Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Semuanya menyakiti aku.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Jam sembilan lewat empat puluh lima menit. Devan baru tiba di kediaman keluarga Atmaja. Dengan langkah lelah, pria itu berjalan masuk kedalam rumah tersebut.


"Ayah!" Devan tersentak kaget melihat ayahnya masih duduk di ruang keluarga. Tapi beliau hanya sendirian tidak ada siapa-siapa bersamanya.


"Iya, Ayah sengaja menunggu dirimu." jawab pria paruh baya itu melepas kacamata. Lalu di letakan di atas meja kaca dihadapannya.


"Huh! Ini sudah malam, kenapa Ayah tidak tidur saja." Devan duduk di sofa singel karena tahu ayahnya ingin menanyakan masalah dokter untuk menyembuhkan Zivanna.


"Menurut mu, apa Ayah masih bisa tidur melihat putra-putrinya tidak baik-baik saja?" imbuh Ayah Dion memperbaiki cara duduknya. Baik Devan maupun Zivanna adalah kedua anak mereka.


Melihat kenyataan seperti itu pasti dia dan Ibu Ellena ikut merasakan sakit tapi tidak berdarah. Apalagi bila melihat Reyvano yang sangat dekat dengan Devan meskipun baru bertemu dalam hitungan hari.


Mendengar ucapan sang ayah. Devan hanya menunduk diam. Sebetulnya dia ingin mengadu pada pria paruh baya itu. Dia ingin menagis dipelukan sang ayah, ingin menceritakan bahwa dia sudah tidak mampu. Namun, karena tidak mau membuat ayahnya banyak pikiran. Devan memaksakan dirinya untuk kuat.


"Jadi bagaimana?" tak perlu bertanya panjang kali lebar, karena Devan sudah tahu apa maksudnya.


"Shiren mau membantu untuk menyembuhkan Zizi agar bisa seperti dulu lagi. Besok malam dia akan datang kesini di jemput oleh pengawal yang Devan bawa dari kota Y." jawab Devan masih menunduk. Tapi meskipun begitu, Ayah Dion masih bisa mendengar kalau putranya menarik nafas berat. Sama seperti masalah rumah tangga yang sedang dia pikul saat ini.


"Dev--- Ayah harap apapun masalahnya. Kalian jangan sampai bercerai. Ini untuk kebaikan mu, untuk Zizi dan juga putra kalian." ucap Ayah Dion menatap putranya dengan lekat.


"Ayah--- apa maksud Ayah berbicara seperti itu? Bila saja ada cara lain. Devan mana mungkin melakukannya." langsung mengakat wajahnya dan menatap balik sang ayah.


"Ayah tahu itu, tapi maksud Ayah jangan kamu turuti jika istrimu mengajak berpisah. Berjuanglah untuk mendapatkan dirinya kembali. Ayah sangat yakin Zizi pasti masih memiliki perasaan terhadap mu walaupun hanya sedikit." yang bisa dilakukan sekarang adalah membujuk Devan untuk berjuang demi keluarga kecilnya, karena hanya dia yang masih bisa berpikiran dengan benar.


"Yah, perjuangan seperti apapun akan Devan lakukan. Asalkan bisa melakukannya. Namun, ini berbeda, Yah. Keadaan Zizi yang tertekan saat bersamaku, itu yang tidak bisa kulakukan." mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


"Devan, coba kamu ambil hatinya kembali. Buat dia kembali menyukai mu. Berikan dia perhatian ataupun sebagainya. Ayah rasa dengan cara seperti itu. Cepat atau lambat, hati Zizi pasti akan terbuka kembali. Kalau dia sudah membuka hatinya lagi. Mungkin rasa traumanya akan hilang dengan sendiri. Ditambah dengan bantuan Dokter Shiren." terang Ayah Dion yang belum mengetahui kalau permasalahannya tidak segampang itu.


"Ayah--- Devan tidak bisa melakukan hal seperti itu, karena sama saja mengiring Zizi agar tidak bisa sembuh. Dia justru takut pada kebaikan yang Devan lakukan. Sebab semuanya, berawal dari kebaikan itulah dia mau menikah dengan ku." kata Devan sudah tahu apa saja yang membuat istrinya takut. Tadi dia juga berbincang banyak hal dengan Dokter Shiren.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan menyetujui begitu saja bila dia meminta untuk berpisah? Devan, ayo berjuanglah, Nak." mohon pria paruh baya itu takut bila Devan menyetujui permintaan menantunya.


"Ayah, bila dengan cara itu Zizi bisa sembuh. Maka Devan akan melakukannya, karena Dokter Shiren juga menyarankan seperti itu. Mungkin besok siang kami akan mengajukan surat permohonan untuk berpisah. Saat ini hanya itu yang bisa Devan lakukan."


"Besok pagi! Devan--- Kenapa malah dirimu yang ingin mengajukan lebih dulu." sentak Ayah Dion tidak habis pikir cara berpikir anaknya. Padahal sedari tadi beliau sudah mengatakan jangan sampai mereka berpisah.


Benar-benar susah diberitahu. Dasar pembangkang. Itulah yang sedang dirutuki oleh lelaki paruh baya itu didalam hatinya, karena dia belum tahu kalau yang mengajak besok pagi adalah menantunya sendiri.


"Yah, tenanglah! Bukan Devan yang mengajak besok pagi mengurus berkas perceraian kami. Tapi Zizi sendiri yang menginginkannya, tadi siang saat Devan melihatnya di kamar dia mengajak untuk segera mengurusnya." jelas Devan agar tidak menimbulkan salah paham lagi.


"Ini juga salah satu cara agar dia tidak takut dan bisa percaya lagi padaku." lanjut Devan lagi, karena melihat sang ayah mulai melupakan emosinya.


"Benarkah seperti itu?" Ayah Dion ternganga ditempat duduknya. Sungguh semua ini diluar dugaan.


"Ayah--- Sudahlah! Tidak apa-apa, semua ini demi kesembuhan Zizi. Agar dia sembuh dari traumanya, karena bila dia tertekan dan dibiarkan, maka dengan perlahan kondisinya akan semakin memburuk." berhenti sejenak lalu kembali lagi berbicara.


"Tolong do'akan, semoga selama proses perceraian kami. Keadaan Zizi segera membaik. Bila tidak ada halangan. Dokter Shiren akan datang setiap malam. Agar Zizi bisa menceritakan setiap hari apa yang dia lakukan dan apa yang membuatnya takut."


"Ya sudah, jika memang seperti itu. Ayah selalu mendo'akan yang terbaik untuk kalian bertiga." jawab pria itu dengan sendu. Seperti apapun dia memaksa agar Devan mempertahankan pernikahan tersebut. Bila itu tidak baik untuk keadaan Zivanna, maka beliau hanya bisa berdo'a agar diberi jalan yang terbaik untuk semuanya.


"Maaf, gara-gara perbuatan Devan. Kalian semua harus menderita. Sekarang sudah larut malam. Ayah istrirahatl lah, jangan sampai Ayah sakit. Nanti siapa yang akan membantu Zivanna menjaga anak kami." Devan sedikit tersenyum saat berkata seperti itu.


"Iya, Ayah akan istrirahat sekarang. Kamu juga kembalilah kekamar mu." karena sudah lelah dan malam, pria paruh baya itu pun mengikuti perkataan putra semata wayangnya.


Lalu setelah melihat ayahnya masuk kedalam kamar yang kebetulan berada di lantai bawah. Devan juga meninggalkan ruangan tersebut, karena akan kembali ke kamarnya sendiri.


Sambil menaiki tangga satu persatu. Pikiran Devan hanya di penuhi apa yang akan terjadi besok pagi dan seterusnya. Bila mereka benar-benar berpisah, langkah seperti apa yang akan diambilnya.

__ADS_1


"Zizi!" seru Devan begitu tiba di ujung tangga paling atas. Sang istri yang lagi dia pikirkan. Sedang berdiri melihat kearahnya.


"Kenapa kamu belum tidur? Ini sudah malam?" berjalan mendekat. Namun, dengan jarak cukup aman. Agar Zivanna tidak merasakan apapun bila berdekatan dengannya.


"Aku mau mengambil air minum," jawab Zizi melewati Devan begitu saja. Dia sudah kembali lagi menampilkan wajah dinginnya.


"Apa perlu Kakak saja yang mengambilnya?" menawarkan dirinya karena mana tahu bisa meluluhkan hati Zivanna. Walaupun hanya sedikit saja, setidaknya tidak dingin saat bertemu dengannya.


"Tidak perlu! Aku tidak butuh bantuan, mu." sentak Zizi semakin tidak suka saat di tanya.


"Eum! Kalau begitu Kakak akan kekamar Kakak sendiri." kata Devan mengalah dan kembali melanjutkan langkah menuju kamarnya sendiri. Meskipun dia ingin melihat sang putra. Tapi dia urungkan karena takut Zivanna salah paham lalu semakin membenci dirinya.


Cek ...lek ...


Devan membuka pintu kamarnya. Setelah menyimpan kembali dompet dan ponselnya di atas nakas samping tempat tidur. Dia pun duduk dipinggir ranjang.


"Apapun akan kakak lakukan, Zi. Asalkan kamu bisa kembali seperti Zivanna yang dulu. Selalu ceria dan mudah tersenyum. Kakak sangat merindukan waktu seperti itu." seru Devan menarik rambutnya sendiri kedapan wajahnya.


"Semoga setelah bercerita pada Dokter Shiren. Keadaanmu bisa lebih baik. Sehingga kita bisa bersama lagi." gumam kecil. Tidak bisa memejamkan matanya untuk tidur. Membuat Devan berbicara sendiri.


Tidak jauh berbeda dengan Devan. Zivanna bukannya bergumam atau berbicara sendiri. Tapi dia duduk diatas lantai sambil menangis dan memeluk kedua lututnya sendiri.


Wanita itu tidak jadi pergi mengambil air seperti yang dia katakan tadi. Akan tetapi Zizi tetap ditempat dia bertemu dengan suaminya beberapa menit lalu.


"Tidak perlu kamu kenang kesalahan dan kenangan yang dulu. Semua itu menyakitiku. Meskipun sekarang kamu benar-benar telah berubah, aku tetap tidak bisa percaya padamu lagi." lirih Zizi sambil menahan sesak di dadanya.


"Setiap malam aku berharap dirimu datang ke kamarku, untuk meminta maaf, tapi kamu tidak pernah datang. Saat aku membutuhkan pertolongan, dirimu malah pergi bersama kekasih mu." menagis pilu untuk menumpahkan kesedihannya.


Tau akan seperti ini jadinya. Maka Zivanna tidak akan pernah mau kembali. Lebih baik dia tidak memiliki akta perceraian daripada harus merasakan sakit hati untuk kedua kalinya.


"Ku mohon tolong lepaskanlah diriku, aku bisa-bisa gila bila memikirkan semua ini. Aku tidak mau lagi kembali terluka. Dirimu tidak pernah tahu Apa saja yang pernah aku alami." Zivanna terus saja menangis. Sampai-sampai dia tidak sadar kalau Devan mendengar semua ucapannya.

__ADS_1


*BERSAMBUNG* ...


__ADS_2