
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Pagi pun tiba. Devan masih tidur sambil memegang surat hasil pemeriksaan Zizi dari rumah sakit. Hampir semalaman pria itu tidak bisa memejamkan matanya. Rasa khwatir, menyesal dan bersalah terus menghantuinya. Para anak buah yang di utus oleh sekertaris Jimi belum ada memberikan kabar sama sekali.
Devan bisa memejamkan matanya setelah pukul lima pagi. Itupun dia tidak sadar bisa tertidur dengan sendirinya. Kapala pelayan sudah berulangkali ingin mengetuk pintu kamar Nona mudanya. Namun, dia urungkan karena takut sang Tuan muda akan bertambah marah. Bila di ganggu waktu istrirahat nya. Bibi Marta memang belum mengetahui kalau bos kejam nya sedang tidak baik-baik saja.
Padahal bila di hari biasa Jam setengah tujuh pagi Devan sudah siap akan berangkat ke perusahaan Atmaja. Tapi hari ini meskipun sudah jam setengah delapan. Belum ada tanda-tanda Devan akan keluar dari kamar tersebut.
Fiona yang sudah menunggu dari tadi pun sampai memarahi para pelayan yang tidak tahu apa-apa. Hanya kapada Bibi Marta lah dia tidak berani semena-mena. Namum, tetap saja dia tidak berlaku sopan pada wanita baya tersebut.
Sedangkan sekertaris Jimi sudah berangkat ke perusahaan lebih dulu untuk menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya di kerjakan oleh Devan. Tadi pagi-pagi sekali sekertaris muda itu sudah datang ke rumah sang Tuan muda. Hanya saja setelah mendengar cerita Bibi Marta kalau tuan nya itu berada di dalam kamar Zivanna.
Membuat dia mengambil kesimpulan bahwa Devan pasti merasa terpukul karena kepargian istrinya. Apalagi gadis itu pergi tidak meninggalkan pesan ataupun membawa uang untuk kebutuhannya selama dalam perjalanan.
"Bibi Marta berikan Saya kunci cadangan, kamar wanita berengsek itu?" ucap Fiona untuk kesekian kalinya karena sedari tadi dia meminta kuncinya tidak di berikan juga oleh Bibi Marta. Saat ini mereka sedang berada di ruang tengah.
"Maaf Nona Fiona! Saya tidak memegang kuncinya. Semua kunci cadangan di simpan oleh Tuan Devan." kembali berbohong padahal Bibi Marta juga memiliki satu kuncinya.
"Aah... Saya tidak percaya. Pasti kamu sengaja kan agar Saya tidak masuk ke kamar perempuan murahan itu." maki Fiona menggebu-gebu tau kalau Devan sampai telat berangkat ke perusahaan gara-gara Zizi tidak kembali ke rumah.
__ADS_1
"Benar Nona, Saya tidak berbohong! Kuncinya di simpan oleh Tuan Devan sem---'
"Kunci apa yang kalian ributkan?" suara bariton Devan menghentikan saat wanita baya itu ingin mengatakan tidak menyimpan kunci kamar Nona mudanya.
"Dev! Kapala pelayanan ini tidak menghormati aku. Sudah dari pagi aku meminta kunci pintu kamar wanita sialan itu. Tapi dia tidak mau memberikan nya padaku. Padahal aku sudah mengatakan hanya ingin membangunkan mu agar tidak telat berangkat ke perusahaan." dusta gadis itu menyampaikan berita bohong.
Dengan menjebak Bibi Marta. Tujuannya ingin wanita baya itu di pecat dari sana dan dia sendiri pun mendapatkan pembelaan. Berharap Devan mengikuti kemauannya. Namum, semua tidak sesuai dengan expestasi nya.
"Kunci kamar Zivanna... memang aku yang menyimpan nya. Mulai saat ini selain Bibi Marta tidak ada yang boleh masuk ke sana." kata Devan ingin langsung pergi dari sana. Sebelum di cegah oleh Fiona.
"Dev! Kamu mau ke mana? Dan kenapa kamu tidak memakai seragam kantor?" bertanya seolah-olah sudah menjadi istri Devan.
"Aku akan pergi mencari Zizi." Devan menjawab acuh.
"Apa! Untuk apa kamu mencari wanita itu. Biarkan dia pergi dari rumah mu. Bukanya bagus kalau dia tidak kembali. Kamu cukup bilang kepada ibunya bahwa anaknya lah yang pergi dari rumah. Dengan begitu, balas dendam mu sudah selesai tidak perlu repot-repot harus menyiksanya. Kalau perlu kita cukup mendengar berita kematian nya' kan" ucap Fiona mencegah Devan untuk pergi.
"Devan kamu membentak ku hanya karena perempuan itu," seru Fiona meneteskan air matanya dan diapun langsung pergi meninggalkan Devan bersama Bibi Marta.
"Fi.. Fiona! Agh kenapa bisa seperti ini." ucap pria itu mengusap wajahnya kasar. Masalah mencari Zizi belum selesai sekarang tiba masalah baru.
"Tuan sebelum pergi mencari Nona muda. Lebih baik Anda sarapan lebih dulu. Nanti Anda bisa sakit bila telat makan." dengan hati bahagia Bibi Marta menawarkan tuan mudanya untuk sarapan lebih dulu.
Bukan apa-apa yang membuat wanita baya itu bahagia. Dia hanya senang melihat Devan mau mencari istrinya. Bahkan Devan membentak Fiona karena mendengar sahabatnya menyumpahi sang istri.
__ADS_1
"Tidak Bik terimakasih! Tolong jangan biarkan Fiona masuk kedalam kamar Zizi. Kuncinya Bibi simpan saja. Ingat selain Bibi tidak ada yang boleh masuk kesana." kata Devan menolak untuk sarapan. Bagaimana dia bisa sarapan sedangkan istrinya jangankan untuk makan tidur saja tadi malam entah di mana.
Ah mengingat hal itu membuat dada Devan semakin sesak. Bukan hanya Zizi tapi juga calon anaknya. " Saya berangkat sekarang ya Bik, tolong do'akan agar Saya bisa membawa Zivanna kembali kerumah ini." ucapnya meminta do'a lalu dengan buru-buru Devan pergi kearah garasi tempat mobil mewahnya berada.
Melihat betapa banyaknya mobil yang berjejer di sana. Membuat dada Devan kembali terasa sesak. Menggigat perbuatannya sendiri pada sang istri. Dengan teganya dia membelikan Fiona satu buah mobil Lamborghini keluaran terbaru.
Sedangkan istrinya sendiri harus berjalan kaki sejauh hampir dua kilometer bila ingin menjumpai kendaraan umum. Bukan hanya itu, saat bertemu berpapasan di jalan, mobil Devan melewati gadis itu begitu saja. Tidak tersentil hatinya untuk mengajak Zizi menaiki mobilnya.
Tapi... hari ini Devan menjalankan mobilnya sangat pelan. Dengan pandangan mata melihat kiri dan kanan. Berharap bisa menemukan sosok Zivanna di pinggir jalan ataupun di emperan ruko yang berjejer rapi.
Tempat pertama yang akan dia datangi adalah Kafe tempat istrinya bekerja paruh waktu. Tiba di depan Kafe tersebut Devan langsung keluar dari mobil dan berjalan masuk untuk menanyakan keberadaan istrinya yang mana tahu sudah bekerja.
"Selamat datang Tuan! Anda ingin memesan makan dan minuman apa?" sapa si pegawai dengan ramahnya karena mereka mengira pria itu ingin menikmati makanan yang mereka jual.
"Terimakasih! Saya datang ke sini bukan igin pesan sesuatu tapi ingin bertemu dengan gadis yang bernama Zivanna Atmaja. Bisa tolong panggilkan sebentar." tidak sadar Devan menyebut nama belakang Zizi dengan sebutan Atmaja bukan Lois.
"Maaf Tuan disini tidak ada yang namanya Zivanna Atmaja. Ada juga Zivanna Lois. Tapi sudah dua hari dia tidak masuk. Mungkin nanti siang dia kesini, soalnya dia bekerja paruh waktu." ujar pegawai nya dengan sopan karena tahu siapa orang yang ada di hadapannya.
"Oh seperti itu ya! Ya sudah ini kartu nama Saya, tolong segera hubungi Saya bila Zivanna Lois sudah masuk bekerja dan ini uang buat jajan." Devan memberikan kartu namanya dan juga beberapa lembar uang sebagai ucapan terimakasih nya.
Setelah itu Devan kembali lagi menuju kampus tempat istrinya menimba ilmu kurang lebih tiga bulan ini.
"Zizi kemana lagi aku harus mencari mu? Aku mohon pulang lah!" lirih pria itu menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
__ADS_1
"Uuhuk.... uuhukk!"
"Zizi... pelan-pelan saja makannya." ucap seseorang memberikan Zivanna air putih karena tiba-tiba dia tersedak makanan.