Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Nama yang sudah direncanakan.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Saat memeluk tubuh Rey dalam dekapannya. Entah sadar atau tidak Devan mencium pucuk kepala Reyvano sambil mejamkan matanya. Rasa nyaman dan damai langsung dia rasakan begitu menghirup wangi dari tubuh anak kecil itu.


Begitu pula dengan Rey, meskipun dipeluk secara tiba-tiba. Namun, Reyvano bukannya kaget. Tapi ikut membalas pelukan Devan. Selama ini selain Kevin. Anak itu memang belum pernah digendong atau pun sekedar dipeluk oleh seorang laki-laki seperti saat ini.


"Apa kamu masih mau es krim? Atau mau makanan yang lain? Katakan saja pada Om. Biar kita pergi membelinya."


ucap Devan melepaskan pelukan mereka dan mencoba mencairkan suasana agar rasa aneh didalam hatinya segera hilang.


"Nda oleh banak-banak. Tanti atit peyut tama didi na ucak. Ley duda nda au ain na" Rey yang selalu ingat pesan sang ibu langsung mengelengkan kepalanya. Padahal bila dia mau bisa saja meminta es krim lagi, karena sang ibu tidak akan mengetahuinya.


"Ternyata kamu benar-benar anak yang baik. Pasti orang tuamu sangat bangga memiliki putra seperti mu." puji Devan mengelus kepala anak itu untuk kesekian kalinya.


"Andai saja aku tidak menyiksa dan menyakiti Zivanna. Mungkin anak kami sudah sebesar ini." gumam Devan menatap wajah Reyvano yang memiliki kemiripan seperti dirinya. Dari mata, wajah dan senyuman. Bila orang lain yang melihatnya pasti akan mengira kalau mereka berdua adalah ayah dan anak. Perbedaan di antara mereka adalah pipi Reyvano terlihat lebih chubby.


Devan harus mengubur dalam-dalam pikiran tersebut, karena nyatanya Reyvano adalah cucu Bibi Emi. Itu berarti ibu atau Ayah Reyvano. Anak wanita tersebut.


"Rey, ayo kita pulang, sayang." ucap Bibi Emi menghampiri Rey yang masih bersama Devan.


"Mau puyang tetalang, tenapa nda tanti aja, nek?" jawab Reyvano karena masih ingin bermain dengan laki-laki yang baru dikenalnya hari ini.


"Iya kita harus pulang sekarang. Kasihan ibu mu kalau kita pulang nya lama. Dia pasti mengkhawatirkan mu." jawab Bibi Emi sudah paham apa yang Rey katakan walaupun tidak semuanya.


Mendengar nama ibu. Membuat Rey kecil mau tidak mau harus pulang. Biasanya dia juga tidak pernah seperti hari ini. Namun, entah kenapa setelah bertemu Devan anak itu menolak untuk pulang.

__ADS_1


"Nyonya, kenapa buru-buru sekali? Ini masih jam setengah sebelas." Devan melirik jam mahal dipergelangan tangannya. Tidak hanya Rey saja yang merasa berat untuk berpisah. Namun, Devan jauh lebih berat dan tidak ingin berpisah. Andai saja dia bisa menahan agar Rey bisa bersama nya. Maka sudah dia lakukan.


"Iya Tuan. Takut ibunya Reyvano khawatir." jawab Bibi Emi menundukkan sedikit kepalanya. Dari penampilan Devan, beliau tahu kalau pria tersebut bukanlah orang sembarangan.


"Em ... baiklah! Terima kasih sudah mengizinkan Saya bermain bersama cucu Anda." kata pria itu tidak memiliki alasan untuk menahan Reyvano.


"Sama-sama Tuan. Justru Saya yang harus berterima kasih karena Anda sudah mengajak cucu Saya menaiki berbagai permainan." selama Devan membawa Reyvano bermain. Bibi Emi selalu memperhatikan dari kejauhan. Mana mungkin dia bisa melepaskan atau mempercayakan Rey begitu saja.


"Rey ... terima kasih ya. Hari ini kamu sudah menemani Om bermain." ucap Devan berjongkok dihadapan bangku yang diduduki oleh Reyvano.


"Tama-mama Om ... danteng!" jawab anak kecil itu memuji Devan. Pria itu memang masih terlihat sangat tampan walaupun usianya sudah mau tiga puluh tahun.


"Kamu jauh lebih tampan daripada Om. Semoga suatu hari nanti kita masih bisa bertemu ya." Do'a Devan mengelus kepala Rey yang sudah mau turun dari bangku tempat duduknya.


"Rey, ayo salimi tangan Om ini. Mana tahu kalian berdua tidak akan bertemu lagi." kata Bibi Emi sebelum mengajak Rey pergi dari sana.


"Rey ... ayo cepat lakukan, kita kan mau pulang." tegur si cucu Bibi Emi.


"Iy---iya tak!" jawab Reyvano melihat kearah suara anak tersebut. Lalu setelah itu barulah dia mengulurkan tangannya untuk berpamitan pada Devan yang masih berjongkok dihadapan nya.


"Om ... Ley puyang ya? Om danan nanis tayak ibu." ucap Rey sambil melepaskan jabatan tangan mungilnya.


Sehingga perkataan Rey membuat Devan menyugikan senyumanya dan berkata. "Terima kasih, boy. Om tidak akan menagis bila kita masih memiliki kesempatan untuk bertemu."


Reyvano hanya mengangguk lalu dia berbalik arah untuk meningalkan tempat tersebut karena sang nenek sudah mengajaknya untuk pulang. Namun, baru beberapa langkah dia kembali melihat kearah belakang dan langsung saja berlari kearah depan yang masih berjongkok seperti tadi. Tiba di hadapan Devan, Reyvano langsung memeluk leher pria itu dengan sangat erat.


"Om danteng!" ucap Rey sendu. Entah mengapa dia begitu berat meninggalkan laki-laki tersebut. Padahal bukan hanya Rey yang merasakan hal itu.


"Sayang!" kata Devan ikut membalas pelukan Reyvano. Rasanya Devan semakin tidak mau berpisah dengan anak itu. Jimi yang menyaksikan hal tersebut sampai terheran-heran karena itu bukanlah kebiasaan sang bos. Sudah sering Devan bertemu dengan anak seusia Rey. Akan tetapi tidak sampai berpelukan, paling dia hanya menanyakan nama anak itu.

__ADS_1


"Om ... Ley puyang." ucap Reyvano berpamitan untuk kedua kalinya. Terlihat matanya berkaca-kaca seperti ingin menagis.


"Iya, Nak. Jangan bersedih. Om sangat yakin kalau kita pasti akan bertemu lagi. Sekarang pulang lah! Nanti ibu mencari mu." Devan tersenyum sambil mengelus kepala Reyvano. Meskipun sedih, tapi dia berusaha agar terlihat biasa-biasa saja.


Reynano tidak menjawab tapi langsung pergi mengandeng tangan sang nenek yang masih menunggu ditempat tadi. Bibi Emi pun, hanya diam saja karena dia berpikir mungkin saja Rey seperti itu karena merindukan sosok ayahnya.


Sementara itu Devan kembali berdiri sambil menatap punggung Reyvano yang semakin menjauh dari mereka. "Jim, ayo kita kembali ke hotel."


"Baik Tuan muda!" seru Jimi mengikuti sang bos dari belakang. Begitu tiba di perkirakan mobil. Si pengawal langsung membuka pintu mobil dan mempersilahkan Devan untuk masuk.


Setelah Jimi menyusul masuk dan duduk dengan nyaman. Si sopir pun mulai menjalankan kendaraan mewah tersebut.


"Jimi, apa orang-orang kita sudah mencair istriku dengan benar?" tanya Devan memecah keheningan diantara mereka bertiga.


"Sudah Tuan muda. Mereka sudah dua kali mengecek keberadaan Nona di kota ini." Jimi yang sudah paham langsung saja menjawabnya.


"Menurut mu, apa mungkin kalau Zizi ada di kota ini?" Devan memijit pelipisnya yang kembali berdenyut bila sudah membicarakan sang istri.


"Untuk itu Saya belum tahu pasti. Tapi Anda tidak perlu khawatir, Saya sudah menyuruh mereka mengeceknya kembali." melihat ada kemiripan Rey dan Tuan muda nya. Sekertaris Jimi langsung menyuruh pengawal yang berjaga diluar untuk mengikuti Bibi Emi. Namun, dia belum menyampaikannya pada Devan.


"Huh! Apa kamu tahu. Tadi aku sempat berpikir, mungkin kah Reyvano adalah putra ku. Bukan hanya wajah nya yang mirip saat aku kecil. Tapi kesukaan dan namanya sama seperti nama anak yang pernah aku dan Zizi rencanakan." kata Devan berhenti sejenak.


"Namun, setelah mendengar wanita tadi mengatakan kalau Rey adalah cucunya, harapan ku langsung sirna. Lagian meskipun Zizi melahirkan anakku. Mana mungkin dia mau memberi nama Reyvano. Setelah apa yang aku perbuat padanya." ucap pria itu mengungkapkan perasaan nya.


"Saya juga sempat berpikir seperti itu Tuan muda, karena foto masa kecil Anda benar-benar mirip seperti wajah anak kecil tadi." selama Devan bermain bersama Reyvano. Sekertaris Jimi memang selalu memperhatikan mereka berdua. Maka dari itu dia menyuruh satu orang pengawal yang berada diluar untuk mencari tahu.


Hanya saja untuk saat Ini Jimi tidak bisa berterus terang pada Devan, karena tidak mau membuat sang bos berharap yang tidak pasti.


"Bersabarlah tuan muda. Semoga saja apa yang ada dipikiran kita benar."

__ADS_1


__ADS_2