
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Selamat pagi Tuan Muda," sapa semua yang berda didalam ruangan meeting.
"Iya, selamat pagi juga semuanya. Silahkan duduk kembali, rapatnya akan langsung dimulai sekarang juga." bukan Devan yang menjawab, tapi Sekertaris Jimi.
Devan hanya diam saja menuju kursi yang akan dia tempati. Pria itu tidak tahu kalau begitu dia masuk, mata Kevin yang mengantikan kakaknya menatap dengan sorot mata tajam.
"Hem... Anton kamu mulailah sekarang." kata Sekertaris Jimi lagi yang melihat tuan mudanya masih tetap diam. Itu pertanda Devan menyerahkan padanya.
"Baik Sekertaris Jimi," jawab pria bernama Anton mulai menyalakan laptop dan infokus. Agar mempermudah saat menerangkan kerjasama mereka.
Jika para pemegang saham yang sudah bekerja sama dengan Atmaja group sejak awal. Tentunya sudah tahu cara kerja perusahaan tersebut. Cuma rapat pagi ini untuk pengusaha baru yang ingin berkembang dibawah naungan perusahaan besar seperti perusahaan Atmaja group.
Selama rapat berlangsung. Laki-laki yang duduk tidak jauh dari Presdir Atmaja group itu selalu menatapnya penuh amarah. Rasanya bila bukan didalam ruangan meeting. Sudah dia hajar sebagai bentuk salam pertemuan.
Merasa ada yang menatapnya Devan pun melihat kearah bangku nomor tujuh. Begitu menoleh dia melihat Kevin adik dari rekan kerjanya.
"Kevin! Kenapa dia berada disini? Apa salah satu dari pemegang saham yang baru, atau mengantikan Arga?"
Gumam Devan bertanya-tanya didalam hatinya. Lalu dia kembali lagi bergumam karena melihat Kevin seperti menaruh dendam pada dirinya.
"Sepertinya dia sangat marah padaku. Semua ini pasti ada hubungannya dengan Zizi. Untung saja kamu tidak memiliki hubungan khusus dengan Istriku. Kalau sampai itu terjadi, maka aku akan melenyapkan mu."
Devan dan Kevin seolah-olah lagi perang lewat sorot mata yang sama-sama tajam.
"Hebat juga dia, berhasil menyembunyikan istri dan anakku selama bertahun-tahun, sampai pengawal terhebat Atmaja, tidak bisa melacaknya."
Ucap Devan masih didalam hatinya.
Perang dingin itu tidak ada yang mengetahuinya, karena semuanya sedang pokus pada Anton yang lagi menjelaskan presentase perusahaan mereka.
"Bagaimana Tuan Muda? Apa Anda setuju dengan usul mereka?" pertanyaan Sekertaris Jimi membuat Devan melihat kearah infokus.
"Menurutmu bagaimana?" bukannya menjawab tapi Devan malah melemparkan pertanyaan tersebut pada Sekertaris Jimi.
"Aghk, ini penyebabnya tuan muda menjadi tidak pokus. Kebetulan sekali."
Batin Sekertaris Jimi melihat kearah peserta rapat karena bila tidak ada hubungan dengan nona mudanya. Devan tidak pernah seperti itu.
Untung saja dia sekertaris yang cerdas. Kalau sekertaris biasa-biasa saja. Maka disaat bos besar tidak fokus seperti saat ini. Perusahaan sebesar apapun akan bangkrut.
"Menurut Saya usulan yang bagus. Tiga perusahaan yang sudah lama bekerjasama dengan Atmaja group akan membantu perusahaan yang baru menanam saham. Dengan begitu tidak ada yang berubah dari kinerja kita."
Papar Sekertaris Jimi dengan gagahnya. Ya, dia tidak kalah tampan dengan tuan mudanya. Hanya saja sampai sekarang dia belum juga memiliki kekasih.
"Usul yang bagus! Saya setuju." jawab Devan tinggal meneruskan saja.
Enak sekali menjadi bos besar. Padahal sedari tadi dia tidak mendengar apa yang disampaikan oleh Anton dan beberapa orang lainnya lagi.
Namun, disaat penentuan hasil akhir dia cukup mengatakan setuju atau tidak setuju. Sebetulnya yang hebat itu Sekertaris Jimi atau Devan?
"Baiklah kalau begitu perusahaan yang akan membantu mereka akan kita pilih sekarang." lanjut Anton menatap kearah kursi para peserta rapat.
Mereka semua adalah orang-orang hebat dan memiliki kekuasaan tinggi. Hampir semua perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan Atmaja group. Bila jujur dan mengikuti peraturan Devan. Maka perusahaannya akan berjaya.
"Perusahaan Tuan Abi, perusahaan Tuan Arga dan perusahaan Nonya Mika. Menurut Saya tiga perusahaan itu yang cocok mengurusnya." sambung salah satu dari peserta.
"Iya, Saya juga setuju." kata dua diantara yang lainya.
"Tidak, menurut Saya ini patut di pikirkan lagi."
__ADS_1
"Iya, Saya setuju apa yang dikatakan oleh Tuan Ericsson."
Semuanya mulai memberikan pendapat. Hanya Kevin yang diam saja, karena apapun hasilnya dia hanya mewakilkan sang kakak.
"Tenanglah! Jangan berisik," ucap Anton mengunakan pengeras suara. "Jika tidak menuruti peraturan meeting. Maka silahkan keluar sekarang," sambungnya lagi yang memiliki wewenang dalam ruangan tersebut.
Mendengar itu pun mereka mulai diam dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sekertaris Jimi yang sedari tadi hanya diam, langsung mengeluarkan pendapatnya.
"Coba tanyakan dengan yang lainnya. Disini kita hadir untuk mencari kesepakatan bersama bukan kita sendiri yang menentukan." jawab Sekertaris Jimi yang selalu teliti disetiap hal.
"Menurut Saya bagaimana kalau kita lakukan pemungutan suara? Bukan apa-apa, bila ada kesalahan sedikit saja. Semua perusahaan kita kena imbasnya. Disini kita mempertaruhkan uang milyaran dollar." usul dari salah seorang yang terlihat paling tua diantara mereka.
"Saya setuju usul dari Tuan Fatih." Devan yang sudah menyimak langsung memutuskan. "Anton bawa kesini untuk pemilihan suara," lanjutnya lagi.
"Baik Tuan Muda," jawab Anton langsung dibantu oleh staf yang bertugas membantunya saat pemungutan suara menjadi jalan terakhir.
Lalu mereka semua termasuk Devan dan Sekertaris Jimi ikut menentukan pilihan mereka melalui kertas pemungutan suara.
Rapat yang seharusnya selesai dari setengah jam lalu. Akhirnya harus mengulur waktu karena adanya pemungutan suara. Dalam mencari perusahaan yang paling cocok untuk mengemban beban berat tersebut.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Devan tidak sabaran karena dia ingin cepat-cepat kembali keruangannya untuk menelepon si buah hati yang mungkin saja menunggu telepon darinya.
"Hasilnya adalah, perusahaan Tuan Abi, perusahaan Tuan Arga dan perusahaan Tuan Fatih. Untuk perusahaan Nyonya Mika hanya mendapatkan dukungan tiga puluh satu persen. Sedangkan untuk tiga perusahaan yang terpilih hasil mereka hanya berbeda tipis. Yaitu dengan nilai rata-rata diatas sembilan puluh empat persen." terang Sekertaris Jimi.
"Umumkan!" perintah Devan yang sudah tahu kalau tiga perusahaan itu yang pantas menerima pekerjaan tersebut.
Lalu Sekertaris Jimi pun langsung mengumumkan hasil pemungutan suara yang mereka lakukan. Jika Presdir sudah mengatakan setuju, siapa yang akan berani.
"Buat yang bertanggung jawab dalam hal ini, diharapkan untuk memberikan laporan Minggu lalu paling lambat dua hari kedapan." Anton kembali lagi mengingatkan sebelum rapat dibubarkan.
"Baiklah, jika semua sudah beres, rapat hari ini cukup sampai disini." Jimi yang sejak tadi berdiri baru duduk pada kursinya yang berada disebelah kanan tuan mudanya.
Itulah Sekertaris Jimi. Berbanding terbalik dengan peserta rapat lainnya. Mereka duduk disaat rapat mau dimulai dan akan berdiri setelah selesai. Namun, jika Sekertaris Jimi dia akan berdiri selama rapat berlangsung dan akan duduk setelah rapatnya selesai.
Mendengar permintaan tersebut. Kevin tersenyum menyeringai. Lalu setelahnya dia berkata. "Tanpa Anda minta, Saya memang belum mau pergi dari sini." jawabnya sambil melongarkan dasi yang tiba-tiba terasa mencekik lehernya.
"Jimi bawa anak ingusan ini keruangan ku." Devan langsung berdiri menuju kantornya. Untungnya saat dia berkata seperti itu yang ada dalam ruangan tersebut hanya tinggal mereka bertiga.
"Mari Tuan Muda Kevin," ucap Sekertaris Jimi mempersilahkan agar Kevin berjalan mengikuti tuan mudanya.
Tidak banyak bicara pemuda itu langsung berjalan mengikuti Devan yang tidak jauh dari mereka berdua. Walaupun dia sangat ingin melempar Devan mengunakan sepatunya karena sudah menyebut dia anak ingusan.
"Silahkan masuk Tuan Muda." Jimi kembali mempersilahkan setelah membuka pintu ruangan Devan.
Begitu masuk Kevin melihat Devan sudah menunggunya di Sofa tamu.
"Duduklah, tidak perlu melihatku seperti musuh." kata Devan masih terlihat santai.
"Cih, Kau memang musuhku." desis Kevin duduk dihadapan Devan.
"Tuan Kevin! Tolong jaga perkataan Anda," seru Sekertaris Jimi yang berdiri disebelah tuan mudanya.
"Jimi!" Devan mengangkat jari telunjuknya keatas. Sebagai perintah agar Jimi tidak ikut campur, karena masalah tersebut adalah masalah antara dia dan Kevin. Laki-laki yang menyukai istrinya.
"Kevin... Aku ingin mengucapkan terima kasih karena selama ini kamu sudah menjaga anak dan istri ku." meskipun Devan sangat kesal pada Kevin karena sudah tertipu oleh pemuda itu.
Tapi dia turunkan egonya, menggigat Zizi bisa memiki rumah dan tempat usaha atas bantuan Kevin. Kalau tidak, entah seperti apa nasip anak dan istrinya.
Devan bahkan mengabaikan ucapa Kevin yang tidak sopan. Semua itu dia lakukan karena tulus ingin mengucapkan terima kasih.
"Saya tidak butuh terima kasih Anda Tuan Devan yang terhormat. Saya tidak melakukan kebaikan apa-apa pada istri Anda." jawab Kevin dengan tidak bersahabat sama sekali. "Tapi Saya hanya menolong gadis yang sudah disia-siakan oleh suaminya. Apa yang Saya lakukan adalah hal wajar, karena perempuan memang untuk dilindungi bukan dijadikan sampah yang tidak berguna." papar Kevin yang begitu kesal karena Devan, sahabatnya itu sampai putus sekolah dan memiliki anak diusianya yang masih muda.
"Kevin--- Jangan membuatku lupa pada persahabatan aku dan kakak mu." sentak Devan mulai terpancing mendengar perkataan Kevin.
__ADS_1
Tanpa diingatkan oleh Kevin atau siapapun. Devan sudah tahu kesalahannya.
"Disini aku hanya ingin mengucapkan terima kasih dan minta maaf karena sudah beberapa kali mengancam mu. Hem! Sebetulnya aku tidak perlu minta maaf sudah mengancam mu karena semua itu benar," Devan kembali lagi berbicara dengan tenang.
"Soal aku yang pernah menyia-nyiakan Zizi. Itu bukanlah urusanmu karena masalah rumah tangga kami tidak perlu orang luar ikut campur." Devan sengaja menekankan kata rumah tangga agar Kevin sadar bahwa Zivanna adalah istrinya.
Namun, apa yang dia katakan ternyata berbanding terbalik karena Kevin langsung berdiri dan memberikan bogem mentah pada wajahnya.
Buuugh...
Buuugh...
"Brengsek!" umpat Kevin.
"Suami! Tidakkah Anda malu menyebut diri Anda sebagai suami," seru Kevin menarik kerah kemeja Devan setelah beberapa kali memberikan pukulan pada wajah tampan ayah kesayangan Reyvano.
"Apa Anda tahu seperti apa penderitaan Zizi diluar sana karena perbuatan keji Anda, hah! Tidak, kan?"
Kevin yang sudah dari tadi menahan ingin memukul Devan akhirnya melakukan juga. Sebetulnya saat pertama kali mendapat kabar dari bibi Husna, Kevin sudah ingin menemui Devan.
Namun, saat itu dia benar-benar tidak bisa karena sedang berada diluar kota. Saat dia kembali tadi malam, malah disuruh mengantikan kakaknya. Jadi kebetulan sekali.
Sekertaris Jimi sengaja tidak menyapih saat melihat Kevin berdiri dan langsung memukuli tuan mudanya. Sebab dia tahu kalau Devan sendiri yang membiarkan Kevin menyentuh wajahnya.
Melawan Bara dan pasukannya saja Devan mampu. Apalagi hanya melawan Kevin yang memiliki tubuh lebih kecil darinya.
"Ayo pukul lagi! Pukul saja sampai dirimu merasa puas dan sampai dendam Zivanna terbalaskan. Aku tidak akan membalasnya begitupun dengan para pengawal ku." kata Devan malah dengan sengaja memalingkan wajahnya agar mempermudah Kevin memukulnya.
"Aku senang mendapatkan pukulan ini, karena bila dibanding dengan perbuatanku pada Zizi. Ini belum ada apa-apanya." lanjutnya Devan yang tahu Kevin marah seperti itu atas perbuatannya sendiri.
Devan sangat mengenal keluarga Kevin karena dia sudah hampir sepuluh tahun menjalin kerjasama dengan Arga kakak kandung pemuda yang memukul wajahnya. Dia sering mendengar Arga memuji adiknya yang memiliki sifat sabar dan penyayang pada para keponakan maupun orang-orang terdekatnya. Jadi bila Kevin sampai marah. Berarti orang tersebut memang pantas menerimanya.
Disuruh memukul, malah membuat Kevin melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar lalu kembali lagi duduk pada tempatnya.
Sehingga membuat Devan tersenyum kecil dan kembali duduk seperti tadi sambil menyeka darah dari bibirnya mengunakan tisu yang ada di atas meja.
"Jimi, ambilkan minuman dingin. Agar Tuan Muda Kevin bisa menenangkan hatinya yang lagi terbakar emosi." perintah Devan masih bisa berbicara seperti itu.
"Baik Tuan Muda," Sekertaris Jimi langsung berjalan mendekati lemari pendingin untuk mengambil beberapa macam minuman dingin. Lalu diletakan di atas meja dihadapan Kevin dan tuan mudanya.
Setelah itu Sekertaris Jimi kembali lagi berdiri seperti patung mekanik.
"Minumlah! Aku memaklumi semua perbuatanmu hari ini." Devan mengambil minuman dibuka, lalu diminumnya sampai beberapa kali tegukan.
"Sebagai ucapan terima kasih ku, tanah yang sedang kamu urus selama satu Minggu ini. Aku berikan padamu secara gratis." Devan kembali lagi berbicara.
"Apa maksudmu? Saya tidak butuh bantuan Anda untuk mendapatkan nya." tanya Kevin setelah menaruh minumannya.
"Tidak ada maksud apa-apa. Aku tidak mau tahu, kamu harus menerimanya. Aku benar-benar tulus ingin memberikan padamu. Jadi jangan pernah menolak." sebetulnya Devan ingin memberikan hadiah sebagai ucapan terima kasihnya. Atau ingin mengancam pemuda itu?
"Ck, bagaimana jika aku tidak mau menerimanya?" tantang Kevin.
"Itu hak mu. Tapi kamu lihat saja, apa yang akan dilakukan oleh para pengawal Atmaja group. Seluruh kawasan itu akan diratakan menjadi tanah, karena aku akan membangun anak cabang perusahaan baru di sana." jawab Devan dengan santai sambil meminum minumannya lagi.
"Apa! Brengsek! Anda benar-benar keterlaluan." Kevin kembali lagi mengumpat.
"Bukan aku yang brengsek, tapi kamu yang tidak mau menerimanya. Itulah brengsek sebenarnya." kata Devan tersenyum karena sangat mudah agar Kevin menerima tanah pemberiannya.
.
.
.
Sambil menunggu bbg Devan up, yuk baca novel sahabat Mak author juga.🤗
__ADS_1