
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Iya, kita akan kesana. Sekarang ayo ganti bajunya." tidak susah untuk Devan membujuk buah hatinya agar mau menganti dengan pakaian baru, karena tadi pagi Rey sudah mengikutinya masuk kedalam dapur bersih.
Apa yang Devan lakukan bersama putranya. Diam-diam Zivanna selalu memperhatikan. Untuk saat ini didalam hatinya, tidak merasa takut lagi, jika Devan akan menyakiti putra mereka, karena sudah terlihat jelas kalau pria itu begitu menyayangi Reyvano. Termasuk pada dirinya sendiri. Hanya saja Zivanna yang belum bisa membuka pintu hatinya lagi. Meskipun perasaan tersebut mungkin masih ada, walaupun hanya sedikit saja.
"Kenapa diam?" suara Devan yang mendadak berada disisinya, membuat Zivanna gelagapan untuk menjawab.
"Tidak, tidak ada apa-apa! Aku lagi memikirkan Rey belum pernah menaiki pesawat. Apakah dia akan takut seperti diriku atau tidak." jawab Zizi yang kebetulan alasan tersebut memang benar apa adanya.
"Astaga! Kakak hampir lupa, kalau dirimu juga takut naik pesawat." seru Devan baru ingat kalau saat membawa sang istri pindah ke kota Y. Zivanna juga merasa ketakutan.
"Lalu kita harus bagaimana bila dia takut?" Zizi terlihat bingung. Dari kemarin dia melupakan hal itu.
"Ada Kakak, jadi tidak perlu khawatir. Jika tidak ada lagi yang ingin dibawa, ayo kita turun sekarang. Mungkin Sekertaris Jimi sudah datang." ajak Devan setelah selesai menganti baju putranya. Lalu meskipun bahunya masih terasa sakit. Devan tetap mengendong Reyvano.
"I--iya, semoga saja Rey tidak takut seperti diriku." imbuh wanita itu menggikuti suami dan anaknya setelah mengambil tas kecil yang dia bawa untuk tempat HP dan juga peralatan Rey. Seperti bedak, minyak telon dan yang lainnya.
"Apa tidak ada lagi yang ketinggalan?" Devan kembali lagi bertanya sambil berjalan menuruni tangga.
"Sepertinya tidak ada lagi." terkadang mereka berdua terlihat seperti pasangan yang sangat harmonis, karena untuk sesaat terkadang mereka sama-sama melupakan masalah yang terjadi.
"Bibi Marta!" sapa Zizi begitu bertemu dengan kepala pelayan tersebut di ujung tangga paling bawah. Dari tadi malam baru pagi ini lagi mereka bertemu, karena Zivanna hanya diam didalam kamar. Kecuali saat mencari anaknya tadi pagi.
"Nona mau kemana lagi?" Bibi Marta bertanya dengan wajah sendu. Pasalnya dia belum bisa melepas rasa rindunya pada nona muda yang telah dianggapnya seperti putri sendiri.
"Saya akan kembali ke kota X, Bibi. Maaf Saya sudah merepotkan kalian semua. Diatas, piring bekas kami makan tadi belum Saya bereskan." ucap Zivanna merasa tidak enak. Padahal para pelayan yang mendengarnya menjadi ketakutan. Apalagi melihat sorot mata Devan yang tajam melihat kearah mereka.
Dari sorot mata tersebut seperti sedang mengatakan. Apa yang kalian kerjakan? Kenapa kalian tidak bekerja dengan benar. Apa kalian semua ingin ku pecat. Itu menurut sudut pandang pelayan yang kebetulan berada disana.
"Apa! Nona akan kembali kesana? Lalu kapan Nona akan kembali kesini lagi?" Wanita paruh baya itu tidak menghiraukan ucapan Zizi yang meminta maaf karena pokusnya hanya kota X saja.
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Zivanna melihat Devan yang juga sedang melihat kearahnya. Pria itu juga ingin tahu apa jawaban istrinya. Apakah akan kembali kerumah itu lagi atau tidak.
"Untuk itu Saya belum tahu, karena Saya sudah lama tidak bertemu dengan ibu Saya." jawab Zizi yang tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya.
"Baiklah, yang penting Nona muda masih kembali. Bibi sangat merindukan Nona, jadil jangan lama-lama. Cepatlah kembali lagi." pinta bbibi Marta penuh harap. Setelah berpelukan dengan Bibi Marta. Zivanna juga menyapa para pelayan yang kebetulan mereka mengikuti Bibi Marta untuk membereskan bekas mereka makan tadi. Namun, sayangnya mereka sudah mau pergi.
"Selamat siang Tuan, Nona dan Tuan muda kecil." sapa Sekertaris Jimi menyusul masuk kedalam rumah, karena sudah menunggu dari tadi. Si tuan muda dan keluarga kecilnya tak kunjung keluar.
"Iya, siang juga, Jim. Apa sudah siap!" kata Devan basa-basi padahal sudah pasti semuanya sudah beres. Demi tuan mudanya, Sekertaris Jimi akan melakukan apapun yang penting semuanya bisa berjalan dengan semestinya.
"Sudah Tuan muda, kita tinggal bertangkat." padahal untuk mendapatkan kata sudah atau kata-kata baik tuan muda. Sekertaris Jimi harus melakukan banyak hal.
__ADS_1
"Bagus, ayo kita berangkat sekarang." kata Devan pada sekertaris pribadi nya itu. Lalu dia kembali mengajak sang istri.
"Sayang, ayo kita berangkat." ucap Devan menyebut sayang, karena tidak mungkin dia menyebutkan nama saja. Orang yang mengetahui kalau dia pernah menyiksa istrinya, hanya Sekertaris Jimi dan Bibi Marta. Mereka berdualah saksi penderitaan yang pernah dialami Zivanna.
"Eum!" jawab Zizi hanya berdehem karena dia juga mengerti kenapa Devan tiba-tiba memangil sayang. Meskipun semenjak mereka bertemu tiga hari ini, ada beberapa kali Devan menyebutkan kata sayang juga.
Lalu mereka bertiga pun berjalan mengikut Sekertaris Jimi yang sudah duluan untuk membukakan pintu mobil buat majikannya.
"Masuklah duluan!" titah Devan menyuruh sang istri masuk lebih dulu.
Zivanna mengangguk dan berkata. "Terima kasih, Rey kesinikan. Kita bergantian saja untuk memangku nya." Zizi tahu kalau Devan kadang-kadang masih meringis kesakitan. Makanya dia menawarkan diri.
"Sayang, sama ibu dulu ya? Nanti baru dengan ayah lagi." Ayah satu anak itu tidak langsung menyerahkan sang putra pada istrinya, karena Rey memeluk lehernya dengan sangat erat.
Cup, cup ...
"Jika tidak mau, tidak apa-apa! Ayah hanya bertanya." mencium si buah hati berulangkali karena gemas melihat wajah Rey seperti lagi mempertimbangkan sesuatu.
"Ayah na itut Tan!" ternyata anak kecil juga tidak langsung menjawab. Mereka juga memiliki pertimbangan.
"Iya, tentu saja Ayah akan ikut. Memangnya siapa yang menjaga kita di dalam pesawat nanti." yang dijawab oleh Zivanna. Dia hanya takut kalau luka Devan kembali berdarah.
Mendengar ucapan Zizi yang mengakui kalau dia ayah putranya, membuat hati Devan berbunga-bunga. Meskipun hanya hal biasa menurut Zizi.
"Ayah, Ley au tama ibu aja. Nanti tama ayah adi, ya," kata Reyvano melepaskan rangkulan tangannya pada leher sang ayah.
Cup, muuuaaah!
"Ayah juga satu mobil dengan mu!" kembali memberikan ciuman setelah menyerahkan sanga putra pada istrinya.
"Masuklah!" ucap Devan kembali menyuruh Zizi masuk kedalam mobil. Wanita tersebut mengangguk sambil mengendong putranya dan duduk dengan nyaman.
Setelah menutup pintu mobil dekat anak dan istrinya. Devan berjalan memutar karena dia akan masuk dari arah sebelahnya.
Braaak ...
"Ayo jalan!" itu perintah Sekertaris Jimi pada si sopir, karena tuan mudanya sudah masuk.
Selama dalam perjalanan menuju bandara, yang banyak berbicara hanya Reyvano. Anak itu sekarang sudah berpindah duduk lagi bersama ayahnya. Entah karena baru bertemu dengan sang ayah. Atau memang karena Rey menyukai ayahnya. Dari semenjak mengetahui kalau Devan adalah ayahnya, yang pergi bekerja mencari uang. Reyvano lebih banyak menghabiskan waktunya bersama ayahnya.
"Ini obin puna Ayah 'tan?" tanya Reyvano saat mereka baru saja keluar dari dalam mobil.
"Mobilnya bukan punya ayah saja. Akantetapi juga punya ibu ran Reyvano." jawab Devan yang masih di dengar oleh Zizi yang berjalan di sampingnya.
"Punyaku?" gumam Zizi, ingin sekali dia tergelak, bila tidak sedang berada ditempat umum. Didalam hatinya sedang tertawa miris. Beberapa tahun lalu, Zizi selalu berjalan kaki dari kediaman Devan sampai ke tepi jalan raya. Dimana dirinya bisa menaiki kendaraan umum.
Sedangkan di rumah suaminya, memiliki puluhan koleksi mobil-mobil mewah. Namun, tiga bulan lebih Zivanna yang malang, tinggal di rumah mewah yang bagaikan neraka baginya. Zizi belum pernah manaiki salah satu dari mobil tersebut.
__ADS_1
"Seorang pembantu, tidak pantas menaiki mobilku."
ucapan keramat Devan yang masih sering terlintas dibenak Zizi.
Zivanna dilarang menaiki salah satu mobil miliknya. Akan tetapi Devan memberikan satu mobil mewah keluaran terbaru untuk Fiona. Bila Fiona dan para pelayan tidak mengatakan padanya. Maka, sampai hari ini pun Zivanna tidak akan tahu.
"Auuh!" teriak Zizi saat kakinya tersandung dengan kakinya sendiri. Bila Devan tidak cepat-cepat menangkap tubuh kecil itu. Maka Zivanna akan terjatuh ke atas lantai.
"Terima kasih!" ucap Zizi karena Devan sudah membantunya.
"Sama-sama! Apa yang kamu pikirkan? Kenapa bisa tersandung kakimu sendiri!" dari tadi Devan memang tidak mengetahui kalau Zizi berjalan sambil melamun. Sebab wanita itu mengigat kembali kisah masa lalunya.
"Tidak lagi memikirkan apa-apa, ayo!" ajak Zivanna berjalan lebih dulu. Lalu diikuti oleh Devan. Pria tersebut tidak ingin banyak bertanya, karena dia hanya bisa menduga. Kalau perubahan sikap istrinya itu, pasti ada hubungan dengan dirinya.
Sampai berada didalam pesawat pun. Zivanna tetap diam dan tidak mau berbicara sepatah katapun. Meskipun takut, tapi dia tahan sambil melihat Reyvano yang malah tertawa bahagia bisa menaiki petawat telbang. Itulah ucapan putranya sedari mulai memasuki pesawat. Untungnya didalamnya hanya ada mereka dan para pengawal Atmaja group.
"Tidurlah! Biar Kakak genggam tanganmu seperti dulu." ucap Devan langsung menautkan jari tangan mereka. Meskipun dia mengetahui kalau sang istri sedang marah kepadanya. Devan tetap mengengam tangan kecil Zizi yang mulai gemetaran begitu pesawat tersebut mulai berjalan.
Cup ...
"Jangan takut, tidak akan Kakak biarkan sesuatu terjadi pada kalian." ucap pria itu kembali mencuri menciumi kening istrinya. Dia pintar sekali, mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Zivanna yang benar-benar merasa ketakutan, mengikuti perkataan suaminya. Dia menyenderkan kepalanya pada pundak Devan dan memejamkan matanya.Tidak perduli dengan Devan yang sudah mencium keningnya.
*BERSAMBUNG* ...
.
.
.
.
Hayo, ada yang mau di cium juga nggak keningnya? Kalau mau, Mak bisa menyuruh Sekertaris Jimi melakukannya 😂 Ikuti terus ceritanya, ya 🤗 Setibanya di kota X. Kira-kira Zizi akan mengambil keputusan seperti apa 🤔🤔
Yuk, berikan dukungannya dulu, biar Mak author semangat juga nulisnya.
Like.
Vote.
Komentar.
Subscriber.
Hadiah bintang lima, kopi dan bunganya.😍 Terima kasih.😘😘😘
__ADS_1