Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Konferensi pers.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


"Apa sudah siap?" tanya Devan mendekati Zizi yang baru saja selesai memperbaiki dandanan nya agar tidak terlihat habis menangis.


"Huem, iya sudah siapa," jawabanya disertai senyuman kecil. Pertanda bahwa dia benar-benar sudah siap.


"Baiklah, ayo!" Devan menggandeng tangan sang istri menuju tempat konfrensi persen diadakan oleh Sekertaris Jimi.


"Anggap saja kita lagi jalan-jalan di pingir Danau. Tidak ada kamera atau sebagainya." ucap Devan karena merasa tanggan Zivanna mendadak terasa dingin. Padahal mereka berdua belum tiba pada tempat berkumpulnya para wartawan dari berbagai saluran televisi.


Devan adalah seorang pengusaha sukses. Sudah pasti tujuh puluh persen saluran televisi tersebut bekerja sama dengan perusahaan Atmaja Gruop.


Mendengar ucapan konyol Devan. Membuat Zivanna tertawa kecil. Kakak jangan membuat lelucon sekarang. Mana bisa aku menggap kita lagi jalan-jalan dipinggir Danau." seru Zivanna masih tersenyum.


"Kakak serius, tidak lagi bercanda. Anggap hanya ada kita, Sekertaris Jimi dan para para pengawal Atmaja." kata Devan menghentikan langkah kakinya. "Kita masuk sekarang, kamu percayakan semuanya pada kakak."


"Eum, aku percayakan semuanya pada kakak," Zizi mengangguk setuju. Pikirannya lagi mengingat-ingat saat mereka jalan-jalan di pinggir Danau. Agar bisa rileks seperti ucapan Devan. Meskipun tadi dia sempat tertawa mendengar perkataan suaminya.


Setelah Zivanna setuju Devan langsung berjalan masuk dengan menggandeng tangan sang istri. Begitu melihat pintu terbuka lebar, semua mata wartawan melihat kearah mereka berdua. Untung saja Zizi mengikuti saran dari suaminya. Meskipun terdengar konyol, tapi dia berhasil menghilangkan rasa gugup nya. Zivanna berjalan dengan sangat anggun. Dia sengaja tidak melihat kiri-kanan. Pandangan matanya hanya mengarah ke Sekertaris Jimi yang sudah menunggu kedatangan ia dan suaminya.


Devan membawa Zizi duduk di kursi yang telah disediakan untuk mereka. Acara tersebut sudah berlangsung dari beberapa menit yang lalu. Namun, seperti perkataan Sekertaris Jimi. Tuan mudanya cukup hadir dan memberikan peryataan sepatah dua patah kata. Selebihnya itu urusan dia.


Adakah pria seperti Sekertaris Jimi? Jawabannya pasti tidak ada, karena Jimi adalah limited edition. Satu-satunya di Dunia halu.


"Karena Tuan Muda sudah datang, silahkan kalian bertanya sesuai peraturan yang telah Saya buat." ucap Sekertaris Jimi pada para wartawan.

__ADS_1


"Selamat siang Tuan Atmaja! Bagaimana kabarnya?" tannya seorang perempuan yang kira-kira masih berumur tiga puluh tahun kurang lebih.


"Selamat siang juga, kabar Saya sangat baik seperti yang kalian lihat." jawab Devan tersenyum melihat kearah sang istri yang juga melihat dia lagi berbicara.


"Tadi Sekertaris Pribadi Anda mengatakan kalau konferensi pers kali ini Anda ingin memperkenalkan Nyonya Atmaja sebenarnya. Apakah gadis yang ada di hadapan kami ini adalah orangnya?" tannya wanita itu lagi.


Mereka semua diberikan kesempatan untuk bertannya satu-satu tanpa harus berdesakan. Di sini semua wartawan sudah diberikan kontruksi sebelum melakukan sesi tannya jawab, karena tidak semua boleh di tannya. Ada peraturan yang harus di patuhi.


"Iya, apa yang dikatakan Sekertaris Jimi benar. Saya hanya ingin memperkenalkan istri Saya pada publik, karena Saya tidak ingin ada berita miring tentang siapa istri Saya yang sebenarnya." Devan berkata penuh wibawa. Saat berbicara serius seperti sekarang, dia terlihat lebih tampan dari biasanya. Itu menurut Zivanna, karena bila menurut orang lain Devan selalu tampan.


"Jadi benar ini adalah Nona Muda yang sebenarnya. Berarti kami adalah orang-orang beruntung yang bisa bertemu langsung dengan istri Anda." puji wartawan tersebut, lalu setelah itu acara tannya terus berlangsung.


Ada beberapa wartawan mendapatkan kesempatan untuk bertanya langsung pada Devan. Setelah itu mereka hanya mendengar penjelasan Sekertaris Jimi, karena Devan hanya sebentar. Tujuannya memang hanya ingin memperkenalkan istrinya saja.


Di dalam kantor perusahaan Atmaja.


"Bagaimana, apa saran dari kakak membantu mu?" tannya Devan begitu mereka masuk kedalam ruanggannya.


"Kamu merasa gugup karena ini pertama kalinya dirimu bertemu wartawan. Besok-besok lagi pasti akan biasa saja." terang Devan membawa Zizi duduk di sofa.


"Memangnya kita akan bertemu wartawan lagi?"


"Tentu saja, mulai sekarang. Bila ada acara perusahaan atau acara yang lainnya. Maka kamu akan ikut bersama kakak. Jadi sudah pasti kita akan sering bertemu mereka." biasanya setiap ada acara, bila tidak datang bersama Fiona. Maka Devan hanya berangkat sendirian atau di temani oleh Sekertaris Jimi.


"Baiklah, akan aku coba," sebagai istri seorang pengusaha. Zivanna memang harus terbiasa dengan keadaan tersebut.


Sekarang seluruh kota lagi digemparkan oleh berita siapa sebenarnya istri Devan Atmaja. Mereka yang pernah menyepelekan Zizi, hari ini merasa malu dan takut secara bersamaan. Tidak ada yang menduga bahwa gadis biasa seperti Zivanna adalah istri dari pengusaha nomor satu di ibu kota Y.


Hari ini dengan bangga Devan mengatakan bahwa ia sangat mencintai istrinya di hadapan para wartawan dan kamera yang lagi meliput acara tersebut. Saat di tanyakan kenapa baru di umumkan sekarang. Zivanna langsung menjawab jika itu semua karena keinginan dirinya.

__ADS_1


Padahal tadinya Devan ingin berkata jujur. Namun, Zizi menyela lebih dulu. Bagi dirinya, cukup orang-orang terdekat mereka saja yang tahu. Zivanna tidak mau masyarakat menilai buruk tentang suaminya.


*


*


Malam berganti siang, siang berganti hari dan hari sudah berganti minggu. Minggu pun sudah berganti bulan. Hubungan Devan dan Zivanna semakin hari semakin baik. Pasangan tersebut selalu pulang pergi dari kota Y ke kota X. Sekarang mereka tinggal tidak bisa menetap, karena Reyvano si buah hati. Selalu tidak mau ikut dengan orang tuannya. Alhasil Devan dan Zizi yang mengalah menyisakan waktu satu jam mereka untuk menaiki pesawat agar semuanya berjalan lancar.


Karena libur, sudah dari kemarin siang Devan dan sang istri berada di rumah Ayah Dion orang tuanya. Sebagai anak tunggal Devan dan Zizi bisa memaklumi keinginan orang tua mereka yang menahan Reyvano.


Ayah Dion dan Ibu Ellena sebetulnya ingin putra putri mereka tinggal di rumah yang sama. Akan tetapi karena Devan memiliki perusahaan di luar kota. Alhasil semua keinginan itu harus mereka kubur dalam-dalam, karena tidak mungkin Devan bekerja pulang pergi naik pesawat.


"Bagaimana hasilnya, Dok? Istri Saya sakit apa?" Devan bertannya khawatir. Tadi saat baru bangun tidur, Zivanna muntah-muntah dan berakhir pingsan di dalam kamar mandi. Untung saja waktu mendengar istrinya muntah-muntah Devan terbangun dan menyusul masuk ke dalam kamar mandi. Jadinya Zivanna pingsan dalam pelukan suaminya, bukan jatuh ke lantai.


"Nona baik-baik saja, Tuan Muda. Dia tidak sakit, tapi lagi hamil." jawab dokter wanita yang menjadi dokter keluarga ayahnya.


"A--apa, hamil?" seru Devan tergagap karena merasa senang. Begitu pula dengan Zivanna, ia sama kagetnya seperti Devan.


"Iya, menurut pemeriksaan Saya, Nona lagi hamil. Tapi untuk kejelasannya, nanti Anda bawa Nona ke rumah Sakit. Kita akan melakukan pemeriksaan lagi dengan alat lengkap," papar dokter tersebut seraya memperbaiki letak kacamatanya. Ciri khas seorang dokter yang memakai kacamata.


"Baiklah, nanti kami akan datang ke rumah sakit." jawab Devan menganguk setuju. Lalu ia mengengam tangan istrinya. "Sayang... akhirnya kamu hamil." ucapnya lagi sambil mencium tangan Zizi yang masih terlihat lemas. Wanita itu sudah sadar dari lima belas menit yang lalu.


"Iya, aku hamil lagi," jawab Zizi tersenyum sambil mengeluarkan air mata bahagianya. Tidak di sangka-sangka dia akan mengandung anak dari laki-laki yang dulu pernah mengancamnya saat hamil anak pertama mereka.


Cup!


"Terima kasih, Terima kasih sudah mau menjadi ibu dari anak-anak kita," bukan hannya Zivanna yang menangis haru. Tapi juga Devan, presdir Atmaja itu tidak kuat menahan rasa bahagianya. Dia terus mengucapkan kata-kata cintanya. Tidak perduli pada dokter yang masih ada di sana.


"Hem... baiklah, karena nona baik-baik saja. Saya akan pulang lebih dulu. Nanti kita akan bertemu lagi di rumah sakit. Setelah nona selesai sarapan, tolong beri obat yang Saya berikan tadi." dokter tesebut berdehem karena dia tidak kuat melihat kemesraan Devan dan istrinya. Pria yang di takuti diluaran sana, pagi ini bisa menangis hanya karena mendengar istrinya mengandung.

__ADS_1


"Agh... iya, Dok. Terima kasih." jawab Devan terpaka harus berdiri untuk menyalami dokter tersebut.


BERSAMBUNG...


__ADS_2