sebuah impian untuk memiliki sebuah keluarga yang bahagia. Namun, kenyataan setelahnya, impian mereka membangun kebahagiaan bersama hancur berantakan.


Tidak hanya Zivanna yang menderita, tapi Devan juga menderita. Dendam seorang kakak tiri yang berujung saling menyakiti satu sama lain. Termasuk kedua orang tua mereka.


Satu-satunya impian yang tercapai adalah nama putra mereka. Reyvano Arkana Atmaja. Hanya satu nama itu yang menjadi kenangan indah untuk keduanya. Setidaknya meskipun pernikahan mereka berakhir. Ada Reyvano yang mengingatkan keduanya kalau mereka berdua pernah memiliki kenangan indah.

__ADS_1


"Maafkan Saya, Tuan. Muda" ucap Sekertaris Jimi langsung minta maaf.


"Hem, tidak apa-apa. Hanya saja, mulai saat ini jangan sampai ada yang berkata seperti itu lagi. Aku tidak ingin membuat istriku merasa tidak nyaman karena hal tersebut." jawab Devan sambil melirik sang istri yang tidur dengan nyaman pada bahunya. Namun, meskipun kepala Zizi hanya bersandar dibahu. Tapi tangan Devan memeluk tubuhnya sejak tadi.


Tangan satunya Devan gunakan untuk memeluk Reyvano yang berada di atas pahanya. Anak itu tidur dengan nyenyak sama seperti tadi siang. Meskipun tangannya terasa keram Devan tetap menahannya. Rasa bahagia bisa memeluk keduanya membuat rasa sakit itu hilang sendiri.


"Sepertinya Tuan muda kecil tidak mau jauh dari Anda Tuan." kata Sekertaris Jimi yang selalu memperhatikan kedekatan mereka.


"Eum, tebakan mu benar!" Devan kembali tersenyum melihat kearah muka Reyvano yang menempel pada dadanya. Lalu setelah itu Devan kembali berbicara.


"Dia sangat tampan dan menggemaskan. Hanya saja terkadang aku belum paham apa yang dia katakan." lanjutnya lagi diiringi senyum bahagia.


"O'ya, Jim. Bagaimana kalian bisa menemukan istri dan anakku?" Karena terlalu bahagia bisa bertemu dengan wanita yang dicintai. membuat Devan melupakan bagaimana para pengawalnya bisa menemukan tempat tinggal sang istri.


"Saya menyuruh pengawal mengikuti Nyonya Emi dan Tuan Rey saat mereka pulang dari taman hiburan, Tuan" jawab Sekertaris Jimi.


"Pantas saja." sahut pria itu yang sudah menduganya sejak awal.


"Bila wajah Tuan Rey tidak mirip seperti wajah Anda saat masih kecil. Saya juga tidak akan menyuruh orang-orang kita untuk menyelidikinya." lanjut Sekertaris Jimi memberi keterangan.


"Huh! Padahal sebelum kita berangkat ke kota F. Aku hampir membatalkan kerjasama yang akan kita jalin dengan Tuan Fincen. Perasaan tidak tenang, tiba-tiba saja melanda saat kita sudah mau berangkat. Aku takut terjadi sesuatu, makananya sempat berpikiran seperti itu." ucap Devan yang masih ingat perasaan dia yang gelisah selama dalam perjalanan.


Bahkan tujuannya pergi ke taman hiburan untuk menenangkan hatinya. Namun, karena hal itulah dia bisa bertemu dengan putranya.


"Mungkin itu karena Anda akan bertemu dengan Tuan Rey. Selama ini kita sudah mencari mereka keberbagai tempat. Bahkan kota F, tapi tidak bisa menemukan keberadaan Nona muda." sekertaris Jimi dan Devan terus saja bercerita agar tidak tertidur.


"Mungkin iya, bisa jadi itu perasaan karena aku akan bertemu dengan keluarga kecilku." Devan pun menyetujui ucapan sekertarisnya.


"Sebisa mungkin kita harus menyembu---"


Braaak ...


Praaank ...


Duuuaar ...


Duuuaar ...


Ucapan Sekertaris Jimi terputus karena mendergar suara di depan mobil mereka.


*BERSAMBUNG* ...

__ADS_1


__ADS_2