
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Maaf, Nona muda. Kami sudah mengangu waktu istirahat Anda. Kami hanya mengantarkan sarapan untuk Nona dan Tuan muda kecil. Ini dari Tuan muda Devan." jawab si pengawal seraya menyerahkan tiga paperbag. Entah apa yang ada didalamnya karena para pengawal tinggal menjalankan tugas.
"Apa, sarapan?" ulang Zivanna tidak menyangka jika Devan melakukan hal tersebut.
"Benar sekali, Nona. Tuan muda tahu jika tadi malam Anda tidak bisa tidur. Jadi sudah pasti sekarang Anda belum membuat sarapan." pengawal itu menjawab sesuai instruksi sang bos.
Jelas saja Devan bisa menebak seperti itu, karena dia sendiri mengalaminya. Sudah tidur setengah jam, malah terbangun lagi. Alhasil hampir semalaman Devan juga tidak bisa tidur.
"Huh! Baiklah! Terima kasih!" Zivanna tidak mau berdebat dengan pengawal yang hanya menjalankan tugas. Akhirnya menerima titipan tersebut.
"Tidak perlu sungkan Nona. Ini memang sudah menjadi tugas kami. Kalau begitu silahkan kembali kedalam dan nikmati sarapannya. Kami akan tetap berjaga disini."
Zivanna tidak menjawab, tapi dia hanya mengangguk kecil dan menutup kembali pintu rumahnya yang sudah seperti tahanan. Didalam hatinya ingin sekali menyumpahi Devan. Bagaimana mungkin rumahnya di jaga seperti saat ini. Untung saja Zizi sedang malas untuk membuka toko kue nya.
"Ibu, apa yama?" tanya Reyvano menyusul ibunya keluar dari kamar.
"Tidak ada apa-apa. Ibu sedang bicara dengan orang yang berjaga didepan." jawab Zivanna langsung berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makanan yang dikirim buat mereka berdua. Begitu dibuka Zizi sempat termangu karena hampir semua makanan tersebut adalah kesukaannya.
"Bu, nini nuna tapa?"
"Punya kita. Ayo sarapan, biar ibu suapi." kata Zizi mengisi piring untuk menyuapi putranya lebih dulu. Setelah anaknya kenyang baru dia mengisi perutnya sendiri. Rey yang sudah diajarkan untuk sarapan meskipun sedikit hanya menurut saja.
"Nenak, Ley tuka nini." ucap Rey menyukai makanan yang dikirim oleh ayahnya. Bagaimana tidak enak, makanan tersebut berasal dari Restoran mewah di kota F.
Zivanna hanya tersenyum kecil. Didalam hatinya ada rasa bersalah karena tidak mampu membahagiakan anaknya walaupun hanya sekedar makanan.
"Nda au dadi, dah tenyang." saat sudah suapan terakhir Reyvano mengelengkan kepala seraya menutup mulutnya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau sudah kenyang kita cuci tangan sama mulut dulu, ya. Setelah itu baru boleh main." Zizi menuntun tangan putranya menuju wastafel tempat mencuci piring.
"Ayah, Nana?" Reyvano kembali bertanya karena sudah hampir jam setengah sembilan dia belum juga melihat sosok Devan yang tadi malam mengaku sebagai ayahnya.
"Ayah sedang bekerja." jawab Zizi menghela nafas berat. Dia berusaha untuk tidak mengigat Devan. Malah anaknya menanyakan terus.
"Tali uan dadi?"
"Iya, mencari uang lagi. Eh sebentar." seru Zizi baru ingat dua paperbag yang belum dia lihat isinya. Begitu dia membukanya, ternyata ada beberapa permainan mobil-mobilan yang belum pernah dimiliki oleh putranya.
"Bu, nini obin-obinan tapa? Boeh ijam Tan?"
"Tentu saja boleh. Ini memang punyamu." tersenyum mengelus kepala putranya. Meskipun sebetulnya Zizi ingin membuang permainan yang dikirim oleh Devan. Tapi apapun yang dia lakukan percuma saja. Mereka tidak bisa meninggalkan rumah itu. Satu-satunya cara Zivanna harus berani menghadapi Devan, yang terpenting sekarang pria itu tidak menyakiti anaknya. Itulah yang Zizi pikirkan.
"Hole ... Ley nuna ainan balu." Anak kecil itu bersorak gembira karena memiliki permainan baru yang terlihat lebih bagus diantara permainya.
"Bu, Ley ain di tamal, ya? Ibu nda dadis tan tidal dilian?" melihat ibunya yang hanya diam Reyvano bertanya lebih dulu. Dia mengira ibunya diam karena tidak dibelikan permainan juga.
"Pergilah, awas jangan lari-lari. Ibu tidak menangis ditinggal sendirian." Buat menyenangkan hati anaknya Zizi tetap tersenyum.
Tok ...
Tok ....
Baru saja Zivanna ingin mengambil piring buat makan. Pintu kembali di ketuk untuk kedua kalinya.
"Agh, apalagi yang dia kirim?" dengan malas Zivanna kembali kedepan untuk membuka pintunya. Wanita itu mengira, pasti Devan yang kembali mengirimkan sesuatu. Akan tetapi dugaannya salah, karena yang datang adalah Bibi Emi dan Bibi Husna. Kedua wanita paruh baya itu memaksa agar diberi izin untuk menemui Zizi.
"Bibi Emi, Bibi Husna." ucap Zivanna langsung memeluk kedua wanita yang sudah banyak menolongnya selama ini.
"Katakan apa yang sudah terjadi? Kenapa mereka memperlakukan kamu seperti tawanan?" meskipun Sekertaris Jimi sudah mengatakan kalau Zivanna adalah istri dari Tuan mudanya. Tetap saja mereka belum percaya sepenuhnya sebelum bertanya pada yang bersangkutan langsung.
"Huh! Ceritanya panjang Bibi. Nanti aku akan ceritakan, lebih baik sekarang Bibi masuk dulu." Zizi langsung membuka pintu tersebut lebar-lebar agar kedua tetangganya bisa masuk.
__ADS_1
"Tapi Nona muda, siapapun dilara---"
"Jangan khawatir, Saya yang akan bertanggung jawab bila dia marah." sela Zivanna tidak mendengarkan perkata si pengawal.
"Zivanna, Nak. Benarkah kamu Istri dari pengusaha terkenal itu?" Bibi Husna mengengam tangan Zizi dengan tangan yang sudah berkeringat dingin.
"Bibi, kalian berdua jangan seperti ini. Meskipun aku benar istrinya. Tetap saja aku hanyalah Zivanna kalian." seru Zizi tidak nyaman.
"Jadi benar kamu adalah istrinya? Kalau kamu Istri Tuan Devan, berarti Reyvano adalah putranya." Bibi Emi mengusap wajahnya kasar. Kedua wanita itu masih tidak percaya, kalau ibu muda yang membuat kue setiap hari bersama mereka adalah istri dari pengusaha terkenal.
"Kenapa kamu malah mau hidup susah seperti ini, Nak? Kamu sudah memiliki segalanya. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya." imbuh bibi Husna menasehati karena mereka tidak tahu apa yang sudah terjadi. Kenapa dan mengapa Zizi pergi.
"Bibi, apa yang dilihat indah. Belum tentu bagus 'kan? Aku memiliki alasan kenapa memilih untuk pergi. Tapi apa penyebabnya, aku tidak bisa menceritakan pada kalian berdua, karena itu aib untuk keluarga ku. Namun, mau seperti apapun masa lalu. Tetaplah masa lalu, aku hanya ingin menjadi Zizi yang seperti sekarang, yang setiap harinya akan bangun pagi untuk membuat kue buat di jual seperti biasanya." Zivanna balas mengengam tangan Bibi Emi dan Bibi Husna.
"Tapi kata sekertaris suamimu tadi malam. Mereka tidak akan pernah meninggalkan tempat ini, bila kamu tidak ikut bersama mereka." tadi malam ada petugas keamanan dan warga sekitar yang menyuruh para pengawal Antamaja group pergi dari sana karena sudah mengangu kenyamanan warga sekitar. Mobil mereka saja sudah berjejer di sepanjang jalan.
Akan tetapi itu hanya sebentar. Setelah bicara dengan Sekertaris Jimi dan mengetahui kalau yang membuat kegaduhan tersebut adalah Devan Atmaja. Semuanya langsung diam seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
"Meskipun aku harus ikut bersama mereka, itu juga tidak akan lama, karena aku hanya ingin menyelesaikan sesuatu dan bertemu ibu ku. Setelah semuanya selesai, aku akan kembali lagi ke sini. Jadi apabila aku ikut bersama mereka nanti. Tolong Bibi berdua urus toko Royal Bakery kita." ucap Zizi sambil tersenyum kecil.
Lalu untuk menghilangkan rasa penasaran Bibi Husna dan Emi Zivanna pun menceritakan sebagian Kisah masa lalunya.
...******...
Sedangkan itu di Restoran mewah tepatnya ruangan VIP. Devan baru saja selesai mengadakan pertemuan bersama Tuan Fincen. pagi-pagi sekali mereka sudah berkunjung ke perusahaan milik rekan kerjanya itu. Sebab Sekertaris Jimi mengancam bila jam setengah delapan belum datang kerja sama mereka dibatalkan.
Alhasil, karena mereka sangat ingin bisa bekerjasama dengan perusahaan Atmaja. Memenuhi persyaratan yang di katakan oleh orang kepercayaan Devan. makanya jam sepuluh pagi, pertemuan tersebut sudah beres.
"Jimi, apa yang ingin kamu katakan tadi?" tanya Devan setelah Tuan Fincen pergi dari sana.
"laporan yang Saya katakan tadi malam Tuan muda." jawab Jimi yang sudah menerima laporan dari pengawal kepercayaan mereka.
"Lalu apa hasilnya? Siapa yang membawa istriku kemari?",
__ADS_1
"Hasil yang mereka dapatkan adalah,. pertama kali Nona kesini bukan bersama Tuan Kevin. Melainkan bersama wanita yang sekarang sudah meninggal dunia." ungkap Sekertaris Jimi seperti apa laporan dari orang-orang mereka.