Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Kembali menjadi saudara.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


"Zivanna!" Pria itu balas berteriak. Lalu dia berjalan mendekati Zizi yang masih memegang bingkai foto mereka berdua.


"Kakak mohon jangan seperti ini. Biarkan semua barang-barangnya." langsung menurunkan into suaranya, karena baru sadar kalau dia sudah kembali membentak wanita yang sangat dicintai.


"Kakak tahu semuanya tidak mudah untuk kamu terima dan lupakan. Tapi tolong jangan seperti ini." semakin berjalan mendekat. Namun, Zivanna berjalan mundur tidak ingin dekat dengannya. Padahal saat berada dalam pesawat beberapa jam yang lalu, mereka masih baik-baik saja. Wanita itu masih menjadikan bahunya sebagai sandaran.


Sakit, itulah yang Devan rasakan saat ini. Sakit melihat Zizi yang begitu tersiksa karena perlakuannya.


"Diam ditempat mu!" cegah Zizi saat menyadari Devan semakin mendekat. Padahal pria itu berniat ingin memeluknya.


"Oke, kakak tidak akan mendekat." Devan langsung berhenti karena tidak ingin membuat Zizi takut atau sebagainya. Agar sang istri merasa aman, Devan berbalik arah lalu berjalan mendekati bara-barang yang sudah dimasukan oleh Zizi kedalam wadah tempat pakaian kotor. Meskipun kamar tersebut tidak di tempati. Ibu Ellena setiap hari masuk kesana apa bila Devan tidak ada. Itu juga merupakan salah satu cara Ibu Ellena mengobati rindu pada sang putri.


"Biarkan barang itu disana!" Zivanna kembali berteriak dan membanting bingkai foto yang dipengangnya dihadapan Devan, laki-laki yang pernah menyakitinya. Sehingga membuat Devan kaget bukan main. Tidak menyaka Zivanna bisa semarah itu.


"Aku sudah bilang, ingin membereskan sampah-sampah ini. Tapi kenapa kamu menghalangi ku." hari ini Zizi menatap Devan sama seperti kala dia diperkosa oleh suaminya sendiri. Malam itu, Zivanna pulang sudah larut malam, karena dia bekerja paruh waktu.


Tanpa rasa iba sedikit saja. Devan menyeret gadis itu menuju kamarnya yang berada di pojok rumah mewah Devan. Namun, tempat tersebut berada di lantai dua sama seperti kamar pemilik rumahnya.


Tiba didalam kamar tersebut. Devan juga mengucapkan kata-kata yang sama. Yaitu adalah.


"Aku sudah bilang, jangan pernah membantah perintahku. Kamu ini hanyalah sampah yang tidak berguna."


Itulah perkataan Devan saat menghinanya.


Padahal saat itu Zivanna begitu mengangungkan cinta yang dia miliki. Lalu apa salah bila hari ini dia ingin membuang barang-barang yang menurut Zizi hanyalah sampah masa lalunya.

__ADS_1


Tes ...


Tes ...


Zivanna meneteskan air matanya. Rasa sakit itu ternyata masih sama seperti malam itu. Hampir lima tahun dia mencoba melupakan semua yang pernah terjadi. Akan tetapi dalam waktu dua hari semenjak bertemu Devan. Semua kenangan itu bagaikan sebuah kaset yang berputar dengan sendirinya.


Makanya terkadang Zivanna bisa bersikap biasa saja. Namun, dalam waktu beberapa menit kemudian dia sudah berubah. Tadinya Zizi ingin cepat-cepat kembali ke kota kelahirannya, agar tidak terlalu lama berada di rumah baru Devan yang di desain sesuai keinginannya dimasa lalu.


Akan tetapi tiba di kota X kenagang tersebut semakin menghantuinya. Kenangan itu jugalah yang membuatnya tidak banyak bicara termasuk pada ibunya sendiri. Wanita yang telah melahir dan membesarkannya.


"Zizi ... maafkan Kakak. Duduklah! Biarkan Kakak yang membereskan semua barang yang tidak kamu sukai. Katakan saja yang mana, tapi tolong jangan seperti ini." mohon Devan setelah menyadari kalau sang istri, tersiksa karena harus melihat kenangan mereka yang bahagia.


"Biar Kakak yang membereskan semua ini, kamu duduk saja." kembali lagi menyuruh untuk kedua kalinya. Setelah menyadari kalau semua itu karena kesalahannya sendiri. Devan hanya bisa bersabar. Anggap saja saat ini dia sedang menui apa yang pernah dia tanam.


Tidak berkata sepatah katapun. Zivanna hanya mengikuti saat disuruh diam. Dia memilih duduk diatas sofa lalu menutup muka mengunakan kedua tangannya. Meskipun Devan sedang membersihkan pecahan kaca bekas bingkai yang dibanting oleh Zizi. Tapi pria itu masih bisa mendengar kalau sang istri saat ini sedang menangis.


"Huh!" menarik nafas panjang lalu dikeluarkan dengan pelan. Tidak tahu apalagi yang harus dia lakukan karena cara apapun sepertinya tidak bisa membuat Zivanna luluh.


Tidak ingin membuat sang istri merasa tersiksa. Devan membereskan semua barang-barang yang memiliki kenangan atau berhubungan dengannya. Semuanya dia masukan kedalam keranjang tempat cucian yang kebetulan kosong karena kamar tersebut tidak ditempati.


Meskipun ragu-ragu pria itu mengangkat tangannya lalu menarik Zizi untuk masuk kedalam pelukannya. "Maaf, maafkan Kakak." tidak ada kata-kata romantis lainnya yang bisa Devan ucapkan selain kata maaf.


"Maaf, sudah membuatmu tersiksa dengan keadaan ini. Tolong katakan apa yang harus Kakak lakukan agar dirimu tidak tersiksa bila bersama kakak?" membelai rambut, sampai punggung. tidak lama setelahnya, Zivanna mulai terlihat lebih tenang.


Cup ...,


"Kakak ikut tersiksa melihat keadaanmu seperti ini. Jadi katakan, apa yang harus Kakak lakukan agar dirimu tidak trauma dengan kejadian itu." tanya Devan setelah mengecup kepala wanita yang masih menjadi istri sahnya itu.


"Kakak benar-benar menyesal sudah menghancurkan kepercayaan mu. Percayalah, melihat wajah putra kita saja, Kakak sudah tersiksa. Apalagi melihat keadaanmu seperti ini." memeluk semakin erat karena Zizi tidak bicara sepatah kata ataupun menolak pelukannya.


Lalu Devan kembali lagi berkata sambil tangannya tetap membelai punggung sang istri yang terlihat semakin tenang. "Kakak sangat mencintaimu, Zi. Maafkan Kakak tidak mau tahu sakit yang kamu rasakan selama ini. Untuk itu, sekarang tolong katakan apa yang bisa Kakak lakukan, agar bisa membuatmu bahagia?"

__ADS_1


"Mari kita berpisah, aku hanya ingin kita segera berpisah. Hanya itu yang bisa membuatku bahagia."


Deg ...


Bagaikan petir yang menyambar disiang hari. Mendengar permintaan istrinya, membuat Devan terdiam beberapa saat sebelum menjawab. Namun, dia tidak melepaskan pelukannya. Justru dia memeluk Zivanna semakin erat karena saat menyampaikan permintaan tersebut Zizi tidak merubah posisi mereka. Dia tetap berada dalam pelukan Devan.


"Baiklah! Jika itu membuatmu bahagia. Kapanpun kamu memintanya maka kakak akan memenuhi permintaanmu." jawab Devan kembali mengecup kepala Zivanna yang hanya sebatas dadanya. Tidak terasa sambil mencium kepala sang istri. Pria itu menjatuhkan air matanya.


Air mata penyesalan di seumur hidupnya. Semua yang terjadi karena perbuatan dia sendiri. Dirinyalah yang sudah melenyapkan senyuman Zivanna. Senyum gadis yatim piatu yang menjadi anak tiri ayahnya. Sekarang satu-satunya cara untuk mengembalikan senyuman tersebut. Devan harus melepasnya, karena dengan perpisahan mereka. Zivanna mungkin akan bahagia.


Merasa jika ada air yang menetes di pelipisnya. Zivanna ingin menjauhkan tubuh mereka untuk melihat air apa yang sudah menetes. Seingatnya bila dia sedang menagis, air matanya masih jatuh kebawah. Belum jatuh keatas.


"Diamlah! Biarkan seperti ini, sebentar saja. Bila kita benar-benar sudah berpisah. Hubungan kita akan kembali menjadi saudara. Kakak tidak bisa memelukmu lagi." ucap Devan menahan pergerakan istrinya.


Meskipun sangat berat untuk melepaskan istrinya. Devan harus memenuhi permintaan tersebut. Sebab Zizi sendiri yang memintanya. Dia tidak mau egois sendiri, memikirkan egonya yang akan membuat sang istri semakin tersiksa.


BERSAMBUNG ...😭🤧


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya 🤗 Biar Mak author semangat juga buat nulisnya.😭😭🤧


Like.


Vote.


Komentar.

__ADS_1


Subscriber.


Bintang lima ataupun hadiah lainnya. Terima kasih.🙏😘😘😘


__ADS_2