
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Dengan gemetaran Zivanna berjalan mendekati ibu angkatnya. Tubuh wanita baya itu sudah di pasang beberapa alat, guna membantunya agar tetap bertahan hidup.
"Ibu!" pangil Zivanna dengan suara lirih dan air matanya. Tiba di samping ranjang sang ibu. Zizi duduk di kursi yang sudah di siapakan.
"Apa ibu bisa mendengar ku?" kembali lagi menangis, tidak sanggup rasanya melihat wanita tersebut hanya terbujur kaku tidak bisa merespon ucapannya lagi.
"Ibu ... tolong bertahalah!" untuk bicara saja Zivanna sudah tidak mampu. Namun, Zizi harus tetap kuat karena kalau dia sakit siapa yang akan mengurus mereka berdua.
Selama ini mereka berdua saling menguatkan. Saling melengkapi dan saling menjaga satu sama lain, karena sama-sama tidak memiliki suami untuk melindungi keduanya. Tapi hari ini Zizi hanya sendiri, dia tidak memiliki teman untuk berbagi kesedihan.
"Ibu, aku butuh ibu di samping ku. Tolong jangan membuatku takut, Bu." bila ada yang mendengar ratapan Zizi, maka orang tersebut tidak akan tega. Sampai beberapa saat kemudian terlihat Ibu Eris meneteskan air matanya.
"Ibu! Ibu bisa mendengar aku 'kan?" tanya Zizi dengan hati sedikit lega meskipun ibunya belum bangun. Tapi setidaknya wanita paruh baya itu mendengar ucapannya.
"Ibu bertahalah! Aku tahu ibu adalah wanita yang kuat." kembali lagi mengajak mengobrol sesuai arahan perawat yang membantunya tadi.
Tapi sayang setelah Ibu Eris meneteskan air matanya lagi. Alat monitor yang ada di dalam ruangan tersebut berbunyi sangat nyaring. Sehingga para dokter yang berjaga langsung berlari kesana untuk memeriksa keadaan pasien mereka.
"Dokter! Kenapa alat itu berbunyi sangat nyaring? Bagaimana jika menganggu ibu, ku?" Zivanna yang belum tahu terlihat biasa saja. Namun, berbeda dengan para dokter, mereka sibuk melakukan tindakan upaya untuk penyelamatan.
"Cepat bunyikan alarm pemberitahuan darurat!" perintah dokter muda yang tidak menghiraukan pertanyaan Zivanna karena dia sedang di liputi rasa cemas.
Mendengar kata Darurat barulah Zizi paham kalau sesuatu telah terjadi pada ibunya.
"Dokter apa yang terjadi? Ibu Saya akan baik- baik saja kan?" Zivanna kembali bertanya pada dokter satunya lagi.
__ADS_1
"Maaf Nona. Tolong Anda keluar dulu dari sini. Kami sedang berusaha untuk menyelamatkan Ibu Anda." setengah perintah dan juga permintaan dokter itu katakan.
"Tapi---"
"Nona tolong jangan mempersulit kami!" tegas seorang dokter laki-laki yang baru saja datang.
"Ba--ba--baiklah! Saya akan keluar. Tapi tolong selamatkan nyawa Ibu Saya." tidak menjawab permintaan Zizi. Salah satu dokter tersebut sudah mempersilahkan agar Zivanna segera keluar dari sana dan pintunya pun langsung di tutup.
"Ibu ... tolong, tolong bertahalah! Aku mohon Bu, demi cucu ibu. Tolong jangan tinggalkan aku sendirian." tidak kuasa menahan kesedihannya Zivanna sampai duduk di atas lantai sambil menyebut nama sang ibu.
"Zizi!"
Mendengar namanya di sebut seseorang, membuat wanita itu mendongak keatas, dan betapa kagetnya dia setelah tahu siapa yang memangilnya.
"Ke--kevin!" kenapa kamu bisa ada di sini?" Zizi menghapus air matanya, tapi isakan kecil masih bisa di dengar oleh laki-laki itu.
"Huuh! Tidak perlu bertanya, kenapa aku bisa berada di sini. Aku heran, di mana saja kita bertemu. Pasti dirimu sedang menangis." mulutnya berkata demikian. Namun, tangannya membantu Zizi berdiri dari lantai.
"Kev---"
Lalu Zivanna pun menerima dan langsung meminumnya. "Terima kasih!" Zizi mengembalikan botol tersebut.
"Hem!" Kevin hanya berdehem karena dia bingung ingin memulai dari mana. Beberapa bulan tidak bertemu Zizi membuatnya merasa cangung.
"Kev, kamu kenapa bisa ada di sini?" Zizi kembali bertanya karena tadi Kevin belum menjawab pertanyaan nya.
"Aku sedang menj---"
Cek...lek...
Pintu ruang ICU di buka cukup keras. Terlihat perawat perempuan berjalan keluar dengan buru-buru.
__ADS_1
"Nona Zizi, ibu Eris ingin bertemu dengan Anda." ucap perawat tersebut. Nampak di wajahnya sedang terlihat khwatir.
"Apa, ibu sudah sadar!" tidak menghiraukan Kevin, gadis itu langsung berjalan masuk untuk menemui sang ibu yang ingin bertemu dengan nya. Tapi meskipun tidak di hiraukan oleh Zizi. Kevin tetap mengikuti masuk, karena takut terjadi sesuatu pada gadis yang pernah dia sukai.
"Ibu, ibu sudah sadar. Aku sangat takut, Bu." begitu mendekat Zivanna langsung menangis memeluk wanita tersebut. Dia tidak perduli dengan alat yang menghalangi mereka berdua.
"Sayang! Zizi putri, Ibu. Jangan menagis, Nak." jawab Ibu Eris yang hanya bisa bicara dengan suara lemahnya.
"Bagaimana mungkin Zizi tidak menangis, melihat ibu seperti ini."
"Dengarkan ibu baik-baik! Setiap pertemuan maka akan ada perpisahan. Ibu sangat bahagia, di akhir seperti ini ibu masih memiliki putri seperti mu." terdengar suara wanita tersebut semakin melemah.
Sementara para dokter, perawat dan Kevin hanya ikut sedih mendengar percakapan antara ibu dan anak tersebut. Namun, mereka hanya diam menyaksikan karena tidak tahu apa yang ingin wanita paruh baya itu katakan.
"Apa maksud ibu di akhir seperti ini?" tanya Zivanna semakin menagis.
"Maafkan ibu tidak bisa lagi menemani mu dan cucu ibu. Tetaplah menjadi Zizi seperti sekarang, kuat tidak pernah mengeluh. Jangan menyerah dengan keadaan. Percayalah pada takdir yang sudah di gariskan untuk kita." Wanita paruh baya itu terlihat baik-baik saja. Dia tidak meneteskan air matanya hanya dari suaranya saja semakin lemah.
"Tidak! Ibu akan selalu menemani ku. Jangan berbicara seperti itu. Ibu pasti akan sembuh, percaya lah. Para dokter ini pasti bisa menyembuhkan ibu." Zivanna mengelengkan kepalanya tidak ingin mendengar sang ibu berbicara seperti itu lagi.
"Ti--ti--dak Nak, ibu su--su--dah tidak kuat lagi. Tolong ja--jaga dirimu dan cucu ibu." suara Ibu Eris tidak hanya semakin lemah tapi juga terbata-bata.
"Tidak Bu, ibu tidak boleh seperti ini." Saat Zizi masih berbicara. Alat monitor sudah menunjukkan nol% pertanda tubuh yang terhubung dengan alat tersebut sudah tidak memiliki nyawa.
"Ibu ... ibu masih bisa mendengar aku 'kan?" pangil gadis itu mulai histeris karena melihat ibunya sudah menutup mata.
"Ibu bagun Bu. Ayo bangun, jangan tinggalkan Zizi." Zizi terus menggoyangkan tubuh yang sudah tidak bernyawa. Berharap agar sang ibu kembali bangun.
Semua yang ada di dalam ruangan tersebut. Ikut menangis melihat Zivanna terus berusaha membangunkan ibunya. Termasuk Kevin. Pemuda itu berjalan mendekati Zizi. Sungguh dia tidak tega melihatnya.
"Tidak Bu! Ibu jangan tinggalkan aku, Bu" Zivanna yang sudah tidak mampu menahan sesak karena terlalu sedih langsung pingsan. Untung saja ada Kevin yang dengan sigap menangkap tubuhnya.
__ADS_1
"Dokter, tolong urus saja semuanya. Saya akan membawa Zivanna keluar dari sini." ucap Kevin sambil menggendong Zizi untuk di bawa ke luar dari ruangan tersebut.
*BERSAMBUNG.....🤣*