
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Di sebuah tempat Club malam Devan sedang duduk di ruang VIP bersama Fiona sahabatnya. Tadi setelah bertengkar dengan istrinya pria itu kembali ke kamar nya. Namun, baru saja dia masuk Fiona sudah datang menggetok pintunya, dan mengajak Devan pergi untuk mencari hiburan, karena memang sedang merasa kecewa pada Zizi, pria itu pun mau saja.
Meskipun dia memiliki rasa khwatir pada istrinya. Tapi karena rasa ego lebih besar, Devan akhirnya pergi bersama Fiona. Entah kemana perginya perhatian dan rasa yang pernah dia berikan untuk Zizi selama ini. Mana mungkin secuil saja Devan tidak memiliki perasaan pada wanita itu apalagi dia sudah menidurinya beberapa kali. Dua kali melakukannya masih seperti pasangan suami-istri pada umumnya. Jadi tidak mungkin semuanya hanya sandiwara. Mereka pun sudah bersama kurang lebih selama enam tahun.
Fiona yang melihat Devan hanya diam saja berusaha untuk membuat sang sahabat melupakan perihal masalah yang ada di rumah tangga Devan. "Dev kita kesini buat mencari hiburan bukannya untuk diam seperti ini." ucap wanita itu mengulurkan satu gelas minuman anggur. Yang langsung di terima oleh Devan dan diminumnya dalam satu kali tegukan.
Setelah nya Devan pun bertanya pada Fiona yang dianggapnya sahabat. "Fi... menurut mu apa mungkin Zivanna benar-benar melakukan semuanya?" pertanyaan aneh lelaki itu tanyakan pada orang yang tidak mengenal sipat sang istri di tambah lagi orang yang ditanya menaruh hati padanya.
"Dev apa yang tidak mungkin di dunia ini. Bukankah dia tidak mendapatkan cinta dari mu jadi sudah pasti dia mencari pria lain dan sampai mengandung anak pria itu. Benar-benar perempuan murahan." ujar Fiona menggebu-gebu seolah-olah dia ikut merasakan sakit hati atas perselingkuhan yang mereka tuduhkan pada Zizi.
Namanya juga orang yang sudah memiliki dendam tentunya akan percaya dengan cepat di tambah lagi yang ikut menyakinkan adalah orang terdekatnya. "Brengsek aku juga mikirnya begitu, ternyata wajahnya saja yang terlihat polos tapi nyatanya dia sama seperti ibunya. Perusak kebahagiaan rumah tangga orang." seru Devan langsung memponis istrinya sendiri dengan tuduhan yang dia sendiri belum tahu mengapa Zizi pergi ke Apartemen dosenya.
"Maka dari itu tidak usah pikirkan wanita j4 l4 ng itu. Sekarang lebih baik kita bersenang-senang. Apa kamu ingin memesan gadis seperti biasanya? Kalau iya biar aku yang mencari nya untuk menghibur mu malam ini." tawar Fiona karena malam ini sekertaris Jimi tidak ikut bersama Devan. Biasanya dialah yang menyiapkan apa saja yang lelaki itu butuhkan.
Tapi tawaran dari sahabatnya langsung di tolak oleh Devan. "Tidak usah, Fi. Aku sedang malas untuk bercinta walaupun hanya satu jam." tolak Devan halus. Tidak mungkin dia berkata jujur pada Fiona bahwa dia sedang tidak berselera karena mengkhawatirkan keadaan istrinya yang di bawa Dokter Kai kerumah sakit.
"It okay! Kalau begitu biarkan aku yang menghibur mu," Fiona langsung duduk di samping Devan sampai tubuhnya menempel pada tubuh Devan yang masih memakai jaket kulit.
__ADS_1
Hal itu tentu saja membuat Devan bertanya menghibur seperti apa. "Apa maksudmu menghibur ku?" pria itu bertanya karena dia memang tidak tau maksud perkataan sahabatnya.
"Dev malam ini tolong izinkan aku untuk menghibur mu, tapi bukan seperti biasanya. Aku ingin menghibur mu di atas ranjang." ucap wanita itu langsung tutup poin saja karena dia tidak mau melewatkan peluang emas seperti saat ini.
Devan yang mendengarnya menjauhkan tubuh mereka agar tidak menempel seperti tadi. Lalu diapun berkata penuh penolakan. "Fiona! Jangan mengada-ada kita ini sahabat. Mana mungkin aku meniduri sahabatku sendiri."
"Kenapa tidak mungkin? Bukanya kita juga akan segera menikah. Dev jika kamu ingin balas dendam pada wanita itu jangan setengah-setengah. Setelah kejadian ini kamu larang dia keluar rumah agar dia tidak bisa selingkuh dan dia hanya menyaksikan kemesraan kita. Dengan begitu dia pasti semakin menderita kan." Fiona berusaha menyakinkan Devan.
"Aku tidak bisa!" Devan berdiri dan meninggalkan Fiona begitu saja. Sehingga membuat wanita itu mengepalkan tangannya erat.
"Agh... sial kenapa susah sekali untuk menaklukan kamu Dev," Fiona mengusap wajahnya kasar. Sedangkan Devan langsung pergi ke parkiran mobil dan pergi meninggalkan klab malam tersebut.
Dalam keadaan seperti saat ini meskipun ada sepuluh gadis sekalipun tidak bisa membuat Devan tenang. Pria itu mengemudikan mobil menuju Apartemen miliknya yang sudah beberapa pekan ini tidak dia tempati lagi.
📱 Devan : "Jimi tolong suruh orang menjemput Fiona di klab malam tempat biasanya. Bawa dia pulang kerumah, aku akan ke Apartemen." ucap Devan setelah pangilan nya di angkat oleh Jimi.
📲 Jimi : "Baik Tuan, bila Anda butuh sesuatu segera hubungi saya." jawab sekretaris itu sebelum sambungan telepon nya di matikan oleh Devan lebih dulu.
Tiba di Apartemennya Devan langsung baring di atas sofa karena kepalanya pusing memikirkan perselingkuhan yang dilakukan Zivanna. "Wanita brengsek apa selama ini dia sebetulnya tidak mencintaiku?" mulut selalu mengumpat kasar tapi didalam hati merasa khwatir pada wanita berengsek yang dia maki sedari tadi.
Terlalu lama berperang dengan hatinya sendiri tidak sadar Devan tidur di atas sofa sampai pagi. Padahal jika dalam keadaan biasa saja, lelaki itu tidak akan bisa tidur bila tidak di atas ranjang.
🍃🍃🍃
__ADS_1
Sementara itu di rumah sakit keadaan Zivanna sudah mulai lebih baik. Hanya saja dia masih tetap di infus agar bisa mengembalikan tenaganya yang hilang. Tadi pagi setelah melihat Zivanna bangun dan memberinya sarapan. Dokter Kai pamit ingin pulang padahal dia berangkat ke perusahaan Devan untuk memberitahu keadaan Zizi.
Mendengar penjelasan Dokter Shena tadi malam dia tidak terima bila Devan mengabaikan istrinya begitu saja. Kai memiliki adik perempuan yang seumuran dengan Zivanna makanya dia sangat ingin membantu gadis itu.
Tiba di perusahaan Atmaja. Dokter Kai memarkirkan mobilnya di tempat khusus lalu dia pun keluar dan langsung menuju di mana letak kantor Devan berada. Tiba di depan pintu ruangan sahabat sekaligus bosnya itu Kai bertanya pada wanita yang ada di meja sekertaris lalu bertanya. "Apa Tuan Devan ada di dalam ruangannya?"
"Dokter Kai! Iya... Tuan Devan ada didalam. Silahkan masuk saja," jawab wanita itu menunduk sopan karena dia tau bahwa Dokter Kai adalah sahabat bos nya.
"Baiklah terimakasih!" dokter muda itupun langsung saja masuk kedalam setelah mengetuk pintunya beberapa kali.
"Kainan!" seru Devan begitu melihat Dokter Kai datang menemuinya. Lalu diapun berjalan mendekati sofa dan duduk disana karena Devan juga penasaran mengenai keadaan istrinya.
"Devan aku datang kemari bukan sebagai dokter pribadi mu. Tapi aku datang sebagai sahabat atau angap saja sebagai kakak dari Zivanna." tidak berbasa-basi Dokter Kai langsung menyampaikan maksudnya.
"Wah... apa kamu ingin menjadi pahlawan untuk gadis itu?" ejek Devan tidak suka.
"Terserah kamu mau bilang apa yang jelas aku melakukannya karena aku peduli pada keadaan istrimu." meskipun emosi Kai tetap bicara dengan tenang.
Devan bukanya sadar tapi dia malah berdicih semakin tidak suka sahabatnya itu membela Zizi. "Mau bagaimana pun keadaannya aku tidak peduli. Apalagi sekarang dia tengah mengandung anak selingkuhannya kan, jadi biarkan lelaki itu yang mengurusnya."
"Devan! Bagaimana kamu yakin kalau istrimu selingkuh? Dia wanita polos, aku rasa kamu lebih tau seperti apa sipat istrimu. Tolong hilangkan rasa dendam mu kasihanilah dia, Dev. Dia butuh orang terdekatnya untuk bisa melewati masa-masa sulit pada usianya sekarang." dengan memohon dokter muda itu agar Devan bisa berbelas kasih pada Zizi.
"Cukup! Kamu tidak tahu seperti apa kelakuannya jadi jangan ikut campur urusan rumah tangga ku. Bila tidak ada lagi yang mau dibicarakan kamu boleh pergi dari sini." Devan berdiri hendak kembali ke kursi kerjanya.
__ADS_1
"Baik aku akan pergi sekarang, bila kamu benar-benar tidak perduli kepadanya tidak apa-apa biar aku yang membantu nya. Tapi perlu kamu ketahui istrimu saat ini memiliki penyakit kanker yang bisa membahayakan nyawanya kapan saja. Ya meskipun kamu tidak perduli pada nyawa gadis itu tidak masalah. Hanya saja bagaimana dengan anakmu. Aku sangat yakin kalau janin yang dikandungnya adalah darah daging mu." setelah mengatakan itu Dokter Kai langsung meninggalkan ruangan Devan.