Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Kenangan indah tapi menyakitkan.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Setelah Sekertaris Jimi pergi.


"Nona, apakah ini Tuan muda kecil.?" tanya Bibi Marta mendekati Reyvano yang duduk di atas sofa sambil menatap bingung pada dirinya.


"Eum, iya Bibi. Ini putraku. Namanya Reyvano." jawab Zivanna tersenyum kecil karena dia masih mengkhawatirkan keadaan suaminya. Sejahat apapun Devan, pria itu tetaplah ayah dari anaknya. Dia memang ingin segera berpisah, tapi bukan berpisah oleh maut.


"Tampan sekali!" puji Bibi Marta sebelum mengajak Zizi dan anaknya pergi kelantai atas tempat kamar mereka berada.


"Nona, mari Saya antar ke kamar Anda." wanita paruh baya itu tidak mau bertanya untuk saat ini, karena dia tahu kalau nona mudanya sedang tidak baik-baik saja. Terlihat dari matanya yang sembab habis menangis.


Apalagi Seketaris Jimi pergi dengan terburu-buru. Sudah jelas dalam perjalanan pasti sudah terjadi sesuatu. Hanya saja Bibi Marta pura-pura tidak tahu.


"Kamar?" ulang Zizi termangu. Dia bingung dengan desain tempat itu seperti rumah impiannya di masa lalu. Tapi dia belum tahu, diluar rumah tersebut ada danau atau tidak.


Pemandangan rumah itu bukan membuat Zivanna merasa lebih baik. Akan tetapi luka yang dia miliki kembali berdarah, karena harus mengingat kembali kenangan indah yang pernah dia miliki. Sedangkan selama ini dia sudah berusaha untuk menyembuhkannya.


"Iya, kamar. Kamar Anda ada dilantai atas, begitu juga dengan kamar Tuan muda kecil." terang Bibi Marta menjelaskan.


Meskipun hatinya merasa tidak nyaman Zizi tetap mengikuti saja kemana Bibi Marta membawanya. Rumah itu memang besar, tapi tidak memiliki lift seperti rumah yang dia tempati dulu. Hanya melihat tangga, kenangan masa lalu Itu kembali terlintas di benaknya. Dimana dia hanya boleh menaiki tangga dan dilarang menggunakan lift oleh Devan. Meskipun dia sedang sakit.


Namun, saat ini bukanlah waktu untuk mengingat hal tersebut, karena orang yang membuatnya menderita sedang berjuang demi menyelamatkan nyawa dia dan Reyvano.


"Silahkan masuk, Nona muda. Ini kamar Anda. Semua keperluannya sudah disiapkan, termasuk pakaian Nona dan tuan muda Rey" kata Bibi Marta membuka pintu kamar yang sangat mewah. Mungkin bila dibandingkan, kamar tersebut lebih mewah dari kamar Devan.


Melihat kemewahan itu, hati Zizi kembali terasa nyeri. Dulu kamar dia dan Fiona berbeda sangat jauh. Kamar Fiona luas dan berada di tengah-tengah rumah mewah Devan. Sedangkan kamar dirinya di tempatkan paling pojok ruangan. Akan tetapi Zizi masih menerimanya karena dia sudah biasa hidup susah bersama ibunya.


"Terima kasih, Bibi. Kalau begitu Bibi pergilah istirahat. Ini sudah larut malam. Saya juga akan istrirahat." ucap Zizi yang masih mengendong putranya. Dia berusaha terlihat biasa saja meskipun rasanya sudah ingin menjerit sejak tadi.


"Apa Anda dan Tuan muda kecil tidak ingin sesuatu? Biar kami buatkan?" tawar wanita paruh baya itu lagi yang mengira Zizi menyukai rumah tersebut

__ADS_1


"Tidak, Bi. Saya hanya ingin istrirahat." tolak Zizi sedikit tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu Saya pamit undur diri. Bila Anda membutuhkan sesuatu pangil Saja mengunakan telepon rumah. Di rumah ini tidak memiliki tombol pangilan seperti tu---"


"Maaf, maafkan Saya, Nona." Bibi Marta hampir menyebutkan rumah yang pernah Zizi tempati. Tapi begitu tersadar dia tidak melanjutkan lagi ucapannya, karena Sekertaris Jimi sudah berpesan jangan sampai ada yang menyebutkan rumah Devan dihadapan Nona mudanya.


Tujuannya agar Zizi tidak mengigat kenanga menyakitkan yang pernah dialaminya. Padahal rumah baru itu jauh membuat Zivanna merasa tersakiti, karena desainnya sama seperti yang pernah dia ceritakan pada Devan. Impian indah yang berujung seperti neraka baginya.


"Tidak apa-apa, Bi. Bila Saya membutuhkan sesuatu, Saya akan mencari Bibi." masih memaksakan agar tetap tersenyum.


"Sekali lagi maafkan Saya, Nona. Masuklah, Saya akan pergi setelah ini." kata Bibi Marta kembali menyuruh Zizi masuk ke kamar yang sudah dibuka pintunya sajak tadi. Tidak menjawab, Zivanna langsung saja masuk dan menutup pintunya.


Deg ...


Begitu masuk Zizi dibuat kaget karena di atas kepala ranjang. Ada foto pernikahan dia dan Devan. Terlihat mereka sedang tersenyum bahagia. Hari dimana Zizi belum mengetahui kalau dia hanya dijadikan sebuah alat.


"Huh! Rey bobo lagi, ya?" Zizi menghela nafas berat. Lalu untuk menenangkan hatinya. Dia mengajak anaknya untuk tidur.


"Bobo tamal nini? Tamal na agus, Bu." tanya Rey sambil melihat ke seluruh ruangan.


"Ayah nda Bobo nini?" kembali lagi menanyakan ayahnya yang kata Sekertaris Jimi sedang mencari uang.


"Nanti, setelah pulang ayah akan bobo disini juga." entah untuk menenangkan putranya atau menenangkan hatinya sendiri. Zivanna menjawab demikian.


"Ley au bobo tekalang, Bu." mendengar ayahnya akan tidur disana juga, Reyvano langsung berbaring baring di tengah-tengah ranjang.


"Baiklah, Bobo duluan. Ibu akan menemanimu sampai tidur." Zizi pun ikut berbaring di atas ranjang sambil mengelus pelan kepala putranya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama. Reyvano pun sudah tertidur dengan pulas.


Cup ...


"Cepat sekali tidurnya. Biasanya bila tempat asing seperti ini kamu sudah tidur." ucap Zivanna setelah menciumi putranya. Lalu dia berbaring sambil memperhatikan wajah Reyvano.


"Devan!" gumam Zizi menghela nafas berat. Dadanya terasa sesak tidak karuan.

__ADS_1


"Apa tujuanmu membuat rumah seperti ini? Apakah ini salah satu caramu untuk menyakiti aku, atau sebaliknya?" lirih Zizi mulai menangis.


"Aku tidak tahu rencana apa yang sedang kamu buat saat ini. Apa maksudmu baik kepadaku? Apa karena Reyvano?" Zivanna berbicara sendiri dan di dengar sendiri. Untuk meluapkan perasaannya.


"Tapi apapun tujuanmu, semoga kamu baik-baik saja. Aku memang membencimu, tapi bukan berarti kita harus berpisah dengan cara seperti ini. Reyvano masih membutuhkanmu. Jadi bertahanlah demi anak kita." ucap Zizi yang tidak bisa menahan air matanya. Entahlah, melihat rumah itu membuat pikiran Zizi semakin kacau. Di tambah lagi rasa khawatirnya terhadap Devan saat ini.


****


Di tempat penyerangan.


"Agkh! Brengsek!" umpat Devan saat bahunya di tusuk oleh Bara mengunakan pisau.


Buuug ...


Buuug ...


Devan langsung menghajar Bara meskipun dia suda terluka.


"Saya tidak akan biarkan manusia seperti Anda bebas berkeliaran, Bara." ucap Devan kembali memberikan pukulan.


"Cuuih, Saya juga tidak akan pernah kalah Tuan Devan." pertarungan sengit antara Devan dan Bara terus berlanjut. Saat ini penyerangan kembali terjadi. Akan tetapi para pengawal Atmaja group lah yang menyerang.


Tadi setelah mobil yang membawa istrinya meningalkan tempat tersebut. Devan, Felix dan Andes langsung menyerang. Untungnya meskipun bertiga mereka bisa bertahan sampai lima belas menit lamanya. Setelah itu, Tim yang disiapkan oleh Sekertaris Jimi dan Andes kemarin siang sudah datang untuk membantu mereka.


Sebetulnya penyerangan itu sudah di ketahui oleh pengawal Atmaja. Hanya saja untuk menangkap dalang yang sudah mengeluarkan Bara. Sekertaris Jimi membuat rencana seperti itu.


"Mari kita lihat, sampai kapan Anda bisa bertahan." Bara tersenyum mengejek karena darah Devan sudah membasahi kameja yang dia pakai.


Mereka berdua bertarung tidak mengunakan senjata api, karena sudah sepakat akan mengadu kekuatan saja. Namun, siapa sangka kalau Bara mengunakan sebilah pisau yang dia sembunyikan didalam bajunya.


Para pengawal Devan juga sibuk bertarung jadi tidak tahu kalau Tuan muda mereka dalam bahaya. Pada saat Bara akan kembali menusuk Devan. Suara tembakan sudah terdengar di sela suara tembakan yang lainnya.


Dooooor ....


Dooooor ....

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2