
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Sore hari jam empat lewat tujuh menit. Devan bersama keluarga kecilnya sedang dalam perjalanan menuju ke taman yang belum pernah mereka datangi. Tampat tersebut masih baru, yang diresmikan satu Minggu lalu.
Si tampan Reyvano tidak berhenti berceloteh bersama Asel dan Sekertaris Jimi. Ya, atas permintaan calon pewaris Atmaja group. Asel harus ikut bersama mereka, tidak hanya itu saja. Pengawal tampan tersebut harus satu mobil juga.
Agh! Untungnya Reyvano adalah bocah yang mengemaskan. Jadi baik Sekertaris Jimi ataupun Asel sangat senang bisa mendapat tugas menjaga si tampan. Walaupun sikafnya mirip Sekertaris Jimi. Tetapi tidak mengurangi kelucuan anak seumur nya.
Tadi siang setelah lelah saling menggoda dan menjahili dengan sang putra. Devan tidur siang di kamar Zivanna. Tidak hanya Devan, tapi mereka bertiga.
"Paman Dimi, Ley mau duduk cini," ucap Rey berdiri sambil tangannya dipegang oleh Devan karena takut buah hatinya terjatuh. Sebab mobil yang dikendarai oleh Asel cukup kencang.
Hari ini yang menjadi sopir adalah Asel, karena tidak mungkin mereka duduk di depan tiga orang. Sopir yang biasanya juga ikut, tapi dia berangkat bersama pengawal mengunakan kendaraan lainnya.
"Baiklah, Tuan Muda kecil." jawab Sekertaris Jimi mengangkat tubuh Rey keatas pangkuannya. "Apakah duduknya seperti ini saja?" saat ini tugas Sekertaris Jimi lebih banyak. Selain menjadi tangan kanan Devan. Dia juga harus menjaga Reyvano dan juga Zivanna. Orang yang paling berarti bagi kehidupan tuan mudanya.
"Dah tukup," jawab Rey malah memutar duduknya menghadap kearah Asel yang membawa mobil mereka.
"Paman Ace, Ley mau bawa mobil duga." ucap Rey pada pemuda yang selalu bersama dengannya.
"Nanti ya, setelah Tuan Muda, sebesar paman dan sudah pandai menaiki sepeda, maka saat itu, paman akan ajarkan cara mengunakan mobil." jawab Asel tersenyum mengiyakan. Hal itulah yang membuat Rey begitu senang saat Asel menjaganya.
"Ley mau naik peda cekalang." pintanya bersemangat. Sudah dua hari ini, Rey berlatih menaiki sepeda yang dibelikan oleh Ayah Dion saat mereka pergi jalan-jalan ke Mall.
"Apa! Tidak bisa sekarang Tuan Muda. Sepedanya kan tertinggal di rumah Kakek Dion." jawab Asel begitu pandai berbicara dengan anak kecil.
Untuk beberapa saat, Reyvano terdiam sebelum dia memutar tubuhnya melihat kearah Sekertaris Jimi. Tanpa dia meminta, tentunya si Sekertaris ayahnya sudah tahu apa yang harus dilakukan.
"Paman Dimi," kata Rey sambil mengedip-ngedipkan matanya.
__ADS_1
"Iya! Tuan Muda mau sepeda seperti apa?" Sekertaris Jim telah mengetahui apa yang akan diminta oleh si tuan muda kecilnya langsung saja bertanya.
"Yang badus, cepelti peda dali kakek." jawab Rey yang sudah tahu barang bagus, atau bukan. Sebab saat membeli sepeda lamanya, sang kakek sudah memberitahunya.
"Baiklah, kalau begitu paman pesan dulu, ya." Sekertaris Jimi mengeluarkan ponsel dan mengetik sesuatu. Agar salah satu dari pengawal Atmaja membeli sepeda untuk tuan muda kecilnya.
"Sudah paman pesan sepeda yang baru. Sekarang Tuan Muda duduk lagi, ya." ucap Sekertaris tersebut setelah selesai memberikan perintah pada bawahannya. Reyvano yang senang hanya menganggukkan kepalanya.
"Jim, sepertinya pekerjaan mu semakin berat setelah Rey besar." Devan tergelak setelah dari tadi hanya diam sambil memeluk sang istri yang dia tarik agar bersandar pada dada bidangnya.
"Bukan hanya Saya. Sepertinya Asel, dia akan menjadi pendamping Tuan Reyvano sampai dia besar," ucap Sekertaris Jimi yang sudah mengetahui kalau Rey dekat dengan Asel.
"Huem tidak apa-apa, siapapun sama saja." kata Devan menyetujui.
Sedangkan Asel sendiri yang disebut akan menjaga tuan mudanya sampai besar hanya diam saja, karena tidak mungkin dia menolak pekerjaan berharga, yang siapa saja pasti mau berada diposisinya.
Enam menit kemudian. Mobil Mercedes Benz dan iring-iringan mobil pengawal Atmaja group telah tiba di taman yang mereka kunjungi. Devan sengaja mengajak berangkat sore, karena ingin melihat mata hari terbenam yang berada tepat di atas danau.
"Ayo sayang," Devan mengendong tubuh putranya turun dari mobil. Lalu setelah tiba diluar, dia mengandeng tangan istrinya juga.
Lebih dulu para pengawal Atmaja yang sampai pada tempat tersebut daripada mobil si tuan mudanya.
"Ayah... tulun," ucap Reyvano minta diturunkan. "Ada peda balu." Rey semakin kegirangan karena meskipun dia tidak diturunkan dari gendongan. Akan tetapi sang ayah membawa dia berjalan mendekati sepeda tersebut.
"Nah sekarang baru turun," Devan menurunkan putranya. Lalu dia menatap istrinya dan berkata. "Duduk di sini ya, Kakak ingin mengajar putra kita bersepeda." ucapannya pada sang istri.
"Iya, aku akan duduk di sini." Zivanna tersenyum saat melihat Rey sudah menaiki sepedanya.
Cup!
"Aku mencintaimu!" meskipun dikelilingi oleh para pengawal nya. Tidak membuat Devan malu mengungkapkan perasaan pada istrinya yang semakin terlihat cantik dengan wajah bahagianya.
Zivanna tidak menjawab. Akan tetapi dia membiarkan Devan menciumnya sebelum menemani Reyvano bermain.
__ADS_1
"Tuhan terima kasih! Aku pikir, setelah apa yang terjadi. Aku tidak bisa merasakan bahagia lagi."
Gumam Zivanna yang merasa bahagia melihat suami dan putranya begitu bahagia. Padahal hanya mengajari si buah hati bersepeda.
Sudah hampir satu jam Devan bermain dengan putranya. Dia pun mulai merasakan lelah, karena anaknya tidak mau diam.
"Kita istrirahat dulu, ya. Ayah sudah lelah." kata Devan yang telah menaikan lengan bajunya sebatas siku. Sore ini Devan hanya mengenakan pakaian biasa. Tidak seperti biasanya yang selalu memakai jas dan kameja.
"Tapi Ley belum tapek," jelas saja berbeda. Rey kerjaannya hanya bermain bersama siapa saja yang dia mau. Sedangkan ayahnya biasa hanya memegang pulpen.
"Anak Ayah bermain bersama Paman Jimi saja, ya? Setelah ayah istirahat, kita main bersama lagi." kata Devan mengelus kepala putranya.
"Nda mau, tama Paman Ace ya?" tawar si tampan melihat kearah Asel yang duduk dengan beberapa orang rekannya.
"Iya, tidak apa-apa. Tunggu sebentar Ayah memangilnya." pria itupun memberikan kode mengunakan tangannya. Agar Asel mendekat pada mereka.
"Iya Tuan Muda," Asel menunduk hormat.
"Tolong temani Rey bermain dulu, ya." meskipun pada pengawal. Devan selalu mengucapkan kalimat minta tolong karena saat dia kecil juga diajarkan seperti itu oleh Ayah Dion.
"Baik, dengan senang hati." jawab Asel yang memang sudah dari tadi ingin mengajari tuan muda kecilnya bersepeda, karena cara Devan mengajarinya tidak benar.
Mungkin bila bukan sang bos, mereka sudah tertawa sejak tadi. Namun, karena itu adalah Presdir Atmaja group. Tidak ada yang berani tersenyum, ataupun tertawa
Devan hanya mengangguk dan kembali mendekati istrinya yang duduk di kursi taman. Pasangan suami istri tersebut duduk sambil memperhatikan si buah hati yang tertawa terbahak-bahak karena sudah mulai bisa menaiki sepeda kecilnya.
Sebetulnya sedari kemarin Rey sudah hampir bisa. Jadi hari ini dia tidak perlu susah-susah untuk belajar.
"Paman Ace, Ley dah bica ini." ucap Reyvano mulai menjalankan sepedanya meskipun pelan.
"Wah Tuan Muda hebat, ayo coba lagi." seru Asel ikut tersenyum bahagia. Melihat tuan mudanya sudah bisa menaiki sepeda tanpa harus di pegang seperti sebelumnya.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*...