
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Eum ... ini sudah jam berapa?" Zizi mengeliat kecil, sambil mengucek matanya yang masih mengantuk. Namun, setelah ingat dia memiliki anak. Mau tidak mau mendorong . untuk bangun.
"Rey!" gumamnya begitu membuka mata. "Reyvano!" Zivanna kembali menyebutkan nama sang putra.
"Astaga! Rey kemana? Tidak mungkin Devan membawanya kabur 'kan?" pernah dibohongi. Membuat wanita tersebut langsung berprasangka buruk terhadap laki-laki yang masih berstatus suaminya.
"Rey!" berlari kecil mencari putranya yang saat ini, tengah memasak bersama ayahnya.
Tidak berpikir lain lagi, Zizi langsung bagun dari pembaringannya lalu mencari ke dalam kamar mandi lebih dulu. Setelah tidak ada disana, barulah dia mencari keluar dari kamar. Tidak perduli kalau dia belum mandi. Zivanna terus saja berlari menuruni tangga tersebut. Dia akan mencari Bibi Marta, karena Zizi sangat yakin kalau kepala pelayan itu mengetahui kemana Devan membawa kabur putranya.
Tap ...
Tap ...
"Bibi, Bibi Marta!" sambil menuruni tangga Zizi sibuk berteriak memanggil Bibi Marta.
"Bibi Marta, Bibi, Bibi Marta!" kembali berteriak. Jantung Zizi seakan mau berhenti. Pikirannya saat ini pasti Devan membawa kabur Reyvano. Lalu pria itu akan melarang Zizi untuk bertemu anaknya sendiri.
"Brengsek! Aku sudah ditipu lagi." mengumpat kesal karena tidak menemukan siapa-siapa dirumah besar itu.
"Bibi, Bibi Marta! Dimana kalian?" Zizi yang terlalu khawatir tidak berpikir kalau putranya sedang berada didalam dapur.
Ibu muda itu langsung berlari kearah luar karena dia ingin melihat di kediaman Devan yang lama. Zivanna menduga pasti Reyvano dibawa ke situ.
Braaak ...
Zivanna membuka pintu besar rumah itu dengan kasar. Namun, begitu pintunya terbuka. Wanita itu dikagetkan oleh Sekertaris Jimi yang baru saja datang membawa beberapa permainan anak-anak ditangannya.
"Nona muda!" Sekertaris Jimi kaget melihat penampilan si nona mudanya masih berantakan. Didalam hatinya menduga-duga apa yang telah terjadi. Kenapa Zivanna berlari seperti orang ketakutan.
"Sekertaris Jimi, ayo antar aku menemui putraku. Kemana tuan mudamu membawanya?" sentak Zizi dengan tatapan marah. Sekertaris Jimi adalah tangan kanan suaminya. Sudah jelas mengetahui apa saja rencana Devan. Dugaan Zivanna yang mengira mereka bekerjasama. Padahal yang bekerjasama adalah anak dan suaminya sendiri.
"Maaf, Nona. Tuan muda ke---"
"Tidak usah menjawab! Aku sudah tahu semuanya." langsung memotong ucapan sekertaris tersebut. Tidak ada kata-kata Saya lagi. Kata Saya. sudah dia gantikan dengan kata Aku.
"Ternyata kalian bersekongkol untuk merebut anakku! Benar-benar tidak punya hati!" terus memaki semaunya. Sampai-sampai para pengawal yang berjaga diluar tidak berani melihat kearah nona muda, mereka.
"Bagaimana bila adikmu yang berada di posisiku? Apa kamu akan membiarkan dia kembali disakiti?" hardik Zizi benar-benar emosi.
"Ayo cepat, antar aku menemui tuan muda mu. Akan ku cabik-cabik dia. Berani-beraninya menculik putraku! Dia pikir, dia itu siapa? Hah, ayo jawab!" tangan yang tadi menjuntai ke bawah sekarang sudah berada dipingang kecilnya.
Didalam hati, Sekertaris Jimi sedang mengingat-ingat satu Minggu ini dia bermimpi apa. Kenapa pagi-pagi sudah dimarahi habis-habisan oleh nona mudanya.
"Kenapa diam? Ayo cepat antarkan aku padanya." Zivanna kembali marah. Melihat si tangan kanan suaminya hanya diam saja.
__ADS_1
"Mari ikut Saya, Nona muda." Sekertaris Jimi langsung berjalan masuk kedalam rumah, karena pintu rumah tersebut sudah terbuka dengan lebar.
Tidak bertanya Zizi mengikuti langkah Sekertaris Jimi. Bukan melangkah, tepatnya berlari kecil, karena Sekertaris Jimi orangnya bertubuh tinggi besar. Sedangkan dirinya, meskipun sudah memiliki anak, tetap hanya gadis kecil bagi Devan. Gadis kecil yang sudah merubahnya tidak menjadi Casanova lagi.
"Eh, tunggu, tunggu! Ini kenapa berjalan masuk? Pasti dia ingin mengurungku!" Zizi barucap didalam hatinya, baru sadar kenapa mereka berjalan masuk, bukan mengarah menuju mobil.
"Sekertaris Jimi, kenapa kita malah masuk?" berlari agar bisa sejejer dengan Sekertaris menyebalkan itu. Hari ini Zivanna sudah menganggap Sekertaris Jimi salah satu musuh barunya.
Berhenti dan menoleh kearah nona mudanya, lalu menjawab pertanyaan tersebut. "Bukannya Nona ingin bertemu tuan muda?" bergantian Sekertaris Jimi yang bertanya.
Tidak mau menjawab lagi. Zivanna hanya menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu ayo! Saya akan mengantarkan Anda pada mereka." menghela nafas panjang, lalu dihembuskan lagi. Sekarang Sekertaris itu baru mengerti. Kalau Zivanna pasti baru bangun tidur dan tidak tahu kalau anak dan suaminya berada di dalam dapur bersih.
"Ba--ba--baiklah! Ayo cepat antarkan aku kesana!" mulai memiliki persaan tidak enak. Namun, masih menampilkan wajah juteknya.
Dari kejauhan, suara Rey dan Devan mulai terdengar. Akan tetapi belum jelas. Zivanna masih mendengarnya samar-samar. Sehingga begitu sampai di dalam dapur. Mata Zizi langsung membola keluar.
"Apa yang terjadi?" tanya Zizi heran melihat tempat tersebut berantakan oleh mainan anak-anak dan tepung terigu.
"Ibu tudah banun?" begitu melihat ibunya. Reyvano langsung berlari mendekati.
"Sudah, ibu sudah bangun. Rey sedang apa disini?" Zivanna menunduk untuk menyamakan dengan tubuh putranya.
"Ley, agi matak-matak tama, Ayah." tersenyum bangga karena hari ini dia dan ayahnya sudah menghancurkan dapur Bibi Marta, seperti kapal pecah.
"Apa! Masak-masak?" Ibu muda itu meluruskan lagi tubuhnya dan langsung melihat keseluruhan ruangan didalam dapur. Masak-masak seperti apa yang dimaksudkan oleh sang putra. Sehingga tempatnya bisa berantakan semua. Bukan hanya oleh mainan, tapi dilantai juga sudah dipenuhi tumpahan tepung terigu. Melihat tepung terigu yang tercecer. Zizi menatap kebawah, karena dia sudah tahu siapa tersangkanya.
"Jadi dia tidak membawa Reyvano pergi dari sini? Kenapa Sekertaris Jimi diam saja?"
Untuk beberapa saat Zivanna terdiam sambil melirik Sekertaris Jimi.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tersenyum kecil mendengar Rey menuduh dirinya yang menyuruh, karena sekarang dia sudah menjadi tersangka pertama. Devan bertanya lebih dulu sebelum sang istri menanyakan apa yang telah terjadi. Sambil melepaskan celemek dari tubuhnya.
"Apa yang kalian lakukan disini?" saat berbicara dengan Devan. Wanita itu kembali menampilkan wajah juteknya meskipun sudah dipanggil sayang sekalipun. Berbeda saat berbicara dengan putra mereka.
"Kami hanya memasak, makanan kesukaanmu. Memangnya kenapa?" dari wajah Sekertaris Jimi yang melihat kearahnya. Devan sudah tahu apa yang telah terjadi.
"Apa kamu khawatir, kalau Kakak akan membawa Rey pergi dari sini?" bertanya sambil berjalan mendekati Zizi yang masih memakai celana jeans panjang dan kaos berlengan pendek. Bila orang lain yang melihatnya, pasti tidak akan percaya kalau Zivanna sudah memiliki anak dan suami.
"Iya, aku kira kamu telah membawanya pergi dari sini." jawab Zizi jujur, karena memang dia takut Devan membawa kabur Reyvano.
"Huh!" sebelum mengatakan sesuatu. Devan menghela nafas panjang, sebagai tanda kalau dia ingin melepaskan beban berat dihatinya.
"Mungkin apapun yang Kakak katakan. Kamu sudah tidak akan pernah percaya lagi. Tapi ketahuilah, Kakak tidak akan pernah melakukan hal yang ada didalam pikiranmu." kata Devan sudah berdiri dihadapan Zivanna, dan hanya menyisakan jarak beberapa senti saja.
"Entahlah! Sana, sana! Jangan terlalu dekat." mengusir seperti apa Devan pernah mengusir dirinya dulu.
"Kembalilah ke atas. Bersihkan dirimu! Setelah itu kita makan bersama. Kakak sudah memasak makanan kesukaanmu." kata Devan yang tidak ambil hati apapun yang Zizi katakan. Saat ini dia hanya ingin memanfaatkan waktu kebersamaan mereka.
"Ayah, nda andi tama ibu? Ley tuka andi tama ibu, iya Tan, Bu?" Reyvano bertanya pada ayah dan ibunya sekaligus. Anak itu tidak merasa bersalah sama sekali, karena apa yang dia katakan adalah benar.
__ADS_1
"Hem, maaf Tuan Muda. Saya ingin mengantarkan permainan tuan muda kecil." Sekertaris Jimi berdehem agar sang bos tidak salah tingkah setelah mendengar pertanyaan dari tuan muda kecilnya.
"Iya, bawa sini!" Devan mengulurkan tangannya untuk menerima permainan Rey yang dia pesan.
"Sayang, ini permainan baru untukmu." Pria itu berjongkok dihadapan sang putra. Devan bukan tidak ingin membahas mandi bersama sang istri. Namun, kata-kata seperti itu sama saja membuat Zivanna merasa tidak nyaman.
"Ainan balu?" Reyvano langsung menerima salah satu permainan tersebut. Dia juga sudah melupakan pertanyaannya tadi.
"Iya, ini permainan untuk anak ayah yang paling tampan. Rey ikut ibu dulu, ya? Ayah sama Om Jimi, ada sedikit pekerjaan." seru Devan mengelus kepala putranya.
"Iya, Ley itut ibu aja," anak kecil bila sudah diberi permainan kesukaannya, tentu akan selalu bilang, iya. Namun, berbeda dengan Zizi. Apapun bentuk kebaikan yang Devan lakukan saat ini tetap tidak membuatnya tersentuh.
"Eum ... kembalilah keatas. Semua keperluanmu sudah disiapkan oleh Bibi Marta. Kakak ada pekerjaan sebentar." kembali menyuruh untuk kedua kalinya.
"Baiklah! Aku akan mandi sekarang. Tapi jika kamu ingin mengajakku sarapan. Maka jangan disini. Aku tidak mau makan di meja makan bersama mu." pungkas Zizi sambil meninggalkan tempat tersebut yang saat ini masih berantakan.
"Aghkk!" Devan mengusap wajahnya kasar.
"Zi, Kakak benar-benar menyesal, dengan apa yang sudah kakak lakukan. Sakit yang kamu rasakan, Kakak juga merasakannya. Salah! Kakak memang salah, padamu. Tapi tolong jangan seperti ini. Kakak sudah tidak sanggup dengan semua ini."
Devan berbicara didalam hatinya sambil melihat punggung Zizi dan sang putra. menjauh dari tempat itu.
"Bibi Marta, tolong bawa makanan ini keatas saja. Nanti Saya akan menyusul kesana." ucap Devan melihat kedatangan kepala pelayan setianya itu.
"Baik Tuan muda." jawab wanita paruh baya itu yang hanya bertugas mengawasi saja, karena yang mengerjakannya adalah pelayan lain.
"Jimi, ayo keruangan kerja ku." Devan berjalan lebih dulu, diikuti oleh Sekertaris Jimi di belakangnya.
Cek ... Lek ...
Setelah mendekati pintu ruangan kerja Devan yang berada di rumah tersebut. Sekertaris Jimi berjalan lebih dulu untuk membukakan pintunya.
"Bagaimana? Apa sudah tahu siapa yang membantu Bara?" langsung saja bertanya begitu mereka sudah sama-sama duduk.
"Sudah, Tuan muda. Ini semua adalah perbuatan Rick. Dia yang mengeluarkan Bara dari penjara dan juga yang sudah memberikan bantuan kepadanya." terang Jimi sudah mendapatkan informasi.
"Apa dia sudah ditangkap?"
"Untuk saat ini masih dilakukan pengejaran. Tadi malam, begitu Bara kalah. Dia langsung melarikan diri dari Apartemennya." meskipun Sekertaris Jimi tidak turun tangan langsung. Akan tetapi para anak buah Atmaja group sudah melakukan tugasnya masing-masing.
"Semoga dia cepat tertangkap. O'ya besok pagi, jam tujuh kita sudah terbang ke kota X. Sepertinya nona muda kalian belum bisa menerima rumah ini." kata Devan terlihat gelisah.
"Baik, Tuan muda. Saya akan mengurus semuanya. Sekarang bila tidak ada hal lainnya lagi. Saya permisi karena Saya ingin menghadiri acara pemakaman Andes." Sekertaris Jimi yang memiliki banyak tanggung jawab. Tentu lebih sibuk daripada bos Atmaja group nya.
"Pergilah! Tolong sampaikan mohon maaf ku pada istri dan kedua anaknya. Katakan saja, setelah masalah rumah tangga ku selesai. Aku akan kesana." tadi sebelum pergi membelikan permainan yang baru untuk Reyvano. Jimi sudah memberikan laporan kalau Devan tidak bisa menghadiri pemakaman pengawal Atmaja group, karena Rick belum tertangkap. Orang yang menjadi dalang dalam penyerangan tadi malam.
"Baik, Tuan muda. Saya akan menyampaikannya." Sekertaris Jimi berdiri dari sofa lalu membungkukkan kepalanya sebelum meninggal ruangan tersebut.
Setelah kepergian Sekertaris Jimi. Devan masih duduk sendirian didalam ruangannya.
"Semoga kamu merubah keputusan mu, untuk berpisah dari kakak, Zi." gumam Devan yang kembali merasa tidak tenang
__ADS_1