
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Apa benar kalian berdua yang mengkhianati ibu ku?" pertanyaan yang bagaikan sebuah benda keramat bagi Ayah Dion. Akhirnya di tanyakan langsung oleh putra semata wayangnya.
"Buat apa kamu menanyakan masalah yang sudah lama berlalu, Dev? Tidak usah kamu pertanyakan lagi. Mulailah lihat masa Devan, bila kamu menoleh ke belakang maka bisa terjatuh karena pandangan mu teralihkan." jawab Ayah Dion yang sebetulnya tidak mau mengingatkan kembali masalah yang di tanyakan oleh anaknya.
"Tidak! Justru karena aku tidak melihat ke belakang sehingga membuat aku terjatuh seperti saat sekarang ini." Devan menyesali karena dia tidak pernah mencari tahu lebih dulu apa yang terjadi. Sehingga membuat hidupnya hampir hancur seperti sekarang. Mungkin bukan hampir, tapi lebih tepatnya memang sudah hancur.
"Sudahlah tidak penting kita mengingat masalah masa lalu lagi. Jangan menanyakannya, Ayah rasa itu sudah tidak penting." sahut lelaki baya tersebut semakin engan untuk membahas masalah yang anaknya tanyakan. Sedangkan Ibu Ellena hanya diam bingung ingin menjawab apa.
"Bagi Ayah memang tidak penting, tapi bagiku sangat penting, karena dendam masa lalu itu. Devan harus kehilangan mereka." mendengar jawaban sang Ayah membuat Pria tersebut tidak sadar sudah menaikan into suaranya.
"Apa maksudmu? Kehilangan mereka siapa? Dendam apa?" tidak berbeda jauh Ayah Dion ikut menambahkan nada suaranya setelah mendengar Devan mengatakan dendam yang dia sendiri tidak tahu apa yang harus di dendam kan.
"Ayah... Ibu, tolong! Tolong jawab pertanyaan ku? Apa benar kalian berdua yang sudah mengkhianati ibu ku?" menurunkan cara bicaranya karena baru sadar sudah bertanya dengan emosi. Hal yang tidak pernah Devan lakukan, meskipun dia sakit hati sang ayah menceraikan ibunya. Tidak membuat Devan menjadi anak yang pembangkang.
"Nak tidak perlu kamu tanyakan lagi, biarkanlah semua yang telah terjadi." Ibu Ellena menjawab dengan suara lembutnya karena tidak ingin Devan mengetahui apa sebenarnya yang sudah terjadi pada pernikahan orang tuanya.
"Agh... sudahlah, Dev! Ayah tidak ingin membahasnya lagi. Sekarang jawab pertanyaan Ayah, kenapa kamu tidak membawa Zizi pulang bersama mu?" mengalihkan topik berharap Devan akan berhenti sampai di sana saja.
__ADS_1
"Justru ini semua bersangkutan dengan Zizi makanya Devan bertanya pada kalian berdua." ucap Pria itu menundukkan kepalanya dengan tangan iya tutupkan pada mukanya.
"Devan! Katakan apa sebenarnya yang sudah terjadi? Kita bahas masalah kamu, bukan masalah rumah tangga Ayah di masa lalu." desak lelaki baya itu yang tidak suka berbelit-belit saat membahas sesuatu.
Mendengar perkataan ayahnya. Devan kembali duduk seperti semula, lalu tidak ragu-ragu lagi mengatakan apa yang sudah terjadi.
"Justru karena kejadian masa lalu aku harus kehilangan anak dan Istriku, Ayah! Aku menyesal tidak bertanya dari dulu. Aku benar-benar menyesalinya." sekuat apapun Devan di luar sana, bila dihadapkan sang ayah tetaplah seperti anak kecil. Pria itu menangis di hadapan ayah dan wanita yang dia anggap sebagai penghancur kebahagiaan keluarga mereka.
Dengan jantung berdebar Ibu Ellena langsung menyela percakapan Devan dan suaminya. "Kehilangan siapa, Nak? Istri dan anak yang mana maksudmu?" tidak hanya Devan yang menagis saat menjelaskan pada ayahnya. Tapi Ibu Ellena sendiri ikut menangis karena yang dia tahu Istri Devan hanyalah putrinya.
"Ibu... sebelumnya aku, aku minta maaf, karena dendam ku sudah membuat Zivanna pergi dari rumah." menunduk mengakui kesalahan, meskipun saat menanyakan masalah ibu kandungnya Devan terlihat sangat percaya diri seolah-olah sedang tidak terjadi sesuatu. Namun, begitu menyebutkan nama istrinya. Pria tersebut tidak bisa membendung kesedihannya sendiri.
"A--a--apa putri ibu pergi dari rumah?" denga suara bergetar dan putus-putus wanita tersebut kembali bertanya.
Akhirnya Devan menceritakan apa sebenarnya yang sudah terjadi. Dari awal niatnya menikahi Zivanna yang hanya untuk balas dendam atas penderita yang di alami sang ibu. Bahkan Pria itu juga mengatakan sudah menyiksa Zizi dengan kekerasan. Semua tentang kehidupan sang istri setelah dia membawanya pindah ke kota Y, dan tidak ada cerita yang lewatkan.
Mendengar cerita Devan membuat ayahnya langsung murka. Padahal Ayah Dion di kenali orang yang sangat sabar bila menghadapi masalah pekerjaan. Ternyata bila masalah keluarga, beliau sangatlah sensitif.
Buugk...
Buugk...
"Anak kurang ajar! Apa Ayah pernah mengajarkan kamu menjadi lelaki pengecut, hah! Apa ini didikan yang kamu pelajari dari sekolah? Kenapa kamu tega pada gadis yang sudah sama seperti adik kandung mu sendiri." Ayah Dion mencengkeram erat kerah kemeja Devan dan memberikan pukulan berulang kali pada wajah dan juga di bagian perutnya. Sedangkan Devan yang menyadari sudah berbuat salah hanya diam tidak mengelak apa lagi membalas pukulan dari ayahnya.
__ADS_1
"Ayo balas Devan! Bukannya kamu memiliki dendam pada Ayah. Tapi kamu lampiaskan pada gadis yang sudah Ayah anggap sebagai putri Ayah sendiri. Sekarang ayo pukul aku, pukul! Jika perlu bunuh saja Ayah mu ini sekalian." ucap Ayah Dion merasa benar-benar hancur mendapatkan kenyataan Devan menikahi Zizi hanya untuk balas dendam atas perceraian dia dan mantan istrinya.
"Ayah sudah, sudah, Yah! Aku mohon, aku mohon hentikan pertengkaran kalian, karena percuma saja kalian seperti ini. Tidak akan membuat putriku kembali." wanita tersebut berdiri memisahkan suami dan anak tirinya yang sedang bertengkar.
"Sayang!" hanya kata itu yang mampu Ayah Dion ucapkan. Lalu dia melepaskan cengkraman nya dengan kasar sehingga membuat Devan jatuh ke atas lantai. Sedangkan beliau langsung memeluk wanita yang sudah membuat hidupnya lebih baik dan kembali merasakan kebahagiaan.
"Sayang, tolong maafkan kesalahan ku? Ini semua salahku yang tidak memberitahu anak tidak tau di untung ini." semakin mendekap istrinya dengan penuh penyesalan.
"Hick... hick... aku, aku sangat mengkhawatirkan keadaan putriku!" ucap Ibu Ellena semakin menangis setelah berada dalam pelukan suaminya.
Sampai beberapa menit kemudian, setelah istrinya tidak menagis dan hanya isakan kecil. Ayah Dion memberikan sang istri air putih yang ada di atas meja. Lalu setelahnya beliau menatap Devan dengan bengis. Saat ini anaknya sudah kembali duduk di atas sofa singel.
"Apa kamu benar-benar mau tahu apa yang sudah terjadi? Kenapa aku menceraikan ibu mu? Baiklah akan aku katakan sekarang juga." tidak ada kata-kata ayah lagi yang di sematkan oleh lelaki baya tersebut.
"Ayah! Aku mohon, biar ini menjadi masa lalu buat kita. Marisa sudah menderita, jangan tambah penderitaan nya." cegah Ibu Ellena seraya mengelengkan kepalanya.
"Tidak sayang! Mungkin sekarang memang sudah saatnya Devan mengetahui seperti apa kelakuan ibunya. Tadinya aku tidak ingin memberitahu masalah ini, karena tidak mau dia merasa malu sudah dilahirkan oleh wanita ja l4 ng. Tapi setelah apa yang sudah dia perbuat pada Zivanna, aku tidak bisa menyimpan rahasia ini lagi." seru Ayah Dion kembali menatap anaknya.
"Devan... aku tidak pernah mengkhianati ibumu. Tapi dia, dia yang sudah berselingkuh dengan rekan Bisnisku sendiri." meskipun sakit hati bila mengingat perselingkuhan yang di lakukan mantan istrinya. Ayah Dion tetap harus menyampaikan kenyataan yang sebenarnya pada Devan.
Deg....
*BERSAMBUNG...🤗*
__ADS_1