
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Setelah mendatangi berkas perceraian mereka. Tubuh Devan seakan lemas tidak bertulang. Jangankan untuk berjalan, sekedar membuka mata saja sudah tidak sanggup.
Namun, sebagai laki-laki sejati, dia harus berani berbuat dan berani pula menerima semua keunsuensi setiap perbuatan, karena itulah hukum alam Dunia maupun Akhirat.
Tes!
Tes!
"Maaf," ucap Devan sambil menyeka air mata yang turun begitu saja, tanpa permisi lagi. "Saya, Saya, hanya---"
Buughk!
Devan tidak sempat melanjutkan ucapannya karena Zivanna sudah memeluk tubuhnya lebih dulu.
Wanita itu memeluk tubuhnya cukup erat sambil menangis. Tapi tidak berkata sepatah kata pun.
Devan yang juga membutuhkan sandaran untuk mencurahkan kesedihannya langsung membalas pelukan tersebut. Walaupun dia belum mengetahui kenapa Zivanna memeluk tubuhnya sambil menangis, yang terlintas di dalam benaknya adalah.
Zizi menangis karena merasa bahagia. Sebab keinginannya untuk berpisah sudah terpenuhi. Atau juga menangis karena kasihan pada dirinya.
"Jangan menangis! Kakak tidak apa-apa." ucapannya menenangkan Zivanna. Devan juga mengira-ngira mantan istrinya menagis karena merasa kasihan pada dirinya.
"Hem! Maaf Tuan, Nona. Bisa minta waktunya sebentar lagi? soalnya saya harus menghadiri persidangan berikutnya." kata Tuan Bram berdehem, karena dia merasa canggung melihat pasangan suami istri itu saling berpelukan dan apalagi melihat betapa manisnya Presdir Atmaja Group memberlakukan wanitanya.
"Agh, maaf, Tuan Bram." Devan melerai pelukan mereka sambil menyeka air mata dia dan juga Zivanna.
"Anda tidak perlu minta maaf, Saya lah yang seharusnya mau minta maaf karena sudah mengganggu kalian berdua." tersenyum kecil, lalu dia melanjutkan lagi apa yang akan dia sampaikan.
"Oh ya, kalian berdua tolong tanda tangani satu berkas lagi, karena berkas yang ini akan saya serahkan kepada Jaksa Agung, sebagai surat pernyataan bahwa kalian tidak jadi melanjutkan perceraian di antara kalian berdua." lanjut Tuan Bram mengeluarkan satu lembar kertas.
"Maksudnya bagaimana, Tuan Bram?" tanya Devan memperbaiki jas yang dia pakai. Meskipun jas tersebut tidak kenapa-kenapa.
__ADS_1
"Maksud Saya, kalian harus menanda tangani berkas yang ini, karena akan Saya serahkan kepada Jaksa Agung." ulang laki-laki paruh baya itu mengulangi ucapannya.
"Iya, Saya mendengarnya! Tapi bukankah tadi Anda menyebutkan sebagai bukti bahwa kami telah membatalkan perceraian diantara kami?" kembali bertanya dengan jantung berdebar-debar. Di dalam hatinya berharap bahwa apa yang ia dengar adalah kenyataan.
"Betul Tuan Atmaja. Perceraian kalian sudah dibatalkan tadi malam oleh Sekretaris pribadi Anda. Dia datang ke rumah Saya untuk menyampaikan pesan dari Nona Zivanna. Bahwa dia mencabut gugatannya." papar Tuan Bram sambil menoleh kearah Zizi yang hanya tersenyum kecil.
"Zi... Apa maksudnya? Benarkah kamu membatalkan perceraian kita?" tanya Devan sambil menggenggam kedua tangan Zivanna.
Dia menatap wanita itu penuh dengan harap, karena memang itulah keinginannya. Keinginan yang tidak mau rumah tangga mereka berpisah dan memulai semuanya dari awal lagi bersama Reyvano putra mereka.
Melihat mata Devan sudah menggenang seperti anak sungai. Zivanna tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Iya, aku membatalkannya! Tapi... jika kamu tetap ingin melanjutkannya, maka tidak usah manandatangani berkas yang ini." jawab zivanna seakan memberi pilihan.
"Tidak, Kakak tidak mau melanjutkannya, untuk berpikiran ke sana saja Kakak tidak mau." seru Devan yang langsung menarik Zizi ke dalam pelukannya lagi. "Terima kasih, Terima kasih, Terima kasih sudah memberi Kakak Kesempatan Kedua." lirihnya sambil mengecup kepala sang istri berulang kali.
"Eum!" jawab Zizi hanya mengangguk dan berdehem.
"Bagaimana, Tuan?" si Tuan Bram kembali lagi mengangu Devan yang sedang serius mengucapakan terima kasihnya pada wanita yang dia cintai.
"Sayang, tunggu sebentar! Setelah ini Kakak akan memelukmu lagi," kata Devan dengan terpaksa melepaskan pelukan pada tubuh kecil istrinya.
"Mana yang harus Saya tandatangani? Bisakah Saya meminta sepuluh kertas seperti ini?" tanya Devan sudah siap membubuhkan tanda tangan nya dengan hati yang bahagia.
"Untuk diajukan pada Jaksa Agung. Bahwa Saya menolak setiap ada pengajuan yang akan dilakukan oleh istri, Saya." jawab Devan setelah mencoret kertas tersebut.
"Auh! Kenapa mencubit, Kakak?" tanya Devan mengelus punggung tangannya.
"Makanya jangan asal bicara, jika ingin bercerai, sekarang saja kenapa masih berpikiran kalau kita akan mengajukan perceraian lagi! Merepotkan saja," tegur Zizi yang tidak ingin mereka berdua membahas hal tersebut.
"Maaf sayang, Kakak hanya sedang merasakan bahagia yang luar biasa, jadi tidak bisa berpikir dengan jernih." ungkap Devan menyengir kuda.
"Nah, sekarang semuanya sudah beres ya, Tuan Devan Atmaja. Tinggal giliran Nona Zivanna yang harus menandatanganinya juga." kata Tuan Bram menyodorkan kembali kertas tersebut dihadapan Zizi.
Tidak banyak berpikir lagi. Zivanna langsung mengambil pulpen dan menanda tangani seperti apa yang dikatakan pria paruh baya itu.
"terima kasih!" ucap Zizi meletakkan kembali pulpen tersebut, diatas kertas yang sudah dia bumbuhi dengan coretan tangannya.
"Sama-sama, Nona, Tuan! selamat untuk pernikahan kalian berdua, semoga menjadi keluarga yang bahagia dan jauh lebih baik lagi daripada sekarang." jawab Tuan Bram sembari mendo'akan.
__ADS_1
"Iya, Tuan Bram terima kasih! Berhubung Anda memiliki urusan yang lain, kami permisi untuk pamit pulang, karena kedua orang tua kami harus mengetahui berita bahagia ini " ujar Devan menyalami pria paruh baya tersebut, yang diikuti oleh istrinya.
Lalu setelahnya ia mengajak Zivanna untuk keluar dari ruangan Tuan Bram.
"Ayo sayang kita pulang sekarang, ayah dan ibu pasti sangat bahagia mendengar berita kalau kita tidak jadi berpisah." ucapnya menggandeng tangan sang istri.
"Baiklah ayo," jawab Zizi mengganggukan kepalanya.
Dari ruangan Tuan Bram, sampai ke mobil. Devan selalu tersenyum bahagia. Dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang dia rasakan saat sekarang ini.
"Tuan Muda, Nona Muda!" seru Sekertaris Jimi melihat sang bos sudah datang dengan wajah bahagianya.
"Brengsek! Berani sekali kamu menghianatiku!" ucap Devan sembari tersenyum pada Sekertaris pribadinya itu.
Bertolak belakang dengan ucapannya yang seperti menahan amarah karena sudah dibohongi oleh Sekretarisnya sendiri.
"Mari silakan masuk tuan muda, Nona Muda." kata Sekertaris Jimi membuka pintu mobil. Dia sengaja mengabaikan ucapan sang Bos, karena tahu kalau Devan hanya sedang meluapkan rasa bahagianya saja.
Setelah duduk di dalam mobil.
"Sayang terima kasih! Kakak benar-benar merasa sangat bahagia." ungkap Devan mencium tangan Zivanna. "Kakak kira hubungan kita akan berakhir hari ini. Tapi ternyata kamu dan Sekretaris Jimi bekerja sama untuk membuat kakak terkena serangan jantung." kata Devan yang dengan sengaja menekan nama Sekretaris pribadinya.
"ya... kami berdua memang bekerja sama. Anggap saja itu semua sebagai hukuman untukmu karena pernah membohongiku." cibir Zivanna dengan santai.
"Oh benarkah? Kalau begitu terima kasih! Teruslah penghukum Kakak seperti apa yang kamu inginkan. Kakak lebih senang jika kamu membalas semua perbuatan kakak dengan cara memberi hukuman, asalkan kita selalu tetap bersama." tutur Devan tetap tersenyum bahagia.
Rasanya Devan sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Reyvano putranya untuk menyalurkan Rasa bahagia, karena keluarga kecil mereka tidak jadi berpisah.
Masih berada di dalam mobil seperti sekarang saja puluhan rancangan kebahagiaan sudah direncanakan oleh pria itu. Untuk membahagiakan Zivanna dan buah hatinya.
"Kalau hari ini belum ada rencana membalas dendam, tapi tidak tahu untuk kedepannya. Jadi bersiap-siaplah menerima balasan dariku." jawab Zivanna tidak tahu memiliki rencana apa saja untuk membalas perbuatan suaminya.
"Apapun itu bentuk pembalasanmu, kakak senantiasa akan menerimanya dengan senang hati. Asalkan kita selalu bersama," tersenyum lagi karena semuanya begitu indah seperti sebuah mimpi. "Tapi... ceritakan dulu bagaimana kalian berdua merencanakan ide seperti ini?"
"Tadi malam, kami eh tidak! Bukan kami, tapi lebih tepatnya aku. Aku yang memanggil Sekretaris Jimi untuk menemuiku di taman samping rumah." jawab Zivanna jujur, karena dia merubah keputusannya untuk mencabut perceraian mereka baru kemarin sore.
Yaitu saat dia tidak sengaja mendengar pembicaraan Devan dan Dokter Kaivan.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*...