
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Apa kalian berdua yakin, Tuan, Nona Atmaja?" tanya pria bernama Bram itu memastikan.
"Kami sangat yakin," Zizi yang menjawabnya, bukan Devan. Sehingga setelah mendengar ucapan itu. Bram menganggukkan kepalanya, lalu dia berdiri untuk mengambil berkas-berkas yang harus diisi dan diberikan pada pasangan dihadapannya.
"Baiklah, jika kalian benar-benar sudah sepakat. Isi saja data yang ada disini. Nanti selebihnya, kalian cukup menunggu persidangan pertama sampai yang terakhir." jelas laki-laki tersebut menyodorkan beberapa lembar kertas pormukir yang harus diisi.
Dengan ragu-ragu kedua pasangan itu menerima, lalu dibaca dan mulai mengisi data-data tersebut. Sebelum dikembalikan lagi pada Bram yang memperhatikan tingkah mereka berdua sejak tadi.
"Ini!" ucap Devan dan Zizi serempak menyerahkan kembali berkas yang sudah mereka isi. Lalu keduanya saling tatap, sebelum Zivanna memutuskan pandangan matanya lebih dulu.
"Oke, terima kasih! Mungkin hari Senin pada tanggal lima nanti. Saya akan memproses berkas kalian berdua. Tapi--- Bila masih ada kesempatan untuk diperbaiki, maka tolong dipikirkan kembali keputusan ini." nasihat Bram menerima berkas yang sudah diisi oleh Devan dan Zivanna.
Kedua pasangan itu hanya mengangguk mengerti. Namun, setelah itu Devan mengeluarkan suaranya dan menjawab perkataan Bram.
"Kami juga berterima kasih, karena Anda mau merahasiakan perceraian kami berdua. Saya hanya tidak ingin, putra kami menjadi bulian dari teman-temannya bila mengetahui kedua orangtuanya berpisah." kata Devan berhenti sejenak. Lalu kembali lagi melanjutkannya.
"Jika pun dia harus tahu, kami akan memberitahunya sendiri. Setelah dia bisa mengerti dan bisa memahaminya." papar Devan karena takut Rey mengalami nasip seperti dirinya.
Biar pun mereka disegani dan ditakuti di kota X. Tetap saja, tidak bisa menutup mulut semua orang yang membicarakan jelek tentang keluarga Atmaja. Perpisahan kedua orang tuanya menjadi pelajaran besar bagi Presdir Atmaja.
Saat Ayah Dion dan Marisa Almarhum ibunya bercerai. Semua berita televisi menceritakan tentang keluarga mereka. Sehingga Devan pernah satu bulan tidak masuk sekolah, karena malu di ejek oleh teman-teman sekolahnya. Sampai akhirnya dia mau sekolah, apabila pindah dari sana.
Devan tidak ingin putranya harus merasakan apa yang pernah dia rasakan. Dia berencana akan memberitahu Reyvano apabila anaknya sudah mengerti. Biar kisah balas dendam tidak terjadi lagi, dimasa yang akan datang.
"Bagus sekali! Selama Saya menangani kasus perceraian. Hanya Anda orang tua yang memikirkan perasaan anaknya juga." puji beliau menyukai cara berpikir Devan.
Mendengar pujian tersebut Devan hanya tersenyum kecil diujung sudut bibirnya. Lalu diapun langsung berdiri karena ingat memiliki janji untuk mengajak buah hatinya pergi jalan-jalan.
"Karena semuanya sudah beres. Kami pergi dulu, soalnya Anda juga memiliki pekerjaan lain." ucap Devan menjabat tangan Bram.
Melihat laki-laki yang masih manjadi suaminya sudah mau pulang. Zivanna ikut berdiri dan bersalaman dengan orang yang akan mengurus perceraian mereka.
Setelah itu barulah dia dan Devan pergi dari sana. Kali ini mereka berjalan sudah tidak bergandengan tangan lagi seperti saat mereka masuk kesana.
Tiba di luar.
__ADS_1
"Jimi, ayo kita pulang!" kata Devan begitu melihat Sekertaris Jimi yang masih dengan setia menunggu di pintu masuk ke gedung tersebut.
"Iya Tuan Muda." apapun masalahnya. Sekertaris pribadi itu selalu menjawab. Kata iya atau baik tuan muda. Hanya dua kata itulah yang selalu dia ucapkan.
Dua kata tersebut sudah menjadi kata-kata keramat bagi Sekertaris Jimi.
"Ayo masuk!" Devan membukakan pintu mobil untuk Zivanna. Lalu setelahnya dia menyusul masuk.
Sudah lebih dari lima belas menit perjalanan. Devan belum ada berbicara sepatah katapun, kecuali saat menyuruh Zizi masuk kedalam mobil. Entah mengapa dia tiba-tiba malas untuk berkata apapun. Devan hanya diam sambil memperhatikan kendaraan lain yang berlalu lalang melintasi kota X.
"Terima kasih!" ucap Zizi memecahkan keheningan diantara mereka berdua. Sehingga membuat suaminya itu menoleh padanya dan berkata.
"Terima kasih buat apa? Justru Kakak yang berterima kasih padamu sudah mau menjadi istri kakak." jawab Devan tersenyum kecil. Lalu dia berkata lagi, sambil menatap keluar mobil seperti tadi.
"Walaupun hanya sesaat kita merasakan kebahagiaan, seperti pasangan pada umumnya. Namun, karena kebersamaan yang singkat itu, kita bisa memiliki Reyvano." seru Devan menahan sesak yang dia rasakan.
"Terima kasih untuk semuanya! Mungkin untuk persidangan selanjutnya, Kakak tidak bisa datang. Jadi kamu berangkatlah sendiri. Kakak akan menyuruh pengawal mengantar mu." lanjut nya lagi, yang sudah memikirkan semua sedari meninggalkan kantor pengadilan.
"Kenapa? Apakah besok pagi kamu akan jadi, kembali ke kota Y?" tanya Zivanna ingin tahu.
"Eum, besok Kakak akan kembali ke kota Y. Namun, tidak akan lama. Mungkin hanya dua atau tiga hari, karena Kakak sudah berjanji pada anak kita. Bahwa perginya tidak akan lama." mereka mengobrol tapi Devan tidak melihat kearah sang istri. Dia terus menatap keluar jendela.
Setelahnya didalam mobil itu kembali lagi sunyi tidak ada suara, yang terdengar hanya deru mesin mobil. Sekertaris Jimi yang mendengar percakapan antara tuan muda dan nona mudanya, hanya diam tidak dapat berkata apa-apa.
Tiiin ...
Jimi membunyikan klakson mobilnya saat mereka sudah tiba di kediaman Antamaja. Perjalanan pulang terasa sangat lama. Tidak sama seperti saat mereka baru berangkat tadi.
"Ayah!" Reyvano yang berada dalam gendongan sang nenek langsung minta diturunkan. Sudah hampir lima menit, dia dan sang nenek menunggu di taman kecil yang ada didepan rumah tersebut.
"Sayang!" seru Devan terperanjat melihat Reyvano berlari kearahnya yang baru saja keluar dari dalam mobil.
Sangat kebetulan sekali, disaat Devan membutuhkan pundak untuknya bersandar. Putranya datang menyambut kedatangannya, seakan-akan Rey mengetahui kalau ayahnya sedang tidak baik-baik saja.
Kesempatan itu tentu tidak dilewatkan oleh Devan. Dia langsung berjongkok dan memeluk sang putra.
"Sayang, maafkan ayah, Nak!" gumam pria itu sambil memeluk erat anaknya.
"Tita dadi dalan-dalan 'tan?" tanya Rey mencoba melepaskan diri agar tidak dipeluk terus-menerus.
Cup, cup, muuuaaah!
__ADS_1
"Tentu saja jadi! Kan Ayah sudah berjanji kalau hari ini kita akan pergi jalan-jalan." jawab pria itu menciummu gemas putranya.
"Nak--- kalian suda kembali?" sapa Ibu Ellena mendekati anak dan menantunya. Dapat beliau lihat, kedua pasangan itu sama-sama terlihat lelah pikiran. Namun, beliau hanya bisa menarik nafas dalam-dalam.
"Sudah, Bu. O'ya apa ayah jadi berangkat keperusahaan?" tanya Devan kembali berdiri sambil menggendong si buah hati.
"Iya, dia baru berangkat sekitar satu jam yang lalu. Tadi ayahmu menemani Rey bermain di taman belakang." jawab wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusia tuanya.
"Oh, baiklah! Apa Ibu mau ikut kami jalan-jalan?" Devan kembali bertanya.
"Tidak, Nak! Pergilah bawa putra kalian melihat-lihat kota X. Agar menjadi kenangan untuknya apabila sudah besar." ucap Ibu Ellena dengan suara sendu.
"Eum, kalau begitu kami mau pergi sekarang." Devan membalikan tubuhnya karena akan kembali ke mobil. Namun, begitu dia berbalik melihat Zizi hanya diam saja. Lalu diapun bertanya.
"Kenapa? Ayo kita berangkat sekarang." kata pria itu tidak tahu apalagi yang terjadi pada istrinya. Sikap Zivanna yang berubah-ubah membuat Devan bingung menghadapinya.
"Kita akan pergi kemana?" tanya Zizi setelah diam beberapa saat.
Mendengar pertanyaan istrinya. Devan tersenyum kecil. Tadi dia mengira kalau Zizi berubah pikiran tidak mau ikut bersamanya.
"Belum tahu akan kemana. Tapi yang jelas, hari ini adalah waktu kita menemani Reyvano." jawabnya sambil mengelus punggung anaknya.
"Zizi---- Pergilah sayang!" Ibu Ellena juga merasa was-was bila Zivanna tidak mau ikut.
"Iya, Bu. Kalau begitu kami pergi dulu." diluar dugaan mereka. Justru Zivanna berjalan lebih dulu masuk kedalam mobil yang pintunya masih terbuka.
"Huh! Syukurlah!" gumam wanita paruh baya itu merasa lega.
Tidak ingin membuang-buang waktu. Devan pun segera menyusul istrinya masuk kedalam mobil tersebut.
*BERSAMBUNG* ...
.
.
.
Sambil menunggu bbg Devan update. Yuk baca novel sahabat Mak author juga. Terima kasih.😘😘😘
__ADS_1