
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Di dalam kamar Zivanna tengah mengemasi barang keperluan yang akan ia bawa besok pagi-pagi tepatnya jam tujuh mereka harus sudah berangkat.
Ayah Dion sengaja mempersiapkan semuanya agar anak dan menantunya pergi sejak pagi. Bukan apa-apa beliau melakukan itu, tentu saja ada tujuannya. Dia ingin saat malam harinya, Devan dan Zivanna memiliki waktu untuk menikmati kebersamaan yang sudah berpisah kurang lebih empat tahun lamanya.
"Sayang... tidak perlu banyak-banyak. kita bisa membeli lagi yang baru." cegah Devan melihat Zizi sudah memasukkan beberapa helai pakaian gantinya. Selama mereka liburan.
"Ini tidak banyak, hanya beberapa lembar saja." jawab Zizi yang kembali memasukkan pakaian terakhirterakhir dan menutup koper tersebut.
"Tidak banyak, tapi satu koper penuh." cibir Devan yang saat ini baru selesai menidurkan putra mereka. "Ayo kita istirahat, agar besok kita bisa bagun lebih awal." ajaknya seraya melihat Jam yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
"Apa kamu akan tidur di sini?"
"Tentu saja, bukannya mulai saat ini kita harus tidur bersama lagi." menjawab santai sambil menaiki tempat tidur. Devan langsung berbaring di tengah-tengah. Sedangkan putranya ia tempatkan di pinggir.
"Kenapa malah dirimu yang tidur di tengah? Nanti Rey bisa-bisa terjatuh ke bawah bila seperti ini." kata Zizi mendekati ranjang. Namun, dia masih berdiri.
"Karena Kakak ingin tidur sambil memeluk dirimu." menarik tangan Zizi agar ikut baring bersamanya. "Jangan khawatir, Kakak tidak akan membiarkan putra kita, ataupun dirimu terjatuh."
"Tapi----"
Cup!
"Tapi tidurlah, karena ini sudah malam," sela Devan mencium pucuk kepala sang istri yang saat ini sudah ia dekap.
"Tidurlah seperti ini. Apa kamu mau tahu, dulu cita-cita Kakak ingin membangun begitu banyak cabang anak perusahaan Atmaja. Namun, semenjak kehilanganmu, Kakak hanya ingin bercita-cita bisa tidur di tengah-tengah anak dan istri saja, tidak ingin lebih dari itu lagi." ungkap Devan dengan tangan mengelus sayang kepala Zivanna yang saat ini baring pada lengan kekarnya.
"Kenapa bisa seperti itu?" Zivanna mengangkat kepalanya untuk melihat muka Devan. Agar mengetahui suaminya lagi berkata jujur atau malah sebaliknya.
"Entahlah! Tapi Kakak baru sadar bahwa harta berlimpah tidak bisa mebuat kita bahagia, karena terbukti selama belum menemukan mu. Kakak hampir gila, bila saja ibu, ayah dan Sekertaris Jimi tidak membantu agar kakak tidak benar-benar gila." jujur Devan disertai senyumnya.
"Devan!" lirih Zizi tidak menyangka.
"Iya, memang seperti itulah kenyataannya. Sudah ayo kita tidur, besok pagi kita akan menaiki pesawat selama kurang lebih tiga jam." ajak Devan tidak ingin mengigat masa-masa sulitnya.
"Iya!" Jawab Zivanna menyetujui. Akan tetapi setelah itu Zizi duduk dan secara mendadak sehingga membuat Devan sampai terkejut.
__ADS_1
"Ada apa?" tannya nya kaget.
Setelah pulang dari liburan. Ayo kita pergi mengunjungi makam ibu sekalian dengan makam Ayah Aron." ucap Zizi karena wanita itu baru mengingatnya lagi.
Tidak langsung menjawab, akan tetapi Devan terdiam untuk beberapa saat, barulah setelah itu ia berkata. "Eum... baiklah! Asalkan bersamamu tidak masalah," ucapnya setelah berpikir terlebih dahulu.
"Jangan menaruh dendam lagi pada almarhum ibumu, walau bagaimanapun tentu ibu Marisa memiliki alasan sehingga membohongi dirimu." Zivanna menyentuh tangan suaminya karena Zizi tahu untuk membicarakan ibu mertuanya, Devan seperti engan.
Zivanna mengetahuinya tentu saja dari Ibu Ellena. Beliaulah yang bercerita pada putrinya. Zizi juga seorang ibu tentu saja merasakan betapa sedihnya ibu mertuanya apabila Devan benar-benar tidak pernah mengunjungi makam beliau lagi.
"Kakak tidak dendam kepadanya, hanya saja rasa kecewa Kakak yang membawa malas untuk mengunjungi makamnya." jawab Devan ikut mendudukkan tubuhnya lagi seperti sang istri.
Mendengar penuturan suaminya, Zivanna kembali lagi mengelus tangan Devan untuk memberi pengertian. " Semua orang yang melakukan kesalahan tentu memiliki alasan tersendiri begitupun dengan kita, jadi aku harap kamu tidak memiliki dendam ataupun rasa kecewa terhadap ibumu. Sesalah apapun dia, beliau tetaplah wanita yang sudah membesar dan mengandung mu selama sembilan bulan." tutur Zizi dengan lembut.
"Percayalah, memafkan itu ternyata lebih indah dari pada menyimpan dendam. Apa kamu tahu, setelah memafkan mu. Hatiku malah terasa damai dan tentram. Jadi aku ingin kamu juga berdamai bersama Ibu Marisa." Zivanna berani berkata seperti itu tantu saja karena dia sudah merasakan sendiri betapa bahagianya bila hidup tidak memiliki dendam.
"Terima kasih! Kakak akan mencobanya." jawab Devan yang balas mengengam tangan sang istri.
"Jangan bilang mau mencoba, tapi kamu harus melakukannya. Lagian hubungan kita berdua juga sudah baik-baik saja. Anggap saja itu semua adalah ujian untuk keluarga kita." imbuh zivanna yang tidak ingin Devan menjadi anak durhaka. Ia berhenti sesaat, lalu kembali lagi berbicara.
"Tidak ada bantahan, setelah kembali dari liburan. Maka kita akan mengunjungi makam Ibu Marisa sekaligus makam Ayah Aron. Kita juga akan membawa Reyvano untuk berziarah ke makam mereka."
"Eum, sesuai perintah dari Nyonya Zivanna." Devan tersenyum lalu dia menarik tubuh kecil Zizi agar masuk kedalam pelukan yang.
Ciuman tersebut bukanlah untuk pertama kali bagi keduanya, karena di saat mereka pacaran dulu, memang sudah sering melakukan ciuman panas seperti yang mereka lakukan saat ini. Beberapa detik kemudian, terdengar Zivanna melenguh karena merasakan sensasi dari tubuhnya. Bagaikan terkena sengatan listrik, tubuh yang sudah tidak pernah lagi di sentuh oleh laki-laki itu mengelenjang saat Devan memperdalam ciuman mereka.
Eugh!
Zivanna yang tidak tahan akhirnya mengeluarkan kembali suara merdunya seperti saat mereka melakukan hubungan Suami-istri beberapa tahun lalu. Tepatnya adalah di hotel tempat mereka istirahat sebelum membawa istrinya berangkat ke acara penting.
Pada saat Devan kembali menjamah Zizi untuk yang terakhir kalinya. Zivanna tidak merasakan apa-apa lagi, karena malam itu dia diperkosa oleh suaminya sendiri. Devan melakukannya bukan atas dasar cinta. Akan tetapi malainkan karena cemburu pada Dosen Ski.
Eugh!
"Jangan lakukan sekarang," menyadari ada Rey si buah hati, tidur bersama mereka. Zivanna menahan tangan Devan yang sudah masuk kedalam baju tidurnya.
"Kenapa? Apa kamu belum siap?" tanya Devan dengan suara setengah berbisik dan kembali lagi menarik tubuh sang istri kedalam pelukanya, karena bila tidak seperti itu. Maka ia tidak bisa berhenti sebelum menuntaskan hasratnya yang sudah terasa di ubun-ubun.
"Bukan, bukan seperti itu! Tetapi ada anak kita." jawab Zivanna berusaha untuk mengatur jantungnya yang berdebar-debar dan gejolak daripada reaksi tubuhnya yang diakibatkan oleh cumbuan suaminya.
Devan tersenyum kecil lalu merengangkan tubuh keduanya. "Baiklah, maafkan Kakak." ucap Devan merutuki perbuatannya, yang hampir saja melakukan lebih dari sekedar berciuman. "Sudah malam, ayo kita tidur. Besok saat liburan kita masih bisa melakukannya, karena si tampan tidak mau ikut."
__ADS_1
Lalu Devan berbaring lebih dulu dan menarik pelan tubuh Zivanna agar tidur seperti tadi. Yaitu dengan berbantal pada lengannya yang kekar.
Zivanna hanya menurut karena sejujurnya dia masih malu. Beda halnya padasaat dia dicumbui, semua rasa malunya ditutupi oleh gairah dari mereka berdua, yang bila tidak memikirkan ada Reyvano bersama mereka. Maka kedua pasangan tersebut sudah melakukan lagi hubungan suami-istri.
Malam ini akhirnya mereka hanya tidur saling berpelukan. Tidak ada acara tabur-menabur bibit lele seperti dulu. Meskipun tabung lele Devan sudah dipenuhi oleh calon bibit-bibit lele berkualitas. Tapi dia tahan saja, menjelang mereka pergi liburan.
*
*
Malam sudah berganti pagi. Saat ini Devan dan Zizi sedang berpamitan. Mereka semua tengah berkumpul di parkiran mobil yang akan mengantar pasangan yang baru saja bersatu ke bandara ibu kota X.
"Apakah Rey benar-benar tidak mau ikut bersama ayah dan ibu?" Zizi kembali bertanya untuk kesekian kalinya.
"Ndak!" jawab Rey dengan yakin. Apalagi matanya melihat kearah sepeda kecilnya yang berada di taman samping rumah mewah kakeknya.
Seolah-olah sepeda tersebut melambaikan tangan dan meminta agar Rey tidak usah ikut bersama kedua orang tuanya.
"Tapi ibu ingin Rey ikut. Nanti disana kita akan bersenang-senang." merayu lagi mana tahu anaknya mau.
"Ndak mau itut, Bu." Reyvano yang menolak akhirnya berlari mendekati kakeknya dan minta di gendong oleh pria paruh baya tersebut.
"Nak, sudahlah! Kalian pergilah sekarang. Rey adalah urusan ibu." sela Ibu Ellena karena melihat Zizi terus membujuk anaknya.
"Iya, sayang. Ayo kita berangkat sekarang. Jangan sampai kita ketinggalan pesawat gara-gara membujuk Rey yang tidak mau ikut." kata Devan menyentuh pundak istrinya.
"Huh! iya, baiklah! Ibu kami pergi dulu, ayah kami pergi dulu. Titip Rey, bila dia rewel telepon saja. Maka kami akan kembali." pamit Zizi pada kedua orang tua mereka. Lalu setelah mencium putranya yang berada dalam gendongan kakeknya. Zivanna dan Devan langsung berangkat di antar oleh Sekertaris Jimi.
Kali ini yang pergi mengawal mereka adalah Felix beserta pengawal lainnya. Sedangkan Sekertaris Jimi, nanti siang juga akan terbang kembali ke kota Y untuk mengurus perusahaan Atmaja.
Selama dalam perjalanan menuju ke bandara. Zivanna hanya diam bersandar pada bahu suaminya. Jangan lupakan, pinggangnya dirangkul oleh Devan. Pria itu tidak melepaskan istrinya sama sekali.
"Sudahlah jagan bersedih. Lain kali kita akan mengajak Rey liburan ke tempat yang dia mau." kata Devan yang tahu jika sejak tadi istrinya lagi bersedih karena putra mereka tidak mau ikut.
"Mungkin karena lagi asik main sepeda. Jadi Rey hanya ingin pokus dulu sampai dia bisa." lanjutnya agar Zizi paham bahwa meskipun Reyvano masih kecil. Akan tetapi sudah memiliki pemikiran seperti anak yang berusia diatasnya.
"Huem, iya. Tapi lain kali kita pergi jalan-jalan bersamanya, ya. Sedari kecil Rey selalu bermain di dalam toko kue. Jadi aku merasa tidak adil saja, kita pergi bersenang-senang. Sedangkan dia malah kita titipkan pada kakek dan neneknya." ungkap Zivanna, karena memang itulah yang membuat dia berat untuk pergi tanpa si kecil.
"Tentu, Kakak kan sudah bilang, setelah ini kita akan membawanya pergi kemanapun yang dia inginkan." jawab Devan menyetujui.
Tanpa Zizi pinta pun, dia sudah memikirkan untuk membawa Reyvano mengelilingi belahan dunia yang ingin didatangi oleh sang putra. Saat ini selain anak dan istrinya tentu tidak ada yang berharga bagi seorang Devan Atmaja.
__ADS_1
BERSAMBUNG...