
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Semua ini karena Devan, Bu. Tadinya aku mengira Zizi menjaga jarak seperti itu hanya karena perbuatan ku padanya. Namun, sepertinya dia juga menjaga jarak dari Ibu dan Ayah " berhenti sejenak sambil menatap putranya yang sedang memainkan permainan di atas karpet. Permainan tersebut baru saja diantar oleh Sekertaris Jimi.
"Zivanna memang sudah jauh dari kata berubah. Dia bukanlah gadis kecil yang suka bermanja seperti dulu. Putri ibu sangat hebat, dia mampu membesarkan anak kami seorang diri. Tidak ada sanak saudara tempatnya untuk mengadu, membuat dia menjaga jarak dengan kita semua." terdengar suara Devan begitu berat saat menceritakan hal tersebut.
Namun, walau bagaimanapun Devan harus menceritakan seperti apa penderitaan Zivanna saat jauh dari mereka semua.
"Tapi selama ini ayahmu sudah membantu ibu untuk mencarinya. Apa dia kecewa pada Ibu. Makanya dia terlihat dingin tidak sama seperti Zizi putri kecil ibu." Ibu Ellena tidak mampu menahan agar air matanya tidak menetes.
"Sayang, jangan berpikiran seperti itu. Zizi sedang tidak baik-baik saja. Dia seperti itu sebagai bentuk perlindungan dirinya. Kita tidak tahu kesulitan seperti apa saja yang sudah dia lalui selama berada di kota F." imbuh Ayah Dion mendekati sang istri lalu memeluknya. Saat ini mereka bertiga masih berada di ruang keluarga. Sedangkan Zivanna mungkin sedang istrirahat di dalam kamarnya.
"Tapi melihat dia menjaga jarak seperti itu, ibu merasa bersalah padanya. Selama ini diriku hidup serba berkecukupan. Sedangkan dia sampai berjualan kue hanya untuk mencukupi biaya hidup mereka berdua." semakin terisak-isak karena Ibu Ellena mengira Zizi marah kepadanya. Padahal putrinya hanya sedang menenangkan hatinya setelah sekian lama tidak bertemu dengan masa lalu.
"Ibu, ini semua bukan salahmu. Devan lebih merasa bersalah semenjak dia pergi dari rumah sakit sampai hari ini. Setiap malam aku tidak bisa tidur karena merasa khawatir dan merasa bersalah padanya. Tapi untuk saat ini lebih baik seperti ini. Setidaknya kita tahu kalau Zivanna dalam keadaan baik-baik saja."
Devan sangat mengerti kenapa Zizi seperti itu. Makanya dia pasrah saja yang terpenting dia sudah bisa bersama Zivanna dan juga putranya. Itu saja sudah lebih dari kata cukup.
"Biarkan dia tenang. Mungkin karena sudah lama tidak berjumpa makanya Zizi terlihat merasa cangung pada kita semua. Tapi apapun itu, benar kata Devan. Untuk saat ini lebih baik dia mendiamkan kita. Daripada kita harus kehilangannya lagi." sambung pria paruh baya itu melepaskan pelukannya dan meminta sang istri untuk melihat cucu mereka yang asik saja bermain.
__ADS_1
"Coba ibu lihat, seperti apa cucu kita. Dia tumbuh dengan sangat baik. Zivanna pergi dalam keadaan sakit dan hamil muda. Kala itu umurnya baru berumur sembilan belas tahun." kata Ayah Dion ikut melihat kearah sang cucu dengan perasaan iba. Ternyata perpisahan beliau dengan Marisa, yaitu ibu kandung Devan, harus melibatkan banyak hati yang tersakiti. Termasuk cucunya.
"Zizi hanya tamatan SMA. Saat pergi dia tidak membawa surat tamat belajar dan juga kartu identitasnya. Mana mungkin dia akan hidup dengan baik. Tamatan Sarjana dan dari keluarga terpandang saja, masih sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Apalagi dirinya." meskipun sedari tadi Ayah Dion banyak diam . Tapi dia sambil merenungi jika mereka yang berada di posisi Zivanna.
"Ibu pikir Zizi tidak sedih harus mengalami nasip seperti itu. Jadi wajar bila saat ini dia menjauhi kita. Anggap saja dia memang kecewa pada kita semua. Jadi jangan tanyakan apapun sebelum dia bercerita sendiri. Anggap saja tidak terjadi apa-apa." jelas Ayah Dion memberi pengertian pada sang istri.
Mendengar penuturan suaminya. Ibu Ellena pun mulai bisa berpikir dengan tenang. Mungkin karena beliau belum bisa menerima saja putri yang biasa bermanja padanya. Setelah hampir lima tahun tidak berjumpa malah seperti orang asing.
"Iya, kalian benar. Mungkin Zizi hanya ingin melindungi dirinya. Hem, tidak apa-apa. Nanti ibu akan memasak makanan kesukaannya. Semoga dia masih menyukainya." kata Ibu Ellena berdehem agar dia tidak menangis lagi.
Apa yang dikatakan oleh Devan dan suaminya benar. Mereka semua harus sabar menghadapi Zivanna yang saat ini. Entah apa yang Zizi pikirkan, karena dengan Devan juga terkadang dia biasa-biasa saja. Namun, terkadang hanya untuk menjawab pertanyaan Devan saja dia tidak mau.
"Baiklah, kalau begitu Devan ingin melihatnya." Devan berdiri dari sofa untuk melihat sang istri. Sekarang dia merasa lega, semuanya sudah dia ceritakan pada kedua orang tuanya. Lalu Devan berjalan mendekati putranya dan mengajaknya untuk kekamar agar Rey bisa istrirahat.
"Nda au, Ley cini aja." mengelengkan kepalanya tidak mau karena sedang asik bermain. "Ayah bobok aja Ley nda au." ucap Reyvano melanjutkan mainya lagi.
"Tapi---"
"Biarkan dia bermain disini, Nak. Ibu ingin menemaninya bermain." sela Ibu Ellena karena dia belum bisa melepaskan rasa rindunya pada sang cucu.
"Apa Ibu dan Ayah tidak mau tidur siang?" melihat jam pada pergelangan tangannya. Devan sangat tahu jika jam dua siang, waktu ibu mertuanya untuk beristirahat.
"Tidak, ibu ingin bermain dengan si tampan. Jika kamu ingin beristirahat, maka pergilah!" suruh wanita paruh baya itu yang juga mengerti mungkin Devan ingin membicarakan sesuatu dengan putrinya.
__ADS_1
"Iya, Bu. Devan hanya ingin melihat Zizi." kata Devan akhirnya membiarkan saja Reyvano bermain dengan ibu mertuanya.
"Huh! Karena kesalahanku, ibu harus kembali bersedih." gumam Devan sambil menaiki tangga menuju lantai atas tempat kamar mereka. Dari dulu sampai sekarang, tidak ada yang berubah. Lantai atas adalah tempat kamar Devan dan Zizi.
Namun, meskipun dua Minggu sekali Devan kembali ke rumah itu. Dia tidak pernah tidur di kamarnya sendiri. Termasuk rumah di pribadinya. Pria itu selalu menempati kamar tidur Zivanna. Untuk melepaskan rasa rindunya.
Cek ... lek ...
"Zizi, apa yang kamu lakukan?" Devan langsung kaget melihat kamar tersebut sudah berantakan karena sang istri sedang mengumpulkan barang-barang yang ada di dalamnya.
"Aku hanya lagi membereskan kamar ini. Jika tidak, malam ini bagaimana aku bisa tidur." menjawab dengan santai karena bagi dirinya itu bukanlah hal penting.
"Kamu bisa tinggal tidur, kenapa harus melepaskan semua barang-barang yang ada disini?" tidak paham apa yang sedang Zivanna lakukan terhadap semua barang-barang yang pernah dia berikan.
"Aku memang bisa tinggal tidur. Tapi aku tidak bisa melihat sampah-sampah ini berada di sekeliling ku." hardik Zivanna tiba-tiba saja emosi.
"Sampah bagaimana? Ini barang-barang penting yang memiliki kenangan indah antara kita berdua." seru Devan mengeluarkan kembali beberapa bingkai foto mereka berdua dan ada lagi barang-barang mahal yang setiap melakukan perjalanan bisnis, sengaja Devan beli untuk oleh-oleh buat Zivanna yang saat itu masih menjadi kekasihnya.
Lalu bagaimana mungkin hari ini Zivanna mengatakan kalau itu semua hanyalah sampah tidak berguna.
"Simpan kembali kedalam tempat itu!" perintah Zizi setengah berteriak. Untung saja tadi Reyvano tidak mau diajak oleh ayahnya untuk tidur siang.
"Zivanna!" kata Devan ikut berteria, dan berjalan mendekati Zivanna yang saat ini masih memegang satu buah bingkai foto mereka berdua. Terlihat di dalam foto tersebut Zizi sedang di gendong oleh Devan.
__ADS_1
*BERSAMBUNG ...🤗*