
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Saat ini Devan dan Zizi baru saja tiba di rumah sakit. Untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Agar mereka tidak salah paham untuk kehamilan calon penerus Atmaja yang berikutnya.
"Maaf ya, baju Nona terpaksa Saya angkat keatas," ucap Dokter spesialis kandungan. Dia adalah rekan dokter yang memeriksa Zivanna tadi pagi.
"Silahkan Dok," jawab Zizi sudah tahu, jika yang dilakukan dokter tersebut untuk memeriksa kehamilannya.
Lalu dokter tersebut dibantu oleh satu orang perawatan mengoleskan gel pada perut Zizi yang masih rata. Tidak lama setelahnya mereka pun mulai melakukan pemeriksaan yang sering disebut USG.
"Bagaimana, Dok?" Devan kembali bertanya tidak sabar. Padanya yang hamil adalah istrinya, malah Zivanna terlihat sangat tenang.
Sebelum menjawab dokter itu tersenyum karena dia masih melakukan pemeriksaan. "Nona Zivanna memang benar lagi hamil baru masuk tiga Minggu." jawabnya masih tetap tersenyum.
"Aaggk! Sayang... kamu benar-benar hamil." teriak Devan tidak mampu menahan kebahagiaan yang dia rasakan. Dia langsung menghujani wajah istrinya dengan ciuman. "Akhirnya kita akan memiliki anak lagi," seru Devan tersenyum bahagia.
"Kak, jangan seperti ini. Biarkan Dokter Anita menyelesaikan tugasnya," keluh Zizi merasa malu sendiri pada dokter beserta perawatnya.
"Oh, maaf, Dok. Saya hanya terlalu bahagia." kata Devan langsung melepaskan pekukannya dari sang istri.
"Tidak apa-apa Tuan Muda," jawab si dokter. Mana mungkin dia berani mengeluh karena tindakan Devan menghambat pekerjaan mereka.
"Eum... silahkan Dokter lanjutkan saja pemeriksaannya." Devan mengeser sedikit tubuhnya menjauh si dokter.
"Semuanya terlihat bagus. Tapi Nona tetap tidak boleh banyak pikiran dan kelehan." terang dokter muda tersebut sambil menyimpan alat pemeriksaan.
"Apakah naik pesawat masih boleh, Dok?" tannya Devan karena besok pagi-pagi mereka berencana akan terbang ke kota Y lagi.
"Untuk berjaga-jaga sebaiknya Nona jangan pergi kemana-mana dulu. Apalagi jika perjalanan jauh," mereka kembali lagi duduk pada di depan meja dokter, karena pemeriksaan telah selesai.
"Ini resep obat penguat kandungan, muntah-muntah dan juga vitaminnya. Nanti ambil saja di apotik." si dokter menyerahkan secarik kertas pada Devan.
Setinggi-tingginya pangkat Devan di luar sana. Apabila sedang melakukan pemeriksaan di rumah sakit atau sarana lainya. Tetap saja harus mematuhi peraturan yang sudah ditentukan. Apalagi keluarga Atmaja terkenal tidak suka semaunya dengan kekuasaan yang mereka miliki. Bila pun ada, yang melakukannya adalah para pengawal Atmaja. Akan tetapi mereka pun tidak merugikan orang lain, yang ada mereka akan mendapatkan keuntungan. Sebab segala sesuatunya selalu diganti rugi oleh Sekertaris Jimi.
"Baiklah, terima kasih, Dok. Kalau begitu kami akan pulang sekarang." pamit Devan membantu istrinya berdiri dari kursi. Makanya cepat-cepat pulang Devan ingin istrinya istirahat.
"Kita tidak menebus obatnya?" tannya Zizi karena Devan langsung membawanya ke mobil yang sudah menunggu di lobby rumah sakit.
"Tentu saja menebusnya, karena itu sangat penting untukmu dan calon bayi kita. Tapi itu urusan Felix. Kita akan langsung pulang saja, Kakak tidak mau kamu berada di rumah sakit terlalu lama, karena banyak penyakitnya." jawab Devan menyelipkan anak rambut Zizi yang tertiup angin.
"Ayo bersandar pada tubuh kakak. Jika mengantuk kamu tidur saja. Wajahmu masih terlihat pucat." sebelum istrinya menjawab. Devan sudah menarik Zivanna kedalam pekukannya.
"Bila ingin sesuatu katakan saja, kakak akan membelinya."
"Aku tidak ingin apa-apa. Hanya ingin tidur," jawab Zizi bertambah kantuk karena Devan mengelus kepalanya.
"Kalau begitu tidurlah, kakak akan menjagamu," perlakuan Devan membuat Zivanna melingkarkan tangannya pada tubuh Devan yang semakin berisi.
Dia sungguh merasa bahagia, karena disaat hamil yang sekarang Devan begitu perhatian dan menjaganya. Tidak bisa dibandingkan dengan hamil anak pertamanya. Dimana Zizi harus berjuang seorang diri tanpa adanya suami di sisi nya.
Entah karena terlalu mengantuk atau bawaan hamilnya. Tidak sampai sepuluh menit Zizi sudah tidur dengan nyenyak.
"Jim, nanti sore atau besok pagi kamu pulang saja ke kota Y. Bawa Felix untuk membantumu." ucap Devan yang tidak mungkin meningalkan istrinya dalam keadaan seperti sekarang.
"Baik Tuan Muda," Jawaban yang sama. Yaitu Kata-kata keramat Sekertaris Jimi.
__ADS_1
"Aku akan bekerja dari sini, tugasmu adalah menjalankan perusahaan selama aku cuti. Aku tidak ingin istriku harus melewati masa-masa sulitnya seorang diri lagi." ungkap Devan telah memikirkan dari tadi pagi. Untuk saat ini dia hannya ingin pokus pada istri dan anak-anaknya saja.
Dua puluh menit kemudian. Mobil mereka sudah tiba di rumah. Devan keluar dari mobil sambil menggendong istrinya. Jangankan lagi hamil, lagi sehat saja Devan akan mengendong istrinya sampai ke kamar mereka.
"Nak, kalian sudah pulang." seru Ibu Ellena yang sudah menunggu sejak tadi.
"Iya Bu," jawab Devan melewati ruang keluarga, karena dia akan mengantar Zizi ke kamar lebih dulu. Baru setelahnya memberi tahu Ibu mertuanya.
"Pergilah, Ibu akan membuatkan sup agar dia mau mengisi perutnya." sahut Ibu Ellena yang sebetulnya sudah curiga dari Minggu lalu kalau putrinya lagi hamil.
Devan hanya menganguk sambil meninggalkan tempat tersebut. Dia melangkah pelan menuju ke kamar mereka berdua, karena sekarang Rey sudah tidur dikamarnya sendiri yang berada di sebelah kamar kakek dan neneknya.
Hari ini Reyvano dibawa ke perusahaan oleh Ayah Dion, karena takut si tampan mendadak rewel. Beliau ingin Devan dan Ibu Ellena, mengurus menantunya. Berita kehamilan Zizi tentu saja kemerdekaan untuknya. Sebab sudah jelas Rey akan tetap tinggal bersama mereka.
Cup!
"Tidurlah! Kali ini Kakak akan selalu menemanimu. Lebih baik kehilangan tander besar, daripada membiarkan kalian berjuang sendiri." Devan mengecup kening Zizi, setelah mebaringkanya di atas ranjang tempat tidur.
"Cukup kamu berjuang sendiri saat mengandung putra kita. Sekarang tidak akan Kakak biarkan itu terjadi," berkata sambil menatap wajah damai sang istri.
*
*
Sembilan bulan kemudian.
"Kak, bangun!" ucap Zivanna sambil merintih menahan sakit.
"Eum... apa sayang?" meskipun matanya mengantuk. Tapi pria itu paksakan untuk bangun. Selama sembilan bulan ini dia tidak pernah tidur dengan nyenyak, karena Zivanna selalu minta dicarikan berbagai macam makanan ataupun buah-buahan. Kehamilannya yang sekarang sangat manja dan merepotkan. Tidak sama seperti saat dia hamil anak pertama mereka. Zizi masih bisa membuat kue untuk ia jual.
"Sepertinya aku mau melahirkan, perutku sakit sekali," jawab Zizi mengelus perutnya sendiri. Berharap bisa mengurangi rasa sakitnya.
"Apa! Kalau begitu tunggu sebentar kakak akan meminta pengawal menyiapkan mobil." seru Devan langsung membelalakkan matanya. Ia turun dari ranjang dan langsung mengirim pesan, agar begitu mereka turun, semuanya telah siap.
"Ayo, kakak akan mengendong mu," ucapnya siap membantu. Sebelum istrinya menolak, Devan sudah mengangkat sang istri dengan hati-hati.
"Kakak biarkan aku jalan sendiri. Aku sangat berat, bagaimana kalau kita terjatuh bersama." seru wanita itu sambil memeluk leher suaminya.
"Tidak akan terjatuh, tenang saja! Cukup peluk leher kakak dan diam," kata Devan tidak bisa dibantahkan lagi. Lalu ia membawa istrinya berjalan menuruni tangga dengan cukup pelan dan hati-hati. Mereka sudah di suruh pindah ke lantai bawah, akan tetapi Zizi tidak bisa tidur di dalam kamar barunya. Jadinya mereka terpaksa tidur di kamar Devan yang berada di lantai atas, karena hanya di sanalah Zizi bisa tidur.
Saat mereka tiba di pertengahan tangga. Ayah Dion dan Ibu Ellena sudah berjalan menyusul ke atas.
"Nak, Hati-hati!" Ibu Ellena meringis takut, bila putrinya terlepas dari tanggan menantunya.
"Iya, Ibu tidak perlu khawatir." jawab Devan tetap pokus pada langkahnya saja.
Dev, Ayah akan ikut bersamamu ke rumah sakit lebih dulu. Ibu dan putra kalian biar berangkat bersama Asel." ucap Ayah Dion mengikuti langkah putranya dari belakang.
"Iya, bagaimana baiknya saja," jawab Devan terus berjalan. Untungnya dia tidak panik, karena sudah belajar cara menghadapi saat istrinya melahirkan.
"Ibu pergilah bersiap-siap bersama Rey. Ayah akan berangkat lebih dulu untuk menemani kedua anak kita." kata Ayah Dion pada istrinya. Wanita paruh baya tersebut hanya mengangguk setuju.
Saat mereka keluar dari dalam rumah, mobil dan perlengkapan lainnya sudah disiapkan. Dengan bantuan Ayah Dion, Devan masuk ke dalam mobil bersama istrinya. Setelah itu mereka pun langsung berangkat menuju ke rumah sakit yang sudah dipersiapkan juga dari jauh-jauh hari.
Zivanna akan melahir dengan cara operasi caesar, karena saat melahirkan putra pertama mereka juga dengan cara seperti itu. Tidak membutuhkan waktu yang lama, mobil iring-iringan yang mengawal mereka pun sudah tiba di rumah sakit. Begitu keluar dari mobil semuanya sudah siap termasuk para dokter yang akan membantu Zivanna.
Perkiraan para dokter, Zizi sudah melahirkan dari kemarin. Namun ternyata meleset satu hari dari tebakan para tim dokter terbaik di ibukota X.
Setelah dibaringkan pada berankar rumah sakit. Zivanna langsung dibawa menuju ke ruang operasi. Ayah Dion hanya menunggu di luar bersama Felix dan beberapa orang pengawal lainnya. Sedangkan Devan mendampingi istrinya.
__ADS_1
Untuk operasi yang sekarang Zivanna tidak akan dibius total seperti sebelumnya, karena hanya operasi untuk mengeluarkan bayinya saja. Berhubung semuanya sudah siap, para dokter pun mulai melakukan pembiusan, dan kurang lebih dari waktu satu jam setengah, mereka sudah berhasil mengeluarkan seorang bayi laki-laki.
"Selamat Tuan Devan, Nona Zivanna. Anak kedua kalian sangat tampan, sama seperti Tuan Muda Reyvano." ucap Dokter Anita seraya meletakkan bayi tersebut pada dada ibunya. Baik Devan maupun Zizi sama-sama meneteskan air mata, tentunya air mata bahagia.
"Sayang!" seru Devan menyentuh putra kedua mereka. Melihat si kecil hati Devan terenyuh mengigat entah seperti apa rupa dan susahnya saat Rey baru dilahirkan.
"Tidak apa-apa, yang penting sekarang Rey sudah hidup bahagia." Zizi tersenyum untuk menguatkan suaminya. Dia tahu kalau Devan pasti mengigat hal yang sama seperti dirinya.
Cup!
"Terima kasih! Kakak sangat mencintaimu," ucap Devan memberi kecupan pada sang istri.
Setelah memberi rangsangan pada bayi tersebut dan penjahitan pada perut Zizi selesai, satu orang perawat mengambil bayinya untuk dibersihkan, karena bila sudah selesai ibu dan bayinya akan di pindahkan ke ruang perawatan intensif.
Sebelum Zivanna dan bayinya di bawa ke ruang perawatan. Ternyata kedua orang tua dan putra pertama mereka sudah menunggu di sana.
"Nenek, adek bayinya ada belapa, ya?" tannya Rey sudah tidak sabar untuk bertemu adiknya.
"Nenek juga tidak tahu sayang, kita tunggu saja, kata perawatnya tadi sebentar lagi ibu dan adik kecil akan dipindahkan ke sini." jawab Ibu Ellena mengelus kepala cucunya.
Tapi!
Tapi!
Suara langkah kaki yang cukup ramai. Ternyata para dokter dan perawat yang mendorong ranjang tempat Zizi berbaring. Ada Devan juga yang setia mendampingi sang istri. Putra mereka di gendong oleh Dokter Anita.
"Ayah!" seru Reyvano begitu melihat ayahnya masuk bersama yang lain.
"Sayang, putra ayah sudah tiba," Devan langsung melepas genggaman tangan dia dan Zizi. Lalu dia pun mendekati Rey yang duduk di atas pangkuan neneknya.
Cup, cup, cup, muuuaah!
"Maafkan Ayah anakku, Ayah begitu berdosa padamu." ucap Devan karena dia belum bisa melupakan kesalahannya begitu saja.
"Nak, sudahlah! Jangan diingat lagi. Sekarang adalah waktunya kalian berbahagia." Ibu Ellena menyentuh pundak menantunya. Beliau tahu apa yang sedang terjadi.
"Tapi Bu, Devan tida---"
"Ibu mengerti! Ketahuilah, semua orang tidak ada yang tidak luput dari kesalahan. Kita pasti punya kesalahan yang disengaja, ataupun tidak disengaja." kata Ibu Ellena menyakinkan menantunya. "Jika kamu benar-benar merasa bersalah, maka bahagiakan istri dan kedua anakmu."
"Ibu! Terima kasih, karena Ibu selalu menguatkan Devan," pria berumur tiga puluh tahun dan yang sudah memiliki dua orang putra itu memeluk Ibu Ellena. Wanita yang putrinya pernah ia sakit.
"Ibu sudah memaafkan mu sejak dulu, jadi lupakanlah semua kenangan yang buruk." jawab beliau membalas pelukan menantunya. Jangan lupa, ada si tampan Reyvano juga di antara ayah dan neneknya.
"Hem! Lepaskan istri, Ayah. Peluk istrimu sendiri." Ayah Dion berdehem, karena dia lagi mengoda anaknya.
"Ck, Ayah tidak boleh pelit. Istri Ayah adalah ibuku juga." balas Devan tidak mau kalah. Bila lagi berkumpul mereka berdua memang seperti itu.
Zivanna yang menyaksikan hal tersebut hanya tersenyum bahagia. Begitu pula dengan Dokter Anita dan satu perwat wanita. Sedangkan yang lainnya sudah keluar sejak tadi.
"Ayah adek kecilnya," tunjuk Rey pada adiknya yang sudah diletakan pada box bayi.
"Iya, astaga! Ayah jadi melupakan adikmu, Nak." kata Devan tersenyum sambil membawa Reyvano mendekati putra keduanya.
"Namanya siapa, Dev?" tannya Ayah Dion ikut mendekati sang cucu.
"Putra kedua kami namanya Zelio Arkana Atmaja," jawab Devan yang sudah menyiapkan dua nama untuk anaknya.
__ADS_1
"Nama yang sangat bagus, Nak. Ibu menyukai namanya." imbuh Ibu Ellena mendekati putrinya lebih dulu.
TAMAT!