
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Ayah, bobo nini?" tanya Rey saat tubuhnya digendong oleh Devan.
"Ayah belum tau. Sekarang ayo tunjukkan dimana kamarnya, biar ayah yang temani bobok." ucap Devan yang belum tahu dia akan menginap dimana. Baginya sudah bisa menemukan Zizi dan anaknya adalah sebuah keajaiban.
"Tunggu aku disini. Jangan kemana-mana." berpesan seperti dia pemilik rumah tersebut. Padahal itu bukanlah rumahnya. Zizi hanya diam tidak menjawab sepatah katapun. Hanya mendengarkan saja apa yang Devan dan putranya bicarakan.
Tiba didalam kamar.
"Apakah ini kamar tidurnya?"
Devan bertanya heran karena dibandingkan kamar tersebut. Lebih bagus lagi kamar para pembantu dirumahnya. Diapun mengira kalau putranya memiliki tempat tidur sendiri tidak satu kamar dengan sang istri.
"Iya, nini tamal Ley tama ibu. Badus Tan?" Reyvano langsung minta diturunkan begitu tiba di sisi ranjang. Anak itu merangkak naik dan membaringkan tubuhnya di tengah-tengah ranjang.
Dengan bangganya Rey menyebutkan kalau itu adalah kamar dia dan ibunya. Tidak ada barang-barang mewah dari luar sampai kedalam kamar. Semuanya hanya ada perabotan tua, karena sudah terlihat usang.
"Ayah, nda au bobo?" tanya Reyvano melihat Devan hanya berdiri. Padahal ayahnya itu diam sambil melihat sekelilingnya.
"Ya Tuhan jadi selama ini, anak dan Istriku tinggal ditempat seperti ini?"
Gumam Devan tidak bisa membayangkan bila dia yang bertahan tinggal ditempat seperti itu sampai bertahun-tahun lamanya.
__ADS_1
"Agh, iya. Maaf, ayah sedang kagum melihat kamarnya bagus sekali." bohong Devan agar anaknya tidak bersedih.
"Enang dadus. Ley Bobo nini iap alam."
"Ya sudah, Rey bobok sekarang, ya. Biar ayah temani sampai tertidur." Devan ikut duduk disisi ranjang dengan tangannya mengelus kepala Reyvano.
Sambil mendengarkan anaknya berceloteh yang kebanyakan tidak dia mengerti maksudnya. Devan kembali memperhatikan seluruh ruangan tersebut.
Ada banyak figura foto-foto saat Reyvano masih bayi sampai saat sekarang. Hanya itulah yang menghiasi tempat sederhana itu. Ada rasa sedih dan bahagia yang pria itu rasakan saat ini. Bahagia karena sudah berhasil menemukan wanita yang menjadi separuh hidupnya.
Akan tetapi rasa bersalahnya semakin bertambah melihat bagaimana tempat tinggal dan kehidupan anak dan istrinya.
Cup ...
"Tidurlah anakku! Maafkan ayah telah membuat mu menderita seperti ini. Tapi ayah berjanji tidak akan membiarkan kalian menderita lagi." Devan mencium Reyvano berulang kali. Sungguh dia merasa berdosa sekali pernah memiliki niat, ingin membunuh anak kecil yang sekarang tidur dengan sangat damai tanpa beban apapun. Padahal kedua orangtuanya sedang menghadapi peperangan besar.
Zivanna tidak akan bisa keluar dari rumah itu, karena diluar sudah dijaga dengan ketat oleh para pengawal setia Atmaja group.
"Zizi, kita perlu bicara." ucap Devan ikut duduk di sofa ruang tengah karena ternyata selama Devan menemani putranya tidur. Zivanna menunggunya disana.
Meskipun mendengar Devan berbicara padanya. Zizi hanya diam sambil memeluk bantal sofa dan menundukkan kepalanya. Entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang, karena Devan tidak bisa menebaknya.
"Maafkan aku sudah membohongi pernikahan kita." ucap Devan ikut menundukkan kepalanya, karena dia benar-benar merasa bersalah. Namun, harus bagaimana lagi. Semuanya sudah terjadi.
"Andai saja aku tidak salah paham pada hubungan ibu dan ayah. Maka semua ini tidak akan pernah terjadi." berhenti sejenak sebelum melanjutkan lagi karena Zivanna belum juga mau bicara. Wanita itu tidak menangis lagi, hanya saja diam dengan pandangan kosong.
"Tapi percayalah! Aku benar-benar menyesal telah menyakitimu." Devan berkata dengan tulus. Mendengar perkataannya, Zivanna tidak menjawab. Tapi wanita itu meneteskan air mata dan membuang pandangan matanya.
"Tolong maafkanlah aku! Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Aku akan selalu setia padamu." mohon Devan sambil melihat Zizi meneteskan air matanya. Ingin rasanya Devan duduk di dekat sang istri untuk menghapus air mata itu dan menjadi sandaran buat istrinya. Tapi dia tidak berani melakukan hal tersebut.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkan mu. Jadi tidak perlu minta maaf, aku muak mendengarnya." seru Zizi menghela nafas panjang agar dia bisa lebih tenang.
"Kalau begitu pulanglah bersamaku, mari kita memulai semuanya dari awal bersama putra kita." ucap Devan merasa bahagia karena Zizi sudah memaafkan kesalahannya. Namun, kebahagiaan yang dia rasakan tidak lama, setelah mendergar perkataan Zivanna.
"Jangan kamu harap, dengan kata maaf dapat menyembuhkan hatiku. Sakit yang pernah dulu kamu beri, sampai kapanpun tidak akan bisa terobati." ucap Zizi sambil menahan agar tidak menjatuhkan air matanya lagi.
"Jangan kamu pikir semuanya berakhir saat kamu bilang menyesal. Tidak mudah membuatku untuk percaya begitu saja. Meskipun kamu berjanji akan berubah." seru Zizi dengan sendu. Dia hanya tidak ingin dibodohi seperti dulu lagi. Saat mereka pacaran, Devan selalu mengatakan sangat mencintainya. Nyatanya semuanya bohong.
"Aku memang tidak pantas untuk kamu maafkan. Tapi tolong beri aku kesempatan untuk menebus semua perbuatan ku pada kalian berdua." apa yang di ucapkan oleh Zizi, semuanya mengandung arti. Kata-kata tersebut hanya bentuk ungkapan kekecewaannya.
"Cukup sekali saja aku merasa kecewa. Kecewa padamu dan pada diriku sendiri yang mau dibodohi dengan kata-kata cintamu. Walaupun kamu berjanji akan setia. Aku tetap tidak mau hidup bersamamu lagi, karena tanpamu, hidupku jauh lebih indah." selama Devan menidurkan anaknya tadi. Zizi memang sudah berpikir kata-kata apa yang harus dia ucapkan. Agar Devan tidak bisa memaksanya untuk kembali, karena percuma saja dia mengusirnya. Devan tetap tidak akan pergi.
Deg ..
Harapan Devan langsung pupus saat mendengar kata-kata mematikan yang di sampaikan oleh Zizi. Sungguh Devan tidak menyangka kalau Zivanna nya sudah tumbuh menjadi wanita dewasa.
"Sayang, tolong jangan seperti ini. Aku sangat mencintaimu. Aku pun tahu kalau dihatimu pasti masih mencintaiku. Demi putra kita, aku mohon beri aku kesempatan untuk yang terakhir kalinya." ucap Devan sambil memangil Zizi dengan pangilan sayang. Berharap wanita itu akan luluh dan mau memberikan dia kesempatan.
"Huh! Simpan saja semua cerita cinta diantara kita berdua. Kamu laki-laki yang memiliki segalanya. Tidak sulit bagimu mendapatkan wanita manapun. Lagian bukankah kamu sudah memiliki Fiona." menyebutkan nama wanita yang menjadi kekasih sang suami, meskipun sudah lama. Sama saja Zivanna membuka luka lamanya.
"Zi ... Aku dan Fiona tidak pernah memiliki hubungan apapun. Dia hanya sahabatku, kala itu. Tapi sekarang aku sudah memutuskan persahabatan kami. Setiap melihatnya, aku semakin merasa bersalah padamu. Kami berdua sengaja melakukan sandiwara itu untuk menyiksamu" jujur Devan tidak ada yang dia tutup-tutupi lagi.
"Devan, terserah padamu mau bersahabat ataupun ingin memiliki hubungan dengan siapapun. Aku tidak akan ikut campur karena itu semua bukanlah urusanku. Mulai saat ini, anggap saja diantara kita tidak pernah memiliki hubungan apapun. Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi, karena aku mampu hidup sendiri tanpa kehadiranmu." meskipun sakit. Zivanna harus bisa mengakhiri semuanya. Kehidupan barunya sudah dimulai saat si buah hati lahir ke dunia yang begitu kejam padanya.
"Tapi aku sangat membutuhkan kamu dan juga anak kita. aku tidak bisa lagi hidup tanpamu. Percayalah! Aku bodoh tidak bisa menyadari perasaan cintaku padamu."
"Maaf, aku tidak bisa lagi kembali bersama mu. Berhubung kamu sudah menemukan tempat ku. Mari kita akhiri semuanya. Aku akan kembali ke kota Y hanya untuk mengurus perceraian kita." Apabila rasa kecewa lebih besar. Maka apapun jenis cintanya, akan hilang dengan sendiri.
*BERSAMBUNG ...😉*
__ADS_1