Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Aku mohon pulang lah.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Malam ini ibu kota Y dilanda hujan besar dan angin kencang. Langit terlihat bertambah hitam dalam kegelapan malam. Seolah-olah alam semesta ikut bersedih sama seperti hati gadis yang pergi meninggalkan kota itu penuh membawa derita. Baik itu derita hati maupun luka pada pisiknya.


Mobil yang dikendarai oleh Jimi tidak bisa melaju seperti biasanya karena air hujan sudah bergenangan pada jalan batu tersebut. Dalam kegelapan malam Devan melihat ada seorang gadis duduk sendirian di halte bus. Lalu dengan jantung berdebar kencang pria itu menyuruh Jimi menghentikan mobilnya. "Jimi stop! Itu sepertinya Zizi." ucap Devan segera mengambil payung untuk turun menghampiri wanita itu.


"Tuan muda duduk di mobil saja biar saya yang melihatnya." cegah Jimi saat bosnya akan turun dari mobil. Bila tidak turun mereka memang tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang duduk di halte bus tersebut. Sebab hujan nya sangat lah besar belum lagi angin kencang.


"Tidak! Biar aku sendiri yang menjemput nya." tolak Devan cepat karena dia sangat yakin bahwa yang duduk di luar sana adalah istrinya.


"Tapi Tuan muda---"


Ucapan sekertaris Jimi tidak dihiraukan oleh lelaki itu. Dia langsung membuka pintu mobil dan membentangkan payungnya. Lalu berjalan cepat untuk menemui Zizi yang seperti sedang kedinginan.


"Zizi ini kakak ayo kita pulang!" ajak nya begitu tiba di hadapan wanita yang dikiranya adalah sang istri.


"Maaf... Anda siapa?" jawab wanita itu begitu dia mendongak melihat kearah Devan berdiri saat ini.


"Ka--ka--kamu, kamu bukan Zivanna!" Devan langsung membeku setelah melihat muka wanita tersebut.


"Bukan Tuan, Saya Lina." jawab nya merasa takut kalau lelaki di hadapannya orang jahat.


"Kenapa kamu duduk di sini sendirian? Pulang lah, ini sudah malam." Devan memperhatikan di sekeliling mereka tidak ada siapa-siapa.


"Saya tidak ada tempat untuk pulang Tuan. Saya di usir dari rumah Bibi Saya karena tidak bisa memberinya uang selama Saya tinggal di sana." ucap wanita dengan sendu.

__ADS_1


"Apa! Kalau begitu ayo ikut Saya ke hotel terdekat. Kamu menginap lah disana, tidak baik seorang perempuan sendirian tengah malam seperti ini."


"Tapi... Saya tidak memiliki uang!" keluh nya lagi.


"Soal itu kamu tidak usah khawatir Saya yang akan membayarnya. Sekarang ayo, hujan nya semakin besar." Devan mengajak wanita itu masuk kedalam mobilnya setelah mengambil payung satu lagi dan dia meminta Jimi mencari hotel terdekat untuk menolong perempuan itu.


Benar saja setelah menemukan hotel, mobil yang dikendarai oleh Jimi langsung berhenti di sana. Lalu sekertaris Jimi membawa gadis itu masuk untuk memesan kamar hotel. Baru setelah semuanya beres dia kembali ke dalam mobil karena sang bos tidak turun hanya menunggu di sana.


"Apa sudah selesai?" tanya Devan setelah mendengar pintu mobilnya di tutup.


"Sudah Tuan! Saya sudah membayar sewaan selama sepuluh hari dan memberikan wanita itu sejumlah uang, agar dia bisa mencari pekerjaan." terang Jimi yang sudah kembali menjalankan mobilnya.


"Bagus! Kalau dia tidak mendapatkan pekerjaan juga suruh anak buah mu membantunya. Setidaknya kalau dia mau menjadi cleaning service di perusahaan kita." ujar Devan yang entah mengapa tiba-tiba memiliki rasa simpati pada orang yang tidak di kenalnya.


Tidak sampai lima belas menit mobil Mercedes Benz yang dikendarai oleh Jimi sudah memasuki pekarangan rumah mewah milik Devan.


Sama seperti tadi pria itu tidak menunggu pintunya dibukakan, dia langsung saja turun karena ingin cepat-cepat menemui sang istri. Di dalam hatinya Devan sangat berharap kalau Zizi ada di dalam rumah itu.


"Tuan Devan, apakah Nona sudah di temukan?" tanyanya dengan cemas.


Deg...


"Jadi dia belum kembali ke sini?" ucap Devan kembali melemparkan pertanyaan.


Wanita baya itu menggelengkan kepala disertai dengan air matanya, karena dia sendiri sangat yakin pasti nona nya sudah pergi meninggalkan rumah itu. yang menjadi pertanyaannya pergi ke mana sedangkan Zizi tidak memiliki sanak saudara.


"Tu--tuan Devan! Saya mohon tolong cari Nona Zizi. Dia tidak punya siapa-siapa di kota ini " Bibi Marta tidak kuasa menahan kesedihannya. Sehingga dia berani memohon seperti itu padahal dia tahu kalau Devan sangat membenci nona mudanya.


"Bibi tidak perlu khawatir. Anak buah Jimi sedang mencarinya. Besok pagi pasti mereka akan menemukannya." ucap Devan berlalu dari ruang tamu dan langsung menuju lantai atas tempat kamarnya berada.

__ADS_1


Tiba di lantai atas Devan tidak langsung ke kamarnya sendiri. Tapi malah berjalan menuju ke kamar istrinya yang terletak di ujung rumah besar itu.


Ceklek...


Begitu pintunya terbuka bau parfum Zizi langsung masuk kedalam indra penciuman Devan. Sehingga dadanya langsung terasa nyeri. Tidak sampai di situ saja, saat melewati tempat dia mendorong tubuh Zivanna kemarin malam. Devan kembali mengingat ucapan permohonan terakhir sang istri.


"Aku mohon kak, tolong bawa aku ke rumah sakit. Walaupun kakak sangat membenciku. Tapi tolonglah anak ini, dia tidak bersalah. Dia adalah anak kakak, bukan anak dosen ku."


Rasa sakit kembali lagi menghujam dada nya setelah mengingat ulang ucapan sang istri yang meminta tolong di bawakan ke rumah sakit. Namum, bukanya menolong tapi Devan malah tertawa dan berkata lebih bagus kalau Zizi sampai keguguran. Tidak taunya anak itu adalah anaknya sendiri.


Lalu Devan terus berjalan masuk menuju ranjang. Namum, lagi-lagi dia kembali membeku. Langkah nya terhenti melihat bungkusan susu ibu hamil yang dia lempar kearah Zizi kemarin malam.


Tadi siang saat Bibi Marta membersihkan ruangan itu dia memang menyimpan susu nya di atas salah satu bupet yang ada disana, karena mengira Nona mudanya akan kembali lagi ke rumah itu.


Pria itu pun berjalan mendekati bupet dan diambilnya kotak susu itu lalu di bacanya. Terlulis di susu itu. Trimester pertama. Susu khusus untuk ibu hamil muda. Sedangkan Devan melemparkan benda tersebut begitu saja. Padahal sangat berharga bagi gadis istrinya.


"Apa yang sudah aku lakukan!" Devan terduduk di tempat dia berdiri.


"Zizi tolong kembalilah! Jangan seperti ini, mari kita bicarakan masalah ini. Setelah itu kamu boleh pergi." tidak sadar pria itu menangis. Menangisi sesuatu yang sudah tidak ada.


"Aku memang sudah keterlaluan padamu. Tapi aku akan bertanggung jawab untuk anak itu dan sebagai gantinya kamu akan aku bebaskan. Aku akan mengembalikan mu ke kota X." menyebut nama kota X membuat Devan ingat mungkin saja Zizi kembali kesana.


*BERSMBUNG*....


.


.


.

__ADS_1


.


...Salam manis untuk kalian semuanya 😘😘 dan terimakasih sudah setia menanti ceritanya Devan dan Zizi ya! Mohon maaf Mak author belum bisa memenuhi permintaan kalian semuanya 🤗 karena Mak harus menyelesaikan novel bbg Rian pada bulan ini. Jadi harap di maklumi.🤧 ...


__ADS_2