
π·π·π·π·π·
.
.
Jam lima, lewat lima belas menit waktu dunia pernovelan.
"Apa Rey sudah lelah?" tanya Devan karena putranya telah menyandarkan kepala pada pundaknya. Sedari tadi mereka sudah menaiki berbagai permainan dan sudah berjalan melihat-lihat taman dan juga menemani sang putra bermain di ayunan.
"Iya, dah tapek," jawab Rey setelah selesai menaiki ayunan.
Cup, cup, muuuaaah!
"Apa mau pulang sekarang?" memberikan ciuman di kedua pipi buah hatinya berulang kali.
"Puyang cekalang. Ley tapek."
"Baiklah, ayo kita pulang!" ajak Devan sambil mengendong putranya. Mereka perginya berjalan kaki tidak menaiki mobil karena tempat tersebut sangat dekat dari kediaman keluarga Atmaja. Tidak hanya Devan yang berjalan bersama anaknya.
Tapi puluhan pengawal yang mengawal juga berjalan kaki. Akan tetapi meskipun mereka berjumlah banyak, tidak akan ada yang tahu karena para Tim Atmaja berpencar dari jarak yang tidak terlalu jauh. Bila pun ada yang mengetahui kalau mereka adalah Tim khusus, itu karena mereka memakai seragam bertuliskan nama Atmaja group.
Setelah berjalan kaki kurang lebih tujuh menit. Devan dan putranya sudah tiba di rumah mereka. Lalu begitu tiba di depan pintu. Rey yang tadinya di gendong meminta untuk di turunkan. Mau tak mau ayah yang baru bisa mengasuh anaknya itu. Menurunkan buah hatinya.
"Tidak usah lari-lari!" pesan Devan begitu menurunkan sang buah hati.
"Iya, nda lali," menjawab sambil berjalan lebih dulu. Si tampan itu sudah tidak sabar ingin menceritakan pada ibunya kalau dia sudah menaiki berbagai permainan yang ada di taman kompleks rumah kakeknya.
"Wah, cucu kakek sudah datang," sapa Ayah Dion berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan calon pewaris Atmaja group. Lalu diapun mencium pipi sang cucu dengan gemas. Reyvano boleh dikatakan duplikat Devan kecil.
"Kakek, ibu Ley nana?" tanya Reyvano melihat disekelilingnya tidak ada ibu yang dia cari. Padahal sebelum mereka pergi ada didekat tempat dia berdiri sekarang.
"Iya, apa cucu kakek sedang mencari sesuatu?" tanya Ayah Dion tidak paham betul apa maksud sang cucu. Dia hanya menerka-nerka karena mata Rey melihat ke berbagai arah.
"Rey sedang menanyakan ibunya kemana, Yah." jawab Devan tersenyum dibelakang tubuh anaknya.
"Oh, jadi si tampan lagi mencari ibunya, ya?" ikut tersenyum dan kembali lagi bertanya pada malaikat kecil dihadapannya.
"Rey lagi mencari ibu?" menyentuh kedua pundak sang cucu sembari tersenyum.
"Iya, kek. Ley tali ibu didi." melihat kakeknya seperti orang bingung. Rey langsung saja menyebutkan nama sang ibu. Yaitu ibu didi persi Reyvano.
"Sini biar Ayah gigit anak yang pintar ini." kata Devan tidak tahan mendengar ucapan putranya. "Ibu, ya ibu saja. Tidak ada ibu didi nya. Ha... ha ... Rey bikin Ayah bertambah gemas padamu." Devan tertawa sembari mengangkat tubuh Reyvano keatas. Lalu dibuatnya sang putra seperti lagi terbang. Sehingga Rey pun ikut tertawa terbahak-bahak.
Keseruan antara anak dan ayah itu disaksikan oleh Zivanna. Wanita itu baru saja keluar dari dapur bersih. Setelah selesai membantu ibunya membuatkan makan malam, untuk mereka.
"Hem ... Kalian sudah kembali?" berjalan mendekat. Mendengar suara Zizi berdehem. Reyvano dan Devan langsung berhenti tertawa. Lalu menoleh secara bersamaan, kesumber suara wanita yang begitu berharga bagi mereka berdua.
"Ibu, Ley tama Ayah dah puyang." ucap si tampan minta digendong oleh ibunya.
__ADS_1
Cup ...,
"Bagaimana mainya? Apa seru?" tanya Zizi setelah Rey berada dalam gendongannya. Lalu Zivanna pun melakukan hal yang sama, yaitu memberikan ciuman pada buah hatinya.
Putra yang sudah membuatnya bertahan untuk hidup di dunianya yang sudah gelap gulita. Pada saat dia masih terpuruk karena ke hilangan Almarhum Ibu Eris.
"Selu, selu tekali. Ya tan, Yah?" meminta persetujuan pada sang ayah. Padahal tanpa bantuan dari ayahnya. Tentu sang ibu akan percaya pada ucapannya.
"Asik sekali sepertinya! Karena sudah bermain diluar, sekarang ayo kita mandi." cara halus untuk membujuk putranya agar mau mandi.
"Iya, tita mandi tekalang, ya." ucap Rey menyetujui karena dia juga sudah sangat lelah bermain seharian.
"Bilang dulu pada kakek dan ayahmu." sebelum kembali ke kamar. Zizi menyuruh Rey berpamitan lebih dulu. Dia menurunkan anaknya dari gendongan agar bisa berpamitan pada suami dan juga ayah mertuanya. Meskipun dia dan Devan memiliki masalah. Tapi bukan berarti anaknya tidak diajarkan sopan santun.
"Kakek, Ayah, Ley au andi tekalang. Dada ... danan dangis!" ucap Reyvano sambil berlari, mendekati ibunya.
"Awas nanti, ya!" kata Devan tersenyum melihat putranya yang sudah kembali lagi di gendongan oleh Zivanna. Bagaimana mungkin Rey mengatakan kalau dia dan ayahnya jangan menangis. Benar-benar mengemaskan.
Sedangkan Ayah Dion hanya tersenyum saja. Bila saja tidak terjadi sesuatu pada rumah tangga Devan dan Zizi. Maka beliau dan Ibu Ellena akan menjadi pasangan yang berbahagia dimasa tuanya.
"Dev, ayo ikut Ayah ke taman belakang. Ada yang ingin Ayah bicarakan denganmu." kata pria paruh baya itu ingin melangkah ke taman belakang. Namun, suara Devan langsung menghentikan langkahnya.
"Ayah nanti malam saja, setelah makan malam. Sekarang Devan ingin ke kamar mandi dan sekalian mau membersihkan tubuh ku lebih dulu." cegah Devan karena dia memang ingin ke kamar mandi.
"Agh, kamu ini. Yasudah, pergilah! Nanti setelah makan malam saja kita bicarakan. Biar waktunya lebih santai juga." seru beliau pergi meninggalkan tempat tersebut lebih dulu dari sang putra.
"Ayah ini bagaimana sih, kan aku yang ingin ke kamar mandi. Tapi kenapa malah ayah yang terlihat buru-buru kembali ke kamar. Agkk! Pasti mau menyusul ibu." gumam Devan tersenyum sembari pergi ke lantai atas tempat kamarnya berada. Kali ini dia akan kembali ke kamarnya sendiri, karena tidak mau membuat Zizi tertekan berada di dekatnya.
Suara pintu kamar yang sudah hampir lima tahun tidak pernah dia tiduri karena setiap dia kembali ke rumah itu. Devan tidak tidur di kamarnya sendiri. Melainkan kamar Zivanna.
Tempat ternyamannya sambil menatap foto-foto mereka yang terpajang di dinding dan juga lemari kaca tempat barang-barang kesukaan sang istri. Namun, hari ini semuanya sudah dilepas lalu dimasukkan kedalam lemari penyimpanan selimut.
Sambil masuk kedalam kamar mandi. Devan sempatkan mengambil handuk lebih dulu, karena ingin membersihkan tubuhnya yang hampir seharian beraktivitas di luar rumah.
Di bawah guyuran air shower. Devan melepaskan rasa penat di hatinya. Lelah pada tubuhnya sudah tidak dia rasakan lagi, karena sudah dikalahkan oleh lelah perasaan yang menderanya.
"Maafkan Kakak sudah membuatmu seperti ini, sayang! Kakak tidak akan memaksa kehendak Kakak sendiri, yang akan menyiksa dirimu."
Gumam pria itu memejamkan matanya. Mungkin bila tidak sedang berada dibawah guyuran air shower. Air matanya sudah mengalir sejak tadi.
Sampai dua puluh menit kemudian. Barulah Devan keluar dari kamar mandi. Dia hanya mengelap rambutnya asal. Lalu berjalan mendekati lemari mengambil baju kaos hitam berlengan panjang yang dipadukan dengan celana jeans panjang.
Rencananya malam ini dia dan Sekertaris Jimi akan pergi keluar. Tapi bukan pergi mencari hiburan seperti dulu. Melainkan mengurus sesuatu pekerjaan. Namun, sebelum itu. Dia akan menepati janji pada ayahnya lebih dulu.
Begitu sudah selesai menyimpan kembali handuk bekasnya mandi. Devan mengambil HP untuk menghubungi sahabatnya.
Ttuuut ...
Satu kali berdering, pangilan tersebut sudah diangkat oleh Dokter Kaivan. Ya, dia menghubungi Kai sahabat sekaligus dokter pribadinya.
__ADS_1
π± Dokter Kaivan : "Setelah kemarin pergi tidak mengabari aku, sekarang sudah berani menelpon." begitu sambungannya terhubung. Dokter Kai langsung mengoceh pada bos sekaligus sahabatnya.
π² Devan : "Maaf, kemarin aku lupa menyuruh seseorang mengabari mu. Semuanya mendadak. Istriku ingin kembali ke kota X kemarin siang." jelas Devan sekalian meminta maaf.
π± Dokter Kaivan : "Ya baiklah! Aku memaafkan mu. Tapi awas jika berani berbuat seperti itu lagi. Kamu kan tahu betapa sibuknya aku di rumah sakit. Demi ingin melihat keadaanmu dan Zizi. Aku meninggalkan rumah sakit. Namun, setibanya aku di rumahmu, tidak ada siapa-siapa kecuali para pelayan." katanya sudah memaafkan. Akan tetapi masih juga mengoceh.
π² Devan : "Iya, iya. Maafkan aku. Hari ini aku membiarkanmu, mau marah seperti apa saja." ucap Devan tidak ingin berdebat karena dia menelepon bukan untuk itu. Melainkan ingin menanyakan keadaan istrinya. Setelah terjeda Devan kembali lagi melanjutkan ucapannya.
π² Devan : "Kai--- Aku ingin menanyakan keadaan Zizi. Sikapnya suka berubah-ubah. Emosinya tidak pernah setabil. Aku meneleponmu hanya ingin menanyakan hal tersebut. Apakah itu normal apa dia masih trauma dengan apa yang sudah terjadi dimasa lalu?" Devan langsung saja menceritakan sebelum Kaivan kembali mengoceh.
π± Dokter Kaivan : "Sejak kapan dia seperti itu? Apa setelah kembali ke kota X?" tidak menjawab. Namun, dokter muda itu kembali bertanya.
π² Devan : "Semenjak di kota Y dia sudah seperti itu. Padahal aku tidak melakukan apa-apa." Lalu Devan menceritakan semuanya pada sahabat dokternya itu. Tidak ada yang dia lewatkan, termasuk Zivanna yang mengajaknya untuk berpisah. Apa yang Devan lakukan sekarang karena sangat menghawatirkan keadaan istrinya.
π± Dokter Kaivan : "Dev, carilah seorang Dokter Psikiater untuk membantunya. Jangan kamu biarkan dia mengigat masa lalunya. Untuk sementara Kamu jangan dekat-dekat dengan Zivanna. Itu demi kebaikannya." ucap Dokter Kaivan setelah mendengar cerita Devan.
π² Devan : "Apa, Dokter Psikiater? Tapi istriku tidak gila!" sentak Devan tidak bisa menerima begitu saja. Meskipun dia sudah menduga kalau Zizi memang membutuhkan seorang Psikiater.
π±Dokter Kaivan : "Aaiish, kamu ini. Istrimu memang tidak gila. Tapi bila terus dibiarkan seperti itu. Cepat atau lambat dia bisa menjadi gila. Jadi dengarkanlah aku, bila kamu benar-benar mencintainya jangan buat dia tertekan karena keberadaan mu."
π² Devan : "Tapi selama ini sepertinya dia baik-baik saja." Devan mengusap wajahnya kasar.
π± Dokter Kaivan : "Dev, dulu dia baik-baik saja karena jauh dari hal yang sudah membuatnya trauma. Namun, semua itu bisa kembali terjadi, meskipun sudah puluhan tahun lamanya. Yaitu disaat orang yang mengalaminya bertemu dengan si pelaku." dokter muda itu sengaja menekan kata si pelaku.
π² Devan : "Baiklah, malam ini aku akan mencari Dokter Psikiater terbaik yang ada di kota ini. Terima kasih sudah memberitahu ku. Sekarang aku harus makan malam dulu. Besok akan ku hubungi lagi." kata Devan memutuskan sambungan telepon mereka, karena ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Kleeeek ...
"Ada apa?" tanya Devan melihat jika yang mengetuk pintu kamarnya adalah seorang pelayan.
"Maaf, Tuan muda sudah di tunggu di meja makan." jawab si pelayan menunduk hormat.
"Iya, terima kasih! Sebentar lagi Saya akan turun. Tapi--- Apakah Nona muda sudah turun?" tanya Devan saat pelayan tersebut akan pergi.
"Sudah Tuan muda. Nona dan Tuan Rey sudah turun sejak tadi." jawabnya dengan sopan.
"Oke, silahkan pergi!" seru Devan menutup kembali pintu kamar tersebut. Lalu dia kembali masuk mengambil HP, dompet dan juga kunci mobilnya. Malam ini dia akan pergi mencari Dokter Psikiater untuk bisa menyembuhkan sang istri dari masa pasca trauma yang pernah dia lakukan.
Setelah itu barulah dia menyusul turun ke lantai bawah dan langsung menuju tempat keluarnya menunggu. Begitu melihat kedatanganya. Reyvano sudah sibuk minta diturunkan dari kursi meja makan, karena si tampan ingin berlari kearah sang ayah yang terlihat sangat tampan sama seperti dirinya.
Devan yang melihat putranya hanya tersenyum sambil berjalan mendekati meja makan, dengan tangan di masukan kedalam saku celananya.
"Ayah tenapa lama?" tanya si kecil saat tubuhnya sudah di gendong oleh Devan.
Cup ...,
"Ayah lagi ada perkejaan, maka nya lama." jawab Devan membawa sang putra duduk di antara kursi dia dan Zivanna.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...π€