Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Bukan mimpi.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Setelah mengudara kurang lebih satu jam penerbangan. Pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat dengan sempurna. Selama dalam perjalanan, Zivanna tidak membuka matanya sama sekali. Wanita itu hanya tertidur dipundak suaminya. Sama saja seperti lima tahun lalu, tidak ada yang berbeda. Perbedaannya jika dulu mereka hanya berdua. Sedangkan saat ini, ada malaikat kecil yang menemani perjalanan mereka.


"Diam jangan langsung bangun, nanti kepalamu akan terasa pusing." ucap Devan pada sang istri yang baru saja bangun setelah mendengar suara para pengawal Atmaja group yang mulai turun dari dalam pesawat.


"Eum, maaf sudah menyusahkan mu selama dalam perjalanan." minta maaf saja lebih baik, karena sedari pesawatnya mulai terbang sampai mendarat, dia sudah menumpang dipundak Devan.


"Tidak apa-apa! Rey juga tidur dari beberapa menit yang lalu." jawab Devan sambil menundukkan kepalanya melihat sang putra sudah tidur dengan nyaman dalam pelukannya.


"Hem! Ayo kita turun sekarang, aku sudah baik-baik saja dan biar aku yang mengendong Rey." Zivanna berdiri lebih dulu karena kasihan dengan para pengawal Atmaja group, termasuk Sekertaris Jimi yang menunggu mereka dibawah.


"Apa tidak pusing?" ikut berdiri meskipun agak susah karena ada Reyvano yang menempel. Anak itu memilik kebiasaan baru. Yaitu tidur dalam pelukan sang ayah.


"Tidak! Sini biar aku saja yang mengendong nya," ucap Zizi mengulangi ucapannya karena tadi Devan tidak menjawab dan malah menanyakan dia pusing atau tidak.


"Sudah biar Kakak saja. Ayo turun!" tolak pria itu yang selalu merasa bahagia bisa mengendong putra mereka. Tidak mau berdebat Zivanna hanya mengikut dari belakang.


Begitu turun, beberapa mobil mewah sudah menunggu mereka bertiga. Satu mobil yang akan mereka tumpangi dan mobil yang lainya untuk mengawal sampai ke kediaman keluarga Atmaja.


"Kenapa?" tanya Devan melihat Zivanna gelisah begitu sudah duduk didalam mobil. Wanita itu tidak tenang sama seperti saat mereka akan menaiki pesawat tadi.


"Ak--ak--aku, aku---"


"Ibu tidak akan marah, karena semua ini bukan kesalahanmu." sela Devan bisa menebak kegelisahan Zivanna. Tadi dia bertanya karena ingin memastikan saja. Sebab sekarang sifat Zizi susah ditebak. Terkadang marah-marah dan terkadang biasa saja.

__ADS_1


"Darimana kamu mengetahui kalau ibu tidak marah kepadaku?" Devan memang belum mengatakan pada Zivanna, kalau dia sudah mengakui semua perbuatannya pada kedua orang tua mereka.


"Ya ... setiap Kakak pulang, ibu tidak pernah bicara apapun." jawab Devan tidak mengatakan kalau setiap dua Minggu sekali dia selalu kembali ke kota X untuk melepas rasa rindu pada Zizi, karena hanya dikota itulah ada kenangan indah antar mereka berdua.


"Huh! Semoga saja!" Zivanna menghela nafas berat. Walau bagaimanapun Zizi tetap merasa takut, bila ibunya akan marah karena dia sudah pergi begitu saja. Andai saja Devan tidak menemukannya, maka Zizi pasti tidak akan pernah kembali.


"Jangan khawatir, ibu tidak akan marah. Ibu dan ayah pasti sangat bahagia melihatmu dan anak kita sudah kembali." terang Devan menenangkan.


"Apa kamu memberitahu ibu, kalau aku pergi dalam keadaan hamil?" tanya Zizi kurang percaya karena dia berpikir buat apa juga Devan mengatakan kalau dia pergi dalam keadaan mengandung. Sedangkan pria itu ingin membunuh anak mereka.


"Hem!" jawab Devan singkat karena Reyvano sudah bangun dari tidurnya.


"Tita macih ayam tawat?" Rey mengucek matanya karena masih mengantuk. Namun, karena mendengar suara klakson mobil yang saling sahut-sahutan membuatnya bangun.


"Tidak, kita sudah turun dari pesawat sayang. Ini sudah didalam mobil, sebentar lagi kita akan sampai di rumah Kakek dan nenek." jawab Devan, sedangkan Zivanna hanya diam. Semenjak ada Devan, dia sudah seperti orang kedua saja, karena Rey selalu bertanya pada ayahnya.


"Iya, kakek dan nenek. Itu rumahnya. Dulu Ayah juga tinggal di sini." Devan menunjuk pada rumah besar yang terlihat sangat mewah bergaya Eropa. Itu adalah kediaman Atmaja sebenarnya.


"Lumah na adus tan," Reyvano langsung minta berdiri mendekati kursi yang diduduki oleh Sekertaris Jimi.


"Benar rumahnya memang bagus. Ayo kita turun! Sepertinya mobil kakek juga ada di rumah." ajak Devan begitu mobil tersebut sudah berhenti tepat di samping mobil ayahnya.


Sebelum turun Devan menatap Zizi yang terlihat semakin gelisah. Sama halnya seperti yang Devan rasakan. Pria itu juga sangat gelisah. Namun, dia bisa menutupinya karena ada Reyvano, yang merupakan kekuatan hatinya.


"Ayo turun! Semuanya baik-baik saja. Ibu sangat merindukanmu." Devan keluar lebih dulu bersama putranya. Lalu dia berjalan memutari mobil dan membuka pintu mobil tersebut agar Zizi ikut keluar.


"Tuan muda ... Nona muda!" sambut pelayan begitu melihat mereka.


"Bibi, dimana ayah dan ibu?" tanya Devan sambil mengengam tangan Zivanna yang terasa dingin. Tangan satunya lagi mengendong putranya. Saat disapa Zivanna hanya sedikit tersenyum.

__ADS_1


Takut? Ya, tentu saja Zivanna merasa takut bila ibu Ellena akan marah padanya. Dengan bersusah payah beliau membesarkan anaknya. Setelah besar pergi begitu saja tanpa kabar. Meskipun Zivanna pergi karena perbuatan Devan.


Sejatinya, sehebat dan sekaya apapun seorang anak. Tetaplah anak kecil dimata para orang tua.


"Tuan besar dan nyonya ada di taman belakang." jawab si pelayan sambil mengikuti Tuan muda rumah itu berjalan masuk. Sekertaris Jimi tidak ikut masuk, karena dia masih membicarakan sesuatu dengan para bawahannya.


Sampai pada tempat yang di tuju, Devan tidak melepas genggaman tangannya pada tangan sang istri. Pria itu terus menautkan jari tangan mereka.


"Ayah, ibu!" ucap Devan begitu tiba di taman belakang. Kedua pasangan paruh baya itu, tidak melihat kedatangan mereka bertiga. Kepulangan Devan saja mereka juga tidak tahu.


"Devan!" seru Ibu Ellena termangu di tempatnya berdiri. Bukan kedatangan Devan yang membuatnya membeku. Akan tetapi anak kecil dan putri semata wayangnya lah yang membuat dia seakan tidak bisa bergerak lagi, karena takut kalau itu hanyalah mimpi.


"Devan, tolong katakan apa ibu sedang bermimpi?" tanya beliau disertai oleh air matanya. Tidak hanya ibu Ellena, Ayah Dion juga sama terkejutnya. Pria paruh baya itu masih mengunakan pakaian kantornya, karena dia baru saja datang dari perusahaan.


"Tidak, Bu. Ini nyata! Dulu Devan sudah berjanji akan membawa putri ibu kembali. Hari ini Devan datang membawanya." jawab Devan sambil kembali berjalan mendekati orang tua mereka.


"Put--putri, putri Ibu!" wanita paruh baya itu langsung memeluk Zivanna dengan sangat erat. Seakan-akan takut kehilangan putrinya lagi.


"Ibu, ibu maafkan Zizi." seru Zivanna ikut menangis sejak melihat ibunya.


"Tidak, Nak. Kamu tidak ada salah dengan ibu." kedua wanita itu terus menagis sambil berpelukan. Untuk melepaskan semua rasa rindu setelah lima tahun belakangan ini tidak bersua.


"Ba--ba--bagaimana keadaan mu sayang? Kamu baik-baik saja kan?" bertanya tapi tetap tidak melepaskan pelukan mereka, sampai mendengar suara Ayah Dion yang menyapa Reyvano.


"Halo sayang! Ini Kakek, Nak." ucap Ayah Dion ingin mengendong Reyvano. Namun, anak kecil itu malah memeluk leher Devan dengan erat.


Pertanda dia tidak mau digendong oleh beliau. Tanpa bertanya, Ayah Dion sudah tahu kalau anak kecil yang digendong oleh Devan adalah cucunya, karena wajah Reyvano sangat mirip dengan wajah Devan saat masih kecil.


*BERSAMBUNG* ...

__ADS_1


__ADS_2