
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Tujuh menit kemudian. Mobil Kevin sudah tiba di halaman rumah Almarhum Ibu Eris. Lalu mereka keluar dari dalam mobil dan begitu keluar keduanya di buat tercengang karena ada satu buah koper baju. Namun, bukan koper itu yang membuat mereka merasa aneh. Tapi wajah orang-orang tersebut memperlihatkan wajah tidak suka pada Zivanna dan juga pada Kevin.
"Kalian siapa?" tanya Zizi sedikit tercengang, karena melihat ada satu buah koper baju milik Almarhum di depan pintu.
"Kami adalah ahli waris dari ibu Eris. Sekarang karena beliau sudah meninggal dunia kamu boleh pergi dari sini." ucap seorang wanita yang umurnya tidak jauh berbeda dari umur Almarhum.
"Tidak! Ibu tidak memiliki saudara. Kamu jangan membohongiku." jawab Zizi berjalan mendekati pintu.
"Ck, siapa bilang beliau tidak memiliki saudara? Kami memang bukan saudara kandungnya. Tapi kami adalah kerabat dari suaminya. Jadi karena dia tidak memiliki saudara sendiri, semua peninggalan beliau menjadi hak kami." yang di jawab oleh perempuan satunya lagi. Mereka berjumlah lima orang, tiga laki-laki dan dua orang perempuan.
"Bohong! Kalian semua bohong. Jika kalian memang saudara dari suami ibu ku, kenapa kalian baru datang? Kenapa tidak datang saat jenazahnya belum di makam 'kan?" entah keberanian dari mana Zivanna langsung menolak tegas orang-orang yang mengaku sebagai saudara dari suami Almarhum ibu angkatnya.
"Anak kecil banyak bicara! Apa seperti ini ajaran dari orang tua mu? Berbicara tidak sopan dengan orang yang lebih tua? Aah ... Aku lupa! Bukannya Eris menjadikan mu anak angkatnya. Itu pertanda kamu tidak memiliki orang tua. Pantas saja tidak memiliki sopan sant---"
Perkataan salah satu wanita yang lebih muda itu langsung terhenti karena Zivanna sudah menarik rambutnya. Zizi bagaikan seekor macan yang tiba-tiba mengamuk.
"Kau yang tidak tau sopan santun. Sudah tua tapi kalian semua tidak punya otak. Ibu baru saja selesai di makamkan, kalian bukanya datang untuk bela sungkawa. Tapi malah sibuk mengurusi warisan milik ibu." seru Zizi menggebu-gebu.
Melihat hal itu dengan sigap Kevin menarik Zizi. Untuk menyelamatkan gadis tersebut karena mana mungkin Zivanna akan menang melawan nya. Mereka berjumlah lima orang, sedangkan Zizi hanya sendiri.
"Kurang ajar! Anak tidak tau di untung. Berani-beraninya kau menarik rambut ku." kata wanita itu mengumpat kasar karena rambutnya hampir saja tercabut semua bila Kevin tidak segera menarik Zizi.
Adu mulut pun terjadi antara Zivanna dan kedua wanita tersebut. Zizi mempertahankan harta milik ibu Eris bukan untuk dirinya sendiri. Dalam perjalanan pulang tadi dia sudah berencana akan menyumbangkan harta tersebut pada panti asuhan dan lembaga sosial lainnya, karena Zizi tahu harta tersebut bukan hak nya. Namun, begitu sampai di rumah sudah ada orang yang ingin merampas begitu saja.
"Bukan aku yang kurang ajar. Tapi kalian yang kurang ajar tidak memiliki etika." cecar Zizi dengan berani. Sependiamnya Zivanna bila sudah tertindas maka dia akan berani. Contohnya saat di siksa oleh Devan. Selain Ayah Dion hanya Zizi yang berani melawan seorang Devan Atmaja.
"Zizi sudah! Jangan seperti ini." Kevin medekap tubuh Zizi dari belakang karena gadis itu mengamuk ingin menarik rambut perempuan satunya lagi.
"Tidak Kev. Mereka ingin merampas harta ibu." jawab Zizi masih berusaha maju kedepan.
"Kami tidak merampas. Bila kamu tidak percaya silahkan lihat surat rumah ini. Semuanya sudah dialihkan atas nama Saya." ucap laki-laki yang juga mengaku sebagai ahli waris dari harta Almarhum.
Setelah Zizi mereda. Kevin melepaskan gadis itu lalu dia menerima surat yang di sodorkan pada mereka dan langsung membacanya. Betapa kagetnya Kevin dan Zivanna setelah membaca surat rumah tersebut. Apa yang Pria itu katakan adalah benar. Semuanya sudah dialih namakan atas nama Josep Guardiola.
"Apa! Ini tidak mungkin! Ibu tidak mungkin melakukan ini tanpa memberitahu ku. Kalian pasti sudah merubah nya sendiri." Zizi mengelengkan kepalanya tidak percaya begitu saja. Sudah tujuh bulan dia tinggal di sana belum pernah ada satu kerabat pun yang berkunjung. Lalu hari ini ada yang datang, mana mungkin Zizi percaya begitu saja kalau Almarhum memberikan hartanya pada orang-orang yang ada di hadapannya sekarang.
"Sudah ada bukti masih tidak percaya. Apa perlu kami menyeret mu pergi dari sini." jawab perempuan yang rambutnya sudah acak-acakan karena Zivanna menariknya tidak tanggung-tanggung. Zizi menarik sekuat tenaga yang dia punya.
"Diam di tempat mu! Jika kamu berani menyentuh Zizi. Maka Saya tidak akan melepaskan kalian semua." Ancam Kevin karena perempuan itu ingin mendekati Zivanna.
"Zizi dengarkan aku! Mari kita pergi dari sini. Biarkan mereka mengambilnya." ucap Kevin sambil memegang kedua pundak Zivanna dan menatap matanya untuk menyakinkan gadis tersebut bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Tapi mereka pasti bohong, Kev."
__ADS_1
"Jika mereka berbohong, maka cepat atau lambat, rumah ini pasti akan kembali kepada mu. Entah bagaimana pun caranya. Percayalah!" bujuk Kevin yang tidak ingin Zivanna mengalami kesulitan karena mempertahankan rumah tersebut.
Sebetulnya Kevin tahu kalau surat itu sudah di manipulasi. Tanpa di bawa ke pengadilan pun pasti Zivanna lah pemenang nya. Namun, melihat keberanian orang-orang tersebut Kevin khawatir mereka akan menyakiti Zizi bila terus bertahan. Maka dari itu dia membujuk Zivanna agar meninggalkan rumah tersebut.
"Tapi Kev! Aku tidak bisa meninggalkan rumah ini begitu saja. Di rumah ini tersimpan kenang-kenangan aku bersama ibu." Zizi kembali menangis. Baru saja dia kehilangan sang ibu. Sekarang kenang-kenangan hidup bersama Almarhum juga harus dia tinggalkan.
"Jangan bersedih. Percayalah di manapun kamu berada. Ibu Eris pasti tidak akan meninggalkan kamu sendirian. Beliau sangat menyayangi mu Zivanna. Jadi kamu tidak perlu takut karena tidak tinggal di rumah ini lagi, lalu hubungan kalian berdua akan terputus begitu saja." sungguh Kevin laki-laki yang limited edition. Pikiran yang dia miliki lebih dewasa daripada umurnya.
"Sudah! Kalian tidak perlu membuat drama di depan kami. Cepat pergi dan jangan pernah kembali lagi." wanita yang rambutnya di jambak kembali mengusir tanpa rasa iba sedikit pun. Padahal dia juga seorang wanita, apalagi gadis yang mereka usir sedang hamil besar. Tidak kah mereka memiliki rasa simpati sedikit saja.
Dengan bergetar menahan tangisnya Zivanna pun mengambil keputusan. "Baiklah! Jika ini milik kalian, maka ambil saja semuanya. Tapi aku akan masuk ke dalam sebelum meninggalkan rumah ini untuk mengambil poto ibu." kata Zizi yang tidak ada pilihan lain.
"Oh tentu saja sayang! Masuk dan ambillah seberapapun kamu membutuhkan poto-poto nya. Jika perlu kamu bawa semua poto itu." mereka langsung memberi jalan untuk Zivanna masuk ke dalam rumah tersebut. Padahal sebelumnya mereka menutup pintu itu dengan tubuh mereka berlima.
Lalu Zivanna masuk untuk terakhir kalinya ke dalam rumah yang penuh menyimpan kenangan bersama sang ibu, yang di ikuti oleh Kevin dari belakang.
Tiba di ruang keluarga. Zivanna mengambil poto yang berukuran sedang. Poto dia bersama ibu angkatnya yang sedang tertawa bersama. Kebetulan poto tersebut di ambi dua bulan lalu saat merayakan ulang tahun yang terakhir ibu Eris.
"Ibu ... Maafkan aku harus meninggalkan rumah ini. Aku menyanyi mu." ucap Zizi mengelus poto tersebut disertai senyuman kecil. Seolah-olah menunjukkan pada poto Almarhum bahwa dia tidak apa-apa.
"Zizi ayo!" Kevin mengelus pundak Zizi dan mengajaknya pergi dari sana.
"Hem!" Jawab Zivanna yang hanya berdeheman. Namun, dia mengikuti Kevin yang mengenyam tangannya keluar dari rumah itu.
"Selamat tinggal kenangan. Bila masih ada kesempatan, maka aku akan kembali ke sini lagi. Untuk mengingat kenangan bersama ibu."
Tiba di luar. "Aku akan pergi, tolong jika kalian tidak menyukai poto-poto milik ibu. Masukan saja kedalam gudang belakang. Jangan kalian buang, angap saja sebagai terimakasih kalian pada Almarhum karena sudah diberi warisan dengan cuma-cuma."
Kata Zivanna yang tidak menunggu jawaban dari kelima orang tersebut, karena dia dan Kevin langsung meninggalkan rumah itu dan masuk kedalam mobil Kevin. Meskipun baju keduanya sedikit basah karena hujannya belum reda.
Alam semesta seakan ikut menangisi kepergian Ibu Eris. Tidak hanya Zivanna saja. Hari ini gadis itu sudah kehilangan dua kali. Padahal tadi pagi mereka masih sarapan bersama, bergurau dan saling memeluk satu sama lain. Namun, siapa sangka di sore harinya semuanya sudah berubah. Mereka berdua sudah di pisahkan dengan alam yang berbeda.
"Ini lap rambut mu. Nanti kamu bisa sakit." Kata Kevin memberikan handuk kecil setelah dia mengelap rambutnya sendiri.
Zizi menoleh lalu menerima handuk tersebut dan meletakan bingkai poto itu pada dasbor mobil.
"Terima kasih!" menjawab singkat, yang di balas Kevin dengan anggukan kecil.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara keduanya. Kevin sengaja diam agar gadis itu bisa tenang dan menguasai kesedihannya. Hidup Zizi harus berlanjut tidak hanya sampai di sini. Itulah yang Kevin pikirkan saat ini.
Hampir tiga puluh menit perjalanan. Mobil Kevin belok ke sebuah apartemen mewah yang ada di kota itu. Dia tidak bertanya Zizi akan pergi kemana dan langsung saja mengambil keputusan sendiri, karena Kevin tahu Zivanna tidak memiliki arah dan tujuan.
"Kevin kenapa kita kemari? Kamu tahu kan kalau aku tidak memiliki uang?" Zizi yang baru sadar setelah mobil mereka berhenti di depan loby Apartemen.
"Jangan banyak bertanya. Ayo turun, kita bisa membicarakan nya nanti setelah mandi dan makan malam." seru pemuda itu turun dan berjalan memutari mobil untuk membantu Zivanna turun dari mobil dan mengeluarkan koper gadis itu.
Zizi pun akhirnya ikut turun dan mengikuti Kevin berjalan masuk kedalam Apartemen yang terlihat mewah. Lalu mereka masuk kedalam lift menuju lantai tiga puluh dua. Zizi hanya memperhatikan saat Kevin menekan tombol nya yang dia yakini apartemen Kevin ada di lantai itu.
Tiiing..
__ADS_1
Lift berhenti pemuda itu kembali lagi menarik tangan Zivanna. Satu tangannya menarik koper dan satu tangannya lagi mengengam tangan Zizi. Mereka sudah seperti sepasang suami-istri yang saling mencintai.
Terlihat Kevin seperti seorang suami siaga menjaga istrinya yang sedang hamil besar. Padahal mereka berdua hanya bersahabat. Namun, pandangan orang-orang menunjukkan itu semua. Dari awal mereka turun dari mobil sampai tiba di depan pintu apartemen. Semua memandang takjub dan juga aneh.
Takjub melihat laki-laki nya sangat tampan dan yang perempuan nya meskipun sedang hamil besar masih terlihat sangat cantik. Tapi juga merasa aneh karena mata Zizi sedikit sembab akibat terlalu lama menangis.
"Bersihkan dirimu di dalam kamar. Aku akan membuatkan teh hangat untuk mu." titah pemuda itu setelah mereka tiba di dalam Apartemen.
"Tapi---"
"Jangan takut aku tidak akan masuk kedalam kamar sebelum kamu selesai mandi. Lagian aku juga tidak suka pada perempuan hamil seperti mu." ujar Kevin dengan sengaja agar Zivanna tidak larut dalam kesedihannya.
"Apa?" mata Zizi yang sipit langsung membola setelah mendengar ucapan Kevin.
"Sudah sana cepat mandi. Bila kamu tidak menurut jangan salahkan aku bila tiba-tiba menyukai perempuan hamil." Kevin tergelak saat mengucapkan kata-kata itu, karena tidak perduli Zizi sedang hamil anak suaminya atau tidak jika suka, ya suka saja.
"Kevin!" seru Zizi yang sebetulnya sangat ingin marah dan memukul Kevin bila keadaan nya tidak seperti sekarang.
"Apa? Apa ibu hamil menyukai berondong seperti ku?" Setelah berkata seperti itu Kevin langsung berlari kearah dapur. Bila dia masih berada di dekat Zizi bisa-bisa gadis itu tidak jadi mandi.
Dia tidak perduli saat Zizi berteriak menyerukan namanya. Kevin malah tertawa karena sudah berhasil membuat Zivanna melupakan masalahnya walaupun hanya sesaat.
Sambi membuat teh untuk Zizi. Pemuda itu tidak berhenti tersenyum. Entah mengapa dari awal mereka bertemu sampai pertemuan hari ini dia sangat senang menggoda Zivanna.
Walaupun dia merasa heran setiap kali mereka bertemu Zizi pasti sedang menangis. Entah seperti apa takdir yang di atur untuk keduanya. Bisa-bisanya mereka di pertemukan dengan cara seperti itu.
Setelah selesai membuat teh hangat nya. Kevin kembali kedepan. Lalu dia mengeluarkan HP untuk memesankan makan malam, karena sekarang jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Hari ini dia benar-benar sibuk sampai-sampai lupa untuk makan siang.
Tadi siang Kevin kerumah sakit untuk menjenguk saudara ibu nya yang lagi sakit. Namun, siapa sangka saat dia ingin pulang malah melihat gadis yang dia kenal sedang duduk di atas lantai sambil menangis seorang diri.
Gadis yang dia cari sampai beberapa pekan lama nya. Zivanna hilang bagaikan di telan bumi. Tidak ada kabar masih hidup atau sudah meninggal dunia. Sudah beberapa kali dia mendapat ancaman dari Devan karena di tuduh sudah menyembunyikan Zizi. Padahal pemuda itu juga bingung tidak tahu harus mencari Zivanna ke mana.
BERSAMBUNG...
.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya dan hadiahnya ya🤗
Masih pada ingat kan kalau Gieveway nya akan Mak author umumkan pada tanggal dua puluh tujuh.
Terimakasih 😘😘😘
__ADS_1