Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Taman bermain.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Selama dalam perjalanan menuju kota F. Devan hanya menatap lampu yang berkelap-kerlip menghiasi pinggir jalan ibu kota. Entah mengapa dari sebelum pergi, perasaannya menjadi tidak menentu. Dia sudah berangkat dari dua jam yang lalu dan diperkirakan akan tiba di kota F sekitar jam setengah dua belas malam. Itupun bila perjalanannya lancar tidak ada kendala.


Dari ibu kota Y ke ibu kota F. Bila ditempuh menaiki mobil, maka akan menghabiskan waktu kurang lebih lima jam. Namun, bila menaiki pesawat, hanya menghabiskan waktu kurang dari tiga puluh menit. Tapi meskipun ada jalur udara. Kebanyakan orang-orang mengunakan mobil. Soalnya pemandangan sepanjang jalan yang mereka lewati begitu inidah, tidak membosankan.


Termasuk Devan sendiri pria tersebut juga memilih menaiki mobil dari pada pesawat. Selama melakukan perjalanan bisnis, baru kali ini Devan memiki perasaan tidak menentu seperti hari ini. Hanya saja, dia diam sambil berusaha menerka-nerka ada apa dibalik semua kegundahan yang sedang dia rasakan.


"Jim, bukanya dari hotel tempat kita menginap. Dekat dengan taman hiburan?" setelah sejak tadi hanya diam saja. Akhirnya Devan bertanya untuk mengembalikan suasana hatinya. Di dalam mobil tersebut ada tiga orang penumpang. Yaitu Devan, sekertaris Jimi dan sopir kepercayaan.


Sedangkan dibelakang dan didepan mobil tersebut, ada dua mobil untuk mengawal presdir Atmaja. Perjalanan sejauh itu mana mungkin tidak ada pengawal nya.


"Betul Tuan muda." jawab Sekertaris Jimi dengan cepat.


"Setelah pekerja kita selesai, aku ingin pergi ke sana, mana tahu bisa membuat suasana hati ku lebih tenang." rencananya bila tidak ada perubahan, mereka akan berada di kota F selama dua hari, termasuk besok pagi.


"Baiklah! Saya akan mengatur semuanya bila Anda ingin pergi ke sana." apapun itu bila berhubungan dengan tuan mudanya, tentu saja langsung diiyakan oleh Sekretaris Jimi, yang tidak mungkin saja dibuat mungkin. Agar semuanya berjalan dengan baik.


Setelah menyampaikan keinginannya. Devan kembali diam dan tidak bicara lagi. Begitupun dengan sekertaris Jimi dan si sopir. Dua orang yang berada didepan semuanya juga pendiam. Makanya didalam mobil tersebut bila Devan tidak bertanya, hanya ada kesunyian.


Tiiin...


Tiiin...


Terdengar mobil pengawal yang didepan membunyikan klakson, karena sekarang mobil mereka sudah memasuki ibu kota F. Tinggal menuju kehotel tempat mereka menginap.


"Ternyata kota ini sudah sangat pesat perkembangannya. Dulu, saat kita kesini sekitar dua tahun lalu. Bangunan di daerah ini belum terlalu padat." kata Devan yang langsung melihat kearah depan mendengar klakson mobil rombongan mereka.


"Iya Tuan muda. Sekarang sudah banyak pengusaha dari kota Y yang membangun usaha di kota kecil ini. Termasuk Tuan Kevin." jawab Jimi yang sudah mencari informasi sebelum menerima kerjasama dengan pengusaha dari kota tersebut.


"Apa! Kevin juga membangun usahanya dikota ini?" seru Devan kaget karena baru mengetahuinya.


"Iya tuan muda. Dia membuka usaha tersebut setelah terakhir kali pengawal Atmaja mengikutinya untuk mencari informasi keberadaan nona."


"Hem, aku masih ingat. Ternyata dia sangat hebat. Aku tidak tahu kalau dia sudah membuka usaha sampai di kota asal ayah nya."


"Benar, dia sangat hebat. Sama seperti kakak nya Tuan Arga." jawab Jimi ikut memuji kehebatan Kevin. Laki-laki yang sudah membantu Zivanna di saat wanita itu sedang berada di titik terendahnya.


Sambil mengobrol, tidak terasa mobil yang membawa mereka sudah sampai ketempat tujuan. Lalu sekertaris Jimi langsung keluar lebih dulu untuk melayani tuan muda nya.


"Silahkan Tuan muda." kata Jimi membuka pintu mobil belakang dan mempersilahkan sang bos untuk turun.


"Terima kasih! Setelah ini kalian semua istrirahat saja dikamar kalian masing-masing." perintah Devan sambil berjalan masuk kedalam hotel termewah di kota F.


Begitu melihat kedatangan mereka. Para pegawai langsung menyambutnya dengan baik dan mengantarkan Devan beserta pengikutnya kekamar yang sudah dipesan dari lima hari lalu.


Kamar mereka berada di satu lantai dan berjejeran. Agar para pengawal bisa menjaga sang bos. Termasuk kamar Sekertaris Jimi.


"Kalian tidur saja dengan tenang. Kota ini aman, jangan mengkhawatirkan aku. Bukannya para pegawai tadi sudah mengatakan kalau hotel ini telah dijaga dengan ketat." Devan kembali menyuruh agar para pengawalnya istirahat.


"Tapi---"

__ADS_1


"Tidak, Jim! Biarkan mereka istrirahat. Kita sudah menempuh perjalanan selama lima jam. Mereka juga lelah, tidak perlu menyuruh untuk berjaga di depan pintu kamar ku." sela Devan yang tidak ingin dibantah. Meskipun mereka pengawal khusus. Tetap saja mereka juga manusia biasa.


"Huh! Baiklah!" Jimi menyerah karena tuan muda nya yang tidak ingin dijaga. Padahal dia ingin dua orang pengawal berjaga didepan pintu kamar sang bos.


"Silahkan Tuan muda. Kami akan istrirahat, setelah Anda masuk." ucap Sekertaris Jimi membuka pintu kamar Devan. Dia tidak akan tenang bila sang bos belum berada di tempat aman, karena semua berhubungan dengan tuan muda adalah tanggung jawabnya.


Devan tidak berkata apa-apa lagi, dia langsung saja masuk ke kamar itu dan menutup pintunya. Dengan langkah pelan pria tersebut menuju ranjang tempat tidur untuk membaringkan tubuhnya.


"Ada apa dengan diriku? Kenapa perasaanku menjadi serba salah seperti ini?" pria itu memijit pelipisnya.


"Semoga besok pagi semuanya berjalan dengan lancar dan tidak terjadi sesuatu." Terlalu lelah Devan langsung tidur karena hari juga sudah larut malam. Besok pagi dia memiliki kunjungan keperusahaan yang akan bekerjasama dengan perusahaan miliknya.


Semenjak beberapa tahun terakhir ini. Devan memang hanya menyibukan dirinya dengan pekerjaan. Agar bisa melupakan sedikit saja kehancuran hati yang dia alami. Namun, semua itu tidak lepas dari nesehat ibu mertuanya. Wanita yang telah dia sakiti, karena dendam nya. Membuat putri wanita tersebut pergi entah kemana. Apa yang Devan perbuat ternya tidak hanya menyakiti Ibu Ellena. Tapi juga menyakiti dirinya sendiri.


Untungnya, Ibu Ellena tidak memiliki dendam pada Devan. Meskipun dia sangat kecewa. Putri yang sudah dia besarkan dengan bersusah payah malah dinikahi, disiksa dan ditelantarkan begitu saja. Semenjak ditinggal pergi oleh Zizi. Laki-laki tersebut lebih sering kembali ke kota X, karena hanya dikota itu dia memiliki kenangan indah bersama sang istri.


Masa-masa dimana Devan mulai menjerat Zivanna dengan cintanya. Masa terindah saat berpacaran dengan gadis yang belum pernah memiliki kekasih selain dirinya.


Tidak terasa malam sudah berganti pagi. Waktu begitu cepat berlalu bagi mereka yang memiliki segudang kesibukan seperti Seketaris Jimi. Pagi-pagi sekali, begitu dia sudah siap dengan setelan baju kameja yang dilapisi jas dari luarnya. HP milik nya berdering.


Ttdddd....


📱 Jimi : "Iya, selamat pagi." sapa Jimi setelah sambungan teleponnya terhubung.


📱 : "Begini Tuan Jimi. Tuan Fincen belum bisa bertemu dan membawa Tuan Devan melihat perusahaan beliau, karena orang tuanya meninggal dunia jam tiga dini hari, dan akan dimakamkan pagi ini." sekertaris itu berhenti sebelum melanjutkan lagi ucapannya.


📱 : "Apapun keputusan dari Tuan Devan. Kami akan menerimanya. Namum, jika bisa Tuan Fincen ingin kerjasama ini tetap berlanjut."


📱 Jimi : "Astaga! Kenapa bisa seperti ini! Baiklah, Saya akan menyampaikan pada Tuan muda kami. Kita lihat saja keputusannya. Akan tetap melanjutkan kerjasama kita atau membatalkannya." seru Sekertaris Jimi setelah mendengar jawaban dari si penelepon.


📱Jimi : "Iya, Saya mengerti. Semua ini diluar kendali kita. Tuan Fincen tidak bersalah karena dia sedang mendapat musibah. Nanti setelah memberitahu Tuan muda. Saya akan menghubungi Anda." ucap Sekertaris Jimi mematikan sambungannya. Lalu dia keluar dari kamarnya untuk menemui Devan dan memberitahu bahwa pertemuannya dibatalkan.


Tok...


Tok...


Cek ... lek...


"Ada apa? Kenapa dengan wajah mu?" tanya Devan yang sudah rapi karena mereka berencana akan bertemu Tuan Fincen pagi ini.


"Tuan muda ... maaf, baru saja sekertaris Tuan Fincen menghubungi Saya. Dia mengatakan kalau orang tua, Tuan Fincen meninggal dunia pagi ini. Beliau mohon maaf yang sebesar-besarnya tidak bisa menemui Anda." ucap Jimi merasa takut untuk menyampaikan berita tersebut.


"Tidak apa-apa, utus orang-orang kita untuk mengirim karangan bunga dan yang lainya." menjawab santai sambil berjalan masuk dan duduk diatas sofa. Expresi Devan diluar dugaan Jimi. Sekertaris muda itu mengira kalau Devan akan marah.


"Apa Tuan muda tidak marah karena mereka membatalkan pertemuan nya begitu saja?" Jimi ikut duduk diatas sofa berhadapan dengan sang bos.


"Kenapa harus marah. Tuan Fincen sedang ditimpa musibah, beliau tidak sengaja membatalkannya. Lagian hari ini aku juga malas untuk membahas pekerjaan. Hubungi pihak hotel, suruh mengantar sarapan kesini. Setelah itu aku ingin pergi jalan-jalan."


"Baik Tuan muda. Lalu apa setelah ini kita akan kembali ke kota Y? Atau melanjutkan lagi kerjasama kita?" tanya Sekertaris Jimi karena belum bisa menebak keputusan dari tuan mudanya.


"Hubungi sekertaris pribadi Tuan Fincen. Aku akan berada di sini selama tiga hari. Suruh atur ulang pertemuan kita." Devan memang sangat disiplin dalam pekerjaan. Akan tetapi bila rekan bisnisnya terkena musibah. Dia adalah satu-satunya CEO yang memiliki toleransi yang tidak ingin berlaku semaunya karena dia di butuhkan.


*******


Sementara itu dirumah sederhana. Zivanna sedang memakaikan sepatu pada kaki mungil sang putra. Pagi-pagi sekali Reyvano sudah bangun karena dia diajak jalan-jalan oleh Bibi Emi dan kedua cucunya.

__ADS_1


"Nanti Rey tidak boleh lari-larian ya. Tidak boleh jauh-jauh dari nenek." pesan Zivanna seperti biasanya.


"Iya, Ley ndak lali-lali."


"Baiklah karena putra ibu sudah tampan. Sekarang ayo kita kedepan, kasihan nenek sudah menunggu dari tadi." Zivanna menuntun tangan putranya menuju keteras rumah karena Bibi Emi dan sang cucu sudah menunggu Rey sejak tadi.


"Wah, cucu nenek tampan sekali." puji wanita separuh baya itu langsung mencium pipi chubby Reyvano.


"Bibi, aku titip Reyvano ya. Maaf aku selalu menyusahkan kalian." kata Zizi meminta maaf.


"Tidak perlu minta maaf, Rey juga cucu Bibi. Jadi wajar dia ikut jalan-jalan bersama kami. Lagian dia anak yang pintar dan penurut. Bibi senang bila membawanya."


"Iya, aku tahu kalau Rey anak yang baik. Hanya saja aku malu setiap kalian bepergian selalu membawanya. Sedangkan aku sendiri sibuk mencari uang."


"Sudah, jangan merasa tidak enak seperti itu. Kami akan pergi sekarang mumpung masih pagi. Biasanya bila pagi seperti ini masih sepi. Jadi Rey bisa main dengan bebas." tidak ingin membuat Zizi selalu merasa tidak enak. Bibi Emi langsung saja mengendong Reyvano dan mengajak kedua cucunya pergi dari sana. Setelah berpamitan lebih dulu pada Zivanna.


Mereka pergi mengunakan taksi, karena dari rumah ke taman hiburan akan menghabiskan waktu setengah jam bila menaiki kendaraan umum lainnya. Namun, bila naik taksi hanya membutuhkan waktu dua puluh menit.


Selama dalam perjalanan menuju taman hiburan. Reyvano selalu bertanya apa saja yang dilihat nya. Makanya kedua cucu Bibi Emi selalu mengajak anak tersebut.


"Hole tita tudah tapai." Begitu mobil taksi tersebut berhenti. Reyvano langsung bersorak senang. Lalu setelah turun dan membayar ongkos taksi nya. Mereka berempat berjalan masuk. Cucu Bibi Emi berjalan lebih dulu, sedangkan beliau berjalan pelan sambil menuntun tangan Reyvano, karena anak itu tidak mau digendong lagi.


"Rey ingin main apa? Kalau kakak mau naik itu." tanya cucu Bibi Emi pada permainan untuk anak-anak seusianya.


"Au ain yunan." Reyvano menunjuk kearah ayunan yang berada tidak jauh dari mereka. Bagi anak-anak orang kaya, tentu saja permintaan Rey sangatlah sederhana.


"Kenapa setiap kali kita kesini kamu selalu main ayunan sih." cucu Bibi Emi tertawa karena Reyvano selalu bermain disana.


"Tatut itu tak. Ley tini dadi." ucap Reyvano yang sudah dipesan oleh sang ibu agar tidak menaiki permainan yang berbahaya, karena Rey dilarang menyusahkan orang yang membawanya. Meskipun sebetulnya anak itu sangat ingin melihat anak-anak seusianya menaiki permainan kuda dan mobil-mobilan.


Kedua cucu Bibi Emi sudah berumur dua belas tahun dan delapan tahun. Jadi mereka menaiki permainan seusianya. Sedangkan Bibi Emi selain harus mengawasi cucunya, dia juga tidak bisa menaiki permainan seperti yang diinginkan oleh Reyvano.


"Yasudah kalau Rey ingin bermain ayunan saja. Kalian berdua main lah ke permainan yang di sukai. Nenek akan duduk disini sambil melihat kalian dan Reyvano." ujar Bibi Emi pada kedua cucunya.


"Iya Nek, kami berdua kesana dulu ya." jawab kedua cucu Bibi Emi.


"Rey ingin bermain ayunan lagi 'kan?" Bibi Emi kembali bertanya, takutnya anak tersebut sudah berubah pikiran.


"Iya, Nek. Ley ain yunan dadi ya."


"Hem, pergilah! Nenek akan melihat mu dari sini." kata Bibi Emi tersenyum melihat Rey langsung berlari kearah ayunan. Lalu naik keatas nya sendirian karena ayuna tersebut memang untuk anak-anak dibawah usia lima tahun.


Dari saat Rey menaiki ayunan sampai anak itu berlari mendekati permainan mobil-mobilan yang tidak terlalu jauh dari tempat nya tadi. Devan sedang duduk memperhatikannya.


"Hai!" sapa Devan pada Rey yang hanya berdiri dipinggir pagar permainan mobil-mobilan. Begitu Rey berbalik.


Deg...


.


.


.


__ADS_1


Sambil menunggu cerita Devan, yuk pada mampir di novel teman Mak author. Ceritanya juga seru.


__ADS_2