
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Setelah bisa mengontrol perasaan yang sudah bercampur aduk antara menyesal dan bersalah karena telah menghancurkan kebahagian dia sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Devan berdehem memberi tanda pada pasangan paruh baya yang ada di dalam dapur bersih.
"Hem! Maaf ... aku terlambat." ucap Devan langsung saja menarik kursi kosong yang di depannya sudah di siapkan berbagai macam masakan.
"Tidak apa-apa. Sebentar ... Ibu siapkan piring nya." jawab Ibu Ellena yang dari tadi di halangi oleh Ayah Dion saat ingin menyiapkan piring.
Tidak menjawab Devan hanya diam sambil memperhatikan masakan yang ada dihadapannya. Entah di sengaja atau tidaknya, ada beberapa makanan itu yang di sukai oleh Zizi. Lalu bagaimana mungkin dia bisa menikmati makanan tersebut sedangkan istrinya di luar sana belum tahu seperti apa keadaannya.
"Ini makanlah!" suara Ibu Ellena menyadarkan Devan dari lamunannya.
"Terimakasih, Bu. Apa kalian tidak ikut makan?" tanya Pria itu melihat kedua orang tuanya hanya ikut duduk tapi tidak mengambil piring seperti dirinya.
"Tidak! Kami sudah makan dari tadi. Makanlah kamu juga harus memikirkan kesehatan mu agar memiliki tenaga untuk mencari istri mu." ucapan Ibu Ellena bagaikan pedang yang menebas jantung Devan. Meskipun wanita tersebut tidak bermaksud demikian.
Bagaimana dia akan baik-baik saja setelah mendengar kata Istri. Jika Zizi adalah istrinya, suami seperti apa dia yang sudah menyiksa dan menyakiti wanita yang di sebut istri.
Malu ... Devan malu pada dirinya sendiri yang sudah menjadi suami biadab. Mana ada seorang suami yang berbuat sekejam dirinya. Saat tengah malam tega mengurung gadis yang telah bersamanya selama beberapa tahun terakhir, di dalam kamar mandi dengan keadaan basah dan luka lebam bekas tamparannya.
"Hem!" setelah kembali terdiam beberapa saat. Devan berdehem lagi dengan helaan nafas panjang yang terasa berat dia rasakan.
Bila di sana tidak ada orang, maka malam ini Devan tidak akan melanjutkan makan malamnya yang sudah terlewatkan dari tadi.
__ADS_1
Dia makan saat ini hanya untuk menghargai Ibu Ellena yang sudah bersusah payah memanaskan makanan untuk nya. Jika bukan karena hal itu, sekedar melihat makanan saja dia sudah terasa kenyang.
Meskipun malas Devan mulai mengisi piring nya dengan nasi dan beberapa macam lauk pauk yang sudah di panaskan. Malam ini Pria itu merasa sudah seperti seorang terdakwa, karena pasangan suami-istri tersebut hanya diam tapi terus memperhatikan setiap pergerakannya.
Sampai beberapa menit kemudian, Devan hanya menghabiskan makanan beberapa sendok saja. Setelah itu tidak bicara apa-apa dia langsung membereskan sendiri bekas makan nya dan menyimpan kembali masakan yang ada di atas meja ke dalam lemari kaca khusus tempat makanan. Sementara itu Ayah Dion dan Ibu Ellena masih terus diam memperhatikan dari tempat duduk mereka.
Sedikit banyak nya mereka berdua tahu kalau saat ini Devan sedang di hantui rasa bersalah pada Zivanna. Tapi semuanya sudah terlambat karena Zizi sudah memilih untuk pergi meninggalkan Devan dan juga ibu nya sendiri.
"Ayah, ibu. Devan kembali ke kamar." ucap Pria itu berlalu dari sana menuju lantai atas. Tepat nya ke kamar Zizi bukan kamarnya sendiri.
"Apa yang harus kita lakukan? Bila tidak segera menemukan Zizi, bisa-bisa dia gila kalau terus seperti ini." kata Ayah Dion yang tadi sebelum kedatangan Devan, sudah membahas masalah anak dan menantunya yang sekarang entah berada di mana.
"Entahlah! Aku juga tidak tahu. Di sini Devan hanya korban atas kebohongan Marisa." seru Ibu Ellena masih menatap punggung depan yang mulai menjauh dari mereka berdua. Sebelum dia kembali lagi berkata.
"Jujur saja, rasanya aku ingin marah pada putra mu. Namun, setelah di pikir-pikir lagi tidak ada guna marah padanya, semuanya sudah terjadi, karena meskipun aku marah. Zivanna ku tetap tidak akan kembali." Ibu Ellena bukanlah orang yang suka mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Mungkin karena dia sudah biasa hidup mandiri selama menjanda. Jadinya menjadikan dia wanita tangguh tidak sembarangan bertindak.
"Kamu berhak marah, karena Devan sudah menyiksa dan membohongi Zizi. Terserah padamu, apa yang ingin kamu lakukan padanya, aku tidak akan ikut campur, karena putraku memang bersalah." lelaki paruh baya itu memang sudah menyerahkan semuanya pada sang istri.
Wanita tersebut tidak seratus persen menyalahkan Devan. Meskipun dia tahu istrinya hanya berusaha agar terlihat baik-baik saja. Bila wanita lain, mungkin Ayah Dion yang tidak tahu apa-apa sudah di ceraikan hari itu juga. Untung saja Istri beliau adalah lbu Ellena yang memiliki hati seperti malaikat.
"Tidak aku tidak akan memberinya hukuman, karena tanpa kita hukum Devan sudah menerima hukuman itu sendiri. Coba lihat seperti apa cara dia makan tadi pagi dan malam ini. Bila tidak menghargai aku sudah memanaskan makanan untuknya, pasti malam ini Devan tidak akan makan." ucap ibu Ellena yang bisa menebak semuanya.
"Terima kasih, aku sangat bangga bisa menikahi wanita hebat seperti mu. Meskipun kamu sangat mengkhawatirkan keadaan putri kita. Tapi masih bisa memaafkan kesalahan yang sudah di perbuat oleh anak ku." kata Ayah Dion yang benar-benar merasa beruntung bisa menikahi sekertaris pribadinya.
Sementara itu di lantai atas setelah tiba di dalam kamar. Devan tidak istrirahat, tapi dia mengambil buku Diary sang istri karena ingin kembali membacanya. Dengan jantung berdebar-debar Pria tersebut membawa buku itu keatas ranjang. Lalu diapun mulai membuka lembaran yang belum sempat dia baca.
__ADS_1
Istri atau pembantu
Itulah judul lembaran baru yang Zizi tulis pada lembaran ke empat buku Diary nya.
"Hai ... jangan bersedih Zivanna. Tersenyumlah! Hari ini adalah hari pertama aku tinggal di rumah besar yang semuanya serba modern. Aku bukan Nyonya di rumah ini, tapi aku hanya seorang pembantu. Em ... pembantu atau istri aku juga belum tahu."
Dapat Devan lihat saat menulis lembaran tersebut Zivanna sedang menangis, karena tinta pena dan kertas nya seperti terkena air. Sehingga Devan yang membaca sekarang juga ikut meneteskan air matanya.
"Maafkan aku ... sudah melukaimu sejauh ini!" Aku kira setelah membalaskan dendam itu, aku akan bahagia."
Gumam Devan yang kembali lagi membaca tulisan selanjutnya.
"Tadinya aku berharap ini semua hanya sebuah mimpi buruk. Namum, semua harapan ku hilang saat aku sedang bekerja Kakak datang dan menyebutkan apa saja tugas ku selama menumpang di sana." apa yang Zivanna tulis kembali mengingat kan Devan seperti apa dia memperlakukan istrinya.
Tapi meskipun begitu Devan kembali lagi membaca tulisan selanjutnya lembar dami lembar. Sehinga tidak terasa dia sudah sampai pada lembaran di mana saat Zizi melihat dia mencium Fiona.
*Senyum dibalik luka*.
"Sakit ini tidak ada bandingannya bila di bandingkan saat melihat dia bersama wanita lain. Namum, apa daya ku yang tidak memiliki kekuatan. Cinta dari ku saja tidak akan bisa mengikat dia menjadi milikku." tulis Zizi pada lembar yang di beri judul. Senyum dibalik luka.
"Setelah melihat perlakuannya hari ini padaku, dan bagaimana pula perlakuannya pada wanita yang menjadi kekasihnya. Aku merasa cinta yang aku miliki mulai terkikis dikit demi sedikit. Sekuat-kuat nya aku bertahan, bila selalu seperti ini mungkin suatu hari nanti aku akan menyerah. Tapi untuk saat ini aku ingin menjaga cinta yang aku miliki.
Tahu kakak akan pergi melakukan perjalanan bisnis. Aku meminta Bibi Marta agar membantu aku ke balkon kamar yang aku tempati. Aku ingin melihat dia pergi walaupun hanya dari jarak yang jauh. Saat aku tiba di luar, ternyata dia sudah mau masuk kedalam mobil. Namum, aku melihat dia mengurungkan niatnya setelah melihat kehadiran ku.
Aku kira kakak berhenti karena melihat aku. Tapi ... aku salah lagi! Dia berhenti bukan untukku, tapi buat Fiona kekasihnya. Kulihat dia mencium gadis itu dengan mesra.
Meskipun hatiku terluka, aku memaksakan untuk tersenyum. Senyum di balik luka yang aku rasakan. Mana mungkin aku baik-baik saja. Dia adalah suami yang aku cintai. Meskipun aku tahu dia tidak mencintai ku."
__ADS_1
Pada lembaran tersebut Zizi tidak menulis sampai habis seperti lembaran sebelumnya. Mungkin karena dia sudah tidak sanggup lagi untuk menuangkan apa yang dia rasakan.
"Aku juga mencintaimu Zivanna. Aku sangat mencintaimu! Maaf ... karena aku telat menyadarinya. Selama ini cinta yang aku miliki hanya tertutup oleh dendam ku pada Ibu Ellena." seru Devan memeluk buku Diary tersebut.