Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Minder ( Zivanna)


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


"Foto... ini?" gumam Zizi menatap foto dia dan Devan. "Jadi selama ini kakak masih menyimpannya di sini," senyum Zizi semakin mengembang karena ternyata benar bahwa Devan begitu mencintai dirinya.


"Aku kira, karena dendamnya. Kakak telah membuang foto-foto ini." lanjutnya lagi. Wajahnya yang cantik semakin bertambah cantik. Sebab kebahagiaan yang sedang dia rasakan benar-benar murni.


Ceklek..


Mendengar pintu yabg di buka. Zivanna langsung menoleh ke arah pintu tersebut.


"Kakak!" seru Zizi berlari dan langsung memeluk tubuh tegap suaminya.


"Huem, apa sayang? Kenapa tiba-tiba memeluk Kakak?" tanya Devan membalas pelukan tersebut. "Ada apa, heum? Jangan membuat Kakak binggung dan takut," Devan melepaskan pelukan mereka. Lalu ia pegang kedua pipi sang istri.

__ADS_1


"Aku tidak kenapa-napa. Hanya ingin memeluk saja, memangnya tidak boleh," mana mungkin Zizi mengatakan bahwa dirinya lagi merasa bahagia gara-gara foto masa lalu mereka berdua.


"Eh, tidak, tidak! Tentu saja boleh!" kembali memeluk sang istri lebih erat dari sebelumnya. "Jangankan di peluk, dibuka baju saja boleh." tergelak karena pikiran Devan tentunya tidak jauh-jauh dari ranjang.


"Sudahlah, sekarang tolong lepaskan, aku." Zivanna mendorong agar dilepaskan. "O'ya kenapa Kakak masuk ke sini? Apakah tidak jadi bekerja?" wanita itu bertanya sambil melihat jam mewah yang melingkar pada pergelangan tangganya.


"Kakak hanya ingin memberikan ciuman sebagai ucapan selamat tidur,"


Cup!


"Tapi sepertinya kamu tidak jadi tidur, kenapa? Apa tempatnya tidak nyaman?" belum juga di jawab oleh istrinya. Akan tetapi Devan sudah mengeluarkan ponsel untuk menelepon Sekertaris Jimi.


"Bukan, bukan! Kesinikan ponselnya. Kenapa kakak malah mengambil kesimpulan sendiri," Zizi merampas ponsel suaminya. Lalu di letakan di atas meja "Aku memang tidak mengantuk, jadi jangan salahkan tempatnya."


"Oh, Kakak kira," jawab Devan tersenyum. Lalu dia menggandeng Zivanna mendekati lemari tempat foto yang dilihat oleh istrinya tadi.


"Coba kamu lihat, ini foto saat di Danau. Hari inilah kita membuat nama untuk anak pertama kita." Devan memeluk Zizi dari belakang. "Reyvano Arkana Atmaja." ucapnya lagi. "Impian kita terwujud, kita memiliki seorang putar. Terima kasih sudah memberikan nama itu untuk nya." imbuh Devan. Dia masih memeluk sambil menghirup aroma sampo yang dipakai oleh sang istri.

__ADS_1


"Aku kira kakak sudah membuang foto-foto ini." jawab Zizi membalikkan tubuhnya. "Kakak benar, impian kita sudah terwujud. Meskipun harus melalaui ujian panjang." saling menatap penuh cinta. "Tapi... akhinya takdir mempersatukan kita lagi."


"Benar, tadir menyatukan kita lagi. Maafkan kakak, ya." kata Devan mengelus pipi istrinya yang saat ini sudah mulai berisi. Tidak seperti saat mereka bertemu beberapa bulan lalu.


"Huem! Zivanna tersenyum dan mengangukan kepalanya. "Apa Kakak tidak jadi bekerja?"


"Jadi, tapi hanya memeriksa beberapa dokumen saja. Sebentar lagi kita akan ke ruang tempat Konfrensi pers berlangsung. Nanti kamu cukup diam. Biar Kakak saja yang berbicara."


"Baiklah, lagian aku takut gemetar bebicara dihadapkan para wartawan. Nanti malah membuat Kakak malu," Zivanna menundukkan kepalanya karena merasa tidak pantas menjadi pendamping suaminya.


Devan seorang Presdir perusahaan besar. Sedangkan dirinya hanyalah gadis yatim piatu yang tamatan SMA. Sedikit banyak, perasaan minder tidak percaya diri pasti dia rasakan. Walaupun sang suami sudah menyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Zi... Kakak tidak boleh dirimu bicara di depan wartawan, bukan karena takut kamu membuat Kakak malu. Tapi karena Kakak tidak ingin, bila kamu merasa tidak nyaman." Devan yang mengerti langsung menjelaskan. Agar Zivanna tidak salah mengartikan.


"Kakak melakukan semua ini karena tidak ingin mereka menyebarkan berita miring lagi yang mengatakan bahwa Kakak adalah suami Fiona." ungkap Devan yang baru mengatakan sekarang. "Kakak ingin mereka semua tahu, bahwa istri Kakak adalah Zivanna Lois. Bukan wanita mana pun." berhenti sesaat sebelum kembali melanjutkan lagi. "Dari dulu sampai saat ini, Kakak hanya mencintaimu. Kamu percaya, 'kan?"


"Heum! Aku percaya pada Kakak," jawab Zivanna sambil menangis.

__ADS_1


"Kalau begitu jangan menangis, jangan berpikiran macam-macam lagi." seru Devan yang menghapus air mata istrinya. "Sekarang bersiap-siaplah. Sepuluh menit lagi kita akan keluar." ucapnya lagi.


*BERSAMBUNG*...


__ADS_2