Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Murka Devan.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


"Aneh sekali setiap bertemu dengan mu selalu saja sedang menangis." ucap seorang laki-laki yang sudah berdiri di samping Zizi sejak tadi.


"Ap--apa!" ulang Zizi merasa kaget jika lelaki itu mendengar ucapannya.


"Iya dua kali bertemu tanpa sengaja dengan mu selalu saja menangis. Dasar gadis cengeng." katanya lagi ikut duduk di sebelah Zizi.


"Kevin aa--apakah kamu mendengar ucapan ku?" tanya gadis itu merasa malu.


"Menurut mu? Kamu menangis sebegitu kencang bagaimana aku tidak mendengar nya." ya, lelaki yang duduk di samping Zizi adalah Kevin teman satu kampus Zizi sekaligus bos tempat dia bekerja paruh waktu.


Mendengar jawaban Kevin, Zizi tidak bicara dia hanya terdiam karena percuma saja dia mengelak cepat atau lambat lelaki itu pasti akan tahu kebenaran nya. Apalagi sekarang dia sedang hamil sudah pasti perutnya semakin hari akan semakin besar.


"Ayo ikut aku!" tidak menunggu persetujuan dari orang nya. Kevin sudah menarik tangan gadis itu agar masuk ke dalam mobil mewah milik nya.


"Kev kita mau kemana?" tanya Zizi melihat lelaki itu mengemudikan bukan kearah kampus mereka melainkan kearah sebaliknya.


"Ikut saja nanti kamu juga akan tau sendiri." jawab Kevin semakin menambah laju kendaraan roda empat yang di kemudi olehnya.


Zizi yang memang sedang banyak pikiran hanya diam saja karena dia yakin Kevin tidak mungkin membawanya ke tempat yang salah. Walaupun Zizi baru mengenal Kevin tapi dia tahu bahwa pemuda itu adalah anak yang baik.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit mereka sudah tiba di kawasan pantai yang ada di pusat ibu kota Y. Tidak lama setelah itu Kevin pun menghentikan mobilnya di sisi pantai yang terlihat agak sepi. Lalu pemuda itu mengajak Zizi untuk turun dan berjalan menuju bawah pohon tidak jauh dari di sisi pantai. Yang hanya diikuti oleh gadis itu dari belakang.


"Menjerit lah!" setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam. Begitu tiba di pantai Kevin hanya menyuruh nya untuk menjerit.

__ADS_1


"Aa--apa! Menjerit?" ulang Zizi merasa tidak yakin.


"Iya menjerit lah sepuas mu. Agar hatimu terasa lega. Ibu hamil tidak boleh banyak pikiran." seru Kevin menekan kan kata Ibu hamil.


Kecewa, tentu saja dia sangat kecewa. Andai saja dia tidak mendengar keluh Zizi pada dirinya sendiri. Mungkin saja Kevin akan memarahi gadis itu karena tidak jujur dari awal.


"Kevin!" lirih Zizi di sertai oleh air matanya. Tidak sanggup rasanya bila orang lain tau masalah rumah tangganya. Meskipun Zizi polos dalam urusan cinta, tapi dia mengerti bagaimana menjadi seorang istri yang baik harus menjaga aib keluarganya.


"Aku mendengar semuanya Zivanna. Jadi karena hal itu kamu selalu menghindar apabila aku ingin mendekati mu?" Kevin langsung duduk di atas pasir dan membiarkan pakainya menjadi kotor. Lalu Zizi pun ikut duduk di sampingnya tapi dia belum berbicara sepatah katapun. Hanya saja tinggal isakan kecil yang terdengar dari mulutnya.


"Zi maaf aku tidak ingin ikut campur urusan pribadi mu. Aku hanya ingin bertanya apa kamu menangis di taman hotel juga karena masalah dengan suamimu? Bukan karena kamu ingin pulang" tanya pemuda itu kearah Zizi yang hanya diam saja.


"Iya!" jawab gadis itu sinkat diiringi helaan nafas panjang.


"Kevin bukanya hari ini kamu masuk pagi?"


"Seharusnya iya, cuma setelah mendengar jika dirimu sudah menikah bahkan telah mengandung anak laki-laki lain membuat mood ku menjadi jelek." Kevin melempar pasir di samping kakinya untuk menghilang kan rasa kesal yang tidak tau harus dia lampiaskan pada siapa.


"Aku sudah tau. Lalu siapa sebenarnya pengawal yang menjemput mu malam itu. Apakah dia suamimu?"


"Ehh tidak, dia pengawal suamiku." jawab Zizi cepat.


"Jika dia pengawal suami mu, lalu siapa kakak mu? Kenapa dia membiarkan adik perempuannya di sakiti oleh laki-laki lain?" saat bertanya membuat Kevin menahan kesal sendiri. Bagaimana bisa ada orang yang membiarkan adiknya menderita. Itulah yang ada di benak pemuda itu.


"kakak yang ku maksud adalah suamiku." jawab Zizi dengan sendu, karena apa yang Kevin katakan adalah benar. Tapi jika itu seorang kakak yang tulus menyayangi adiknya. Dulu sebelum mereka menikah apabila Devan tahu ada anak-anak menjahili adik tirinya itu maka dia akan menjadi benteng untuk melindungi Zizi. Namun, sayangnya setelah menikah justru dia sendiri lah yang menyakitinya.


"Lalu apa langkah mu selanjutnya?" Kevin yang sudah mengetahui kisah hidup wanita itu pun mulai bertanya.


"Entahlah aku juga belum tahu." imbuh Zizi yang memang benar-benar sedang tidak bisa berpikir akan mengambil keputusan untuk saat ini.

__ADS_1


"Hm, apapun keputusan nya aku akan selalu ada di pihak mu." lelaki itu sedikit menyugikan senyum manis nya, senyum yang selalu membuat para gadis jatuh cinta. Tapi tidak berlaku untuk Zivanna karena dia sudah mencintai Devan lebih dulu.


"Terimakasih, Vin. Tapi aku mohon jangan beritahu siapa-siapa ya." pinta Zizi yang tidak mau ada orang lain tahu kalau dia sudah menikah.


"Kenapa tidak boleh? Bagaimana jika ada orang lain mengetahui kalau kamu sedang hamil, Zi. Apa kamu tidak takut mereka berpikiran buruk tentang mu?"


"Semoga saja tidak ada yang tahu. Aku hanya takut bila mereka bertanya siapa suamiku." jelas Zizi yang tidak mau menambah masalah baru.


Kevin yang tidak tahu betul masalah rumah tangga Zizi hanya mengangguk mengiyakan. Tapi meskipun begitu dia akan mencari tahu sendiri siapa lelaki yang menjadi suami dari wanita yang dia sukai.


"Iya aku tidak akan mengatakan pada siapapun. O'ya bila kamu butuh bantuan kabari saja aku. Jangan takut aku tulus ingin membantu mu." canda Kevin untuk mencairkan suasana agar Zizi bisa kembali tersenyum.


Sedangkan di perusahaan Atmaja group milik Devan. Dia sedang memarahi anak buah nya yang baru saja melaporkan kalau hari ini Zivanna ternyata tidak masuk kuliah.


"Dasar kalian semua tidak becus bekerja. Untuk mengawasi satu orang saja kalian tidak bisa." maki Devan kepada dua orang pria yang tadi pagi baru dia suruh mengawasi Zizi di tempat kuliahnya.


"Maaf Tuan muda, saya bukan ingin membela mereka. Mungkin saja kan kalau Nona sebetulnya hari ini tidak berangkat ke kampus, tapi dia sedang pergi ke tempat lain." ucap Jimi memberi pengertian.


"Apa! Pergi ke tempat lain? Kalau begitu pergi ke mana gadis itu? Cepat kalian cari' Jimi tambahkan anak buah mu. Suruh mereka mencarinya sampai pelosok sekali pun." Devan yang tiba-tiba murka begitu mendengar ucapan sekertaris Jimi.


"Kurang ajar! Berani sekali dia berbohong ingin pergi ke kampus. Awas saja kamu, aku akan menghukum mu karena sudah berani bermain-main dengan Devan Atmaja." umpat Devan mengepal kan buku tangannya dengan kuat sehingga semua urat-urat nya sampai terlihat.


.


.


.


.

__ADS_1


...Terimakasih buat kakak raeder semuanya 🤗 Maaf ya mungkin untuk besok pagi belum bisa uup, karena Mak author sedang sakit sudah dua hari ini. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya 🤗 Agar Mak author semangat juga buat meneruskan ceritanya....


😘😘😘😘😘😘


__ADS_2