
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Jadi besok kalian berdua akan pulang ke kota Y?" Ayah Dion kembali memastikan, saat ini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Iya, Yah! Tapi paling lama hanya tiga atau empat hari. Devan ingin mengadakan konfrensi pers. Buat mengumumkan siapa Nyonya Devan Atmaja sebenarnya."
"Bagus, lakukanlah! Rey tidak usah kalian bawa. Biarkan dia di sini bersama kami," mendengar perkataan ayahnya Devan tersenyum sambil mengengam tangan Zizi yang berada disebelahnya.
"Sayang, kamu dengar sendiri kan ayah meminta agar Rey tidak usah ikut bersama kita." ucapnya pada sang istri.
"Iya, tapi kita tanya dulu Reyvano mau ikut atau mau tinggal di sini saja." Zivanna berdiri untuk mendekati putranya yang lagi menaiki permainan kuda-kudaan yang baru dibelikan oleh ayahnya sebagai oleh-oleh dari liburan.
"Coba saja tanyakan. Kalau menurut ayah dia pasti tidak mau ikut kalian." ujar Ayah Dion seraya mengedipkan mata pada cucu kesayangannya.
Entah rencana apa yang dia dan cucunya buat. Sehingga Rey yang biasanya selalu menempel pada ayahnya bisa tidak mau ikut, saat diajak Devan sekalipun.
"Sayang... besok pagi ayah mau kembali ke kota Y. Apa Rey mau ikut? Ibu juga akan mengikuti ayahmu?" tanya Zizi sambil mengelus kepala anaknya.
"Ndak mau, Bu. Ley mau tama kakek," langsung menolak tidak mau.
Ayah Dion dan Ibu Ellena yang mendengarnya hanya tersenyum karena mereka berdua tidak kesepian lagi. Ada cucu yang sangat menggemaskan menemani hari-hari mereka.
"Agh, Ayah dan Ibu pemenang nya." Devan tergelak karena seperti apapun Zivanna merayu agar putra mereka mau ikut. Jawaban si tampan tetap tidak mau.
"Biarkan Rey tinggal, Nak. Jika kalian membawanya, lalu buat apa kamar sebagus itu, tapi tidak di tempati oleh bujangan kecil ini." sahut ibu Ellena seraya mengangkat Rey keatas pangkuannya.
"Nenek bobo," bukannya mengajak ibunya sendiri. Akan tetapi Rey malah mengajak neneknya untuk tidur.
"Sudah jam setengah sembilan. Sebaiknya kita tidur saja, Bu." Ayah Dion berdiri mendekati istri dan cucunya. Lalu mengajak mereka ke kamar.
"Tapi, malam ini Devan ingin tidur bersama Rey, Yah!" cegah pria itu karena ayahnya membawa Rey ke kamarnya sendiri yang bersebelahan dengan kamar orang tuanya.
"Sudah, sekali-kali mengalah dengan orang tua. Biarkan Rey tidur di kamarnya sendiri.' Iya kan, Boy." meminta persetujuan dari cucunya.
"Sayang... ayah dan ibu sudah menculik anak kita," Devan mengusap wajahnya kasar.
"Tidak menculik, tapi mereka ingin Rey menjadi anak yang mandiri. Sudah ayo kita kembali ke kamar. Aku juga sudah mengantuk." kata Zizi berjalan lebih dulu.
Bukan Zivanna tidak ingin tidur bersama putranya. Akan tetapi bila Rey sendiri tidak mau, mereka bisa apa.
"Sayang, tunggu!" Devan berlari kecil untuk menyeimbangi langkah kaki mereka. "Kakak ingin tidur bersama anak kita,"
"Bukanya tadi siang sudah tidur bersama anak kita." Zivanna terus berjalan dan tidak mendengarkan rengekan Devan yang seperti anak kecil.
"Iya, sih. Tapi malam ini Kakak ingin tidur bersamanya lagi."
"Sudahlah! Percuma merengek seperti ini. Ayah bukannya merasa kasihan. Tapi dia akan semakin mengerjai Kakak." ucap Zivanna sambil membuka pintu kamar Devan. Malam ini mereka tidur di sana karena kamar tersebut tidak pernah ditempati lagi.
"Benar-benar bahaya bila kita tidak memiliki anak lagi. Reyvano yang biasanya selalu menempel. Tapi lihatlah, dia seperti tidak membutuhkan kita." mengeluh tapi tangannya sudah memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Bersabarlah!" seru Zizi membalikan tubuhnya.
__ADS_1
"Ayo tidur, aku lelah!" tersenyum karena tahu jika Devan mengira dia akan mencium suaminya.
"Ini tidak adil. Bagaimana jika malam ini kita membuat adik untuk Rey lagi. Semakin cepat jadi, maka akan semakin bagus, 'kan." saat Zivanna akan mengatakan tidak! Devan sudah lebih dulu membungkam mulutnya.
Awalan hanya ciuman biasa. Lama kelamaan menjadi luar biasa. Bila Devan sudah menginginkan, maka Zivanna tidak akan bisa untuk menolak. Laki-laki yang sudah berumur tiga puluh tahun itu selalu bisa membuat istrinya terbuai.
Eugh!
Aaagh!
"Kak!" seru Zizi mendorong pelan tubuh suaminya agar menjauh.
"Huem! Ayo kita ke atas ranjang," tanpa persetujuan sang istri. Devan sudah mengangkat tubuh kecil istrinya.
"Sebentar saja. Tidak akan lama," bisik Devan kembali lagi menyatukan bibir mereka. Lalu tangannya pun tak tinggal diam, mulia melucuti pakaian ia dan istrinya.
Setelah melakukan pemanasan sampai beberapa menit. Devan langsung saja memasukan si tabung lelenya.
Aaaghkk!
"Sayang!" erang Devan merasakan nikmat yang terus membuat dia ketagihan.
Di dalam kamar yang biasanya sepi. Malam ini dipenuhi dengan suara-suara merdu Devan dan Zizi. Keduanya terus mendesah secara bergantian.
Eum!
Lengguh Zizi saat Devan membari kiis Mark pada leher jenjangnya. Hal tersebut pun malah membuat Devan terus berpacu sampai dia dan istrinya sama-sama mengerang panjang.
Aaaghkk!
Aaaghkk!
Erangan panjang tersebut pertanda bahwa pergumulan mereka sudah selesai.
"Aku juga sangat mencintai, Kakak!" balas Zizi sambil memejamkan matanya. Ia langsung tidur meskipun tabung lele Devan masih berada didalam intinya.
Aaaghkk!
"Ini nikmat sekali,"
Cup!
"Tidurlah! ucap Devan menarik tabung lelenya. Lalu iapun tumbang di samping sang istri. Setelah mendapatkan kepuasan, akhirnya mereka tidur sangat nyenyak.
*
*
Pagi harinya.
Jam setengah enam pagi. Zivanna sudah bangun lebih dulu. Pagi ini dia ingin memandikan putranya lebih dulu. Rencananya mereka akan berangkat jam tujuh. Setelah selesai sarapan.
Sedangkan suaminya masih bergelung di bawah selimut dalam keadaan tubuh polos, karena setelah selesai bercinta bersama sang istri tadi malam, dia langsung tertidur.
"Zi, sayang! Kamu sudah bangun?" seru ibu Ellena yang baru saja keluar dari kamar cucunya.
__ADS_1
"Iya, ibu juga sudah bangun?" Zivanna berjalan mendekati ibunya.
"Sudah, ibu baru saja melihat putramu. Ternyata dia masih tidur."
"Baiklah! Kalau begitu Zizi akan melihatnya sebentar." balas Zizi tersenyum pada ibunya.
"Huem! Ibu juga mau kembali ke kamar." pamit beliau yang ingin bersihkan dirinya terlebih dahulu. Tadi begitu bangun tidur, Ibu Ellena langsung melihat keadaan cucunya. Sudah bangun atau masih tidur.
Akhirnya Zivanna pun melanjutkan langkahnya untuk menemui sang putra.
Ceklek!
Membuka pelan karena takut membagungkan putranya. Namun, begitu dia masuk, ternyata si tampan keluarga Atmaja tersebut sudah bangun.
"Sayang... anak ibu sudah bangun," mendekati ranjang dan langsung memberi pelukan untuk si buah hati.
"Iya, dah banun." jawab Rey yang masih terlihat mengantuk.
"Mandi, ya. Biar ibu yang memandikan dan memasang pakaian nya. Nanti jam tujuh ibu akan berangkat bersama ayah." bujuk Zizi karena takut putranya menolak.
"Mandi tama, ibu." tanpa di duga Rey langsung merentangkan tangannya minta di gendong ke kamar mandi.
Sehingga membuat Zivanna yang begitu merindukan putranya mengembangkan senyum bahagia. "Ayo kita mandi sekarang," seru Zizi mengambil handuk sang putra dan mengendongnya ke kamar mandi.
Tidak sampai lima belas menit. Ibu dan anak tersebut telah keluar dari kamar mandi. Lalu Zizi makai pakaian untuk sang putra. Setelah semuanya siap, ia gendong anaknya menuju ke lantai atas.
Kleeeek!
"Ayah!" Reyvano berteriak kegirangan begitu melihat ayahnya yang baru ke luar dari kamar mandi.
"Wah, jagoan ayah sudah mandi rupanya," seru Devan berjalan mendekati Zizi. Lalu dalam keadaan masih memakai handuk dia langsung mengambil alih mengendong si buah hati.
"Harum sekali, tadi anak ayah mandi dengan siapa? Bersama Ibu atau nenek?" tanya Devan membawa Rey keatas ranjang tempat tidur.
"Mandi tama ibu." jawab Rey memeluk tubuh ayahnya yang belum memakai baju.
"Kak pakai baju dulu!" titah Zivanna merasa risih melihat pemandangan yang membuat otaknya traveling memikirkan seperti apa saat mereka melakukan pergumulan panas tadi malam.
"Sebentar lagi," jawab Devan malah bercanda dengan putra mereka. Tidak ingin membuang waktu karena mereka akan pergi. Zivanna berjalan kearah lemari untuk menyiapkan pakaian suaminya.
"Kak, ini bajunya sudah aku siapkan." ucap Zizi menaruh perlengkapan pakaian sang suami.
"Iya, terima kasih! Kakak mau bermain bersama jagoan kita sebentar," jawab Devan tersenyum.
Zivanna mengaguk lalu iapun masuk ke kamar ganti untuk menukar pakaiannya sendiri.
"Sayang, tunggu ayah sebentar, ya." ucap Devan karena ingin memakai pakaian yang telah disiapkan oleh sang istri. Rey hanya mengangguk sambil melihat ayahnya yang berganti pakaian sampai selesai.
"Apakah sudah siap?" tanya Devan melihat istrinya sudah keluar dengan penampilan semakin cantik.
"Iya! Ayo kita sarapan sekarang. Aku ingin menyuapi Rey, sebelum kita pergi." ajak Zizi karena Devan juga sudah siap..Pria itu hanya tinggal memasang jam tangannya saja.
"Huem, ayo!" jawab Devan menyetujui karena jam sudah menunjukkan pukul enam lewat dua belas menit.
*BERSAMBUNG*...
__ADS_1