Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Pangilan kakak.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


"Apa masih mau?" tanya Devan seraya menyodorkan minuman es kelapa muda pada zivanna. Saat ini mereka berdua lagi bersantai di pantai yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka menginap selama barada di pulau tersebut.



"Tidak, aku sudah kenyang," tolak Zizi mengelengkan kepalanya. Mereka berdua tidak hanya memesan es kelapa muda. Akan tetapi juga membeli makanan khas tempat itu. Walaupun hanya sedikit-sedikit tapi bila banyak rupa dan berbagai macam rasa, tetap saja akan terasa kenyang.


"Setelah ini kita akan kembali untuk istirahat atau mau berkeliling sekitar sini sambil menunggu matahari terbenam?" Devan kembali bertanya, karena bila mereka kembali untuk istirahat. Waktu matahari terbenam tinggal satu jam setengah, kurang lebih.


"Bagaimana jika kita berkeliling saja. Soalnya tanggung, nanti bila sudah kembali. Kita malas untuk keluar lagi." dua orang yang memiliki hobi yang serupa. Tentu saja jawabannya akan tetap sama.


"Kakak sudah tahu jawaban mu. Kalau begitu ayo kita pergi ke tempat yang belum kita kunjungi." kata pria itu tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk membantu sang istri berdiri. "Jika lelah, katakan saja. Kakak akan menggendong mu, "


"Memangnya masih kuat? Kamu sudah tua, jadi jangan banyak keinginan." Zivanna tersenyum mengejek sambil berlari karena takut Devan akan menggelitiki dirinya, sebab jika dulu itulah kebiasaan suaminya.


"Ck, ingin mengejekku rupanya. Nanti kamu akan tahu sendiri seperti apa tenaga pria tua ini."


Gumam Devan membiarkan istrinya berlari sambil tertawa. Ia hanya berjalan santai dan ikut tersenyum, melihat istrinya tertawa bahagia.


"Ayo kita ke sana. Sepertinya sangat bagus untuk bersantai," seru zivanna tersenyum, dia berhenti berlari dan menunggu Devan mendekat kearahnya.



"Baiklah, ayo kita ke sana, tapi jangan lari-lari. Kakak takut kamu kenapa-napa." cegah Devan menahan pergelangan tangan sang istri yang hendak kembali berlari. Padahal tadi Zizi berlari karena takut Devan mengejarnya.


"Tapi biar kita cepat sampai di sana." jawab Zizi yang sudah tidak sabar.


"Pelan juga, kita akan sampai." tetap menahan pergelangan tangan istrinya. "Ayo naiklah! " ucap Devan menundukkan sedikit tubuhnya agar Zivanna naik pada punggungnya.


"Apakah kamu kuat?" terlihat wajah ragu Zizi. "Aku bisa berjalan sendiri, tidak perlu mengendong ku." wanita tersebut mencoba menolak.


"Tentu saja kuat! Lagian apa bedanya dirimu yg dulu dan sekarang. Malah menurut Kakak sekarang tubuhmu jau lebih kurus."


"Eum... Baiklah!" Zivanna menjawab cepat. Lalu sesuai perintah Devan, dia pun menaiki punggung suaminya.


Hampir sepuluh menit, barulah mereka berdua sampai pada tempat yang ditunjuk oleh Zivanna tadi. Lalu Devan menurunkan istrinya pada kursi yang tersedia untuk para pengunjung yang datang.


"Terima kasih!" ucap Zizi sambil merentangkan tangannya merasakan tiupan angin sore yang begitu sejuk. Hari ini Zivanna benar-benar merasa sangat bahagia.


Apa yang Devan dan Zizi lakukan hari ini. Hampir sama saat-saat masih berpacaran. Dulu mereka berdua juga sering mendatangi pantai yang berada tidak jauh dari rumah nenek Devan. Apabila sudah datang ke sana pasangan kekasih tersebut, akan menghabiskan waktu berjam-jam lamanya.


Sedangkan tidak jauh dari mereka berdua, para pengawal Atmaja Group tetap ada yang menjaga keamanan tuan dan nona mudanya. Meskipun Devan sudah berulangkali mengatakan tidak usah mengikuti dai dan istrinya. Tetap saja Felix sebagai penanggung jawab keselamatan tuan mudanya, tidak mau menuruti perintah yang sekiranya akan menimbulkan resiko cukup besar.


Alhasil mau tidak mau Devan pun membiarkan saja para pengawal tersebut mengikuti mereka dengan jarak cukup aman. Asalkan tidak ada yang mengangu kenyamanan istrinya.


Asik menikmati dari tempat satu ke tempat lainnya, tidak terasa Zizi dan Devan sudah berada di pantai hampir setengah harian. Diantara mereka berdua, tidak ada yang merasakan lelah karena setelah sekian tahun. Hari ini mereka baru bisa merasakan kembali indahnya ketika menghabiskan waktu bersama dengan orang yang di cintai.

__ADS_1


"Kakak sangat bahagia," ucap Devan yang saat ini duduk sambil memeluk tubuh istrinya dari samping. Kedua duduk pada hamparan pasir pantai.


Waktu yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi, akhirnya sudah tiba yaitu menyaksikan matahari yang tenggelam dengan perlahan. Suasana romantis semakin terasa karena yang berada di sana hanya mereka berdua.


Jangan tanyakan kemana perginya para pengunjung yang tadi siang masih ramai, karena sudah pasti tempat tersebut telah disterilkan oleh para pengawal Atmaja group.


Kebiasaan para pengawal tersebut adalah tanpa diperintahkan oleh Devan. Mereka semua sudah tahu apa yang harus dilakukan. Sebab seperti itulah Sekretaris Jimi memberi mereka arahan dalam melaksanakan pekerjaan masing-masing.


"Aku pun sama bahagianya." jawab Zizi dengan mata memandang lurus ke arah matahari yang mulai hilang dari pandangan. Sebab jam sudah menunjukkan pukul delapan belas, lewat dua belas menit. Waktu Dunia halu.


"Ayo kita pulang, besok kita akan pergi mengelilingi pulau ini lagi. Tapi kita akan menggunakan mobil atau motor. Agar dirimu tidak lelah berjalan." ucap Devan mengulurkan tangannya kembali.


Setelah membersihkan pakaian mereka dari pasir pantai yang menempel, barulah keduanya berjalan saling bergandengan tangan menuju arah penginapan.


Setelah tiba Zizi membersihkan tubuhnya lebih dulu di dalam kamar mandi yang sama mewahnya seperti di rumah mereka. Begitu dirinya keluar, barulah Devan yang membersihkan tubuhnya lagi.


Setelah sama-sama selesai membersihkan dirinya masing-masing, mereka berdua langsung makan malam di depan tempat mereka menginap.


Mereka berdua tidak perlu memesan lagi karena segala sesuatunya sudah disiapkan oleh Felix yang mengantikan pekerjaan Sekertaris Jimi.


Sambil menikmati makan malam mereka berdua hanya diam saja, karena sudah terbiasa dengan peraturan keluarga Atmaja. Dilarang berbicara saat makan.


*


*


Dua jam kemudian.


Setelah selesai makan malam mereka berdua kembali menikmati pemandangan indah tempat tersebut disaat malam hari. Sambil membicarakan langkah seperti apa yang akan mereka jalani setelah kembali dari tempat liburan.


"Iya, tapi sepertinya tidak akan lama, karena bila Kakak berhasil membuatmu hamil. Maka kita akan kembali ke kota Y. Tapi itupun kalau kamu masih mau dibawa ke sana." jawab Devan santai. Ia tidak malu saat mengatakan bila berhasil menghamili Zivanna.


"A--a--apa maksudmu? Jangan sembarangan berbicara!" saat berkata seperti itu Zizi membuang arah pandangan matanya, karena ingin menyembunyikan wajahnya yang terasa panas secara tiba-tiba.


"Apa yang Kakak katakan benar. Tadi saat berbicara dengan ayah, dia mengatakan bila kita sudah bisa memberikan Rey adik. Maka silahkan bila mau pergi dari rumahnya. Asalkan Rey tinggal bersama mereka." papar Devan sesuai pembicaraan dia dan ayahnya tadi siang.


"Ma--mana bisa seperti itu. Bila Rey tinggal bersama mereka. Lalu kita tidak akan memiliki teman." imbuh wanita itu merasa keberatan dengan permintaan orang tua mereka.


"Maka dari itu, kita buat satu lagi." kata Devan blak-blakan. Membicarakan ingin menambah anak sudah seperti akan membangun perusahaan saja, yang positif jadi. Padahal belum tentu mereka akan mendapatkan momongan lagi. Sebab membuatnya saja belum di mulai.


"Aku ti---"


Cup!


Zivanna tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena bibirnya telah di bungkam lebih dulu.


"Kakak ingin memiliki anak lagi selain si tampan kita." ucap Devan saat melepas ciumannya.


"Tapi---"


Devan tidak membiarkan istrinya untuk protes. Dia kembali lagi membungkam mulut Zizi. Decapan-decapan mulai terdengar di atas sofa yang menghadap laut lepas.

__ADS_1


Saat merasa Zivanna kehabisan pasokan oksigen. Barulah Devan melepaskan lagi pangutan mereka. Dengan nafas memburu dia menyeka bibir Zizi yang basah karena saliva mereka berdua.


Saling menautkan lidah karena gairah dari diri masing-masing mulai bangkit seiring berjalanya apa yang mereka lakukan.


Cup!


"Kakak ingin!" ucapa Devan dengan sorot mata memohon dan suara beratnya. Seorang Casanova seperti Devan bisa menahan dirinya agar tidak menyentuh wanita manapun hanya karena hatinya terpaut pada istrinya sendiri.


Benar-benar sudah menjadi pemecah rekor. Pernah Devan mencoba saat dia berangkat ke luar negeri. Sudah dua orang gadis yang dicarikan oleh Sekertaris Jimi. Akan tetapi dia tidak mendapatkan kepuasan seperti saat bersama istrinya sendiri.


"Aku---"


Cup!


Kembali lagi mengecup dan menautkan bibir mereka. Kali ini tangan Devan mulai bekerja, dia ingin membuat Zizi benar-benar terbuai permainannya, sehingga tidak menolak saat melakukannya.


Eugh!


Satu ******* di keluarkan oleh Zizi saat Devan mulai mengukir jejaknya pada leher jenjangnya.


Aghkk!


Semakin mendengar lenguhan sang istri. Devan semakin beraksi. Dia terus melakukannya dengan sesekali kembali menyatukan bibir mereka. Tujuannya adalah membuat Zivanna menikmati permainannya.


"Eugh! Kak..."


Lenguh Zizi tanpa dia sadari menyebut Devan kakak. Tangannya menekan kepala Devan yang berada di bawah sana.


"Huem! Apa?" dasar Devan! Sudah tahu kenapa Zizi seperti cacingan kepanasan. Malah bertanya ada apa.


Mendengar sang istri memangil dia kakak, dengan suara seksinya. Devan kembali lagi melanjutkan apa yang tadi dia lakukan.


Pangilan tersebut mengingatkan Devan saat pertama kali dia mengambil mahkota istrinya. Pagi itu sambil menikmati penyatuan mereka. Zivanna terus memangilnya kakak.


Aghkk!


"Kak... aku sudah tidak tahan," seru Zizi saat Devan melepaskan pangutan mereka untuk kesekian kalinya.


Mendengar pengakuan sang istri. Devan tersenyum menyeringai, karena memang itulah tujuannya. Membuat Zivanna mengatakan sendiri.


"Baiklah, kita pindah ke dalam, ya?" Devan langsung mengendong Zizi ala bridal style masuk ke dalam tempat mereka menginap. Sedari tadi mereka berdua berada di balkon yang menghadap ke laut.


Untung saja tidak ada pengawal yang melihat mereka lagi bercumbu. Eh, entahlah! Tidak ada atau mereka yang berpura-pura tidak ada.


Setibanya di dalam. Devan membaringkan tubuh istrinya dengan pelan dan berkata.


"Tunggu sebentar, Kakak akan menutup pintu kearah balkon." ucapnya tersenyum kecil. Zizi yang sudah di penuhi oleh gairah membara hanya bisa mengangguk tidak berdaya.


Bukan hanya Devan yang ingin lebih dari sekedar ciuman. Tapi juga Zivanna. Setelah selesai menutup pintu. Devan kembali mendekati ranjang sambil membuka baju kaos yang ia pakai.


BERSAMBUNG...😂

__ADS_1


__ADS_2