
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Istirahatlah, Kakak akan melihat Rey." ucap Devan setelah melihat Zivanna sudah baik-baik saja. Tidak menangis lagi dari beberapa menit yang lalu.
Saat Devan sudah memegang gagang pintu kamar mau keluar. Zivanna memangil namanya. Sehingga membuat pria yang sudah berumur hampir tiga puluh, satu tahun itu berhenti ditempatnya berdiri.
"Devan, terima kasih! tapi aku ingin besok pagi kita sudah mulai mengurusnya." ucap Zizi penuh keyakinan.
"Eum, baiklah! Besok kita akan mulai mengurusnya." jawab Devan sambil menahan rasa sakit yang tidak bisa dia jabarkan dengan kata-kata. Lalu setelah itu barulah dia benar-benar keluar dari kamar tersebut karena ingin menemani putranya yang sedang bermain.
"Nak, bagaimana apa Zizi bisa tidur?" tanya Ibu Ellena begitu melihat menantunya sudah turun. Tapi hanya sendiri tidak bersama putrinya.
"Sekarang dia baru mau tidur, Bu. Tadi saat Devan datang ke sana, Zizi sedang membereskan barang-barang yang memiliki kenangan di masa lalu." jujur Devan. Tidak ada yang dia sembunyikan dari kedua orang tua mereka. Dari semenjak Zivanna pergi meninggalkannya. Devan lebih nyaman bercerita pada ibu tiri sekaligus ibu mertuanya itu.
"Mengemasi barang bagaimana? Apa dia ingin membawanya pindah dari sini?" wanita paruh baya itu kembali duduk di atas sofa, karena sedari tadi dia hanya duduk diatas karpet menemani sang cucu bermain.
"Hem, tidak, Bu. Zivanna bukannya mau pindah. Tapi dia tidak mau melihat barang-barang itu lagi." sebelum menjelaskannya Devan berdehem agar dia tidak terlihat lemah saat menyampaikan berita tersebut.
Jujur saja bila tidak ada Reyvano putranya. Mungkin dari pada harus berpisah hidup dengan sang istri. Maka Devan lebih baik mamilih menabrakkan mobil bersama dirinya.
"A--a--apa, kenapa bisa seperti ini," Ibu Ellena mengusap wajahnya penuh kesedihan. Apalagi ketika pandangan matanya melihat Reyvano. Dari mendengar cerita menantunya itu, beliau sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Nak, maaf. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu tahu sendiri saat ini Zivanna seperti menjauh dari ibu. Dia memang sudah kembali, tapi sepertinya sulit untuk kita gapai." seru Ibu Ellena ikut miris melihat kisah rumah tangga putra-putrinya.
"Ada apa?" tanya Ayah Dion baru datang dari kamarnya. Pria yang masih terlihat tampan walaupun sudah di telan usia itu pergi menganti pakaian kerjanya dengan pakaian saat di rumah bersama keluarga.
"Huh, ini Devan bercerita jika Zizi tadi tidak tidur. Tapi dia membereskan barang-barang yang ada didalam kamarnya." kata Ibu Ellena dengan sendu.
Sungguh saat ini Ibu Ellena tidak tahu harus berbuat apa. Devan anak dari suaminya, sedangkan Zivanna putri kandungnya. Intinya sebagai orang tua hanya bisa melihat kehancuran anak-anaknya semua.
Hancur? Ya hancur! Bila perceraian tersebut terjadi maka Ibu Ellena sudah tahu seperti apa hancurnya Devan, karena selama ini bila bukan dirinya yang menguatkan anak tirinya itu. Mungkin Devan sudah gila sejak awal Zivanna pergi meninggalkan dia.
Lalu kehancuran Zivanna adalah, tidak mungkin bisa melupakan semuanya dengan sangat mudah. Meskipun sekarang Zizi berkata kalau dia akan bahagia bila sudah berpisah dari Devan. Tentu hal tersebut hanya untuk membohongi dirinya sendiri, dan yang menjadi korban tentu saja Reyvano putra mereka.
__ADS_1
"Membereskan bagaimana, Dev? Apa lagi yang kamu lakukan padanya, sehingga dia mau pergi lagi." Ayah Dion menatap putranya penuh selidik. Dia mengira jika Zizi mengemasi barang-barangnya karena mau pergi lagi dari rumah itu. Padahal bukan barang pakaian yang dimaksud.
"Ayah--- suiiit! Turunkan nada suaranya. Di sini ada cucu kita." cegah Ibu Ellena takut suaminya mengamuk seperti beberapa tahun lalu. Yaitu saat Devan mengakui kesalahannya.
"Ayah--- Devan tidak melakukan apa-apa. Zizi mengemasi barang-barang seperti kenangan masa lalunya." jawab wanita paruh baya itu lagi. Beliau tahu kalau saat ini menantunya mungkin sedang merasa tertekan batinnya. Namun, karena ada Reyvano. Devan menguatkan hatinya. Sebab semua memang kesalahannya.
"Apa!" Tuan Atmaja itu langsung termangu mendengar cerita sang istri. Dia sama seperti istrinya, tidak bisa berbuat apa-apa.
"Nanti setelah dia tenang. Biar ibu berbicara dengannya. Mungkin saja bisa mengubah pendiriannya." imbuh Ibu Ellena untuk menenangkan Devan dan Ayah Dion.
"Ibu--- Tidak usah, maksud Devan, jangan sekarang. Lain kali saja, bila Ibu ingin bicara dengannya, maka bicarakan hal lain saja. Untuk saat sekarang, Devan minta Ibu dan Ayah seakan tidak tahu apa yang terjadi." pinta Devan karena takut membuat Zivanna salah paham pada semua orang.
"Iya, tapi kenapa? Ibu hanya ingin mencoba berbicara dari hati ke hati. Mana tahu bila Ibu yang bicara Zizi akan mengerti kenapa ini semua sampai terjadi."
"Tidak, Bu. Saat ini Zizi benar-benar sangat sensitif. Dua hari lalu dia belum seperti ini. Tapi Zivanna mulai berubah begitu dibawa kembali ke kota Y." sambil berjalan turun dari kamar sang istri tadi. Devan mengingat-ingat saat mereka pertama kali bertemu.
Waktu pertama kali melihatnya, Zizi juga gemetaran seperti tadi. Sama halnya saat mereka naik pesawat. Itu berarti Zivanna takut padanya. Sehingga barang-barang yang ada disuruh menyimpan karena benda tersebut membuat dia takut atau sebagainya.
"Kalau begitu dia mengalami trauma dengan kejadian di masa lalu." timpal Ayah Dion begitu mendengar penjelasan anaknya.
"Iya, Ayah benar! Itu jugalah yang sedang Devan pikirkan. Tapi untuk kejelasannya aku akan menghubungi Dokter Kaivan lebih dulu. Dia seorang dokter pasti tahu apa seban---"
"Sayang, kamu sudah bangun?" Ibu Ellena berdiri mendekati sang putri lalu memeluknya cukup erat. Sungguh hatinya sangat sakit melihat Zizi putrinya yang selalu ceria sekarang bagaikan orang yang berbeda.
"Aku tidak bisa tidur, Bu. Apa ibu sudah memasak? Jika belum, biar Zizi bantu." kata Zivanna setelah melepas pelukan mereka. Dulu, ibunya selalu memasak sendiri bila untuk keluarga mereka. Makanya Zivanna bertanya, mana tahu sang ibu masih tetap seperti itu.
"Belum, Ibu belum memasak untuk makan malam kita. Kalau begitu ayo kita masak bersama. Ibu sangat rindu saat-saat berada di dalam dapur bersama putri ibu." begitu mendengar ucapan Zizi. Ibu Ellena langsung saja mengikuti iyakan karena momen itulah yang dia rindukan.
"Wah, kalau ibu mau memasak bersama nenek. Rey ikut Ayah saja, ya?" ucap Devan. Agar Ibu tirinya memiliki waktu berdua dengan Zivanna.
"Mau kemana?" tanya Zizi tidak bisa melepaskan putranya di bawa begitu saja.
"Ketaman yang berada di dekat sini. Biasanya bila sore hari seperti ini, sangat ramai anak-anak bermain bersama ayahnya. Kakak ingin Rey ikut merasakannya." jawab Devan yang kebetulan sudah dari dulu mendambakan, bisa membawa anaknya bermain di taman yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka.
"Oh, iya. Kalau begitu pergilah!" mengangguk mengizinkan karena saat ini pikiran Zizi sedang tenang.
"Karena kalian mempunyai kegiatan semua. Ayah mau pergi bermain golf bersama Sekertaris Jimi." putus pria paruh baya itu tidak mau ketinggalan. Kebiasaan Ayah Dion memang bermain golf bersama Sekertaris pribadi anaknya.
__ADS_1
Setiap Devan datang bersama Sekertaris Jimi. Maka beliau selalu bermain golf yang kebetulan ada lapangan di samping rumah mewah tersebut.
"Boy, ayo ikut Ayah! Kita pergi jalan-jalan, nanti di sana ada permainan mobil-mobilan juga." ajak Devan pada buah sang buah hati yang kembali bermain setelah tadi mencium ibunya.
"Ain obil-obilan?" ulang Rey takut salah dengar.
"Iya, main mobil-mobilan. Kita akan jalan ke taman. Dulu, saat Ayah masih kecil. Kakek juga selalu membawa Ayah bermain di sana." Devan berjongkok di hadapan Rey sambil memperbaiki baju putranya yang kerah bajunya sudah terangkat ke atas.
"Hole ... Ayo tita pelgi cekalang." tidak susah-susah membujuk Reyvano, karena mendengar kata mobil-mobilan saja dia langsung mau.
"Oke, kita berangkat sekarang. Let's go! Tapi sebelum pergi pamit dulu pada Ibu, Kakek dan nenek dulu, ya." Devan yang sudah mengendong sang putra membawa Rey mendekati ayahnya, Ibu Ellena. Lalu yang terakhir sang istri.
"Ayo bilang sama ibu, seperti apa ngomongnya." secara tidak langsung Devan mengajarkan putranya untuk berpamitan dengan cara yang benar dan sopan. Rey yang cerdas tentu saja langsung mengagukan kepalanya seraya berkata.
"Ibu, Ley tama Ayah au ain yah. Ibu dangan dangis." ucap si tampan sambil mencium pipi sang ibu yang tersenyum mendengar pesan dari putranya.
"Tentu, ibu tidak akan menagis. Rey hati-hati, nggak boleh nakal ya." Zizi tersenyum bahagia dan bisa melupakan beban hstin walaupun hanya sesaat.
"Iya, nda akal." jawab Reyvano mengelengkan kepalanya.
"Kakak pergi dulu ya, jangan banyak pikiran." sebelum pergi Devan sempatkan tangannya mengelus kepala sang istri.
Akhirnya sore itu, keluarga mereka menghabiskan waktu dengan berbagai macam kegiatan masing-masing.
"Semoga rumah tangga kalian akan baik-baik saja, Nak. Kasihan putra kalian bila sampai orang tuanya berpisah. Meskipun ibu tidak tahu apa sebenarnya yang sudah terjadi padamu di masa lalu, tapi Ibu ingin kamu memaafkan kesalahan suamimu. Devan tidak sepenuhnya bersalah."
Batin Ibu Ellena yang melihat keluarga kecil anaknya.
*BERSAMBUNG* ...
.
.
.
Sambil menunggu novel bbg Devan update. Yuk, baca novel sahabat Mak author juga. Terima kasih.
__ADS_1