
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Begitu waktu yang di tentukan sudah cukup. Gadis muda yang bernama Zivanna Lois langsung dibawa kedalam ruang operasi. Tidak ada suami maupun kerabat dekat yang menemaninya, kecuali Bibi Emi dan Bibi Husna.
Kedua wanita paruh baya itu hanya bisa berdo'a semoga Zizi baik-baik saja. Meskipun sebelum gadis itu dibawa masuk. Dokter yang bertugas mengoperasi nya telah menjelaskan secara detail. Agar tidak disalahkan bila terjadi sesuatu selama pasien berada di ruang operasi. Bibi Emi dan Bibi Husna menjadi penganti dari pihak keluarga. Mereka berdualah yang menanda tangani semua berkas-berkas dari rumah sakit.
"Husna, aku takut sekali." Bibi Emi sedari tadi tidak bisa tenang setelah mendengar pesan Zizi bila terjadi sesuatu padanya.
"Tenanglah! Zivanna adalah gadis yang kuat. Dia pasti bisa melewati semuanya. Mari kita sama-sama berdo'a agar dia dan calon cucu kita diberi keselamatan." kata Bibi Husna masih bisa tenang karena dia belum tahu kalau Zivanna sudah berpesan bila terjadi sesuatu padanya. Agar mereka menyerahkan anaknya pada Kevin.
"Nona Zizi, Saya aka mulai menyuntikkan obat biusnya. Bila Anda ingin berdo'a, maka lakukanlah sekarang. Kami tidak bisa mengoperasi Anda hanya setengah-setengah, karena kita harus melakukan pengecekan." dokter tersebut mengingatkan kembali. Padahal Zivanna sudah tahu kalau dia akan dibius total.
"Hem, iya, Dok. Terima kasih! Bila hal yang Dokter takutkan terjadi. Tolong selamatkan nyawa anak Saya saja." seru Zizi yang sudah ikhlas apapun yang terjadi pada dirinya.
"Semoga Saya bisa menyelamatkan kalian berdua, Nona. Jika Anda sudah siap, kita lakukan sekarang."
__ADS_1
Zivanna tidak menjawab. Tapi dia memberi isyarat dengan anggukan kepala kalau dirinya sudah siap. Mendapatkan persetujuan dari pemilik tubuh. Dokter tersebut langsung mengarahkan jarum suntik yang telah diisi obat bius.
"Auuh!" suara Zizi merintih saat jarum sudah di suntikan dari tulang belakangnya. Tidak lama setelah itu kembali lagi berlanjut pembiusan pada bagian lain. Agar dia bisa hilang kesadarannya secara total.
"Ibu, maafkan aku tidak bisa membahagiakanmu. Bila operasi ini tidak berjalan lancar. Aku titip anakku pada kalian, karena aku takut Devan akan membuangnya. Seperti dia membuang ku."
Ya Tuhan! Tolong selamatkan nyawa, anakku. Bila terjadi sesuatu, padaku. tolong pertemukan dia dengan orang-orang baik dan menyanyagi nya dengan tulus."
Do'a dan harapan Zivanna sebelum menutup mata yang di sertai air mata.
Gadis malang itu meneteskan air mata mengikuti kesadarannya yang juga menghilang. Epek dari obat bius yang di suntik oleh dokter khusus. Untuk selanjutnya dia tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padanya.
Tangan mereka memang sibuk. Namun, mulut mereka diam seribu bahasa. Bila memerlukan sesuatu mereka hanya tinggal menengadahkan tangannya. Lalu para perawat khusus pun akan memberikan alat tersebut. Bila ada keringat di pelipis mereka, yang bertugas menyekanya juga para perawat.
"Dokter, sepertinya tekanan darahnya menurun drastis." ucap dokter muda yang bertugas mengamati tekanan darah pasien.
"Apa! Bagaimana bisa? Cepat persiapkan tindakan selanjutnya." perintah satu orang dokter laki-laki, yang menjadi pemimpin selama operasi nya berlangsung.
Entah apa yang terjadi, sehingga sudah ada dua jam lamanya, belum juga terdengar suara tangisan bayi. Sore pun sudah berganti menjadi malam. Suami Bibi Husna dan Bibi Emi juga sudah datang menyusul Istri mereka. Ada juga beberapa orang tetangga lainnya yang datang untuk menjenguk Zizi.
__ADS_1
"Sekarang lakukan tindakan keempat. Kita tidak memiliki pilihan lain. Selain menyelamatkan nyawa anaknya lebih dulu." ucap dokter yang menjadi pemimpinnya.
"Dokter, darahnya sudah habis dua kantong. Tapi kenapa tekanan darahnya tidak mau naik?" kata perawat yang bertugas memberikan stok darah pada dokter di sampingnya.
"Itu biasa terjadi pada pasien muda sepertinya. Apalagi sebelum ini sudah dilakukan operasi pengangkatan sel kanker." jawab dokter yang tadi ditanya.
"Saya akan mengeluarkan bayi nya sekarang!" seru dokter bedah yang sudah berhasil membelah perut Zivanna. Benar saja tidak lama setelah itu terdengarlah suara bayi menangis.
"Ooeee ... ooeee ..."
Suara nyaring dari tangisan bayi langsung terdengar setelah bayinya di keluarkan oleh dokter dalam keadaan selamat.
"Wah, bayinya tampan sekali." puji salah satu dari mereka
"Bertahanlah, Nona. Setidaknya demi putra Anda. Kami akan berusaha semampu kami." sekarang tugas selanjutnya beralih pada dokter spesialis kanker yang pernah mengoperasi Zizi hampir satu tahun lalu.
"Letakan bayi itu pada dada ibunya! Agar Nona Zivanna bisa merasakan kalau putranya sudah lahir." perintah Dokter kandungan yang merupakan seorang wanita.
"Sayang, jagoan ibu Zivanna. Do'a kan agar ibumu bisa bertahan, ya, Nak." ucap dokter wanita itu meneteskan air matanya, karena tidak hanya para keluarga yang merasa cemas. Para dokter yang bertugas pun juga merasa cemas bila mereka gagal menolong nyawa pasien nya.
__ADS_1