
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Bendera kuning sudah berkibar di halaman rumah minimalis yang berukuran sedang. Yaitu rumah ibu Eris yang baru saja meninggal dunia beberapa jam lalu. Para tetangga dan kerabat jauh sudah mulai berdatangan.
Almarhum terkenal akan kebaikannya. Dia suka berbagi dan menolong tetangga yang lagi kesusahan. Sebelum bertemu Zizi, beliau hanya hidup sebatang kara, dari semenjak anak dan suaminya meninggal dunia.
"Bagaimana keadaannya, Nak?" seorang perempuan paruh baya menanyakan keada Zivanna yang belum sadar dari pingsannya.
Tadi saat membawa jenazah ibu Eris pulang ke rumah duka. Gadis itu sudah sadar. Namun, saat jenazah nya mau di mandikan, Zivanna kembali pingsan. Untung saja hari ini dia bertemu dengan Kevin. Bila tidak, entah seperti apa nasib Zizi dan Ibu Eris.
Satunya sudah meninggal dunia dan yang satunya lagi pingsan. Jelas saja para Dokter binggung akan menyerahkan mereka pada siapa.
"Keadaannya masih belum sadar, Bibi." jawab Kevin yang tidak meninggalkan Zizi meski satu langkah pun.
"Huh! Gadis yang malang. Keadaannya baru saja membaik, sekarang sudah kehilangan wanita yang sudah di anggap nya ibu." Perempuan tersebut duduk di sisi ranjang Zizi dan mengelus kepalanya.
"O'ya kamu siapa nya mereka? Maksudku, kamu ada hubungan dengan Zizi atau ibu Eris?" dari tadi para tetangga di sana bertanya-tanya kehadiran Kevin yang baru mereka lihat hari ini.
"Saya sahabat baiknya Zivanna, Bibi. Tadi tidak sengaja Saya melihatnya sedang menangis di koridor rumah saki." jelas Kevin sambil tangannya memberi pijitan kecil pada telapak kaki Zizi agar hangat seperti semula, karena sekarang kaki wanita itu sangat dingin.
"Baiklah! Kalau begitu tolong temani dia untuk saat ini. Kasihan sekali bila ditingal sendiri. Aku takut terjadi sesuatu pada dia dan anak yang di kandungannya." pinta wanita tersebut yang sudah berumur kira-kira lima puluh tahunan.
"Bibi tidak perlu khawatir! Saya akan menemaninya sampai dia bisa mengurus dirinya sendiri." kata Kevin dengan mantap, karena tanpa ada yang memintanya Kevin tidak akan meninggalkan Zizi begitu saja.
"Hem! Terima kasih sudah mau membantu mereka. Semoga Tuhan membalas kebaikan mu. Kalau begitu Bibi keluar dulu untuk melihat apakah jenazahnya akan di bawa ke pemakaman sekarang." Wanita paruh baya itu pun langsung keluar dari kamar Zizi.
Tidak lama setelah perempuan itu keluar. Zivanna membuka matanya lagi di ikuti isakan kecil. "I--ibu!" lirihnya berusaha untuk bangun dari pembaringan.
"Zizi kamu sudah sadar?" Kevin berdiri dari arah kaki Zivanna dan duduk di tempat wanita tua tadi.
"Kevin! ibu ku, Kev." kembali lagi menangis.
__ADS_1
"Sudah! Ikhlaskan ibu mu. Biarkan dia pergi dengan tenang. Bila kamu terus seperti ini kasihan beliau pasti semakin sedih." nasehat pemuda itu sudah membantu Zizi duduk dengan pelan.
"Hanya ibu yang aku miliki di dunia ini, Kev. Hanya ibu satu-satunya keluarga yang aku miliki."
"Suuuiiit! Jangan bicara seperti itu. Kamu tidak sendiri, ada aku dan anak mu. Apa kamu lupa kalau saat ini kamu tengah mengandung? Jangan seperti ini kasihan anakmu, dia pasti merasa apa yang kamu rasakan." Kevin menghapus air mata wanita yang pernah dia sukai beberapa bulan lalu. Bukan pernah, tapi mungkin saja masih di sukainya sampai saat ini.
"Kev---"
"Ada aku! Jangan menagis lagi." ucap Kevin sudah menarik Zizi kedalam pelukannya. Kevin tidak perduli bajunya yang terasa basah oleh air mata Zizi karena begitu dia memeluknya gadis tersebut semakin menumpahkan tangisnya.
"Menangis lah! Tapi setelah itu cuci muka dan ganti pakaian mu. Kita harus segera mengantar jenazah ibu mu ke pemakaman. Takut nya hujan dan hari pun bertambah sore." tangannya terus mengusap punggung Zizi yang masih bergetar menahan tangisnya.
"Hick ... hick ... rasanya aku, aku--- tidak mampu lagi, Kev. Kenapa Mak author begitu tidak adil pada ku. Apa salah ku padanya?" saat seperti sekarang maka yang di salahkan adalah si author. Padahal dia tidak salah dan tidak tahu apa-apa.
"Jangan berbicara seperti itu, semua ini memang sudah takdir mu yang belum di berikan kebahagiaan. Tapi percayalah setelah ini pasti ada hikmah dari semua ujian yang dia berikan." ucap Kevin sebelum kembali lagi melanjutkan.
"Kamu adalah wanita yang kuat Zivanna. Percayalah kamu akan menemukan kebahagiaan bersama anak mu. Tidak baik menyalahkan takdir. Hem! Kamu percaya padaku 'kan! Bila kamu percaya pada sahabat mu ini, maka kamu harus yakin bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan orang-orang yang sabar." meskipun Kevin masih muda, tapi dia memiliki pemikiran yang dewasa.
"Jangan menangis lagi. Pergilah ke kamar mandi cuci muka dan ganti pakaian mu. Kamu sangat jelek bila seperti sekarang." goda pria itu setelah Zizi menganggukkan kepala saat mendengar nasehat nya tadi.
"Kevin terima kasih!" ucap Zizi sedikit menyugikan senyum setelah mendengar nasehat Kevin, karena apa yang sahabatnya katakan adalah benar. Setidaknya hari ini dia masih di pertemukan dengan Kevin. Sehingga disaat berkabung masih ada bahu tempatnya bersandar. Walaupun hanya bahu seorang sahabat.
Lalu Zivanna pun langsung mengambil pakaian ganti seperti yang Kevin perintahkan, karena mereka harus segera mengantar jenazah ibunya ke tempat peristirahatan terakhir.
"Zivanna nya kemana, Nak?" tanya wanita paruh baya tadi yang baru kembali setelah melihat persiapan jenazah ibu Eris.
"Dia sedang menganti pakainya di dalam kamar mandi Bibi. Apa sudah siap?" Kevin ikut bertanya.
"Baguslah kalau dia sudah sadar. Iya jenazah ibu Eris akan segera di makamkan, karena hari sudah sore." jawab wanita itu lagi.
Cek ... lek ...
Zivanna keluar dari kamar mandi dan sudah menganti pakainya juga dengan dres panjang berwarna hitam.
"Bibi Nuri." sapa Zizi sudah terlihat lebih baik setelah mencuci wajahnya.
__ADS_1
"Iya sayang. Ayo keluar jenazah ibu mu akan di makamkan sekarang." ajak beliau buru-buru sebab mereka sudah di tunggu.
"Baiklah!" jawab Zizi singkat dan langsung berjalan keluar tapi tangannya di gandeng oleh Kevin. Pemuda itu tidak berani membiarkan Zizi berjalan sendirian karena takut pingsan mendadak seperti di rumah sakit.
Lalu mereka semuanya berangkat mengunakan mobil menuju tempat pemakaman yang berjarak sekitar dua kilometer dari rumah duka. Selama pemakaman berlangsung Zizi hanya bisa menangis di pundak Kevin. Dia memang tidak pingsan karena ingat nasehat dari sahabatnya tadi.
"Zizi ... yang sabar ya, Nak. Kamu tidak boleh seperti ini, kasihan anakmu." satu persatu para tetangga berpamitan dan pelayat lainya juga mulai meninggalkan pemakaman. Sampai yang tersisa hanya Zizi dan Kevin.
"Ibu!" setelah di tinggalkan oleh semuanya, barulah gadis itu bersimpuh di atas tanah merah bekas galian makam ibunya.
Sedangkan Kevin ikut berjongkok dengan tangan mengelus pundak Zizi. Tapi dia hanya diam saja tidak bicara sepatah katapun. Sebab dia sendiri yang tidak mengenal ibu Eris ikut bersedih. Apalagi Zizi yang sudah tinggal bersama wanita itu meskipun hanya beberapa bulan.
"Ibu ... tolong do'akan agar aku kuat seperti yang ibu harapkan. Sore ini aku akan pulang dulu. Tapi besok pagi aku akan ke sini lagi." ucap Zizi sambil memeluk batu nisan ibunya.
Meskipun ibu Eris bukanlah ibu kandungnya. Tapi Zivanna sangat menyayangi wanita itu, karena kasih sayang yang ibu Eris berikan, Zizi bisa melupakan keluarga yang sengaja dia tinggalkan.
"Aku sangat menyayangimu Bu. Meskipun kita sudah berbeda alam. Ibu jangan meninggalkan aku sendirian. Aku butuh ibu, aku tidak tahu apakah bisa menjalin hari-hari ku tanpa mu." Zizi meletakkan kepalanya di atas pusara ibu Eris.
Seolah-olah dia sedang mengadu pada perempuan yang di sebutnya ibu.
"Zizi ... ayo kita pulang. Ini sudah gerimis, sebentar lagi pasti akan turun hujan besar." ajak Kevin yang dari tadi hanya diam saja.
"Tapi ... Kev, aku tidak bisa meninggalkan ibu sendirian di sini. Apalagi kalau malam hari disini akan gelap. Kasihan ibu tidak ada temannya." tolak Zizi merasa berat bila harus meninggalkan makam ibunya.
"Kamu harus pulang sekarang. Jangan menyiksa dirimu sendiri dan juga bayi yang kamu kandung. Ibu Eris pasti akan marah melihat mu menyiksa cucunya. Kalian bisa sakit bila tinggal di sini. Jadi kita harus pulang sekarang." dengan penuh kesabaran Kevin membujuk agar Zizi mau pulang bersamanya.
"Benarkah ibu akan marah padaku?"
Mendengar pertanyaan Zivanna. Pemuda itu tersenyum kecil dan berkata. "Benar dia pasti akan marah bila melihat kamu seperti ini. Apa kamu lupa pesan beliau sebelum meninggal?"
Zivanna langsung mengelengkan kepalanya. Zizi masih ingat pesan sang ibu yang menyuruh nya menjadi gadis kuat tidak menyerah dengan keadaan. Sampai beberapa menit kemudian dia sendiri yang mengajak Kevin pergi dari sana.
"Ayo kita pulang sekarang. Kamu benar, ibu pasti marah bila mengetahui aku seperti ini." ajak nya berdiri dengan pelan. Tidak lupa sebelum berdiri Zizi mencium batu nisan ibu nya lebih dulu.
"Baiklah kita pulang sekarang! Hujannya juga semakin besar." Kevin langsung mengandeng tangan Zivanna menuju mobilnya.
__ADS_1
Selama dalam perjalanan pulang baik Zizi ataupun Kevin tidak banyak bicar. Keduanya larut dengan pikirannya masing-masing. Sampai tujuh menit kemudian mobil Kevin tiba di halaman rumah Almarhum ibu Eris. Namun, begitu keluar keduanya di buat tercengang melihat kehadiran seseorang di depan pintu tersebut.
*BERSAMBUNG....ðŸ˜ðŸ˜ðŸ¤§*