
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Sayang apakah---" tanya Ibu Ellena tidak melanjutkan lagi ucapannya setelah melihat Zivanna mengangguk kapalanya pelan.
"Be--benar kah! Dia adalah cucu ibu," seru wanita paruh baya itu berjalan mendekati sang cucu yang masih berada dalam gendongan ayahnya.
"Salaman, sama kakek dan nenek dulu, sayang." ucap Devan pada sang putra yang terus memeluk lehernya.
Mendengar ucapan ayahnya. Rey menatap Ibu Ellena dan ayah Dion secara bergantian. Pupil matanya yang sipit berkedip-kedip seakan minta jawaban pada kedua pasangan tersebut. Bila dia anak besar, paling akan bertanya, benarkah mereka kakek dan neneknya.
"Sayang ... ini nenek," ucap Ibu Ellena dengan suara bergetar karena berusaha meredam tangisnya agar Reyvano tidak takut.
"Nenek Una?" jawab Rey yang masih ingat dengan Bibi Husna. Wanita paruh baya, tetangga mereka di ibu kota F.
"Bukan Nenek Husna, tapi ini nenek kandung Rey. Ibu dari ibu Zizi." yang di jawab oleh Devan. Presdir Atmaja group tersebut sekarang benar-benar sudah menjadi seorang ayah.
"Iya, butan Nenek una. Tapi ibu na, ibu didi 'tan? untuk memastikan ucapannya. Reyvano kembali melihat kearah ayahnya yang tersenyum mendengar sebutan sang istri menjadi ibu didi.
Cup, cup ...
"Iya, ini nenek sama kakek. Rey salaman dulu ya," Devan kembali menyuruh untuk kedua kalinya dan mencium gemas pipi sang putra.
"Iya." Reyvano langsung meng iyakan perkataan sang ayah. Lalu dia mengulurkan tangan kecilnya untuk menyalimi nenek dan kakeknya bergiliran.
"Nenek, kakek." ucap Reyvano setelah mencium tangan keduanya. Akan tetapi dia masih tetap berada dalam gendongan ayahnya.
"Sini gendong sama Nenek, ya." kata Ibu Ellena sambil tersenyum bahagia. Kesedihannya tadi, telah digantikan oleh kebahagiaan begitu melihat sang cucu. Hari ini dia diberikan kejutan kebahagiaan dua sekaligus. Putrinya sudah kembali membawa cucunya yang sangat menggemaskan.
"Ayah, ndong Nenek." Rey kembali melihat ayahnya. Hanya hal itulah yang dia lakukan sejak tadi.
__ADS_1
"Eum, iya sayang. Tentu saja boleh." sahut Devan memberikan Reyvano pada ibu mertuanya. Pasangan paruh baya itu tidak kuasa menahan rasa haru, begitu Rey memanggil mereka nenek dan kakek.
"Zizi ... maafkan Ayah, Nak. Kami sudah mencarimu kemana-mana, dan sangat mengkhawatirkan keadaan mu," ucap Ayah Dion pada menantunya itu. Sekarang bergantian dengan beliau yang memeluk Zivanna, karena Ibu Ellena sedang mengendong cucu mereka.. Lima tahun lalu, Zizi hanyalah gadis kecil yang masih suka bermanja pada mereka semua. Namun, hari ini, gadis itu kembali sebagai ibu muda yang hebat.
"Tidak apa-apa, Ayah. Zivanna juga ingin minta maaf pada kalian semua. Sudah membuat kalian khawatir" jawab Zizi balas memeluk mertua sekaligus ayah tirinya. Meskipun Zizi merasa ada keanehan melihat kedekatan Devan dengan ibunya. Wanita itu hanya diam saja karena tidak mungkin dia menanyakan hal tersebut.
"Bu, ayo kita masuk! Mereka pasti lelah dan perlu istrirahat." ajak Ayah Dion setelah melepaskan pelukan dia dan Zivanna.
"Agh, iya. Ibu jadi lupa karena terlalu bahagia." ucap ibu Ellena tersenyum bahagia, sembari mengikuti suaminya dari belakang. Lalu di susul oleh Devan dan Zizi.
"Sayang, lebih baik kamu istrirahat saja. Biarkan Rey bersama ibu dan ayah." kata Devan yang berjalan beriringan di belakang orang tua mereka.
"Nanti saja," jawab Zivanna singkat, tidak perduli dipanggil sayang sekalipun. Mendengarnya Devan hanya mengangguk karena dia sendiri juga belum mau istrirahat dan berbuat apa-apa agar Zizi tidak cuek kepadanya.
Tiba di ruang keluarga, setelah mereka semua sama-sama duduk.
"Devan terima kasih sudah membawa putri dan cucu ibu kembali, Nak." ibu Ellena berkata dengan tulus, sambil mengelus kepala cucunya.
Kurang lebih lima tahun tidak bertemu ibu kandungnya. Setelah bertemu, Zizi tidak mengatakan apapun. Entahlah, masa sulit apa saja yang dia alami sehingga menimbulkan perubahan besar seperti saat ini. Namun, perubahan itu bukan hanya Devan saja yang rasakan. Tapi juga orang tua mereka.
"Eum, kalian pergilah istrirahat. Reyvano biarkan bersama kami. Biar ibu yang menjaganya." titah Ibu Ellena agar mereka istrirahat. Meskipun dia memiliki seribu pertanyaan, tapi dia urungkan untuk saat ini.
"Tapi lebih baik kalian makan siang dulu, baru setelahnya istrirahat." ulang Ibu Ellena karena baru ingat putri dan menantunya mungkin belum makan siang.
"Kami sudah makan siang, Bu." jawab Zizi dan Devan serempak. Menyadari hal tersebut, keduanya saling tatap untuk beberapa detik.
"Kalau begitu istirahat saja. Ibu lihat kalian sangat lelah." suruh Ibu Ellena yang tidak tahu kalau dari dua malam lalu. Keduanya tidak bisa tidur karena sama-sama memikirkan hal yang serupa.
"Ibu benar, ayo kita istirahat. Wajahmu terlihat sangat lelah. Kakak tidak ingin kamu sakit." ajak Devan sudah berdiri dari sofa dan mengulurkan tangannya untuk membantu Zivanna berdiri. Akan tetapi tangannya tidak diterima sama seperti tadi.
"Ibu, Ayah. Aku mau istirahat dulu. Apakah kamarku masih ada di rumah ini?" tanya Zizi yang menyadari kalau dia bukanlah siapa-siapa di rumah mewah Atmaja tersebut. Berbeda dengan ibunya, yang merupakan istri Ayah Dion.
Sedangkan dirinya bukanlah siapa-siapa, dia berada disana hanya karena anak ibunya yang juga tidak memiliki kuasa. Itulah alasan kenapa setelah mereka bercerai nanti, Zizi ingin melanjutkan hidupnya di kota X. Kota yang tidak terlalu besar dan maju. Namun, disana dia memiliki rumah tangga dan pekerjaan untuk menghasilkan uang.
__ADS_1
Deg ...
Mendengar pertanyaan Zivanna seperti itu. Bukan hanya Devan yang tersentil hatinya. Tapi juga Ibu Ellena dan Ayah Dion. Tanpa dijelaskan, mereka tahu kalau Zizi seperti menjaga jarak dari keluarga tersebut.
"Tentu saja kamarmu masih ada, tidak ada yang berani memindahkan kamarmu." jawab Devan cepat, agar suasana tidak menjadi hening.
"Baiklah, kalau begitu aku mau kesana." imbuh Zizi sebelum mendekati putranya untuk mengatakan kalau dia ingin istirahat.
"Rey, ibu mau istrirahat dulu. Kamu jangan nakal, ya." ucap Zizi pada sang putra yang berada di pangkuan ibunya.
"Iya, tanti kita nda apat uang talau akal." jawab Reyvano mengagukan kepalanya karena biasanya setiap hari Zizi selalu berpesan seperti itu. Tidak boleh nakal karena ibunya akan bekerja mencari uang untuk kebutuhan mereka.
Zivanna tersenyum dan mencium pipi putranya sebelum benar-benar pergi ke kamar dia beberapa tahun lalu.
Cup ...
"Pintar!" puji Zivanna sebelum dia berdiri dan meningalkan tempat tersebut. Tanpa dia sadari kalau ucapan sederhananya membuat semuanya terpaku.
"Devan ... kenapa putri ibu seperti itu, Nak? Dia sangat berubah, tidak sama seperti Zivanna putri ibu?" tanya wanita paruh baya itu dengan sendu.
"Semuanya karena Devan, Bu.
Zizi sudah banyak berubah." Devan kembali lagi duduk untuk menceritakan seperti apa saja penderitaan yang istrinya alami selama tinggal di kota X. Agar mereka mengerti kenapa Zizi bisa seperti itu.
.
.
.
Sambil menunggu bbg Devan update. Yuk, mampir di karya sahabat Mak author. Terima kasih.🤗
__ADS_1