Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Kembalilah.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Kurang lebih tiga puluh menit. Mobil yang menjemput Tuan muda Atmaja tersebut, sudah tiba di halaman rumah mewah yang bergaya Eropa. Namum, di dalamnya suda di desain seperti rumah-rumah elite pada jaman sekarang.


Begitu mobilnya berhenti. Devan langsung keluar begitu saja, dia tidak menunggu pintu mobil di buka oleh pengawal yang sudah siap ingin melayaninya, Karena Pria itu memang tidak membawa barang apapun. Jadi bisa semau dirinya sendiri.


Melihat kedatangan Devan di tengah malam, membuat semua pelayan dan penjaga di sana merasa kaget. Masalahnya belum ada berita kalau tuan muda mereka akan kembali ke rumah itu dalam waktu dekat ini.


"Selamat malam Tuan Muda." sambut pelayan laki-laki yang sudah setengah baya, dia bekerja di sana bersama istrinya yang juga seorang pelayan kepercayaan di rumah tersebut.


"Iya malam juga, Paman. Apa ayah sudah tidur? Kelihatannya sepi sekali." tanya Devan yang berhenti sejenak saat berbicara dengan laki-laki yang di sebutnya paman. Saat ini mereka sedang berada di ruang keluarga.


"Benar sekali Tuan muda, Tuan Dion dan Nyonya Ellena baru saja tidur. Apa perlu Saya pangilkan?" tawar si lelaki baya, karena dia melihat jika Tuan muda nya sedang tidak baik-baik saja.


"Tidak usah, besok pagi saja. Sekarang paman kembalilah kekamar untuk istirahat." cegah Devan yang tidak mungkin langsung bertanya malam ini juga, karena sudah jam dua belas malam lewat.


Lalu diapun pergi ke lantai atas menuju kamarnya. Saat melewati kamar Zizi sebelum gadis itu dia nikahi. Devan berhenti di depan pintu kamar itu, dan tidak jadi pergi ke kamarnya sendiri. Dengan ragu-ragu diapun membuka pintunya yang ternyata tidak di kunci.


Cek...lek...


Deg...


Apabila berhubungan dengan sang istri, membuat rasa sakit itu datang dengan sendirinya. Setelah kembali menutup pintu tersebut Devan melangkah masuk di iringi hati yang hancur berkeping-keping. Pria itu pun berjalan mendekati salah satu bupet yang ada di kamar itu dan menatap Poto sang istri.


"Zi... sekarang kakak berada di kamar mu. Apa kamu tidak mau pulang?" berbicara pada figuran yang ada Poto Zizi sedang tertawa.


Poto tersebut Devan sendiri yang mengambil gambarnya, saat mereka pergi jalan-jalan. Dulu sebelum Devan mengajak Zivanna berpacaran. Hubungan keduanya memang sangat dekat. Meskipun dia pulang ke kota X hanya satu bulan sekali. Tapi hubungan itu tetap terjalin baik, walaupun hanya melalui komunikasi lewat jarak jauh.


Zizi yang belum pernah dekat dengan orang lain dan tidak pernah berpacaran. Langsung menyambut baik niat Kakak tirinya, karena dia memang belum memiliki pengalaman untuk membedakan yang namanya cinta.


"Bila kamu sedang berada di kota ini juga, maka kembalilah! Kakak menunggu mu." mau di rumahnya sendiri ataupun di rumah orang tuanya. Nyatanya Devan tetap tidak bisa melupakan sang istri yang ada bayangan masa lalu semakin menghantui Pria tersebut.

__ADS_1


Larut menyadari semua perbuatannya. Malam ini Devan kembali lagi tidak tidur semalaman. Waktunya habis untuk mengkhawatirkan Zizi dan memikirkan bagaimana saat menjelaskan pada ibu mertua sekaligus ibu tirinya. Apa yang akan dia katakan kepada mereka. Devan hanya takut bila ibu Ellena memisahkan dia dan Zivanna setelah tahu anaknya dijadikan alat balas dendam.


"Huh!.. sudah jam enam!" mengusap wajahnya dengan kasar.


"Zivanna... kamu ada dimana?" kembali menangis. Padahal semalaman ini dia sudah meratapi gadis tersebut.


"Kemana Kakak harus mencari mu? Apakah kalian baik-baik saja?" semakin terpuruk bila mengingat sang istri pergi tidak hanya sendiri. Tapi bersama calon anaknya, belum lagi selain membawa penyakit yang baru Devan ketahui. Zizi tidak membawa bekal apapun, baju saja hanya pakaian dari rumah sakit.


"Hick... hick... aku benci pada diriku sendiri!" seru Devan menarik rambutnya berulang kali. Dari tadi malam sampai saat ini Pria tersebut cuma duduk di atas lantai samping ranjang tempat istrinya istrirahat selama beberapa tahun terakhir, dan hanya menyenderkan tubuhnya pada pinggiran tempat tidur itu.


"Coba aku tidak balas dendam pada Ibu Ellena. Maka aku tidak akan seperti ini. Aku tidak akan menyakiti istri dan anakku sendiri." gara-gara meratapi lagi kesalahannya membuat Devan belum jadi membersihkan dirinya. Sampai dia mendengar suara ketukan dari luar.


Tok..


Tok...


"Devan... ini Ibu! Apa kamu sudah bangun? Bila sudah, segera bersihkan dirimu. Ayah sudah menunggu di meja makan." pangil Ibu Ellena seperti mana ibu kandungnya sendiri.


"Em... Iya Bu. Aku baru saja bangun. Tolong katakan pada Ayah, jangan berangkat ke perusahaan dulu." Devan menjawab sambil mengambil handuk di dalam lemari yang terdapat ada pakainya. Hari sebelum dia membawa istrinya ke kota Y, Devan memang sudah tidur dan membawa beberapa pakainya ke kamar itu.


Tidak sampai lima belas menit Devan sudah selesai membersihkan dirinya. Lalu dia mengambil pakaian ganti dan langsung memakainya begitu saja. Hari ini Devan hanya memakai kameja putih yang berlengan panjang dan ada motif hitam di bagian tengahnya. Tidak seperti hari biasa yang selalu rapi memakai dasi dan jas kantoran.


Merasa sudah siap untuk menghadapi kenyataan apa saja, asalkan tidak di suruh menceraikan sang istri. Pria itu berjalan turun ke lantai bawah menyusul orang tuanya yang sudah menunggu di meja makan.


"Selamat pagi Ayah, Bu!" sapa Devan tidak seperti biasanya, karena waktu yang sudah-sudah dia hanya akan menyapa ayahnya saja.


"Pagi juga, Nak!" Ibu Ellena ikut menjawab dengan senang. Untuk pertama kali anak tirinya menyapa seperti itu. Beliau hanya berpikir mungkin karena Devan sudah menjadi menantunya.


"Pagi juga, Dev! Baru kemarin malam kamu menelepon dan mengatakan merindukan Ayah, tau-taunya tadi malam sudah kembali. Kenapa tidak sekalian membawa Zizi? Akhir-akhir ini ibumu selalu susah tidur memikirkan keadaan putrinya." ujar Ayah Dion yang juga belum mengetahui kalau putranya sudah melakukan hal besar yang mungkin saja akan berakibat patal untuk rumah tangganya sendiri.


"Ayah, ada hal yang---"


"Sudah, sudah! Ayah habiskan saja sarapanya. Setelah itu baru bertanya. Devan tentunya lelah kurang istirahat. Jadi biarkan dia mengisi perutnya lebih dulu." Ibu Ellena yang tahu ada gurat lelah di muka menantunya, langsung saja mengajak sarapan labih dulu. Meskipun dia sendiri memiliki puluhan pertanyaan tentang keadaan putrinya.


"Agh... iya, Ibu benar. Ayo kita bicarakan setelah sarapan." ajak Ayah Dion membenarkan apa kata istrinya, karena di keluarga Atmaja tidak pernah membahas apapun bila sedang berada di meja makan.

__ADS_1


Tidak banyak bicara Devan menurut saja. Meskipun dia hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya saja. Bagaimana mungkin dia bisa makan dengan tenang. Sedangkan istrinya tidak tahu sudah makan atau belum.


Hampir tujuh belas menit kemudian.


Mereka bertiga sudah berkumpul di ruang keluarga. Devan sengaja menunggu ibu Ellena selesai membereskan bekas mereka sarapan.


"Ibu sudah ada, Dev. Sekarang ayo katakan apa yang membuatmu kembali kesini sendirian?" ucap Ayah Dion yang sudah merasa curiga pada sang anak, karena tidak membawa Zizi pulang bersamanya.


Devan pun langsung melihat kearah pasangan baya tersebut. Sebelum dia menyakinkan dirinya sudah siap untuk menerima makian dari dua orang itu.



"Ayah... Ibu! Maaf sebelumnya ak--aku, aku ingin minta maaf pada kalian berdua." Devan tegagap saat menyebutkan kata maaf. Belum menjelaskan semuanya dia sudah merasa gugup.


"Maaf buat apa, Nak? Jangan membuat Ibu takut! Putri ibu baik-baik saja' kan," meskipun belum tahu kenapa Devan minta maaf pada mereka. Tapi wanita baya itu dapat merasakan kalau sudah terjadi sesuatu pada putrinya, karena sudah dua hari Zivanna tidak memberi kabar. Biasanya gadis itu selalu menelepon beliau walaupun hanya sebentar.


"Devan ayo jawab, minta maaf untuk apa?" ayah Dion ikut mendesak sang anak, karena Devan malah diam tidak menjawab pertanyaan istrinya.


"Huuh... baiklah! Sebelum aku menjawab. Tolong kalian jawab dulu pertanyaan ku." setelah ingat apa yang terjadi pada Almarhum ibunya. Membuat keberanian Devan kembali lagi.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" seru lelaki baya itu memperbaiki duduknya.


"Apa benar kalau kalian berdua yang mengkhianati ibu ku?"


.


.


.


.


...Yah... di gantung lagi 😂 Maaf ya, Mak author nggak sengaja.🤗 Maaf juga sehari kemarin libur tidak bisa up, karena anak Mak sedang sakit.😦 Terimakasih buat kalian semua yang selalu setia menanti cerita receh ini. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya. Hari ini kita mulai menghitung Giveaway ya. Terimakasih.🙏😘😘😘😘...


__ADS_1


__ADS_2