
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Seorang gadis muda yang sedang hamil tujuh bulan lagi duduk sambil menangis di kursi tunggu depan ruang operasi. Gadis tersebut adalah Zivanna Lois.
Tadi ... saat dirinya sedang membuat kue untuk di jual. Seseorang datang dan mengatakan kalau mobil ibu Eris mengalami kecelakaan di jalan menunju ke rumah mereka.
Bagaikan petir menyambar pada siang hari. Berita duka itu benar-benar membuat Zizi langsung tidak berdaya. Hanya ibu Eris keluarga satu-satunya yang dia miliki. Namun, sekarang wanita itu mengalami kecelakaan beruntun.
Begitu mendapat kabar tersebut Zizi langsung menyuruh karyawan nya untuk menutup toko karena dia akan menyusul ke rumah sakit, dan di sinilah dia saat ini. Sudah lebih dari dua jam lebih, belum ada dokter ataupun perawat yang keluar dari sana. Untuk memberitahu keadaan ibu angkatnya.
"Ya Tuhan ... tolong selamatkan nyawa ibu. Hanya dia yang aku miliki." ucap Zizi di sertai air matanya yang tidak berhenti menetes.
Bukannya tidak memiliki keluarga lagi. Tapi Zizi yang ingin pergi dari keluarganya. Bagi Zivanna tidak masalah dia mengalah pergi, asalkan ibu Ellena tetap bahagia dengan pernikahannya yang sekarang.
Semua keinginan Zizi pun berjalan sesuai rencana, karena sampai saat ini pernikahan Ibu Ellena dan Ayah Dion baik-baik saja. Itu pertanda setelah dia pergi Devan tidak mengangu kebahagiaan ibunya lagi.
Semenjak dia pergi meninggalkan masa lalunya. Beberapa bulan lalu Zivanna pernah mencari berita keluarga Atmaja. Tapi hanya mencari tahu keadaan ibunya saja. Setelah itu sampai saat ini Zizi tidak pernah lagi mencari tahu. Meskipun dia sangat merindukan sang ibu. Namun, semua rasa tersebut harus dia kubur dalam-dalam agar pengorbanannya tidak sia-sia.
Cek... lek. .
__ADS_1
Pintu ruangan operasi di buka sangat pelan. Terlihat para dokter sudah keluar dengan wajah lelahnya.
"Dokter bagaimana keadaan ibu, Saya?" Zizi langsung bertanya pada dokter yang mengoperasi Ibu Eris.
"Operasi nya berjalan lancar. Tapi kondisinya masih kritis. Untuk saat ini beliau akan di masukan kedalam ruangan ICU." jawab dokter tersebut dengan perasaan tak tega menjelaskan pada wanita hamil seperti Zivanna.
"Apa? I--ibu harus masuk ruang ICU?" sungguh rasanya saat ini Zizi ingin menjerit sekeras-kerasnya untuk menghilangkan rasa sesak yang dia rasakan. Baru beberapa bulan ini merasakan bahagia dengan kehidupan barunya. Namum, sudah terjadi musibah pada wanita yang dianggap nya seperti ibu sendiri.
Ibu Eris adalah malaikat penolong bagi seorang Zizi, karena wanita tersebut dia bisa melupakan atas apa yang pernah di alaminya beberapa bulan lalu. Wanita paruh baya itu memperlakukan Zivanna seperti putrinya sendiri. Sebab baliau memang tidak memiliki keluarga kecuali kerabat dari almarhum suaminya.
"Benar Nona, ibu Anda harus masuk ruang ICU sampai keadaanya setabil."
"Ta--tapi bagaimana Saya bisa menemuinya kalau dia berada di sana?" Zizi semakin menangis tersedu-sedu. Tidak perduli seperti apa para dokter tersebut memandang nya yang jelas saat ini dia hanya ingin bersama ibu angkatnya.
"Untuk itu Anda tidak perlu khawatir, kami akan memberikan izin, karena hanya Anda satu-satunya keluarga pasien." ucap dokter satunya lagi. Mereka memang sudah tahu bahwa ibu Eris tidak memiliki keluarga selain Zivanna.
"Iya Dokter, kalau begitu silahkan bawa ibu keruang ICU. Asalkan Saya bisa menemani beliau." masih dengan isakan kecil.
"Tapi Anda hanya bisa membesuknya, tidak boleh menemaninya, Nona. Masalah nya saat ini Anda sedang hamil, tidak baik untuk kesehatan kalian, berada dalam ruangan seperti itu." terang si dokter agar Zizi bisa memaklumi peraturan rumah sakit.
Sebagai sesama manusia. Tentu para dokter tahu apa yang Zizi rasakan. Mereka juga tidak tega melihat nya seperti itu. Namun, harus bagaimana lagi karena saat ini gadis itu sedang hamil besar. Apa yang mereka lakukan juga untuk kebaikan Zivanna.
"Ja--jadi Saya hanya boleh membesuk, tidak boleh menunggu di sana?" di dalam hatinya Zizi sedang bertanya-tanya dosa apa yang sudah dia perbuat sehingga diberikan ujian seperti saat ini.
__ADS_1
"Benar! Anda hanya boleh menjenguknya. Tapi bila besok pagi keadaannya sudah lebih baik. Maka ibu Anda akan segera di pindahkan ke ruang perawatan." dokter itu tersenyum kecil agar Zizi bisa merasa tenang. Meskipun para dokter juga belum tahu pasti, Ibu Eris bisa melewati masa kritis nya atau tidak.
"Tidak apa-apa kalau begitu, lakukan apa saja yang penting bisa menyelamatkan nyawa ibu saya, Dok." kata Zizi yang tidak memiliki pilihan. Dia tidak boleh egois karena semuanya demi keselamatan sang ibu.
"Iya ... Nona tidak perlu khawatir, karena tanpa Anda minta. Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Ibu Eris." ucap dokter tersebut sebelum berpamitan untuk mengurus pasien nya lagi.
"Baiklah! Anda tunggu saja di sini. Sebentar lagi ada perawat yang akan membawa Anda ke ruang ICU. Sekarang kami permisi untuk mengurus pemindahan selanjutnya." dua orang dokter itu pun pergi dari sana, dan tinggalah Zizi sendirian.
"Ibu ... tolong bertahalah! Jangan tinggalkan aku sendiri." lirih Zizi kembali lagi duduk di kursi tunggu, karena berdiri lama-lama dia sudah tidak kuat.
"Sayang ... tolong doakan nenek biar bisa melewati masa kritis nya. Kita tidak memiliki siapapun selain beliau." ucap Zivanna sambil mengelus perutnya. Mendengar ucapan ibunya bayi yang Zizi kandungan pun bergerak sebagai respon bahwa dia mengerti apa yang ibunya katakan.
"Kamu mendengar ibu?" ucap Zizi tersenyum kecil, karena di saat seperti ini masih ada teman bercerita. Meskipun hanya dengan bayi yang belum lahir. Setidaknya dia tidak sendiri.
"Permisi Nona Zivanna?" sapa perawat wanita mendatangi Zizi.
"Iya bagaimana Sus? Apa sudah boleh untuk menemui ibu, Saya?" tanya Zizi tidak sabar ingin melihat langsung keadaan ibu angkatnya.
"Sudah! Mari ikut Saya. Anda harus memakai pakaian yang sudah di sediakan oleh rumah sakit sebelum masuk ke ruang ICU nya." ajak perempuan itu yang langsung di ikuti oleh Zizi dari belakang.
Tiba dalam ruangan yang terletak di sebelah ruang ICU. Zizi langsung di kenakan baju berwarna hijau, baju yang sudah di sterilkan, dan tidak lupa juga masker pasangan baju tersebut.
"Nah bila sudah seperti ini, kita baru boleh menjenguk pasien." ucap perawatan yang membantu Zizi.
__ADS_1
"Hem .. terima kasih sudah membantu Saya." jawab Zizi yang sudah siap menemui Ibu Eris.
Lalu si perawat langsung saja mengantar Zizi kedalam ruang ICU. Baru setelah itu dia pun berpamitan keluar, karena tugasnya hanya membantu keluarga pasien saja.